Bertukar Suami

Bertukar Suami
Lagi-lagi


__ADS_3

"Serius aku tidak pernah mengkonsumsi obat atau apalah. Kalau olah raga sih paling aku hanya jalan sehat saja," jelas Karya terpaksa karena tak ingin pusing.


"Masa sih cuma olah raga jalan sehat saja bisa bikin tubuh Mbak berubah drastis? Mbak mau ngeledekin aku, ya?" tanya penata riasnya terkekeh geli.


"Aduh ini orang kok aneh banget sih. Dijawab jujur malah tidak percaya," batin Kayra kesal.


Penata rias itu masih tersenyum geli sambil terus membantu Kayra.


"Hem, terserah Mbak saja mau percaya atau tidak," jelas Kayra menghela napas kasar.


Penata rias tidak berkata lagi. Dia hanya tersenyum saja menanggapinya. Setelah selesai, Kayra segera keluar dari dalam ruangan. Dia menghampiri Damar yang masih sibuk menatap ponselnya.


"Mas, ayo kita berangkat!" ajak Kayra tersenyum manis.


"Sebentar, Sayang!" Damar terus menatap ke layar ponselnya.


"Mas, aku duluan ke mobil, ya?" tanya Kayra sedikit gelisah. Dia meminta persetujuan dari Damar dulu. Terus berada di area salon membuatnya begitu malu karena jadi perhatian banyak orang. Hanya Damar saja yang seolah tidak peduli karena sedang sibuk.


"Hem, kau ini tidak sabaran sekali," ucap Damar sambil menatap istrinya.


Dia terperangah menatap istrinya. Penampilan istrinya kali ini sangat berbeda tidak seperti biasanya. Dia berulang kali mengedipkan matanya sejenak untuk memastikan bahwa wanita di depannya ini adalah istrinya. Mungkin yang membuat Kayra lebih cantik dari Kayla karena pipi Kayra sedikit lebih berisi. Jadi, kesan make over-nya lebih sempurna.


"Ya Allah, apa yang Mas lakukan? Kenapa malah bengong sih? Ayo buruan ke mobil sekarang! Jujur aku malu sekali berlama-lama di sini," sewot Kayra.


"Apa yang membuatmu malu? Kamu bahkan terlihat cantik sekali hari ini," puji Damar tersenyum bangga.


"Mas!" Kayra tambah kesal dibuatnya.


"Oke, baiklah!" Damar segera bangkit dari kursi. Dia terus tersenyum menatap wajah ayu istrinya malam ini.


Damar langsung menggandeng lengan istrinya. Mereka berjalan berdampingan menuju mobil. Selama melangkah Kayra terus menundukkan pandangannya ke bawah karena malu terus menjadi perhatian orang-orang. Bahkan, ada pria yang dijewer sama pasangannya karena cemburu.

__ADS_1


Begitu sampai di dalam mobil, Damar masih saja terus menatap istrinya sambil tersenyum. Lama-lama Kayra merasa malu juga terus diperhatikan begitu. Dia segera menghadap ke arah samping melihat pemandangan malam dari jendela samping mobil.


"His, kok malah membelakangi Mas?" sewot Damar gemas.


"Abis Mas menatapku terus," balas Kayra tanpa menatap Damar.


"Memang kenapa kalau Mas tatap terus? Kan, Mas ini suami kamu?" tanya Damar terkekeh.


"Benar Mas itu suami aku ... akan tetapi, jika Mas terus fokus memandangiku ... kapan kita sampainya," sewot Kayra kesal.


"Ups, benar juga! Baiklah, kita lets go sekarang!" Damar segera menyalakan mesin mobil. Lalu, melajukannya meninggalkan pekarangan salon. Sesekali dia menatap ke arah istrinya itu. Entah mengapa dia merasa riasan istrinya kali ini ada yang berbeda.


Kini mereka sudah sampai di sebuah gedung hotel yang sudah didekorasi seindah mungkin. Jujur Kayra begitu terpana memandanginya. Akhirnya, impian di masa kecilnya benar-benar terwujud.


Dia segera membuka pintu mobil dan bergegas turun. Begitu pula dengan Damar. Damar segera menggandeng lengan istrinya kembali. Lalu, melangkah masuk ke dalam. Setibanya di meja tamu, Kayra terus menatap aksi suaminya sedang mengisi daftar buku tamu.


