Bertukar Suami

Bertukar Suami
Merasa Iri


__ADS_3

"Oke, siap Bu Bos Damar." Damar terkekeh. Lalu, segera membuka pintu mobil tempatnya duduk. Bergegas dia turun dari mobil menghampiri tukang jualan mainan.


Kayra langsung menggelengkan kepala. Pipinya memerah dikatai Bu Bos oleh Damar. Mereka semua tersenyum geli melihat reaksi Kayra tersebut.


"Lihat geh, Yah!" beritahu ibunya Damar.


Ayahnya Damar langsung menengok ke belakang.


"Lihat apa, Bu?" tanya ayahnya Damar penasaran.


"Lihat ini pipi menantumu langsung kayak tomat dikatakan Bu Bos Damar. Padahalkan itu memang yang seharusnya," ledek ibunya Damar menertawai Kayra.


"Hehe, mantu kita ini memang terkadang suka unik? Semenjak hamil perilakunya juga berubah derastis. Dari yang suka bicara jadi sedikit pemalu." Kayra menghentikan senyumannya. Jujur dia begitu tersindir oleh kata-kata mertua lelakinya. Perasaan cemas mulai menghantui jiwanya.


"Apa mungkin karena bawaan hamil jadi sikapnya berubah derastis?" sambung ayahnya Damar terkekeh.


"Bisa jadi Pak. Orang hamil bawaannya sendiri-sendiri. Hal-hal yang tadinya tidak biasa dilakukan, malah dilakukan saat hamil," sahut Mbok Nem terkekeh.


"Iya benar, Pak. Istriku dulu nggak suka tuh namanya buah duren. Eh, gegara ngidam ... dia malah minta dibelikan buah duren terus. Alhasil aku yang dibuat kewalahan mencari buah duren di saat tidak musim. Giliran menemukan penjual buah duren ... eh, harganya selangit," sambung Pak Sopir terkekeh.


"Wah-wah, ternyata segitu merepotkannya perempuan kalau lagi hamil. Ada-ada saja permintaannya. Untung saja dahulu Ibu tidak aneh-aneh bawaannya saat hamil. Cukup minta pijati dan dipeluk saat tidur," jelas ayahnya Damar terkekeh.


Kini gantian pipi ibunya Damar yang memerah. Hal itu pun tak luput dari godaan ayahnya Damar.


"Lihat Kay, sekarang gantian wajah Ibu yang memerah," goda ayahnya Damar terkekeh.


"Hehe, iya." Kayra tersenyum kembali melihat wajah ibu mertuanya memerah juga. Rasa cemasnya sudah sirna karena perbedaan sikapnya dianggap karena bawaan hamil oleh orang-orang di keluarga Damar.


"Wu, gitu tadi ngatain Kayla! Padahal intinya semua wanita itu sama kalau digoda pasti wajahnya berubah warna kayak bunglon," goda ayahnya Damar terkekeh.


"Namanya juga wanita, Pak! Sensitif dan selalu pakai perasaan. Dipuji dikit saja, rasanya kayak mau terbang," ceplos Pak Sopir terkekeh.


Mbok Nem dan ibunya Damar langsung menatap Pak Sopir. Tatapan mengintimidasi jelas terpasang di wajah mereka.


"Eh." Pak Sopir langsung diam seribu bahasa. Dia bingung harus berbuat apa. Berkata lagi jelas dia tak berani.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Damar sudah kembali lagi sambil menenteng satu kantong plastik berukuran besar. Dia sengaja memborong mainan yang dijual kakek itu. Setelah mendengar cerita dari sang kakek, rasa iba merasuki hatinya.


Kini pandangan mereka beralih melihat Damar. Hati Pak Sopir langsung merasa lega karena sudah bebas. Dia tak perlu takut atau khawatir lagi pada majikan wanita dan Mbok Nem.


"Wah, borong nih?" ledek ayahnya Damar tersenyum senang.


"Hehe, sekali-kali menyenangkan hati Kaysa tak masalahkan," jelas Damar tersenyum manis.


"Ups, benar juga." Ayahnya Damar tersenyum malu.


Damar segera membuka pintu tengah, lalu menyerahkan satu kantong besar itu pada ibunya. Sang ibu langsung mengover ke belakang.


Hati Kayra begitu berbunga-bunga melihat kebaikan Damar pada anaknya.


