
Belum juga langkah si perawat sampai ke ruangan yang dituju. Langkahnya itu sudah dihadang Al. Otomatis dia berhenti sejenak agar Al tidak curiga dengan aksinya tersebut.
"Stop!" ucap Al.
"Ada apa, Al? Aku harus segera membantunya?" tanya si perawat gugup.
"Sudah, berikan saja dia padaku atau aku laporkan perbuatan kriminalmu ini sama atasan," ancam Al agar temannya itu takut.
"Ma-maksud kamu apa, Al?" tanya si perawat gugup.
"Em, jangan kamu pikir aku tidak tahu perbuatan kamu sama saudara kembar wanita ini. Ayo cepat berikan dia padaku," tegas Al memaksa.
"Tapi, bagaimana dengan saudara kembarnya nanti jika tahu aku memberikan wanita ini padamu?" tanya perawatnya cemas.
"Itu urusan kamu sama dia. Aku yakin kalau dia malah akan senang jika aku bawa pergi saudara kembarnya ini agar tidak mengganggunya lagi," jelas Al kesal.
"Benar juga sih. Ya sudah. Ini ambilah!" perawat itu memberikan tubuh Kayra pada Al.
"Good!" Al langsung menerima tubuh Kayra. Dia bergegas pergi membawa tubuh Kayra keluar rumah sakit lewat pintu darurat agar tidak ada orang yang tahu.
Begitu sampai di depan pintu keluar, Al disambut seseorang menggunakan mobil pribadi. Tanpa menunggu lama, Al segera memasukan tubuh Kayra ke dalam mobil tersebut. Ternyata di dalam mobil sudah ada beberapa petugas medis yang akan memberi pertolongan Kayra.
"Aku titip dia sama kalian! Aku mohon rawat dia sebaik mungkin! Nanti, sepulang dari rumah sakit, aku akan langsung berkunjung ke klinik," pesan Al pada teman-temannya.
"Siap, Al! Ya sudah, kami pergi sekarang! Kasihan dia kalau kelamaan," pamit mereka panik.
"Iya, hati-hati!" Al tersenyum.
Mereka tersenyum lalu menutup rapat pintunya. Bergegas mobil melaju meninggalkan lokasi rumah sakit.
"Pokoknya aku nggak akan tinggal diam, Kay. Aku bisa pastikan kalau kamu akan ikut kebingungan karena adikmu menghilang begitu saja akibat perlakuan burukmu." Al menghela napas lalu melangkah kembali ke dalam rumah sakit.
***
Siang harinya David datang ke rumah sakit untuk menjemput istrinya saat jam makan siang. Tadi, mereka sudah janjian untuk makan bersama di luar. Setibanya di ruangan Kayla dia langsung mengetuk pintunya.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Damar yang masih sibuk dengan laptopnya segera bangkit dan melangkah untuk membuka pintunya.
Ceklek!
Pintu dibuka lebar oleh Damar. Bibirnya melengkung saat melihat siapa yang datang.
"Eh, ternyata kamu, Vid. Ayo masuk," ajak Damar ramah.
"Em, maaf, lain waktu saja aku masuknya. Soalnya, jadwal di kantor sedang padat, jadi aku tak bisa berlama-lama. Kedatanganku kemari hanya untuk menjemput istriku saja," tolak David seramah mungkin.
"Oh, baiklah tidak apa." Damar tersenyum. Dia paham posisi David saat ini.
"Oh ya, istrimu sudah tidak ada di sini. Tadi, dia dibawa seorang perawat laki-laki karena mengalami tragedi saat ke kamar mandi. Coba kamu tanya saja sama perawatnya ... pasti dia tahu di mana istrimu berada," jelas Damar sesuai yang dia tahu.
"Astaga, kasihan sekali istriku. Baiklah, kalau begitu aku langsung tanya saja sama perawatnya," pamit David segera membalikkan posisi tubuhnya hendak pergi.
"Iya," balas Damar tersenyum.
"Em, nama perawatnya Andi Pratama," jelas Damar tersenyum.
"Oke, aku pergi sekarang," pamit David tersenyum.
"Iya." Damar tersenyum.
