Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 45. Bagian dari hidup.


__ADS_3

Bang Ranggi dan Bang Ares menahan rasa panas terbakar di kulitnya. Punggung pun terasa remuk.


"Kalian ini masuk pendidikan, gunanya memang untuk di didik menjadi prajurit, bukan sok pahlawan seperti preman." bentak Papa Rico.


"Siap salah..!!!"


"Telanjang dada, sikap tobat dan renungi kesalahanmu di bawah tiang bendera..!!!" perintah Papa Rico.


"Siap..!!"


...


Keringat mengucur dari tubuh Bang Ranggi dan Bang Ares. Kaki keduanya sudah gemetar, badannya lemas kepanasan dan kepala pusing.


"Rang.. apa sekarang kamu sudah merasa menjadi tentara sungguhan??" tanya Bang Ares.


"Aku malah merasa sedang main film laga" jawab Bang Ranggi.


"Apa kepalamu pusing?"


"Nggak juga, hanya merasa tulang-tulangku lepas dan..........."


hhkkk..


hhhkkk...


Bang Ranggi dan Bang Ares muntah tak karuan hingga ambruk di bawah tiang bendera.


"Dan, kedua siswa pingsan" kata seorang pelatih.


"Biar saja, biar mereka tau rasanya pendidikan yang sesungguhnya" jawab Papa Rico.


"Siap Dan"


:


byuuuurr..


Papa menyiram kedua pria dengan seember air.


"Bangun kalian..!!!!!"


Bang Ranggi dan Bang Ares gelagapan baru tersadar dari pingsannya.


"Kacangan.. masih pingsan saja sudah berani melawan pelatih" bentak Papa Rico.


"Siap salah..!!"


Cambukan demi cambukan menghantam tubuh keduanya.

__ADS_1


...


Malam hari Bang teman satu barak Bang Ranggi dan Bang Ares membawa salep untuk mengobati luka keduanya.


"Kalian berdua apa tidak tau caranya main cantik?" tegur Bang Juan.


"Kau suka di perlakukan tidak adil??"


"Tidak suka, tapi setidaknya aku menyenangkan hati ibuku yang tidak ingin melihatku menjadi pria begajulan tak tau diri" jawab Bang Juan sambil menarik lengan Bang Ranggi agar duduk dengan posisi membelakangi dirinya.


Bang Juan mengoles salep sampai Bang Ranggi memercing kesakitan. "Aku tau rasanya sangat tidak enak menjalani pendidikan dan mungkin ini belum seberapa.. tapi ingat, ada tangis seorang ibu yang menunggu kita. Nanti ada saatnya masa akan berbalik pada kita" kata Bang Juan.


"Aku bukannya tidak menyadari hal itu, tapi siapa dia berani memukulku??"


"Jika kita di ajari oleh seorang guru apakah kau akan menghajar gurumu??" Bang Juan tak hentinya memberikan pengertian. "Aku tau jiwa kita bebas, tapi sekarang belum saatnya"


Bang Ranggi mulai memberontak lagi. "Jika kita jadi seorang tentara, kita akan terikat dengan aturan. Kita tidak lagi bebas bergaul dengan sembarang wanita, masuk club malam"


"Tidak ada yang salah dari ucapanmu..!!"


"Apa suatu saat nanti aku juga harus terikat pernikahan dengan seseorang, bagaimana kalau aku tidak mencintainya. Seumur hidupku akan seperti di neraka" ujar Bang Ranggi.


"Sudahlah Rang.. kita jalani saja. Kau dengar sendiri cerita tentang Papa mu dan akhirnya bisa mencintai Mama mu. Mungkin hati dan pikiran kita masih belum menjangkau ke arah sana dan pasti Tuhan sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk kita" kata Bang Ares


\=\=\=


Empat tahun berlalu.


Papa Rico menghampiri Bang Ranggi bersama Mama Jihan, Letda senior Gazha. Adik perempuan Bang Ranggi tidak bisa ikut karena sedang menjalani ujian Nasional.


