Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
81. Jarak tenang.


__ADS_3

Bang Ranggi membantu Hana untuk minum obatnya. Raut wajah istrinya seakan penuh beban berat.


"Kamu kenapa lagi? Kemarin sudah nggak apa-apa, kenapa sekarang kambuh lagi?" sungguh hati Bang Ranggi terasa sedih.


"Apa Hana sudah berubah?" tanya Hana.


"Apanya?" Bang Ranggi bingung dengan pertanyaan Hana.


"Apa Hana gemuk, tidak menarik lagi? Atau Hana tidak seksi usai melahirkan Khaja?"


Bang Ranggi sampai melotot mendengarnya. Tak tau bagaimana pertanyaan aneh itu bisa terlintas di pikiran Hana. Bahkan sedikit saja pertanyaan seperti itu tak terbersit dalam hatinya. "Ya Allah.. dari mana datangnya pikiran itu????"


Bersamaan dengan itu ponsel Hana berdering, ada panggilan telepon masuk dari Bang Rahman. Entah darimana mendapatkan nomor telepon istrinya. Refleks emosi Bang Ranggi tersulut, ia menendang sisi ranjang sekuatnya membuat Hana kaget dan menangis, ia mengira Bang Ranggi sangat membencinya.


"Berani kamu angkat panggilan b******n lain di rumah ini.. Abang banting benar ponselmu..!!!" ancam Bang Ranggi dengan emosinya. Si kecil Khaja mulai menangis mendengar suara gaduh di dalam kamar.


Hana yang sedang kalut mengira Bang Ranggi menolaknya tak mendengar ucapan itu dan malah mengangkatnya. Seketika itu juga amarah Bang Ranggi memuncak hingga memanaskan ubun-ubun kepala. Ia merampas ponsel Hana dan membantingnya.


"Abaaang..!!!" pekik Hana beringsut ketakutan apalagi Bang Ranggi. Ia meremas perutnya yang kembali terasa sakit.


Tak cukup dengan itu Bang Ranggi masih menginjak ponsel Hana sampai hancur dan terlihat SIM card Hana tertekuk. "Kamu sudah bosan mendengar kata suamimu??? Kita ini menikah karena saling memiliki rasa tapi kalau Rahman memang bisa membuatmu bahagia.. cari dia..!! Abang berusaha sabar tapi jangan pernah kamu menguji kesabaran Abang..!!!!" bentak Bang Ranggi mengundang kecemasan Ayah Rico dan Opa Garin.


Ayah Rico dan Opa Garin segera menerobos masuk dan melihat amarah tak terkendali dari Bang Ranggi.


"Astagfirullah.. ada apa ini Ranggi???????" Opa Garin menegur keras cucunya.


Bang Ranggi segera meninggalkan tempat karena hatinya masih menyimpan amarah,. Ayah Rico pun mengikuti putranya. "Maa.. tolong cek keadaan Hana. Anakmu ini buat keributan"


:



( Hayoo tebak.. ini tulisan laki-laki atau perempuan??🤭🤭 ) -dokumen pribadi Nara-



"Tidak ada yang melarangmu kesal, itu masalah hati.. tapi kamu lihat kondisi istrimu juga lah le. Hana takut sekali" Ayah Rico menegur Bang Ranggi yang sedang mencoret sisi belakang lemari kayu di pembatas dapur rumahnya.


Bang Ranggi masih terdiam memendam kesal. Asap mengepul dari sela bibirnya. "Temui Hana dan selesaikan baik-baik. Kata-katamu itu benar-benar fatal Ranggi..!!!"


:


Bang Ranggi membuka pintu kamar perlahan. Terdengar Hana masih menangis. Mama Jihan pun memberi ruang untuk anak dan menantunya membawa si kecil Khaja bersamanya.

__ADS_1


Mama Jihan melirik putranya dengan gemas. Bang Ranggi semakin merasa sangat bersalah.


Setelah Mama Jihan menutup pintu, Bang Ranggi mendekati Hana.


"Sayang.. Abang minta maaf..!!"


Hana gemetar saat Bang Ranggi mendekatinya. Kini ia merasa semua pria sangat kasar. "Kalau tidak ingin bersama Hana, tinggalkan Hana sendiri..!!"


"Maaf dek, Abang nggak sengaja."


"Kalau Abang jijik sama Hana, nggak usah dekati Hana lagi" pinta Hana sekarang juga sudah emosi.


"Kenapa bicara begitu? Abang nggak pernah punya pikiran seperti itu."


"Kenapa Abang nggak mau pegang Hana lagi????" tanya Hana langsung pada pokok persoalannya.


