Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
51. Celaka ( 1 ).


__ADS_3

Hati Hana merasa sangat bersalah dan sedih melihat kesabaran Bang Ranggi selama ini.


Abang.. apa Abang tidak marah dengan keadaan Hana juga keadaan kita saat ini. Padahal Bang Hasdin sudah membuat Hana hancur.


"Nggak mau ya?" tanya Bang Ranggi gelisah.


"Mau Bang, tapi sabar sedikit nggak apa-apa khan? Hana belum sepenuhnya siap" jawab Hana.


Bang Ranggi tersenyum meskipun hatinya terasa sangat sakit mendapat penolakan dari sang istri, tapi dirinya juga tidak ingin memaksa hanya karena rasa hawa nafsunya yang sedang bergelora.


"Ya sudah nggak apa-apa. Abang pasti tunggu sampai kamu benar-benar siap.. tapi jangan lama-lama ya sayang. Nggak baik menggantung perasaan suami" kata Bang Ranggi.


Hana mengangguk menyimpan rasa bersalah nya. Hatinya merasa lega tapi juga merasa bersalah karena telah mengabaikan kebutuhan Bang Ranggi.


***


Pagi hari ada olahraga bersama di Batalyon dan para anggota mengikuti kegiatan tersebut bersama keluarga.


Hana hanya duduk di pinggir lapangan bersama Mbak Dinar hingga olahraga usai sambil menikmati bekal yang sudah mereka siapkan dari rumah.


"Nanti siang ada yang mau menghadap khan?" tanya Mbak Dinar.


"Menghadap dalam rangka apa mbak?" Hana bingung karena mungkin ini pun pengalaman pertamanya.


"Calon istrinya Pratu Richi"


"Hmm.. oke Mbak.. monitor" jawab Hana.


...


Siang hari itu begitu terik. Hana duduk bersandar di sofa ruang pengurus ranting.


"Istri saya dimana Bu Pieter?" tanya Bang Ranggi. Ia baru saja keluar dari toilet karena merasa mual.


"Ibu sedang ada di ruangan Pak, mungkin lemas tidak enak badan." Bu Pieter menjawab Bang Ranggi dengan sopan.


"Saya masuk ya Bu" ijin Bang Ranggi.


"Oohh.. silakan Pak."


~


"Mau pulang saja? Abang antar pulang"


"Iya Bang" jawab Hana.

__ADS_1


Bang Ranggi pun membantu Hana untuk berdiri dari sofa dan mereka berdua bersiap untuk pulang ke rumah. Pelan-pelan Bang Ranggi berjalan di samping Hana.


"Ijin Dan.. selamat siang. Bisa saya menghadap?" tanya Bang Richi.


"Apa bisa di tunda? Istri saya kurang sehat" jawab Bang Ranggi sambil melirik Imelda yang ternyata kini sudah menjadi kekasih Pratu Richi.


"Kalau istrinya nggak bisa ya sama Mas Ranggi aja Mas" sambar Imelda.


"Hssttt.. yang sopan dek. Pak Ranggi ini komandannya Abang" tegur keras Bang Richi dengan suara pelan namun penuh penekanan.


"Memangnya kenapa Mas? Mas sama Mas Ranggi sama-sama tentara khan?" tanya Imelda dengan wajah datar.


"Deeekk..!!!!!"


"Sudahlah Richi.. kita tunda dulu pertemuan ini. Kamu temui saja pejabat pengurus pengajuan nikahmu. Saya mau pulang dulu. Istri saya tidak enak badan" pamit Bang Ranggi.


Bang Ranggi pun berlalu.


"Manja sekali ya mas" Imelda berniat bergurau tapi setengah menyindir sosok Hana yang diam dan belum menyapanya sama sekali karena merasa pusing.


"Bu Richi.. mohon maaf, istri saya benar-benar kurang enak badan" jawab Bang Ranggi tapi kemudian tawa Imelda membahana.


"Kamu seperti bicara sama siapa aja sih mas. Kalau nggak bisa lupa sama aku nggak apa-apa, tapi nggak usah belaga formal donk" kata Imelda merasa geli.


