
Malam itu.. Andin sudah bisa bangun dan mengikuti rencana kerja anggota.
"Bagaimana Bang, kita telat masuk titik sasaran sampai tiga jam lamanya" kata Andin.
"Nggak apa-apa. Rencana kerja bisa saja meleset dari target dengan berbagai alasan"
"Itu benar Ndin. Santai saja" imbuh Bang Huda.
Indri semakin merasa benci dan muak melihat para anggota seakan membela Andin. Bahkan Pak Langsang pun memberi perhatian lebih untuk Andin.
"Ijin Dan, saya merasa anda terlalu berlebihan memperlakukan anggota. Saat kaki saya sakit.. perhatian itu tidak berlebihan seperti Andin. Saya tidak buta, saya tau anda menemani Andin tidur di tenda bahkan mandi bersama" tegur Indri dengan lantang.
"Saya mohon maaf untuk seluruh keteledoran saya juga untuk sikap saya yang berlebihan pada Andin" jawab Bang Langsang tidak ingin keributan terjadi. Tubuhnya dan hatinya sudah terserang rasa lelah.
"Kamu Andin.. saya wajib ingatkan kamu. Disini kita kerja berdampingan dengan para anggota pria. Seharusnya kamu menjaga sikap dan tidak dengan sengaja menggoda atasanmu. Jangan bertingkah seperti wanita pe****bur..!!"
"Indriiiiii..!!!!!" seketika emosi Bang Langsang terbakar, hatinya tidak bisa menerima jika itu hinaan untuk Andin.
Andin berdiri di hadapan Mbak Indri dan menarik lengan Bang Langsang. Ia tau jika suaminya sudah marah, akibatnya akan tidak baik.
"Saya paham posisimu adalah senior saya, tapi kamu tidak di benarkan menghina orang tanpa kamu tau sebabnya. Mungkin saya salah terlalu dekat dengan Lettu Langsang tapi satu hal yang harus kamu tau, setidaknya saya menggoda suami saya sendiri. Dan kamu.. menjauhlah dari suami saya atau saya akan membuat seragam mu ini luntur warnanya..!!!!" ancam Andin yang sudah geram.
Sungguh kaget hati Indri sampai rasanya ingin masuk ke dalam sumur saking malunya. Ia sampai tidak bisa berucap apapun sampai akhirnya Praka Kristian memegang kedua bahunya dan membawa Indri untuk duduk.
:
"Jangan nangis lagi, nanti perutmu semakin sakit..!!"
Andin menangis sejadi-jadinya. Sejak kemarin Bang Langsang begitu mencemaskan Andin karena Andin begitu melow dan mudah sekali menangis.
"Kenapa Abang gendong dia.. Andin kesal.. kesal..!!!" Andin menendang tulang kering Bang Langsang, masih menampar bahkan memukuli suaminya itu yang bahkan mungkin tidak berasa apapun untuk Bang Langsang.
Melihat suaminya tidak merasa kesakitan.. Andin pun semakin kesal. "Kenapa nggak sakit?? Andin sudah hajar Abang sampai hancur.!!"
Bang Langsang pun kemudian menunduk dan belaga kesakitan agar Andin merasa puas. "Aaawwhh.. ampun.. siap salah..!!"
"Itu hukuman buat Abang karena berani menyentuh wanita lain..!!" ucap Andin masih tetap menangis sesenggukan.
"Siap salah Bu..!!"
"Andin bukan ibu-ibu..!!" jawab Andin mendadak kembali kesal.
"Siap salah istri kesayangan Lettu Langsang" Bang Langsang berusaha keras membujuk Andin.
Agaknya Andin masih belum merasa puas, ia melayangkan beberapa jurus untuk menghajar Bang Langsang. Suami Andin itu mundur tak ingin menghadapi serangan istrinya namun jika ia tidak bereaksi maka Andin kembali marah, posisi nya serba salah.
buuugghhh...
Bang Langsang membiarkan dirinya terbanting agar urusan kemarahan Andin ini segera usai.
__ADS_1
"Ampuun dek, Abang nyerah" kata Bang Langsang pura-pura kesakitan.
Andin menyeringai. "Apa Andin tidak tau kalau Abang hanya pura-pura?? Ini Andin beri hadiah manis untuk Abang..!!"
baaagghh...
"hhgghh.. Allahu Akbar.. lara deeek..!!!"
"Andin kesal sama Abaaaanngg...!!!!"
~
Indri menangis sendirian. Praka Kristian membawakan secangkir kopi untuk 'senior'nya. "Sudah.. jangan di pikir lagi."
"Mereka jadi bertengkar ya?" tanya Indri.
"Iya tadi, sekarang tidak lagi. Jaguar sudah bisa menjinakan kucing liar" jawab Bang Kristian.
"Aku sungguh tidak tau kalau Andin adalah istri Pak Langsang. Aku pikir Pak Langsang menaruh hati padaku.. ternyata aku bukanlah seleranya." kata Indri.
"Carilah kebahagiaan mu sendiri. Banyak yang mencintaimu dan menghargaimu apa adanya."
