
"Syukurlah, kami senang mendengarnya. Ingat Ra, walaupun Damar tidak mau mengakuinya hari ini. Mungkin, esok atau suatu hari dia akan menyesal dan mengakui cucuku ini adalah harta paling berharga miliknya," jelas ibunya Damar mengecup kening cucunya. Air mata kembali menetes membasahi kening cucunya.
"Iya, Bu. Seperti halnya Mas David dahulu yang tidak mau mengakui keberadaan Kaysa. Lambat laun atas izin Tuhan, akhirnya dia mau mengakuinya. Bahkan, sekarang dia sangat menyayangi Kaysa. Sekarang malah aku yang terhitung mencampakan dia. Demi menolong Mbak Kayla ... aku rela meninggalkan Kaysa dengan ayahnya. Dia tumbuh tanpa kasih sayangku," jelas Kayra tersenyum sedih.
"Jangan berbicara seperti itu. Kamu memang tidak merawat dia. Namun, kamu sudah berjasa besar dalam hal biaya pengobatannya. Bagi kami ... kamu adalah wanita terhebat dan kuat. Semua cobaan yang kamu lalui sangat berat. Belum tentu kami mampu menjalaninya. You is wonder women," puji ayahnya Damar tersenyum bangga.
"Terima kasih atas pujiannya. Rasanya aku ingin terbang karena terlalu senang mendapatkan pujian yang berlebihan begitu," jawab Kayra tersenyum geli.
"Silahkan terbang saja! Kami tidak melarang kok," goda ayahnya Damar terkekeh.
"His, Ayah ini mulai-mulai deh! Apa kurang sakit cubitan yang tadi?" Ibunya Damar mengkerlingkan matanya menatap sang suami.
"No, itu sudah cukup meninggalkan bekas di pinggang Ayah." Ayahnya Damar meringis sambil melambaikan tangan tanda tidak.
"Makanya kalau bicara itu yang benar. Jangan suka mengada-ngada," tegur ibunya Damar tersenyum sambil mengecup kening cucunya lagi.
"Iya-iya, nggak lagi deh." Ayahnya Damar tersenyum kikuk.
Di tempat lain, David dan ibunya Nayla mampir dahulu ke perusahaan Damar sebentar. Dia ingin menyerahkan buku rekening atas nama Kayra yang dia temukan di dalam lemari pakaian.
Di dalam buku tabungan itu tertera nominal angka yang cukup fantastis. Dia berharap kalau Damar akan berhenti menuduh istrinya dengan menyerahkan sedikit tanda bukti itu pada Damar.
"Permisi Pak Satpam," sapa David di pos jaga. Dia sengaja tidak masuk ke dalam karena malas berlama-lama di perusahaan Damar.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Satpam ramah.
"Ada, Pak. Oh ya, perkenalkan nama saya David Adrian Saputra. Saya berasal dari perusahaan Adi Jaya grup. Saya ingin menitipkan amplop ini buat Pak Damar. Bisakah?" David menyerahkan amplop berwarna cokelat ke Pak Satpam.
Pak Satpam tak langsung menerimanya.
"Maaf, saya terpaksa menitipkan ini sama Bapak karena tiba-tiba ada keperluan lain yang mendadak jadi saya tidak bisa berlama-lama di sini," jelas David seramah mungkin.
__ADS_1
"Oh tentu bisa, Pak. Tolong Bapak isi buku tamu ini sebagai buktinya." Pak Satpam menyodorkan buku dan pena ke David.
"Baik." David dengan senang hati mengisi buku tamu tersebut.
"Sudah, Pak." David mengembalikan bukunya.
"Baik. Ini amplopnya saya terima." Pak Satpam mengambil amplop yang diletakkan David di atas meja.
"Terima kasih banyak atas bantuannya. Kalau begitu saya mohon undur diri sekarang juga. Itu kasihan anak dan ibu saya sudah menunggu!" pamit David sambil menunjuk ibunya Nayla yang duduk di samping bangku kemudi sambil memangku Kaysa. Kebetulan kaca mobilnya dibuka oleh ibunya Nayla, jadi Pak Satpam bisa melihat mereka.
"Oh iya, Pak. Hati-hati di jalan!" Pak Satpam tersenyum ramah.
David mengangguk sambil tersenyum. Lalu, segera pergi dari pos jaga.Dia menghampiri anak dan ibunya di mobil.
"Semoga saja, dengan ini Damar berhenti menuduh Kayra. Kasihan dia harus terus-terusan disakiti begini," gumam David penuh harap.