Bang Ranggi duduk di samping Hana kemudian perlahan menyentuh tangan Hana. Istrinya itu menolak tapi Bang Ranggi tetap menggenggam tangannya. "Terus terang Abang syok melihat penampilanmu yang baru.. tertutup dan sangat cantik. Pikiran Abang yang biasanya nakal tiba-tiba tertampar. Punya istri yang seperti ini sangat bertolak belakang dengan kelakuan Abang di masa lalu. Tapi sungguh Abang bangga juga terpesona. Hati Abang tergerak ingin selalu melindungimu sampai Abang sendiri tidak berani menyentuhmu meskipun kamu halal bagi Abang. Abang takut kamu di apa-apakan orang" jawab jujur Bang Ranggi.


Hana menoleh mendengar jawaban Bang Ranggi. Tak menyangka hati suaminya begitu dalam. Kini ia mengerti perasaan Bang Ranggi dan pastinya suaminya itu sedang merasa cemburu berat dengan kejadian tadi padahal Bang Rahman hanya ingin mengirimkan paket hadiah untuk baby Khaja dan juga Cherry.


"Besok Abang belikan ponsel. Maaf ya dek? Abang di maafin khan?" tanyanya sedikit memaksa.


"Nggak" jawab Hana.


"Hana nggak bisa di sogok." jawab Hana memalingkan wajahnya.


"Nol nya ada tujuh di belakang dua nominal di depan" bujuk Bang Ranggi lagi.


Seketika tangan Hana langsung menyambar kartu ATM itu. "Bukan berarti di maafin" jawab Hana terdengar gengsi.


"Siap..!!" sekuat-kuatnya Bang Ranggi menahan gelak tawa daripada Hana kembali marah dan sulit di bujuk.


Ponsel Bang Ranggi berdering. Om Richi menghubungi nya. Bang Ranggi segera mengangkatnya.


"Selamat siang komandan.. Sertu Handro ijin menghadap. Ijin arahan komandan..!!"


"Ada masalah apa? Ini khan hari Sabtu. Senin saja lah di jam kerja. Saya sedang quality time dengan keluarga" tolak Bang Ranggi.


"Siap.. Ijin Dan.. Sertu Handro datang bersama calon ibu mertua untuk membicarakan masalah pengajuan nikah" kata Om Richi.


Bang Ranggi menutup sejenak ponselnya dengan tangan. "Abang ke kantor sebentar ya sayang? boleh nggak?" tanya Bang Ranggi berbisik pada Hana.


"Ya sudah sana" Hana pun mengijinkan.

__ADS_1


"Oke lah, tapi saya hanya punya waktu paling lama satu jam. Saya nggak bisa ninggal istri lama-lama"


"Siap..!!"


...


Bang Ranggi cukup terkejut melihat wanita yang duduk di ruang kerjanya. Tapi bukan Bang Ranggi kalau tak bisa menyembunyikan perasaan.


Rasa kaget setengah mati itu pun di rasakan ibu Tami. Ibu dari Zahra.


Sertu Handro bersiap berdiri memberi hormat tapi Bang Ranggi melarangnya. "Duduk saja.. ini bukan jam kantor"


"Siap Dan. Mohon maaf saya mengganggu waktunya"


"Oke nggak apa-apa. Tapi saya hanya punya waktu satu jam" kata Bang Ranggi penuh wibawa.


Ibu Tami mencolek pinggang Bang Handro. "Kamu kenal Ranggi?" tanya Ibu Tami dengan suara keras. Sertu Handro rasanya bagai kehilangan muka.


"Saya temannya Handro" Bang Ranggi akhirnya menjawab pertanyaan Ibu Tami.


"Calon mantuku ini tentara. Kamu kerja apa disini?"


Bang Ranggi tersenyum ringan. "Saya montir yang memperbaiki truk di tempat Handro kerja ini" kata Bang Ranggi.


"Panggil Pak, Dia ini tentara"


"Baiklah Pak Handro.. ada yang bisa saya bantu?" tanya Bang Ranggi masih dengan mode santai tapi Sertu Handro sudah malu setengah mati.


"Cepat panggilkan Perwira Intel yang piket di sekarang ini. Dia harus hapus kasus calon mantuku. Kamu jangan ikut campur" Bu Tami begitu ketus menatap Bang Ranggi. Ia mengutip perkataan Om Richi yang sedang mencari Perwira Intel yang bertugas tadi melalui sambungan telepon.


"Kebetulan saya perwira Intel nya Bu" jawab Bang Ranggi.


"Kalau begitu panggilkan saja petugasnya..!!" bentak Ibu Tami.


Sertu Handro sampai beringsut berlutut agar calon ibu mertuanya diam. "Ibuu.. perwira nya Letda Ranggi"


"Sudahlah.. kalau kamu tidak berani biar ibu yang bicara. Pangkatmu khan Sertu" cerocos ibu masih tidak memahami situasi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2