Bertukar Suami

Bertukar Suami
Sepertinya Gagal


__ADS_3

Kayra dan Kayla langsung melebarkan matanya. Mereka takut sekali kalau percakapan mereka didengar oleh orang yang mengetuk pintu tersebut. Pelan-pelan mereka berbicara.


"Waduh, bagaimana kalau dia__" Dugaan Kayla berhenti saat mendengar suara Mbok Nem memanggilnya.


"Non Kayla dipanggil Den Damar! Non, disuruh segera ke depan. Soalnya, acaranya sudah mau dimulai!" teriak Mbok Nem setenang mungkin agar Kayla dan Kayra tidak curiga dengannya.


"Baik, Mbok." Kayra bersuara.


"Sepertinya Mbok Nem tidak mendengar percakapan kita tadi. Buktinya, dia terdengar biasa saja. Lalu, dia juga tidak menggerebek kita," jelas Kayla lirih.


"Iya benar. Ayo kita segera keluar dari sini. Oh ya, jika memang Mbak takut melakukan kesalahan lagi. Sebaiknya, Mbak bergabung sama Mbok Nem saja menjaga makanan," usul Kayra lirih mencari amannya.


"Iya." Kayla mengangguk patuh.


Mereka berdua segera keluar dari kamar. Terlihat Mbok Nem masih setia menunggu mereka. Dia sepintar mungkin memasang wajah tenang di depan Kayra dan Kayla agar mereka berdua tidak curiga padanya.


"Ayo kita ke sana sekarang," ajak Kayra melangkah duluan.


"Iya, Non." Mbok Nem tersenyum.


Dia dan Kayla melangkah bersama.


"Oh ya, aku ikut Mbok di dapur bolehkah?" tanya Kayla tersenyum.


"Eh, Non mau ngapain di dapur? Bukannya, lebih baik Non ikut mendoakan Non Kayla saja di depan?" tanya Mbok Nem cemas. Dia takut kalau Kayla mengetahui aksi mengupingnya tadi.


"Hem, mendoakan tidak perlu hadir di depan. Di belakang pun tetap sama saja. Perutku masih bermasalah takutnya nanti malah buang angin di depan. Kan, malah tambah bikin malu," jelas Kayla terkekeh.


"Hem, baiklah. Tapi, kalau pas di belakang buang anginnya jangan dekat-dekat sama Mbok ... takutnya nanti Mbok mabok lagi," ledek Mbok Nem terkekeh.


"Hem, Mbok Nem tenang saja. Aku nggak akan buang angin di dekat Mbok. Melainkan, aku buang anginnya di depan Mbok saja. Jadi, nanti Mbok bukan hanya mabok. Akan tetapi, Mbok langsung masuk UGD," jelas Kayla terkekeh puas.


"Hisk, Non ini tega amat doain Mbok masuk UGD." Mbok Nem memasang wajah cemberut. Dia berpura-pura merajuk.


"Haha, Mbok ini dibecandain dikit sudah cemberut. Nggak asik," ledek Kayla lagi.


"Hehe. Yuk, kita mangkal di sebelah sana saja," ajak Mbok Nem terkekeh lagi.

__ADS_1


"Yuk!" Kayla setuju.


Tiga puluh menit telah berlalu, para tamu undangan sudah selesai mendoakan keselamatan untuk calon bayi Damar. Kini mereka semua dipersilakan untuk menikmati hidangan yang ada.


"Eh, Mbak, istriku kok sejak tadi tak nampak batang hidungnya? Apa Mbak tahu dia ke mana?" tanya David penasaran.


"Em, istrimu sedang di dapur sama Mbok Nem. Katanya dia pingin bantu-bantu di belakang daripada nganggur," jelas Kayra mencoba tetap tersenyum. Entah mengapa dia semakin tak suka dengan kehadiran David.


"Oh, sebaiknya, aku segera menyusulnya!" pamit David segera berlalu meninggalkan Kayra dan Damar.


"Sayang, makan yuk!" ajak Damar tersenyum.


"Nggak ah, nanti saja kalau orang-orang sudah pada pulang," tolak Kayra karena malu.


"Hem, kamu ini di rumah saja malu. Jangan-jangan nanti juniorku ini maluan ketika sudah lahir. Padahal biasanya kamu tidak pernah malu sama sekali walau ramai orang. Bagaimana kalau kita makan di dapur saja?" saran Damar karena dia tahu kalau istrinya ini sebenarnya sudah lapar. Dia rela menahannya karena malu dengan orang-orang.