Di rumah sakit, kedua orangtuanya Damar segera meminta izin pada Kayra untuk pulang dulu ke rumah. Mereka cemas jika meninggalkan Damar lama-lama dalam kondisi pikirannya yang sedang kacau begitu. Mereka takut kalau Damar akan berbuat hal yang tidak-tidak karena terlalu defresi.
Mendengar hal itu hati Kayra kembali sedih. Jujur dia ikut cemas memikirkan kondisi Damar. Walaupun dia sudah disakiti, namun dia sama sekali tidak membenci Damar. Dia mencoba memahami betapa terlukanya Damar oleh perbuatan Kayla.
"Rencananya, Ayah mau memamerkan foto anaknya ini agar hatinya luluh. Ayah yakin kalau dia pasti akan mulai tersentuh melihat betapa miripnya cucuku ini sama dia." Ayahnya Damar mengecup lembut kening cucunya yang masih berada di gendongan sang istri.
"Iya, semoga saja begitu. Ayah sama Ibu hati-hati di jalan," ucap Kayra tersenyum.
"Iya. Kamu jaga kesehatan, ya? Ingat pola makanmu diatur. Cucuku ini jelas sangat membutuhkan asupan asi yang banyak karena dia laki-laki," nasihati ibunya Damar tersenyum. Dia mengecup bertubi-tubi wajah mungil cucunya.
"Iya, Bu." Kayra tersenyum senang karena masih mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya Damar.
"Oh ya, ini cucuku mau diletakkan di mana? Apa mau ditaruh di box bayi saja biar kamu nggak capek memeganginnya?" tanya ibunya Damar tersenyum.
"Biarkan aku pangku saja, Bu. Nanti, kalau menangis malah repot mengambilnya. Toh, pasti sebentar lagi Mas David datang kemari," jelas Kayra tersenyum. Tangannya bersiap-siap menyambut tubuh anaknya.
__ADS_1
"Baiklah!" Ibunya Damar tersenyum lalu menyerahkan cucunya kepada Kayra.
Cup!
Ibunya Damar masih belum puas mendaratkan bibirnya mengecupi wajah sang cucu.
"Oma, pulang dulu, ya? Besok Oma akan kembali lagi. Doakan ayahmu agar segera sembuh hatinya. Biar nanti, kamu digendong sama Ayah," pamit ibunya Damar tersenyum. Sebenarnya dia masih ingin berlama-lama dengan sang cucu. Namun, dia takut dan cemas memikirkan kondisi Damar yang sudah cukup lama ditinggal.
"Aamiin, Oma." Kayra yang menjawabnya sebagai perwakilan.
"Ya sudah. Oma, pulang sekarang. Cup! Cup! Cup!" Ibunya Damar mengecup kening dan kedua pipi cucunya gemas.
"Iya, Oma." Kayra kembali menjawabnya sebagai perwakilan.
Setelah itu kedua orangtuanya Damar benar-benar pergi meninggalkan Kayra dan anaknya.
"Semoga saja, setelah hasil tes DNA keluar. Ayahmu segera sadar dan mengakui kehadiranmu, Sayang. Ibu sedih sekali jika mengingat Mbak Kaysa dahulu. Berbulan-bulan dia hidup tanpa kasih sayang ayahnya. Jadi, kalau bisa kamu jangan lama-lama mengalaminya." Kayra menitikkan air mata. Lalu, mengecup lembut pipi kanan anaknya.
Cukup lama Kayra berceloteh dengan bayinya sambil menunggu anak dan suaminya datang. Rasanya dia sudah tidak sabar bertemu dengan Kaysa lalu memeluknya erat. Ternyata yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga.
Ceklek!
Tanpa mengetuknya dahulu, David segera membuka pintunya. Dia masuk sambil menggendong putri kecilnya diikuti ibunya Nayla di belakangnya.
"Hay, Bunda!" sapa David tersenyum senang.
"Hay juga, anak bunda yang cantik!"
Kayra langsung tersenyum senang melihat kedatangan anaknya. Namun, dia tetap berusaha untuk tidak memperlihatkan reaksi rindunya yang berlebihan terhadap putrinya. Dia tak ingin membuat curiga ibunya Nayla.
"Ya Tuhan, bagaimana dengan keadaanmu, Nak? Kenapa bisa kamu mengalami kecelakaan? Untung saja kamu tidak terluka parah," sapa ibunya Nayla cemas. Dia menyerobot langkah David mendekati Kayra.
__ADS_1