David bergegas meninggalkan Damar karena ingin mencari keberadaan Kayra. Jujur dia begitu cemas setelah mengetahui kondisi istrinya yang mungkin mengalami cidera parah sehingga melibatkan bantuan perawat.
David langsung menghampiri ruangan khusus para perawat untuk mencari perawatnya. Dia mengetuk pintu ruangan tersebut. Tak lama keluarlah seorang perawat wanita.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu ramah.
"Em, saya kemari ingin bertemu dengan perawat yang bernama Andi. Apakah dia ada?" tanya David balik.
"Oh, tunggu sebentar, Pak. Saya panggilkan orangnya," ucap perawat wanita tersebut ramah.
__ADS_1
"Iya, terima kasih." David tersenyum ramah.
"Sama-sama." Perawat wanita tersebut bergegas masuk kembali.
Tak lama kemudian keluarlah perawat yang dicari-cari menghampiri David.
"Maaf, ada perlu apa Bapak mencari saya? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Andi ramah.
"Em, benarkan Anda perawat yang tadi membantu istri saya saat terjatuh di kamar mandi pasien bernama Kayla?" tanya David memastikan.
Deg!
Jantung Andi langsung berhenti sejenak. Perasaan gelisah membubuhi hatinya.
"I-iya benar, Pak. Tadi saya yang membantu istri bapak," jawab Andi sedikit gugup.
"Oh, kalau begitu istri saya di mana sekarang?" tanya David tidak sabar lagi.
"Em, istri bapak sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Setelah kondisi kakinya membaik, Bu Kayra meminta izin untuk pulang ke rumah," jelas Andi berbohong. Dia sengaja membuat alasan yang tidak memperpanjang pertanyaan. Dengan begitu, dia tak perlu lagi berpikir keras meladeni David.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Terima kasih atas bantuan dan informasinya," pamit David tersenyum ramah.
"Iya, sama-sama." Andi tersenyum senang. Dia merasa lega mendengarnya.
David bergegas pergi meninggalkan Andi. Dia sudah tidak sabar ingin sampai di rumah untuk mengecek kondisi Kayra. Walaupun tadi Andi sudah menjelaskan kondisi Kayra yang sudah membaik. Namun, perasaan cemas masih saja membubuhi hati David kalau belum bertemu dengan istrinya.
Diam-diam di balik dinding ruangan, Al terus menguping pembicaraan Andi dengan suami Kayra. Dia langsung menggelengkan kepalanya saat mengetahui kebohongan rekan kerjanya itu. Al segera keluar dari ruangan setelah David pergi. Dia ingin mengeluarkan uneg-unegnya pada rekan kerjanya itu.
"Mudah sekali kamu berbohong demi uang. Ingat Ndi, uang yang kamu terima itu tidak berkah. Apa lagi sampai membahayakan nyawa orang lain," bisik Al saat sudah berada di samping Andi.
"Sudahlah, jangan banyak bicara kamu, Al. Aku yakin kalau kamu itu sebenarnya iri sama aku karena bisa mendapatkan uang besar secara cuma-cuma," bisik Andi gantian. Dia sengaja memanas-manasi Al untuk membalas perkataan Al yang begitu menusuk itu.
"Astaga, bangga sekali kamu dengan uang haram itu. Salah besar kalau kamu mengatai aku iri. Aku bahkan sudah lebih dahulu mendapatkan tawaran itu dari Kayla. Namun, aku bukan tipe orang yang suka menyalahi aturan hanya karena diiming-imingi uang yang nominalnya tidak seberapa itu," bisik Al tersenyum mengejek.
"Huh, sombong sekali ucapanmu itu, Al. Seakan-akan kamu sudah tercukupi dengan uang halalmu itu. Padahal kenyataannya untuk melunasi utang piutang ayahmu saja sangat kesulitan," bisik Andi tak mau kalah. Dia tersenyum puas bisa menjatuhkan balik Al.
__ADS_1
Tangan Al langsung terkepal kuat menahan amarahnya. Rasanya ingin sekali dia melayangkan pukulan ke mulut Andi agar bisa lebih sopan lagi saat berbicara.