Bertukar Suami

Bertukar Suami
part 1


__ADS_3

...****************...


...Setiap hari Ana harus bangun pagi menyiapkan sarapan untuk semua orang yang ada di keluarga Bondan. Tepat pukul 07.00 semua sudah kumpul dimeja makan untuk menyantap sarapan. Tapi saat mereka sampai di meja makan, mereka mendapati meja yang kosong. karena, Ana ternyata belum selesai menyiapkan sarapannya....


Sofi berteriak-teriak memanggil Ana "Ana...! Ana...! Ana...!"


mendengar teriakan mertuanya, Ana yang baru keluar dari toilet langsung berlari sambil memegangi perutnya.


"kenapa sarapan belum siap?.tanya Sofi. "kami semua sudah harus sarapan" kata Sofi. "suamimu dan Anita juga harus berangkat kerja...!" Sofi mengingatkan. "kalau mereka sampai terlambat mereka bisa dipecat...!"


"maaf ma...!" jawab Ana.


"ngapain aja kamu dari tadi?" tanya Sofi. "jangan panggil aku mama...! panggil aku nyonya" Sofi menegaskan. "kau itu hanya menantu yang tidak berguna, yang hanya bisa menyusahkan kami...!" kata Sofi mencemooh. "dasar tidak berguna !" Sofi sinis


"maaf nyonya Ana tadi sakit perut...!" jawab Ana. "sebenarnya sarapan sudah siap, tapi belum Ana sajikan di meja makan...!".kata Ana.


"bentar biar Ana sajikan di meja...!" Ana bergegas ke dapur mengambil makanan


"cepat jangan lama-lama.....!" kata Rudi (suami Ana)


"iya mas...!" jawab Ana dengan suara keras


Istrimu itu benar-benar tidak berguna ya Rudi... !."ejek Anita dengan senyum sinis.


"Apa kau pikir si Firman suamimu itu berguna, hem?. balas Rudi sinis. "hanya bisa duduk di kursi roda dan tidak bisa bekerja, bisanya nyusahin orang... !" kata Rudi. "ha ha ha ha ha ha ha...." Rudi tertawa puas


setelah beberapa saat makanan sudah selesai disajikan di meja makan oleh Ana.


"Sudah lah...!" Sofi menyela. "ayo kita sarapan dulu... !" ajak Sofi.


"iya ni, papa juga sudah lapar...!" kata Bondan (suami Sofi).


mereka pun kemudian menyantap hidangan yang sudah tersaji di depan mereka sambil berbincang-bincang. sedangkan Ana tidak ikut makan, dia langsung kembali ke Dapur untuk bersih-bersih layaknya pembantu.


"pa...!" Sofi memanggil Bondan. "hari ini aku mau pergi shoping sama teman-teman arisan mama boleh ya pa...?" tanya Sofi. "udah lama ni mama gak shoping, bosen di rumah terus" alasannya.


"haduh...!" jawab Bondan melemas. "papa belum ada uang ma...!" kata Bondan. "kan uang bulan kemaren udah papa kasih ke mama semua!" kata Bondan mengingatkan. "papa belum gajian, jadi papa mana ada uang...!" jelasnya. "lain kali aja lah shoppingnya, kalau papa udah gajian!"


"Ah papa ni" Sofi cemberut. "uang bulan kemarin hanya cukup buat kebutuhan kita sehari-hari" jelasnya. "uang untuk mama shoping harusnya ada dong...!. "rengek sofi.

__ADS_1


"mama ni kebiasaan deh!" Bondan maki lembut


"Rudi" panggil Sofi. "kamu ada uang gak? tanya Sofi. "mama pengen shoping ni!"


"ma...!, Rudi juga belum gajian!" Jawab Rudi. "kan separoh gaji ku kemarin udah di kasih ke mama!" jelasnya. "Rudi mana ada uang ma!"


"kamu ni gimana sih Rud!" Sofi menyalahkan. "uang kemarin yang kamu kasih ke mama itu udah habis buat pergi ke salon!" jelasnya.


Rudi melirik sofi lalu tarik nafas panjang


"Anita, kamu punya uang kan?" beralih tanya Anita sasaran Sofi berikutnya. "buat shoping mama...!"


"aku ada uang tapi cuma sedikit ma...!" jawab Anita. "kan bulan kemarin uang ku di pakai terapi mas Firman" jelasnya.


"ini semua salah si firman dan Ana, coba saja mereka bekerja pasti kita gak bakal seperti ini!" kata Sofi jengkel.


aku sudah selesai, aku mau berangkat kerja dulu!" kata Rudi. "An..., Ana....!."teriak Rudi.


"ya mas...!" jawab Ana dengan suara lantang dari kamar Rudi.


mendengar teriakan suaminya, Ana langsung lari menghampiri Rudi dengan menenteng tas dan sepatu.


