Bertukar Suami

Bertukar Suami
Gemas


__ADS_3

Untuk menutupi perasaannya, Kayla langsung mengalihkan pembicaraan. Dia langsung mengomeli David.


"Apaan sih? Jangan aneh-aneh deh! Sudah sana cepat selesaikan tugasmu!" perintah Kayla kesal.


Mbok Nem terperangah mengetahui karakter adik majikannya yang sulit diajak becanda. Dia langsung mengucapkan istigfar dalam hati.


"Hey, kamu kok sensi banget sih? Jangan sensi-sensi nanti cantiknya hilang," goda David lagi terkekeh.


"Mas!" bentak Kayla semakin kesal. Darahnya benar-benar mendidih. Hari ini suasana hatinya sangat memburuk. Wajahnya memerah. Napasnya kembang kempis menandakan dia sedang tak ingin main-main.


Mbok Nem otomatis melebarkan matanya. Dia tak bisa berkata-kata. Menurutnya sikap adik majikannya ini terlalu berlebihan.


"Ups, iya-iya." David tersenyum geli. Kepalanya menggeleng-geleng. Dia segera memindahkan kotak nasi secara bergilir ke ruang tamu menuruti pesan Damar.


***


Tiga puluh menit berlalu, semua kotak nasi sudah selesai dibagikan. Kini mereka semua tengah duduk di atas ambal bersiap-siap menikmati masakan Mbok Nem dan Kayla.


Damar duduk bersandingan dengan Kayra sambil memangku Kaysa, Kayla bersandingan dengan David, kedua orangtuanya Damar pun bersandingan, sedangkan Mbok Nem bersandingan dengan Pak Sopir.


"Kamu mau makan apa saja, Sayang? Biar Mas ambilkan?" tanya Damar dengan suara pelan disertai lengkungan bibir ke atas. Semenjak istrinya hamil hal seperti ini sudah menjadi rutinitasnya saat di meja makan.


Telinga Kayla kembali panas. Dadanya pun ikut bergemuruh mendengar ucapan Damar pada adiknya. Walaupun lirih tapi dia masih bisa mendengarnya samar-samar. Padahal dia sengaja tak memperhatikan adik dan suaminya itu agar tidak merasa cemburu.


"Sabar Kayla ... sabar ...." gumam Kayla menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir suasana hatinya yang tidak kondusif. Dia terus menunduk.


Sementara Kayra langsung tersenyum tipis. Agar tidak terlalu memperburuk suasana hati sang kakak, dia langsung menolaknya.


"Nggak usah, Mas! Aku belum lapar kok! Mas, makan saja duluan!" Kayra mengelapi mulut Kaysa dengan tisu.


"Kamu serius? Ini terlihat enak loh! Apa lagi kita makannya bersama-sama begini ... pasti terasa seru?" rayu Damar tersenyum. Dia kurang yakin kalau istrinya ini tak lapar. Apa lagi saat ini waktunya makan siang.


"Iya, aku tahu. Mas, makan duluan saja! Nanti, aku menyusul," tolak Kayra tersenyum. Padahal dia begitu ingin mencicipi hidangan yang ada. Semuanya memang terlihat fresh dan lezat.


"Oh, baiklah!" Damar menyerah. Dia segera mengisi piringnya sendiri.


Sedangkan David segera mengisi piring istrinya tanpa bertanya dahulu. Dia tak mungkin menawarinya karena tahu istrinya sedang sensitif sekali hari ini. Dia hanya ingin menunjukkan perhatiannya tanpa berdebat lagi.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Kayla datar.


"Hem," balas David tersenyum. Dia mulai mengisi piringnya juga.


Ayahnya Damar langsung memimpin doa sebelum mereka menyantap makanannya. Dia berharap besar acara syukuran kecil-kecilan ini membawa berkah bagi menantu dan calon cucunya.


"Aamiin," sahut mereka semua di akhir doa.


"Mari kita nikmati hidangan ini," ajak ayahnya Damar semangat.


Mereka mengangguk serentak, lalu mulai menikmati makanan yang ada di piring mereka masing-masing. Hanya Kayra saja yang belum makan. Dia fokus mengurusi Kaysa yang berulangkali belepotan mulutnya.


Baru dua suapan masuk ke mulut Damar. Seleranya langsung menghilang karena melihat sang istri tak makan sendiri. Dia memutuskan untuk makan bersama dengan sang istri.