Dia sedikit bingung melihat banyak kotak kado tersusun rapi tak jauh dari tempat mereka berdiri. Dia langsung merasa malu karena tidak membawa kado seperti yang lain.


"Mas, kok kita nggak bawa kado seperti yang lain sih?" tanya Kayra dengan suara lirih.


"Hem, mana ada kita tidak bawa kado. Kado milik kita kan sudah aku titipkan lewat kurir tadi sore," jelas Damar tersenyum geli.


"Oh." Kayra langsung merasa tenang.


Damar kembali merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya. Hal seperti itu padahal sudah menjadi kebiasaan mereka saat menghadiri pesta. Mengirim kadonya terlebih dahulu lewat kurir karena tak ingin kerepotan.


"Oh ya, kamu kok bisa lupa sih dengan kebiasaan kita itu? Bukannya hal itu sudah biasa kita lakukan saat menghadiri pesta seperti ini. Mas kan paling malas kalau harus repot-repot bawa gituan segala?" tanya Damar bingung.


Kayra kembali terdiam. Ternyata dia kembali membuat Damar curiga karena hal sepele.


"Oh Tuhan, kenapa ada-ada saja prihal yang membuat Mas Damar curiga denganku," batin Kayra gelisah.

__ADS_1


"Tuh kan, kamu pasti diam lagi? Sebenarnya, ada hal apa yang membuat kamu seperti orang linglung begini? Apa kegiatanmu di rumah sakit begitu membebani pikiranmu?" tanya Damar cemas.


"Tidak kok, Mas! Mungkin, karena waktu tidur siangku tersita saja. Jadi, aku suka linglung begini beberapa hari ini," jelas Kayra meringis.


"Hem, kalau begitu mulai besok ... sehabis menyelesaikan kegiatanmu ... sebaiknya, kamu langsung pulang saja. Nanti, biar Pak Sopir yang menjemputmu," tegas Damar kasihan.


"Tapi Mas, kasihan sama Kayra kalau tidak ada yang menemaninya saat menunggu Kaysa di siang hari," jawab Kayra beralasan. Dia tak ingin kehilangan momen bersama anaknya sama sekali. Hanya itulah waktu yang tepat agar tetap bisa terus bersama anaknya.


"Sudahlah! Mas, yakin sekali kalau Kayra akan mengerti kondisimu! Jadi, jangan pernah memaksakan diri. Pokoknya kamu harus menuruti nasihat Mas kali ini. Ingat, jika kamu kurang istirahat juga akan sangat berpengaruh pada proses kehamilanmu," tegas Damar kesal.


"Baiklah!" Kayra mengalah saja karena tak ingin masalahnya tambah rumit.


"Oh Tuhan, kenapa aku bisa memberikan alasan yang semakin membebaniku," batin Kayra sangat menyesal.


"Good. Mari kita menyalami tuan rumahnya," ajak Damar tersenyum senang.


Damar dan Kayra segera menyalami tuan rumah secara bergantian. Tuan rumahnya langsung merasa ada yang lain dengan istrinya Damar kali ini. Selain dari fostur tubuh yang sedikit berisi. Terus, Kayra tidak banyak bicara seperti Kayla. Bahkan, tuan rumah memuji penampilan istrinya Damar yang begitu waw ini.


"Mar, istrimu semakin ke sini kok penampilannya bikin gemes mata memandang," goda rekan bisnisnya lalu terkekeh. Dia sengaja berbisik agar istrinya tidak mendengar. Hal tersebut tentu akan membuat istrinya marah besar.


"Entahlah, aku saja bingung," bisik Damar gantian lalu terkekeh.


"Lah kok bisa bingung, sih? Bukannya kalian tiap hari bersama? Masa iya, sama perubahan istrinya sendiri bingung," bisik rekannya itu lalu terkekeh lagi.


"Hem, aku serius!" bisik Damar gantian.


"Baiklah, aku percaya saja padamu daripada nanti malah jadi bertengkar kita," bisik rekan bisnisnya lalu terkekeh.


"Good. Ya sudah. Aku mau berkumpul-kumpul sama yang lain dulu," pamit Damar terkekeh.


"Iya. Jangan sungkan-sungkan untuk mencicipi menu hidangan alakadar yang kami suguhkan," balas rekan bisnisnya terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2