Bang Ranggi memberi hormat di hadapan Papa Rico dan Bang Gazha. "Akhirnya kau lulus juga..!!" sapa Bang Gazha menampar pipi adik laki-lakinya. Walaupun mereka tidak satu kandung tapi rasa sayang pada Bang Ranggi dan adik perempuannya tidak kalah besarnya dari Mama Jihan.


"Siap...!!"


Bang Gazha memeluk adik laki-laki nya itu sesaat kemudian memberi waktu pada Bang Ranggi untuk berhadapan dengan Papa Rico dan Mama Jihan.


Disana Papa Rico sampai harus memapah langkah Mama Jihan. Bang Ranggi melepas topinya lalu bersujud di kaki sang Mama dan menciumnya.


"Ranggi sudah lulus Ma. Sekarang Mama jangan nangis lagi. Dua putra Mama sudah menduduki kursinya masing-masing"


Mama Jihan tak sanggup membendung air matanya. Ia menarik Bang Ranggi ke dalam pelukannya kemudian tak lupa menarik tangan Bang Gazha ke dalam pelukannya juga. "Kalian kebanggaan Mama"


"Selamanya aku akan jadi putra Mama khan?" tanya Bang Gazha.


"Kalau kamu bukan anak Mama, terus kamu anak siapa?" jawab Mama Jihan.


Melihat pemandangan itu, Papa Rico menyembunyikan rasa harunya. "Kalau sudah begini apa tidak ada yang butuh Papa?


"Kalian ini, tidak mau hormat dengan atasan???"

__ADS_1


Bang Gazha dan Bang Ranggi segera berdiri dengan sikap sempurna di hadapan Papa Rico.


plaaakk..


"Tunjukan taring mu, tentara tidak boleh lemah..!!" kata Papa Rico.


"Siap salah..!! Ijin.. Letda Hergazha memberi hormat..!!" Bang Gazha memberi penghormatan di depan 'Ayahnya'.


"Siapa kamu??" Papa Rico berganti berdiri di hadapan Bang Ranggi.


"Siap.. Ijin.. Letda Ranggi Tanuja memberi hormat..!!" dengan gagah Bang Ranggi memberi hormat pada Papanya.


"Siap pakai baret le?" tanya Papa Rico.


"Siap..!!" jawab Bang Ranggi tegas.


Papa Rico memeluk putranya. Ada rasa bangga tersendiri dalam hatinya. Putranya yang terkenal dengan prestasi 'bengalnya' telah lulus dengan nilai yang memuaskan.


"Pa, kapan aku boleh bawa perempuan ke rumah?"


Papa Rico melepas pelukannya dan menatap mata putranya dengan tajam. "Kamu itu baru satu jam yang lalu jadi Letda, menginjak dunia karirmu saja belum sempat.. jangan pikir perempuan. Perempuan hanya bikin rusak karir dan mentalmu..!!"


"Tapi aku sudah terlanjur........."


"Astagfirullah..!!!!!" Papa Rico menampar Bang Ranggi.


plaaakk..


"Aduuuhh.. apa sih Pa"


"Gunakan rudalmu di saat yang tepat, jangan asal tembak sana sini Rangiiiiii..!!!!" rasanya ubun-ubun Papa Rico ingin meledak merasakan kelakuan putra keduanya.


Bang Ranggi menghindari bogem mentah dan tendangan Papa Rico. "Terlanjur pacaran Pa..!! Papa ini nggak dengarkan sampai selesai. Aku ini punya iman Pa, kecuali sudah terlanjur ya pasrah saja"


"Rangiiiiiiiiiii..!!!!!!!" suara Papa Rico membahana satu lapangan.


flashback Om Ranggi off..


Papa Ranggi memegangi dadanya yang terasa nyeri.


Selamat jalan Pa.. Ma.. Terima kasih sudah menjadi orang tua terbaik. Do'aku akan selalu ada untuk Papa dan Mama. Maafkan segala dosa ku sebagai putra kalian.


"Ikhlaskan ya Pa..!!" Mama Hana memeluk Papa Ranggi. Mata Papa Ranggi terpejam, ia menyadari takdir kematian juga bagian dari suratan yang pasti akan dirasakan semua orang.


"Jangan pernah tinggalkan aku Ma" ucap Papa Ranggi lirih.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2