
Dia meluapkan rasa kekesalannya pada preman tersebut. Akibat ulah Nayla hidupnya semakin rumit. Bahkan, rumah tangga harmonisnya bersama sang istri harus kandas di tengah jalan.
Kini para preman sudah tumbang. David segera menghentikan aksinya yang membabi buta itu. Hatinya sedikit lega bisa melampiaskan amarahnya pada para preman kelas ikan teri tersebut.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita," ajak David. Tangannya menyapu kuat bajunya yang kotor akibat ulah para preman.
"Siap!" Andre tersenyum kagum. Rasa takutnya sudah sirna. Dia tidak menyangka kalau David hebat dalam segala hal.
Mereka segera naik ke atas motor. Lalu, bergegas pergi dari sana. Melanjutkan perjalanannya mencari Kayla dan anaknya. Begitu sampai ke daerah target, Andre dan
David kerapkali menepi sejenak di pinggir jalan.
Mereka ingin mengorek informasi tempat penginapan sederhana di daerah setempat. Namun, sudah beberapa tempat mereka singgahi belum juga menemui titik terang.
"Astaga, kira-kira mereka ke mana ya? Kita sudah mutar-mutar tapi belum juga menemukannya?" tanya Andre bingung.
"Entahlah, aku pun tak tahu! Andai saja Nayla tidak mengirimkan hasil tes kehamilannya ke istriku ... pasti semuanya tidak akan serumit ini." David menundukkan wajahnya sendu.
"What? Apakah kamu serius dengan ucapanmu itu?" tanya Andre belum percaya.
"Ini buktinya jika kamu tidak percaya." David merogoh saku celananya. Lalu, mengeluarkan lipatan kertas hasil tes kehamilan milik Nayla. Kemudian menyodorkan pada Andre.
Andre segera menerima dan membacanya. Jujur dia terkejut sekali mengetahuinya. Dia baru tahu kalau sahabatnya itu terlalu egois dan tidak berperasaan.
"Apa coba tujuan Nayla mengirimkan kertas itu pada istriku? Apa dia sengaja ingin menghancurkan rumah tanggaku?" tanya David kesal. Matanya merah. Terlihat jelas kalau dia itu sedang menahan amarah yang memuncak.
"Mungkin pirasatmu memang benar soal Nayla. Sebaiknya, jika nanti kita berhasil menemukan istrimu ... kalau bisa hal itu jangan sampai diketahuinya. Aku takut kalau Nayla akan berbuat hal lain yang lebih dari itu," saran Andre mengelus pundak David.
__ADS_1
David mengangguk.
"Ya sudah. Mari kita lanjutkan lagi pencariannya. Aku yakin kalau mereka berada tak jauh dari sini," ajak Andre optimis. Bibirnya tersenyum tipis menyemangati David.
"Aamiin. Oh ya, terima kasih atas bantuannya! Kamu memang mantan bos yang baik dan penuh perhatian," puji David mencoba tersenyum.
"Ah, kau ini bisa saja! Sepertinya, esok hari dan selanjutnya jabatan kita bakalan sama deh!" Andre menepuk bahu David.
"Maksudmu, apa?" tanya David tak paham.
"Hey, kau kan tahu kalau Nayla itu anak semata wayang Om Rivan. Jadi, bisa kupastikan bahwa perusahaan mereka akan dialih tugaskan padamu," jelas Andre tersenyum. Dia merasa yakin dengan instingnya tersebut.
"Sudahlah! Sebaiknya, kita lanjut lagi!" David segera mendekati motornya.
"Oke." Andre tersenyum. Langkahnya mengekori David.
Mereka kembali mencari keberadaan Kayla. Walaupun hari sudah mulai malam. Sementara Nayla di rumah terus meremas seprai kasur tempatnya beristirahat. Meluapkan rasa kekesalannya pada istri David.
Waktu terus berputar, namun mereka belum juga berhasil menemukan keberadaan Kayla. Karena merasa kasihan dengan Andre, David memutuskan untuk pulang dulu. Besok dia akan melanjutkan kembali pencariannya.