"Itu siapa Bang?" Hana mendongak menatap mata Bang Ranggi yang sebenarnya merasa jengkel.


"Mantan Abang. Itu Imelda" jawab jujur Bang Ranggi sebelum ada sunami yang meratakan rumah tangganya.


"Oohh.." jawab Hana kemudian berlalu pergi.


Haaahh.. hanya segitu saja reaksinya.. 'Oohh'???


"Abang mau berdiri di situ saja?? Masih kangen sama mantan pacar?" tegur Hana.


"Siap.. tidak.. Eehh.. nggak dek. Yawes ayo pulang" secepatnya Bang Ranggi menggandeng tangan Hana agar istrinya itu tidak lagi memperhatikan Imelda yang berlalu pergi.


//


"Kenapa sih Mas??" Imelda mengibaskan tangan Bang Richi karena merasa risih Bang Richi terburu-buru mengajaknya pergi.


"Pak Ranggi itu komandannya Mas dan ibu Hana itu adalah istrinya. Kalau bicara agak di atur sedikit lah dek" tegur Bang Richi.


"Apa disini memandang tinggi dan rendah. Mas sama Mas Ranggi itu sama-sama pakai loreng, sama-sama makan nasi" teriak Imelda.


"Bukan maksud kami harus bersikap seperti itu. Semua sudah pada porsinya dek. Perwira memang punya tugas yang berbeda dengan Abang yang memang di khususkan menjadi penyerang di depan. Sudahlah jangan bahas hal seperti ini..!!" pinta Bang Richi.

__ADS_1


Imelda terdiam dengan wajah masam. Ia terus melirik dari kejauhan sosok 'Mas Ranggi' yang begitu memanjakan istrinya.


Apa benar Mas Ranggi bisa tergila-gila. Nggak mungkin.. saat aku menjadi kekasihnya, aku tidak pernah membuatnya kecewa meskipun dia seakan menolak ku dan dia menerima segala perlakuan dariku.


...


Bang Ranggi mondar-mandir cemas di ruang tengah. Sejak pulang tadi Hana tidak bersuara sama sekali dan hanya memberi isyarat kecil jika dirinya bertanya sesuatu padahal Bang Ranggi harus segera kembali masuk kerja.


"Dek..!!"


Hana hanya menoleh sekilas saat Bang Ranggi menyapanya.


"Kaos loreng Abang di mana sayang?" tanya Bang Ranggi.


Hana memonyongkan bibirnya dan Bang Ranggi mencari letak titik yang di tunjuk Hana dengan bibirnya.


"Mana yank? Abang nggak tau nih" jawab Bang Ranggi.


"Awas ya kalau ada. Jangan cuma Imelda aja yang bisa Abang temukan." Hana melirik Bang Ranggi dengan tatapan kesal dan itu sudah membuat nyali Bang Ranggi ciut.


"Ya ampun yank.. ini cuma baju loreng lho, nggak ada hubungannya sama Imelda" jawab Bang Ranggi.


"Bohong.. kelihatannya tadi Abang senang sekali bertemu Imelda" kata Hana yang akhirnya benar-benar mengambil kaos loreng di dalam lemari tepat di depan mata lalu menunjukan di depan mata Bang Ranggi dengan gemas.


"Senang opo sih dek. Nggak aahh" Bang Ranggi pun sampai merendahkan nada suaranya.


"Buktinya di lapangan tembak ada dia, sekarang pun masih ada dia" tanya Hana menghakimi dengan pikiran yang sedang berandai-andai.


"Mana Abang tau kalau ternyata dia itu calon istrinya Richi" jawab Bang Ranggi semakin cemas saja.


"Abang banyak alasan. Push up sekarang" Hana memalingkan wajahnya.


"Ya sudah Abang push up.. tapi pakai gaya baru ya. Sama kamu..!!" bisik Bang Ranggi sembari memeluk kemudian mengambil kaos loreng dan mengecup bibir Hana.


"Apa sih Bang, Hana masih marah"


"Sini di sayang Abang.. pasti nanti nggak jadi marah" bujuk Bang Ranggi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2