Bertukar Suami

Bertukar Suami
Memaksa


__ADS_3

Cup!!!!


David langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Kayra. Hatinya langsung berbunga-bunga. Dia mendiamkan posisi itu untuk menikmatinya. Lalu, perlahan ingin ********** lembut.


Namun, belum sempat dia sampai ke fase itu. Kayra langsung menjauhkan bibirnya. Dia teringat kembali momen bersama sang kakak ipar. Dadanya bergemuruh. Dia gelisah dan cemas.


"Hey, kok sebentar sekali, sih? Kamu kok terlihat gelisah begitu?" tanya David sedikit kecewa. Dia menatap selidik Kayra karena penasaran.


"Ma-maaf lain waktu saja kita lanjutkkan. Entah kenapa hatiku tiba-tiba gelisah," jelas Kayra sedikit berbohong.


"Oh begitu." David langsung berbicara dalam hati.


"Apa dia begitu karena teringat Kayla. Diakan kembarannya, jadi nalurinya bisa merasakan apa yang sedang terjadi dengannya." Tangan David langsung menyentuh bibir Kayra sambil tersenyum sedih.


"Mas, kok kamu malah melamun?" tanya Kayra cemas. Dia takut kalau David tahu apa yang sedang dirasakannya.


"Ups, maaf." David masih tersenyum.


"Oh ya, soal keluarga Damar setelah mengetahui semuanya. Yang jelas mereka juga shock dengan perbuatan Kayla sama kamu. Lalu, Damar dan Mbak Kayla bertengkar hebat. Tanpa diduga-duga pertengkaran mereka itu menyebabkan ...." Dada David sesak saat akan mengutarakan kematian Kayla. Pandangannya beralih menatap ke arah lain.


"Menyebabkan apa, Mas? Apa Mbak Kayla langsung ditalak oleh Mas Damar?" tanya Kayra semakin cemas. Dari cara David menggantungkan penjelasannya itu, Kayra bisa merasakan bahwa ada sesutu hal yang serius terjadi di antara Kayla dan Damar.


David langsung menggelengkan kepalanya cepat.


"Syukurlah, aku senang kalau Mas Damar tidak sampai menalak Mbak Kayla. Lalu, apa yang dilakukan Mas Damar sama Mbak Kayla? Apa Mas Damar memaafkannya?" tanya Kayra sedikit lega karena Kayla tidak sampai diceraikan oleh Damar. Namun, entah kenapa hatinya masih berdebar-debar memikirkan nasib kakaknya.


"Damar belum memaafkan Mbak Kayla. Dia malah pergi begitu saja. Lalu, Mbak Kayla mengejarnya. Ternyata hal itu menyebabkan Mbak Kayla mengalami kecelakaan tragis di jalan raya." Matanya melebar sempurna. Dada Kayra langsung sesak. Tangannya meremas dadanya itu. Air mata kembali berlinang. Ternyata itulah alasan jantungnya berdebar-debar.


"Awalnya kami tidak tahu sama sekali kejadian yang menimpa Mbak Kayla. Namun, ketika aku, Al dan kerabatnya Damar hendak menengok kamu. Di perjalanan kami tidak sengaja melihat tubuhnya tergeletak di tengah-tengah jalan. Jalan tersebut memang sangat sepi sehingga tidak ada satu orang pun yang melihatnya. Kami segera membawa dia ke rumah sakit, namun belum sampai dia sudah menghembuskan napas terakhirnya," jelas David segera mendekap Kayra.


"Enggak, itu nggak benar. Mbak Kayla pasti masih hidup. Dia pasti masih beristirahat saja untuk menenangkan hatinya seperti aku tempo hari," tolak Kayra tersedu-sedu.

__ADS_1


"Tidak, Sayang. Semua itu benar. Al, sudah memeriksanya. Kamu yang sabar, doakan saja Mbak Kayla agar tenang di alam sana. Maafkan semua kesalahannya." David membelai rambut Kayra.


"Oh Tuhan, kenapa semua ini terjadi begitu cepat? Jika Mbak Kayla meninggal, aku sudah tidak punya sanak saudara lagi." Kayra sesenggukan.


"Sekarang kita sama, Sayang. Kita sama-sama tak punya sanak saudara dekat. Jadi, kita harus bersatu dalam suka maupun duka. Kita rawat anak kita sebaik mungkin. Aku janji, cuma kamu wanita yang aku cinta dan sayangi sampai ajal menjemput." David mengecup pucuk kepala Kayra.