Andre menuruti saja ajakan David. Selain karena sudah lelah dan mengantuk, dia juga ingin menenangkan pikirannya. Kalau pikirannya tenang, biasanya dia akan mudah menemukan solusi terbaik.
Begitu sampai di rumah Nayla, David memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya saja. Walaupun dia sudah sah menjadi suami Nayla. Namun, dia masih belum bisa menerima kenyataan tersebut.
"Oh ya, tolong kamu sampaikan pada keluarga Nayla kalau aku harus kembali ke rumah dulu! Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan," pesan David setelah Andre turun.
"Baik!" Andre tersenyum.
__ADS_1
Di saat bersamaan, Nayla keluar dari dalam rumah. Ternyata dia tidak bisa tidur sama sekali. Pikirannya masih tertuju pada David. Dia memutuskan untuk berjaga malam ini menunggui David kembali.
"Akhirnya, kamu kembali, Mas!" Nayla mendekat. Dia tersenyum senang.
Mereka berdua langsung menengoknya. David begitu malas menjawab kata-kata manis Nayla. Sementara Andre hanya tersenyum kecut saja. Dia masih kesal dengan sikap Nayla yang kekanan-kanakkan itu.
"Sepertinya, aku tak jadi menyampaikan pesanmu tadi! Kamu sampaikan sendiri saja! Sebaiknya, aku segera pulang ke rumah," jelas Andre menepuk bahu David. Dia langsung melenggang pergi meninggalkan David dan Nayla.
"Eh, kamu nggak mampir dulu! Istirahatlah sejenak! Pasti kamu kelelahan sekali!" tegur Nayla menatap kepergian Andre.
"Tidak perlu! Cuaca malam ini terlalu panas! Jadi, sebaiknya aku segera pulang untuk mandi agar ragaku menjadi sejuk!" Andre menengok sekilas ke arah Nayla. Lalu, masuk ke dalam mobil.
"Huh, ada-ada saja dia! Mana ada malam ini panas! Bulu kudukku saja pada berdiri karena terlalu dingin!" celoteh Nayla merasa aneh.
David tidak menggubris sama sekali celotehan Nayla. Dia malah ikutan berpamitan juga.
"Aku juga mau pamit pulang ke rumahku! Tolong sampaikan pada kedua orangtuamu bahwa aku belum bisa tinggal di rumah ini! Soalnya, masih banyak sekali urusan yang harus aku kerjakan," ucap David datar. Tatapannya lurus ke depan, dia enggan menatap Nayla.
"Eh, tidak bisa begitu! Kita kan sudah sah menjadi suami istri! Jadi, kita harus tinggal satu atap," tolak Nayla tidak terima. Wajahnya cemberut.
"Memang benar kita sudah sah sekarang! Tapi, selama aku belum berhasil menjumpai anak dan istriku ... rasanya aku tak bisa hidup tenang bersamamu," jelas David tanpa menatap Nayla.
Mendengar hal itu, Nayla semakin kesal dan membenci istri David. Dia benar-benar diabaikan oleh David karenanya.
"Kenapa sih di kepalamu hanya ada istri dan anakmu itu? Apa kamu tak menganggap sama sekali janin yang ada di rahimku ini?" tanya Nayla menitikkan air mata.
David diam tak bersuara. Entah mengapa dia seolah biasa saja dengan kehamilan Nayla. Dia tak merasa ada ikatan sama sekali dengan hadirnya janin tersebut.
__ADS_1
Tak mendapatkan jawaban dari David. Hati Nayla jadi semakin memanas. Tiba-tiba munculah ide licik di benaknya.
"Tuh kan kamu memang tak menganggap janin di rahimku ini sama sekali! Baiklah, aku akan akhiri semua ini agar kamu puas dan tidak terbebani lagi telah menjadi bagian dari hidupku!" Nayla segera berlari meninggalkan David sendirian. Dia berlari ke arah mobilnya.