
Dia tersenyum genit. Matanya dikedip-kedipkan.
"Mas!" teriak Kayra kesal bercampur malu. Dia segera melangkah duluan meninggalkan Damar.
"Hey, kok malah kabur sih!" Damar terkekeh sambil menyusul istrinya.
***
Kini mobil mereka sudah berhenti di depan rumah David. Kayra segera turun dari mobil. Wajahnya berbinar-binar.
"Hati-hati, Sayang! Ingat ada baby di perutmu!" teriak Damar khawatir.
Kayra tak menggubrisnya sama sekali. Dia hanya mengacungkan jempol tanda mengerti.
"Hem, dia memang nakal dan sulit diberitahu," gumam Damar tersenyum geli. Dia mengekori langkah istrinya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Begitu sampai di teras rumah, tak lama pintu dibuka seseorang. Kayra langsung terkejut saat melihat orang yang membuka pintunya. Orang tersebut adalah David, suaminya.
David langsung mengembangkan senyumannya saat melihat siapa tamunya. Kayra sebagai istri sahnya hanya tersenyum meringis saja. Sungguh ini sangat memalukan sekali baginya.
"Eh, tumben banget pada kemari pagi-pagi? Kalau dilihat dari pakaiannya sih, jelas banget kalau dua manusia di depanku ini akan refreshing?" tanya David terkekeh.
"Hem, kamu ini paham saja dengan tujuan kami. Kamu hari ini liburkan? Mari kita jalan-jalan," ajak Damar terkekeh.
"Wah, kalau libur sih tidak! Cuma aku mau deh ngelibur hari ini agar bisa ikutan jalan-jalan sama Pak Bos dan Bu Bos," jawab David terkekeh.
"Ah, kamu ini bisa saja," ucap Damar tersenyum kikuk.
Kayra hanya tersenyum kikuk saja menanggapi dua insan di dekatnya ini. Tak lama keluarlah Kayla sambil menggendong Kaysa.
"Hey, tumben banget pagi-pagi pada ke sini? Ayo masuk ke dalam," ajak Kayla tersenyum senang. Diam-diam dia mencuri pandang ke arah suaminya. Jujur dia begitu merindukan suaminya. Ingin sekali dia memeluknya seerat mungkin.
"Sebenarnya, tujuan kita kemari ingin mengajak kalian bertiga jalan-jalan! Em ...." Kayra menghentikan ucapannya karena nyaris menyebut Kayla, Mbak. Untung saja Kayla langsung memberi kode tadi.
"Em, kalian mau kan?" lanjut Kayra meringis.
"Tentu kami mau dong. Iya kan, Sayang!" David menatap Kayla tersenyum senang.
Sementara Kayla hanya berdeham saja. Jujur dia masih sangat kesal dengan David.
__ADS_1
"Ya sudah. Aku dan Kaysa siap-siap dulu, ya!" pamit Kayla tersenyum.
"Iya, jangan lama-lama!" peringati Kayra tersenyum.
"Eh, aku juga mau siap-siap!" David segera melangkah mengekori istrinya sambil tersenyum kikuk.
Setelah semuanya bersiap-siap, mereka segera naik ke mobil. David duduk di dekat Damar. Sedangkan, Kayra, Kayla dan Kaysa duduk di kursi belakang. Di sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol asik. Hanya David saja yang sedikit terabaikan karena Kayla tak seberapa meresponnya.
Mengetahui hal itu Kayra langsung merasa penasaran. Ingin sekali dia bertanya kepada Kayla. Namun, melihat kondisi mereka masih bersama-sama seperti ini, dia mengurungkan niatnya itu.
"Apa mereka berdua sedang bertengkar? Kira-kira masalah apa yang melatar belakanginya? Pingin tanya sekarang, tapi masih nggak mungkin," gumam Kayra bertanya-tanya.
Lima belas menit berlalu, mereka sudah sampai di depan taman rekreasi. Damar sengaja memilih tempat yang paling dekat karena tak ingin istrinya kelelahan. Mereka segera turun dari mobil.
"Em, enaknya kita ke sebelah mana nih?" tanya Damar meminta pendapat.
"Em, kita ke sana dulu! Di sana baksonya enak loh," saran David tersenyum.
"Bagaimana, Sayang? Kamu mau makan bakso atau tidak?" tanya Damar menatap Kayra tersenyum manis. Sungguh hal itu membuat Kayla merasa cemburu. Dia iri melihat suaminya begitu perhatian dengan Kayra.