"Iya, Mas." Kayra memeluk erat tubuh David sambil terus sesenggukan.


"Ayo Mas antarkan aku bertemu Mbak Kayla. Aku ingin memeluknya untuk yang terakhir kalinya," ajak Kayra sesenggukan.


"Tapi, bagaimana dengan kondisi kamu yang jelas masih sangat lemah ini?" tanya David khawatir. Dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada istrinya.


"Aku kuat kok, Mas! Please, aku mohon! Mas, pasti paham bagaimana perasaanku ini," rengek Kayra sesenggukan.


"Mas, nggak berani ambil resiko, Sayang." David mencoba menasihati Kayra.


"Baiklah, kalau Mas tidak mau mengantarkan aku!" Kayra segera melepaskan pelukannya.


Kayra mendorong tubuh David agar menjauh darinya.


"Hey, bukan begitu, Sayang. Aku hanya takut terjadi sesuatu sama kamu. Kamu kan tahu kalau kamu hampir saja kehilangan nyawa pasca operasi tempo hari." David terus berusaha menenangkan hati Kayra.


"Aku nggak peduli! Yang penting aku mau bertemu dengan Mbak Kayla!" Kayra hendak meraih wadah infus yang tergantung di tiang dekat ranjang.


"Jangan gegabah, Sayang." David berusaha menahan Kayra.


"Kenapa sih, Mas tidak pernah mengerti sakitnya jadi aku. Coba Mas pikirkan sejenak jika posisi aku ada di posisi Mas," bentak Kayra sambil tersedu-sedu.


"Astaga, baiklah." David menyerah.


"Akan tetapi, Mas akan konfirmasikan dahulu soal keinginanmu ini sama dokter. Pasti, ada jalan keluarnya nanti," jelas David mencoba mendinginkan hati Kayra.

__ADS_1


"Baik, aku tunggu secepatnya," balas Kayra sesenggukan.


"Ya sudah. Berhenti menangisnya! Nanti, bekas luka operasimu jadi tambah sakit. Mas, pergi sekarang! Ingat kalau Mas belum kembali jangan ke mana-mana." David mengusap lembut pucuk kepala Kayra, lalu mengecupnya sekilas.


Kayra hanya mengangguk saja. Lalu, berusaha menghentikan tangisannya menuruti nasihat sang suami.


David segera pergi dari kamar rawat Kayra. Tak lama kemudian, dia sudah kembali ditemani seorang perawat wanita sambil mendorong kursi roda. Melihat hal itu, Kayra langsung tersenyum. Ternyata David tidak membuatnya kecewa lagi.


"Ayo Mas bantu!" David tersenyum bersiap-siap mengangkat tubuh Kayra.


Sementara sang perawat segera meraih wadah infusnya.


"Iya, Mas." Kayra tersenyum.


David segera membopong tubuhnya. Lalu, memindahkan tubuh Kayra ke kursi roda.


Sang perawat dengan telaten memegangi wadah infusnya. Sedangkan, David pelan-pelan mendorong kursi rodanya. Kini mereka berjalan beriringan membawa Kayra keluar dari kamar rawatnya.


Setibanya di mobil, Kayra segera dibopong kembali. Lalu, dipindahkan ke dalam mobil. Perawat tersebut ikut masuk mendampinginya sambil terus memegang wadah infusnya.


Sementara, David segera melipat kursi rodanya. Lalu, menyimpannya ke bagasi belakang mobil. Dia berlari kecil dan langsung naik ke bangku kemudi. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat Kayla tadi.


Sekitar lima belas menit perjalanan, mobil mereka sudah menepi di parkiran rumah sakit. David bergegas keluar terlebih dahulu untuk mengambil kursi rodanya. Sementara Kayra segera membuka pintu mobil tempat dia duduk hendak keluar.


"Eh, tunggu sebentar, Bu!" nasihati perawatnya panik melihat Kayra yang tidak sabar.


Mendengar hal itu, David segera berlari sambil mendorong kursi roda menghampiri Kayra.


"Sabar, jangan terburu-buru! Biar Mas bantu! Ingat kondisi kamu, Kayra," tegur David cemas.


"Maaf, aku sudah tidak sabar bertemu dengan Mbak Kayla." Kayra menunduk sedih.

__ADS_1


"Iya Mas tahu itu." David pelan-pelan membopong tubuh Kayra lalu memindahkannya ke kursi roda diikuti perawatnya keluar dari dalam mobil. Setelah menutup pintunya, mereka segera melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


__ADS_2