"Hem, baiklah. Tapi, tunggu sebentar!" tahan Kayra ingin menunggu Kayla dan David menyingkir dari sana dulu. Dia tak ingin Kayla kembali merasa cemburu karena Damar kembali berulah pada Kayra.


"Hem, masih pakai acara menunggu segala? Memang lagi nungguin siapa?" tanya Damar penasaran.


"Hem, lagi nunggu kakiku ini biar hilang dulu kesemutannya," bohong Kayra agar Damar tidak curiga.


"Eh, mau ngapain?" tanya Kayra segera menahan tangan Damar.


"Huh, mau gendong istriku tercinta dong!" kekeh Damar.


"Kenapa lagi? Apa malu juga?" tanya Damar lesu.


"Hehe, iya." Kayra cengengesan.


"Ya ampun rasanya ingin sekali kutelanjangi istriku ini biar semakin malu," ledek Damar gemas.


"His, ngawur! Memang, Mas ridho kalau orang-orang melihat tubuhku. Kalau memang iya silahkan saja," goda Kayra gantian.


"Hem, kamu ini mulai nakal ya? Lihat saja nanti ketika para tamu sudah pulang! Akan aku telanjangi kamu di kamar," goda Damar semangat. Sungguh dia merindukan momen-momen perkembanganbiakan mereka. Sudah tiga bulan lebih dia berpuasa tidak menyetubuhi istrinya.


"Eh, jangan gitu ah! Mas lupakah sama pesan dokter tempo hari?" tanya Kayra terus berusaha menolak keinginan Damar.

__ADS_1


"Hem, kalau begitu aku meminta yang bagian luar saja. Kan, jelas aman terkendali?" tanya Damar tersenyum genit.


Kayra terdiam sejenak. Dia kembali memikirkan cara terbaik untuk menolaknya. Tidak sengaja dia melihat David dan Kayla sudah keluar dari dapur.


"Ayo Mas kita ke dapur sekarang. Kakiku sudah tidak keram lagi," ajak Kayra mengalihkan pembicaraan.


"Hem, dijawab dulu dong pertanyaan Mas," tolak Damar masih belum beranjak dari tempatnya.


Kayra terpaksa mengangguk saja. Dia tak ingin Kayla melihat Damar bertingkah yang tidak-tidak karena keinginannya belum disetujui.


"Yes. Akhirnya, aku bisa main panas-panasan sama istriku." Damar segera bangkit. Dia bersemangat sekali.


Kayra dibuat begidik.


"Hem, aku harus mencari cara agar Mas Damar gagal menjalankan niatnya itu," batin Kayra was-was.


Di dapur, Kayra sengaja mengambil makanan yang banyak untuknya. Dia berencana ingin membuat kenyang perut Damar agar nanti tidak jadi menjalankan keinginannya.


Damar langsung berkomentar soal makanan yang banyak itu. Dia tak yakin kalau istrinya mampu menghabiskan dua piring besar makanan yang diambil.


"Eh, kamu serius mampu menghabiskan makanan itu? Bukannya, aku pelit, Sayang? Akan tetapi, bagaimana kalau kamu sampai muntah hebat lagi," nasihati Damar cemas.


"Hem, ini aku ambil buat kita berdua. Katanya tadi mau olah raga malam. Jadi, harus menyiapkan tenaga yang besar dong," jelas Kayra mencoba mengerjai Damar.


"Hem, benar juga kamu. Ya sudah. Bawa kemari makanannya. Mari kita siapkan tenaga yang besar untuk persiapan malam ini," ucap Damar semangat.


Kayra mengangguk. Dia segera membawa piring itu ke dekat Damar.


"Mas, kita suap-suapan yuk?" saran Kayra tersenyum.


"Yuk!" Damar mulai meraih sendok.


"Akkk!" Kayra menyodorkan sesendok penuh makanan ke mulut Damar.


Tanpa merasa ragu Damar memasukkan suapan tersebut ke mulutnya. Lalu, pelan-pelan mengunyahnya sambil bergantian menyuapi Kayra gantian dengan porsi sedikit. Dia tak ingin istrinya mual jika terlalu banyak mengunyah makanan.


Belum juga makanan itu tandas, mereka sudah keburu dipanggil untuk menyambut kepulangan para tamu.

__ADS_1


"Den disuruh Ibu ke depan sekarang! Itu tamunya sudah pada mau pulang," beritahu Mbok Nem dari depan pintu dapur.


__ADS_2