"Sabar Kayla! Tahan! Ini hanya sementara! Tujuh bulan lagi sandiwara ini berakhir," batin Kayla menahan tangis.
"Sini Kaysa biar Ayah saja yang gendong! Bunda pasti sudah kelelahan," saran David segera meraih Kaysa dari gendongan Kayla. Dia juga membisikkan sesuatu ke telinga Kayla.
"Hey, sudah dong marahnya! Kita kan sedang refreshing sekarang," bisik David tersenyum.
Kayla tak menjawabnya. Dia tetap diam karena masih kesal dan kecewa.
David berusaha terus bersabar menyikapi sikap Kayla. Dia mengakui kesalahannya semalam memang fatal. Dia berharap kejadian semalam tidak akan menimbulkan masalah yang serius pada keluarga kecilnya.
Kayra semakin penasaran sekali dengan sikap suami dan saudarinya tersebut.
"Ayo kita ke sana sekarang! Mumpung belum terlalu ramai! Biasanya sebentar lagi pasti ramai," ajak David semangat. Dia juga menggandeng tangan Kayla.
Mengetahui kalau suaminya begitu hafal dengan warung bakso tersebut, Kayra langsung merasa curiga. Entah mengapa dia langsung berburuk sangka lagi pada suaminya tersebut.
"Oke. Ayo, Sayang!" Damar menggandeng tangan istrinya. Lagi-lagi Kayla dibuat iri dan cemburu menyaksikannya.
"I-iya!" Kayra gugup. Dia melirik sekilas ke arah Kayla. Dia tahu benar kalau saudarinya itu sedang cemburu dengannya.
__ADS_1
Kini mereka melangkah bersama-sama menuju warung bakso. Begitu sampai mereka memilih tempat duduk yang lesehan agar mudah saat menikmati baksonya. Dengan begitu, mereka tak seberapa repot sambil mengasuh Kaysa.
"Em, biar aku yang pesankan? Kalian mau minum apa?" tanya David bersemangat.
"Em, boleh! Aku pesan es teh tawar saja!" Damar setuju.
"Kamu mau minum apa, Sayang?" tanya Damar menatap Kayra.
"Jus alpukat saja," jelas Kayra tersenyum meringis. Dia merasa semakin tak enak pada Kayla.
"Oke. Mbak Kayla pesan jus alpukat! Kalau kamu Sayang?" tanya David tersenyum manis menatap Kayla.
"Sama," balas Kayla datar.
"Oke." David tak mempermasalahkan sikap istrinya tersebut.
"Mbak, pesan baksonya empat mangkuk yang porsi sedang saja! Minumannya es teh manis dua! Oh ya, jus alpukatnya tiga!" teriak David tersenyum.
"Siap, Pak!" sahut pelayannya mengerti.
"Em, kalau boleh tahu kok kamu bisa tahu sekali soal warung bakso ini? Apa kamu sering kemari? Atau kamu punya kenangan di sini?" tanya Damar penasaran sekali.
Deggg!
David langsung merasa tak enak hati ditanya seperti itu. Dia takut penjelasannya akan membuat istrinya semakin marah padanya.
"Hey, kok kamu malah bengong gitu? Jangan bilang kalau kamu memiliki rahasia tersembunyi di warung ini?" goda Damar terkekeh geli.
Kayra langsung merasa takut dan sedih kembali membayangkan ucapan Damar.
"Apakah dugaan burukku tentang Mas David memang benar?" batin Kayra curiga. Dia menatap nanar sosok sang suami yang masih bengong.
Sementara Kayla jadi semakin kesal dengan David.
"Awas saja jika ucapan Mas Damar terbukti benar? Aku bisa pastikan meja hijau akan menjadi saksi berakhirnya hubungan kamu dan adikku," batin Kayla geram. Dia menatap tajam David.
"Hisk, mana ada! Warung ini dulunya tempat aku nongkrong sepulang sekolah sama teman-teman segeng," bohong David agar istrinya tidak semakin kesal atau marah. Tatapan tajam istrinya membuat nyalinya semakin menciut.
Sebenarnya, apa yang dituduhkan Damar memang benar adanya bahwa warung ini menyimpan sejuta kenangan indah antara dia dan Nayla sewaktu masih pacaran dulu.
__ADS_1
"Oh, kirain ada kenangannya sama mantanmu dulu sebelum menikah?" goda Damar terkekeh geli.