"Mbak Kayla memang wanita paling beruntung bisa memiliki suami macam Mas Damar," batin Kayra tersenyum senang. Pandangannya tak henti menatap kagum sang kakak ipar.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan lagi," ajak Damar mulai menyalakan mesin mobilnya. Kini dia sudah nangkring kembali di dalam mobil.


"Siap," sahut semuanya tersenyum.


Sepuluh menit berlalu, kini mobil mereka sudah menepi di halaman rumah David. Mereka berbondong-bondong turun dari mobil. Merasa tidak sabar lagi, Kayra buru-buru melangkah menuju teras rumah David. Kerinduannya pada sang anak sudah tidak tertahankan.


Sementara yang lain masih diam di dekat mobil memandangi aksinya itu. Tentulah bibir mereka melengkung ke atas.


Tok! Tok! Tok!


Kayra mulai mengetuk pintu rumah David. Namun, belum juga mendapatkan sahutan dari dalam. Keningnya mengkerut menandakan bahwa dia mulai penasaran.


"Kenapa, Sayang?" tanya Damar ketika baru sampai di dekat Kayra.


"Kok, nggak ada sahutan sih? Apa mereka sedang keluar?" tanya Kayra merasa aneh.


Senyum mereka langsung pudar ketika mendengar penjelasan Kayra. Rasa kecewa tergambar jelas dari wajah mereka.


"Coba deh kita tunggu sebentar! Siapa tahu mereka akan tiba di rumah," saran Damar tersenyum. Tangannya menyentuh pipi sang istri lembut.

__ADS_1


Brum! Brum!


Di saat yang bersamaan, David dan Kayla datang. Mereka segera menengok ke arah dua orang tersebut. Tatapan mereka penuh tanya melihat dua orang tersebut seperti habis bepergian jauh.


"Wah, sepertinya mereka habis jalan-jalan?" tanya ibunya Damar tersenyum.


"Iya seperti begitu," sahut ayahnya Damar terus fokus memandangi Kayla dan David. Dia terus mengembangkan senyumannya.


Melihat kedatangan tamu yang dirindukan Kayla bergegas turun dari motor. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin mengajak mereka masuk ke dalam.


"Hati-hati!" peringati David sambil membantu Kayla turun.


"Hum." Kayla tersenyum senang bisa melihat sang suami yang sangat dirindukan lagi.


Kayra senang sekali melihat suaminya begitu perhatian pada saudari perempuannya. Hal itu menandakan bahwa hubungan dia dan suaminya masih baik-baik saja. Dalam artian tuduhan dia dan saudari perempuannya tempo hari tidak terbukti sampai saat ini.


"Eh, kalian datang kok nggak kasih kabar dulu? Tahu gitu tadi pas di jalan kami belikan cemilan?" sapa David tersenyum ramah.


"Maaf mengagetkan kalian tanpa permisi dahulu? Sebenarnya, kami kemari pun tanpa perencanaan. Berhubung kami habis pulang dari rumah sakit ... jadi, mampir sekalian buat menengok perkembangan Kaysa," jelas ayahnya Damar tersenyum.


"Astaga, memangnya siapa yang sakit? Kok, kalian tidak memberi kabar kami?" tanya David terkejut.


"Hem, siapa lagi kalau bukan menantu kesayangan kami ini." Tangan ayahnya Damar menyentuh bahu Kayra.


Wajah Kayra langsung bersemu merah menahan malu.


Hal itu cukup membuat Kayla merasa iri melihat sang adik menjadi perhatian keluarga suaminya.


"Sungguh kami kasihan sekali melihat dia harus bolak-balik masuk rumah sakit akibat kehamilannya ini. Semoga saja ketika lahirannya lancar tanpa hambatan," jelas ayahnya Damar tersenyum tipis.


"Aamiin," sahut semuanya tersenyum.


Damar langsung merangkul Kayra dari samping. Hal itu semakin membuat hati Kayla merasa teriris.


"Sabar Kayla, ini semua pilihanmu. Demi apapun kamu harus kuat dan sabar. Setelah bayi itu lahir, rasa sakitmu akan tergantikan dengan tangis kebahagiaan tiada tara," gumam Kayla dalam hati. Dia terus berusaha menahan air yang hampir lolos dari pelupuk matanya.

__ADS_1


__ADS_2