
David diam saja. Pandangannya tetap lurus ke depan. Dia seolah tidak peduli dengan apa yang dilakukan Nayla. Dia tahu benar kalau hal tersebut hanya gertakan semata. Tiga tahun menjalin hubungan dengan Nayla membuatnya paham betul karakter Nayla. Hanya helaan napas kasar saja terdengar jelas.
Di dalam mobil, Nayla belum menyalakan mesin mobilnya. Dia masih berharap besar kalau David mencegah aksi liarnya tersebut. Matanya tak henti menatap ke arah David. Cukup lama dia menungguinya. Namun, David tak kunjung bergerak. Dia terlihat nyaman di atas motornya. Tidak ada reaksi cemas atau panik.
"Huh, sialan! Dia benar-benar tidak peduli lagi denganku!" Nayla memukul setir mobilnya kuat karena begitu kesal.
Dia diam sejenak memikirkan cara lain agar David bisa terus bersamanya. Bibirnya melengkung ke atas karena menemukan ide baru yang menurutnya lebih berilian.
Bergegas dia turun dari mobil. Melangkah cepat mendekati motor David.
David tetap menatap lurus ke depan. Dia tak menggubris tingkah Nayla sama sekali.
"Huh, sepertinya, kamu memang sudah tidak peduli lagi padaku! Daripada aku menambah dosaku dengan mati bunuh diri ... sebaiknya, aku ikut saja ke mana kamu pergi!" Nayla segera nangkring di atas motor David. Tanpa merasa malu, dia merangkul erat perut David. Pipi sebelah kanannya dia tempelkan ke punggung David.
David kembali menghela napasnya kasar. Dia memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir suasana hatinya agar tidak emosi.
"Baiklah, kalau kamu mau ikut denganku! It's oke, enggak masalah! Akan tetapi, jangan cerewet atau bawel nanti pas di rumahku!" ucap David datar.
"Tentu aku tidak akan bawel! Asalkan kamu tetap bersamaku ... aku pastikan raga ini akan merasa nyaman dan damai. Walaupun kita hanya tidur beralaskan kain usam," balas Nayla tersenyum menang. Akhirnya, usaha dia berhasil.
David tidak menggubris ucapan Nayla sama sekali. Dia langsung menyalakan mesin motornya. Lalu, melajukannya meninggalkan pekarangan rumah Nayla.
"Pak, bilang sama Ayah dan Ibu ... aku pulang ke rumah suamiku!" teriak Nayla saat Pak Satpam membuka gerbang.
"Siap, Non!" Satpam tersebut mengangguk patuh.
Begitu keluar dari gerbang, David menambah laju kemudinya agar cepat sampai. Rasanya dia tidak nyaman dipeluk Nayla terus-terusan. Di pikirannya hanya ada Kayra dan anaknya saja.
Kini mereka sudah sampai di rumah. David langsung menyuruh Nayla turun. Punggungnya terasa pegal harus menyangga tubuh Nayla terus. Sepanjang perjalanan Nayla nempel melulu kayak prangko.
"Ayo cepat turun!" perintah David malas.
"Eh, kita sudah sampai toh! Baiklah!" Nayla segera melepaskan pelukan eratnya. Pelan-pelan dia turun dari motor. Bibirnya terus melengkung ke atas. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin tidur di pelukan suaminya.
__ADS_1
Lagi-lagi David diam saja. Dia tak berbicara sepatah kata pun. Kakinya langsung melangkah menuju pintu rumah. Setelan pintu terbuka lebar, dia segera mendorong motornya ke dalam.
Nayla sambil terus tersenyum mengekori langkah David tersebut. Tanpa disuruh David, Nayla menutup dan mengunci pintu rumah rapat-rapat. Lalu, dia mengikuti langkah David menuju sebuah ruangan.
"Malam ini dan seterusnya, kamu tidur di sini," ucap David datar
"Iya." Nayla tersenyum manis.
"Ya sudah. Silakan istirahat!" perintah David lalu meninggalkan Nayla.
"Eh, Mas David mau ke mana?" tanya Nayla menyambar tangan David.
David kembali menghela napas kasar.