"ini mas!" jawab Ana


kemudian Ana langsung memberikan tas, tak lupa membantu suaminya memakai sepatu.


"ma, pa Rudi berangkat kerja dulu!" pamit Rudi


"tunggu rud!" Anita menghentikan rudi. "aku ikut kamu ya!,kita berangkat bareng, tempat kerja kita kan sama!" pinta Anita.


"ayo lah" Rudi mengiyakan


"kami berangkat dulu ya pa, ma!" kata Anita.


"papa juga mau berangkat kerja ma!" kata Bondan


"iya pa" jawab Sofi. "hati-hati ya pa".


seperti biasa, setelah mereka selesai sarapan Ana langsung membereskan meja makan, kemudian nyuci piring setelah itu baru Ana sarapan.

__ADS_1


Ana selalu makan seharian di dapur karena Ana tidak diizinkan untuk makan bersama mereka.


Ana sudah biasa diperlakukan seperti pembantu di rumah mertuanya, mereka menganggap Ana tidak berguna karena tidak bekerja.


di rumah itu tidak ada pembantu, sehingga semua pekerjaan rumah Ana yang mengerjakan. masak, nyuci, nyapu, menyetrika, semua Ana kerjakan sendiri.


Meskipun begitu, Ana setiap hari masih dihina dan dimaki-maki. Suaminya pun tidak pernah peduli dengan Ana.


Pernah suatu ketika Ana sedang tidak enak badan.


Pukul 07.00 pagi Ana belum bangun, lalu sofi dengan emosinya mendatangi kamar Ana yang ada di kamar pembantu. karna memang Ana tidak tidur dengan suaminya, Ana akan tidur dengan suaminya jika Rudi memanggil Ana untuk tidur bersama dan melayani dia sebagai istri. Sofi membawa ember kecil berisi air kemudian disiramkan pada Ana yang sedang tidur, lalu menarik selimut Ana.


"hei...! bangun" kata Sofi. "dasar pemalas!" makinya.


Ana pun sontak kaget spontan langsung duduk sambil menatap mertuanya yang sedang marah.


"kamu tau ini jam berapa?" kata Sofi. "kamu harus masak dan siapkan sarapan, meskipun sekarang hari minggu, kamu juga tidak boleh bermalas-malasan!." Sofi memarahi Ana sambil meletakkan tangannya di pinggang.


"ma, maaf nyonya" Ana terbata-bata. "Ana sedang sakit" jelasnya. "bisa gak kalo hari ini Ana gak masak?" tanya Ana. "kepala Ana sakit"


"terus kalau kamu gak masak, siapa yang masak?" tanya Sofi balik. "aku...?, enak saja...!"


Ana menundukkan kepalanya.


"dasar perempuan tidak berguna." kata Sofi.


tangan Ana ditarik dan diseretnya ke dapur. sedangkan Ana hanya bisa pasrah menahan sakit kepala, badan terasa lemas seperti mau pingsan. tapi sofi tidak peduli akan hal itu. sedangkan suami Ana yang melihat adegan itu, hanya melihat saja tanpa peduli keadaan Ana yang sedang sakit.


"cepat masak kami sudah lapar!" bentak Anita pada Ana.


"kamu dengar Ana?" kata Sofi sambil melototi Ana.


"ya nyonya" jawab Ana.


kemudian Ana masak dengan kondisi badan yang lemah, Ana tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa pasrah dan sabar. ingin mengadu tapi tidak punya tempat untuk mengadu. karena, Ana yatim piatu tidak punya siapa-siapa. dia besar di panti asuhan. jadi tidak punya saudara satupun.


Firman kakak iparnya melihat adegan itu sebenarnya tidak tega, tapi dia sediri tidak bisa berbuat apa-apa. sedangkan yang lainya sama sekali tidak peduli jika melihat Ana dihina dan dimaki-maki, malah mereka kadang ikut memaki-maki Ana.


sebenarnya Ana pernah meminta cerai dengan suaminya "Rudi". Ana sudah tidak tahan dengan perlakuan suami dan keluarga mertuanya. setiap malam Ana menangis meratapi nasibnya yang menikah dengan laki-laki kejam, yang tidak pernah menganggap dirinya selayaknya istri dan hanya menganggapnya pelayan juga pemuas nafsu saja, seperti pelacur gratis.

__ADS_1


Sayangnya permintaan Ana untuk bercerai dengan Rudi tidak diperbolehkan oleh Sofi. karena, Sofi tidak mau kalau Ana pergi dari rumah itu. Sofi berfikir, jika Ana sampai keluar dari rumah maka tidak ada lagi yang akan melakukan pekerjaan rumahnya. Sofi pun tidak mau jika harus melakukan pekerjaan rumah sendiri. sedangkan jika mau mempekerjakan pembantu, dia harus mengeluarkan uang untuk menggaji pembantunya. tentunya Sofi tidak mau rugi.


__ADS_2