"Sayang!" sapa Damar menatap Kayra sendu.


"Hem, iya ada apa, Mas?" Kayra menatap Damar sambil tersenyum tipis.


"Ayo buka mulutmu! Biar aku suapin!" perintah Damar tersenyum manis.


"Hem, kalau begitu aku juga nggak jadi makan deh!" Damar meletakkan sendok berisi nasi itu ke piring.


"Eh, kok gitu?" tanya Kayra cemas. Suaranya agak keras membuat yang lain serentak menatapnya. Dia langsung tersenyum kikuk karena malu sekali.


"Maaf," sambung Kayra tersipu malu.


Mereka langsung tersenyum. Lalu, melanjutkan acara makannya lagi. Kayla semakin menyabarkan hatinya. Dia buru-buru menyantap nasi di piringnya agar bisa segera menyingkir dari sana.


"Hey, pelan-pelan saja!" peringati David lirih. Selain merasa malu dengan yang lain, dia takut istrinya itu tersedak makanan.


"Em, belum-belum perutku sudah tidak bisa diajak kompromi. Jadi, aku harus buru-buru ke belakang, Mas." Kayla berbisik sambil tersenyum kikuk. Dia berakting sepintar mungkin agar David tidak mencurigainya.


"Oh." David kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya sambil menatap sang istri lucu.


Melihat kondisi sudah aman terkendali, Damar segera mengutarakan isi hatinya pada Kayra.


"Jujur, masakan yang enak ini jadi hambar rasanya jika kamu tak ikut makan," jelas Damar lesu.

__ADS_1


"Hem, mana ada seperti itu." Kayra tersenyum tipis. "Sudah, ayo habiskan makanannya," sambung Kayra tersenyum.


Damar langsung menggeleng cepat. Sementara, Kayla segera undur diri dari sana.


"Maaf semuanya, aku ke belakang duluan!" Pamit Kayla tersenyum.


"Loh, kok cepat sekali kamu makannya?" tanya ibunya Damar tersenyum.


"Hehe, soalnya, aku ada urusan di belakang yang nggak bisa dipending." Kayla tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menyempurnakan aktingnya.


"Oh, baiklah!" Ibunya Damar tersenyum geli. Dia paham arah maksud tujuan adik mantunya itu.


Kayla segera berlalu dari sana. Sementara, Kayra terus menatap kepergian kakaknya.


Dia paham perasaan kakaknya saat ini.


"Sayang!" sapa Damar menyadarkan Kayra.


"Eh, iya, Mas!" Kayra beralih menatap Damar sambil tersenyum tipis.


"Apa kamu yakin belum lapar? Biasanya jam seginikan kamu makan siang? Apa kamu malu karena ini bukan di rumah?" tanya Damar penasaran sekali.


Kayra mengangguk saja agar kakak iparnya ini menyerah tidak merayunya lagi. Dia tak ingin membuat hati saudari kembarnya semakin merasa cemburu karena Damar terlalu perhatian padanya.


"Hem, baiklah! Habis ini, kita langsung pulang saja. Aku tak tega melihat junior di dalam perutmu kelaparan karena ibunya pemalu!" Damar tersenyum gemas. Tangannya terulur mengusap lembut perut Kayra yang mulai menonjol.


Kayra tersenyum sambil menganggukkan setuju. Menurutnya ajakan Damar ini lebih baik untuk menghindari kecemburuan saudari kembarnya.


"Oh ya, nanti aku meminta Mbok Nah buat masakin masakan yang sama seperti ini di rumah nanti. Aku yakin kalau kamu sebenarnya ingin menikmati semua ini. Namun, rasa malumu mengalahkannya," ucap Damar gemas.


"Nggak usah repot-repot, Mas. Memang Mas pikir memasak ini semua tidak lelah apa? Nanti, aku akan meminta Mbok Nah buat membungkuskan sisanya untukku," jelas Kayra tersenyum.


"Hem, bukankah itu sama saja memalukan sekali?" goda Damar tersenyum gemas. Tangannya beralih mencubit hidung Kayra pelan.


"Hehe. Setidaknya mereka tidak tahu kalau porsi makanku banyak," balas Kayra tersenyum kikuk.


"Astaga, istriku ini memang sungguh terlalu menggemaskannya. Ya sudah. Mas, nurut saja sama kamu." Ingin sekali Damar menempelkan bibirnya ke bibir sang istri untuk meluapkan kegemasannya itu.

__ADS_1


__ADS_2