"Aku masih ada urusan! Nanti, aku menyusulmu! Segeralah tidur! Tidak baik wanita hamil tidur malam-malam," bohong David tanpa menatapnya.
"Oh, baiklah!" Nayla segera melepaskan tangan David.
David segera meninggalkan Nayla di kamar almarhum kedua orangtuanya. Dia tak mungkin menyuruh Nayla tidur di kamar Kayra dan dia. Hal itu pasti akan menambah luka di hati istrinya.
Nayla segera membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Tak apalah tidur di ranjang reot begini ... asalkan bisa terus bersama David." Nayla menyangga kepalanya dengan bantal. Bibirnya terus melengkung ke atas.
Sementara, David masuk ke dalam kamar miliknya. Dia duduk di atas ranjang. Bayangan kebersamaan dia dan Kayra terus terlintas di otaknya.
"Kamu sedang apa sekarang? Apa tidurmu nyenyak di luar sana?" gumam David sedih. Bahkan, sebutir air mulai luruh dari matanya.
Di saat bersamaan ponselnya berbunyi. David segera meraih ponsel di saku depan celananya. Keningnya langsung mengkerut ketika melihat siapa yang menghubunginya.
"Andre? Untuk apa dia malam-malam menghubungiku?" gumam David bertanya-tanya. Dia belum mengangkat panggilannya.
"Ups, mungkin ini berita penting soal Kayra," gumam David bersemangat. Dia segera mengangkatnya.
__ADS_1
[Halo, ada apa, Pak Andre?] sapa David.
[Aku minta nomor istrimu sekarang juga!] tegas Andre.
[Mau buat apa?] tanya David penasaran.
[Ini, aku ada teman yang bisa melacak keberadaan seseorang melalui ponsel. Jadi, cepat kirimkan nomornya sekarang! Besok kita bisa langsung ke TKP.] tegas Andre tidak sabar.
[Oh, ok. Tunggu sebentar!] David langsung merubah beranda panggilannya ke dalam chat. Buru-buru dia memilih nomor kontak istrinya sebelum mengirimnya ke Andre.
[Sudah, aku kirim!" ucap David.
[Oke. Aku matikan dulu panggilannya! Nanti, kalau sudah ada informasi! Akan aku kabari langsung!] ucap Andre.
[Baik. Terima kasih atas bantuannya!] seru David tersenyum senang. Akhirnya, dia memiliki peluang besar bertemu istrinya.
Andre segera mengakhiri panggilannya. Dia ingin mengirimkan nomor Kayra pada temannya.
"Semoga saja usaha Andre membuahkan hasil baik. Rasanya aku sudah tidak sabar bertemu anak dan istriku. Oh Tuhan, perlancarlah urusan kami ini," gumam David menengadahkan tangannya.
Tepat pukul tiga dini hari, tidur nyenyak Nayla terusik oleh hawa dingin yang begitu menusuk ke tulang. Dia belum membuka matanya karena begitu mengantuk. Tangannya meraba-raba bagian kasur di sampingnya tidur. Berharap ada sosok tubuh kekar menghangatkannya.
"Loh, kok kosong sih?" gumam Nayla bingung karena tidak merasakan sentuhan tubuh David. Matanya langsung terbuka lebar. Sungguh, dia dibuat terkejut karena tidak mendapati sosok yang dicari.
Dia segera bangkit dari posisinya. Mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar.
"Kosong!" Nayla mulai merasa kesal.
"Berarti, semalam David tidak kembali ke kamar ini lagi? Sialan, dia sudah berani membohongiku!" umpat Nayla geram.
"Sebaiknya, aku cari saja dia! Pasti dia tidur di kamar lain!" Nayla segera turun dari ranjang.
Pelan-pelan dia melangkah keluar. Pandangannya mengitari setiap penjuru ruangan untuk memastikan keberadaan David. Namun, hasilnya zonk. Dia sama sekali tidak melihatnya.
__ADS_1
"Pasti dia ada di kamar itu?" tunjuk Nayla tersenyum licik. Dia segera melangkah mendekati pintu kamar tersebut. Begitu sampai, tangannya segera memutar handel pintu.