Indri tersenyum kecut.
"Sebenarnya aku ingin mentraktirmu makanan burger. Sayangnya disini hanya ada ubi. Kamu mau?" tanya Bang Kristian seakan tak peduli lagi kepangkatan di antara mereka.
***
Para anggota berjalan menyusuri tepi sungai. Tak sengaja rombongan anggota bertemu dengan rombongan pemberontak. Bang Langsang dengan sigap melindungi Andin di belakang punggungnya namun saat itu terlihat seorang pria sedang menuntun seorang wanita untuk berjalan, perutnya besar dan terlihat kesakitan.
Pria tersebut mengacungkan senjata tapi Bang Langsang masih berusaha tenang.
"Mau apa kau menginjak wilayah kami?? Kami tidak mengganggu kalian"
"Kami disini bekerja dan inilah pekerjaan kami. Kami juga bekerja untuk membantu menjaga kalian, warga disini" jawab Bang Langsang berhati-hati.
Wanita di samping pria tersebut mengerang kesakitan sampai ambruk tersungkur. Pria tersebut panik.
Andin maju selangkah tapi pria tersebut menarik pelatuk senjata bersiap membidik Andin. Refleks Bang Langsang mengacungkan senjata dan mengarahkan pada wanita tersebut.
"Dia istrimu dan ini istri saya. Istri saya tidak bermaksud jahat" kata Bang Langsang setenang mungkin meskipun hatinya cemas bukan main.
Pria tersebut masih ragu dan tidak melepas bidikannya pada Andin. Bang Langsang membujuknya kembali. "Istrimu mau melahirkan?"
"Kau punya peduli apa??"
"Aku juga punya istri, dia juga sedang hamil muda" alasan Bang Langsang melunakan hati musuhnya. "Jika kamu mau.. biar kami bantu kelahirannya, tapi turunkan senjata"
Pria tersebut berpikir kembali, tapi melihat istrinya semakin kesakitan.. ia pun lemah. "Baiklah.. bantu saya punya maitua. Tapi kalau sampai ada apa-apa.. kau punya maitua sebagai gantinya" ucap tegas pria tersebut.
__ADS_1
"Kamu juga bisa meneb*s kepala saya" janji Bang Langsang.
:
Bang Langsang berdiri di samping Andin yang sedang berusaha keras membantu kelahiran wanita yang ternyata adalah istri kepala suku. Di bantu Indri, sebisa mungkin Andin menyelamatkan kelahiran sang penerus suku daerah tersebut.
"Kamu yakin bisa Ndin? Aku rasa panggulnya sempit" bisik Indri.
"Nggak mbak, semua butuh proses. Menurutku bukaan nya saja yang belum lengkap" jawab Andin.
"Apa yang kalian bicarakan?? berunding untuk membunuh saya punya maitua???" bentak kepala suku.
Andin merasa kesal dengan pertanyaan kepala suku. Ia berdiri dan menampar pipi kepala suku dengan kuat.
plaaakk..
Kepala suku bersiap menghantam Andin tapi Bang Langsang segera memasang badan untuk istrinya.
"Aku ini wanita dan juga nantinya jika Tuhan mengijinkan.. Aku akan menjadi seorang ibu. Aku tidak akan membunuh wanita lain apalagi dia sedang hamil. Bisakah kau diam dan berdo'a meminta keselamatan pada leluhur mu. Istrimu butuh dukungan mu.. bukan amarahmu..!!! Kau mau nyawa istrimu melayang karena menghambat ku???" bentak Andin.
Ucapan tersebut mengetuk hati kepala suku tak terkecuali Bang Langsang. Kepala suku terdiam dan akhirnya duduk memeluk sang istri.
:
Suasana semakin mencekam saat nafas istri kepala suku hampir putus.
"Abang tolong bantu buka kakinya..!!" pinta Andin.
"Abang nggak bisa dek" tolak Bang Langsang.
"Ini tentang nyawa orang Bang, Andin bukan minta Abang buat ngintip..!!!!"
"Abang tau, tapi Abang nggak tega. Apa kamu mau paksa mengubah prinsip Abang???" bentak Bang Langsang.
Bang Huda dan Bang Kristian akhirnya membantu menekan kaki istri kepala suku yang terus menendang kesana kemari tidak bisa di tenangkan.
"Tekan satu kali. Bayimu pasti keluar..!!" kata Andin mengarahkan.
Kepala Bang Langsang pening, degub jantungnya berdetak kencang. Nadinya berdenyut tak beraturan. Nafasnya sesak.
Ya Allah dek, betapa sulitnya menjadi seorang ibu. Abang nggak tau lagi bagaimana tentangmu nanti. Jika Tuhan mengabulkan di sepanjang do'a dan sujud Abang untukmu bisa mengandung buah hatiku nanti.. Abang harap, Abang bisa membalas segala keikhlasan dan budi baikmu karena sudah mengijinkan Abang mendapatkan gelar seorang Ayah.
.
.
.
.
__ADS_1