
"Astaga, Ayah sampai lupa." Matanya melebar.
"Baiklah, Ayah hubungi Damar sekarang. Tolong Ibu pegangi yang erat tubuh Kayla agar tidak merosot."
"Iya, Yah." Ibunya Damar segera memegang erat tubuh mantunya yang sudah tidak bernyawa itu.
Sedangkan Ayahnya Damar berusaha meraih ponsel di saku celananya. Walaupun agak kesulitan, tapi ayahnya Damar tetap berusaha meraih ponselnya.
Begitu sudah berhasil, ayahnya Damar segera menghubungi nomor kontak Damar.
Damar : Halo, ada apa, Yah?
(Damar tetap fokus menyetir mobil)
Ayah : Iya, Halo. Kamu sedang ada di mana sekarang?
Damar : Aku masih di jalan,Yah.
Ayah : Oh. Ayah mau kasih kabar kalau istrimu mengalami kecelakaan teragis.
(Suara Ayahnya Damar terdengar sendu)
Damar : Apa? (Damar menginjak rem mendadak karena terkejut) Ayah serius?
(Damar belum percaya)
Ayah : Iya. Satu, lagi ....
(Ayahnya Damar ragu mengatakannya)
Damar : Satu lagi apa, Yah?
(Damar semakin dibuat genting)
Ayah : Sebaiknya, kamu datang saja ke rumah sakit. Nanti, Ayah kabari alamatnya. Sekarang Ayah sama yang lain sedang membawa Kayla ke rumah sakit terdekat.
(Ayahnya Damar takut membuat anaknya semakin kacau di perjalanan)
Damar : Baik. Lokasi Ayah sekarang di mana? Biar Damar putar balik saja.
Ayah : Kami sekarang masih di jalan X yang di pinggir jalannya berjejer pohon palm.
Damar : Baik, aku akan ke sana.
(Damar mematikan panggilannya. Lalu, bergegas memutar balik laju kendaraannya.)
__ADS_1
Kini mobil yang dikendarai David sudah sampai di rumah sakit. David dan Al segera turun dari mobil. Mereka berdua segera meminta bantuan kepada petugas medis di rumah sakit tersebut.
Tak lama kemudian, mobil Damar tiba di rumah sakit. Dia segera berlari menuju mobil David. Lalu, membuka pintu mobil tempat istrinya terbaring kaku. Dia terdiam menyimak kondisi tubuh istrinya yang mengenaskan.
"Astaga Kayla kenapa bisa begini?" tanya Damar lesu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau kejadiannya bisa seperti ini.
"Ikhlaskan, Nak! Maafkan semua kesalahannya agar dia tenang di alam sana," nasihati Ayah sedih. Tangannya menyentuh bahu Damar.
"Maksud, Ayah apa? Kayla masih hidupkan?" tanya Damar menatap ayahnya tidak percaya.
Ayahnya Damar menggelang cepat.
"Kayla, sudah tenang, Nak! Jadi, Ayah harap kamu memaafkan kesalahannya." Ayah mengusap lembut bahu anaknya.
"Itu tidak benar, Yah! Aku yakin kalau dia masih hidup! Ayo kita bawa dia masuk ke dalam!" Damar berusaha meraih tubuh istrinya karena ingin membopongnya.
"Ikhlaskan, Nak!" Ayah menitikkan air mata. Lalu, mengusap lembut bahu Damar.
"Tidak, Yah! Itu tidak benar!" Damar akhirnya berhasil meraih tubuh istrinya. Dia langsung berjalan cepat membawanya ke dalam rumah sakit.
Aksinya langsung dihadang rombongan David yang sedang mendorong brankar.
"Ayo cepat letakkan dia di sini saja," perintah mereka.
Damar langsung meletakkan tubuh Kayla ke brankar. Lalu, mereka segera berlari membawa tubuh Kayla ke ruangan yang dituju. Damar langsung melebarkan matanya saat brankar dibawa menuju ruangan jenazah.
"Maaf, Kayla sudah tidak ada, Kak Damar. Jadi, kamu harus ikhlas," nasihati David ikut sedih.
"Tidak, aku tidak percaya. Dia masih hidup," tolak Damar.
"Jangan begitu, ikhlaskan dia agar dia tenang di alam sana," nasihati David sedih.
Damar langsung berhenti dan melepaskan tangannya dari brankar. Dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Menjambak rambutnya frustrasi.
"Aku mendampingi dia, ya?" tanya David menatap Al.
"Silahkan!" Al mengangguk.
David segera berhenti mendorong brankar. Dia melangkah menghampiri Damar. Dia segera membantu Damar berdiri.
"Jangan begini! Ini sudah takdir! Apa yang terjadi pada kita sudah digariskan! Jadi, kita harus ikhlas menjalaninya," nasihati David ikut sedih.
Damar menurut, dia bangkit dan langsung memeluk David erat.
"Ini sangat menyakitkan, Vid?" Damar terisak-isak.
__ADS_1
"Iya, aku paham. Bukan hanya kamu saja yang terluka, tapi aku pun sama." David mengusap bahu Damar.
"Andai saja, Kayra tidak mau menuruti keinginannya ... pastilah semua ini tidak akan pernah terjadi," ucap Damar menyalahkan Kayra.
Deg!
David langsung melepaskan pelukan Damar. Dia tidak terima kalau Damar menyalahkan istrinya.
"Hey, kenapa sekarang kamu menyalahkan istriku! Dia itu korban! Aku yakin kalau Kayla sudah memaksa istriku bertukar posisi dengan dia agar bisa memiliki keturunan. Asal kau tahu, istriku itu bukan wanita murahan yang sudi membagi tubuhnya pada pria lain. Dan seharusnya di sini aku yang marah besar. Bukan kamu! Kamu sudah berani menghamili istriku," balas David kesal. Emosinya kembali naik gara-gara mendengar perkataan Damar.
"Ah, ini benar-benar membuatku gila!" Damar menjambak rambutnya frustrasi. Dia benar-benar kacau.
David tidak memedulikan lagi kekacauan Damar. Dia bergegas pergi meninggalkan Damar. Dia ingin menemui istrinya saja di klinik yang diberitahukan Al tadi.
Sesampainya di mobil, David segera memerintahkan kedua orangtua dan pembantunya Damar untuk keluar.
"Maaf semuanya, kalian harus turun dari mobilku. Aku harus segera pergi menemui istriku. Dia harus tahu kabar Kayla juga," perintah David menahan emosi. Melihat orang-orang yang berhubungan dengan Damar membuat mod-nya semakin memburuk.
"Oh, baik. Nanti, kami akan mengunjungi Kayra juga setelah pemakaman Kayla selesai," pinta ibunya Damar.
David hanya mengangguk saja.
Mereka segera turun dari mobil David. David segera naik dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
"Ayo kita masuk saja ke dalam rumah sakit menghampiri Damar," ajak ayahnya Damar.
"Iya,Yah!" Mereka segera melangkah masuk rumah sakit.
Lima menit berlalu, mobil David sudah terparkir di klinik Dokter Novia. Dia segera berjalan cepat masuk ke dalam ruangan menghampiri meja resepsionis.
"Selamat siang, Pak? Ada yang bisa kami bantu?" tanya susternya ramah.
"Saya ingin menemui istri saya yang dirawat di sini. Namanya Kayra Anindita," jelas David tersenyum.
"Maaf, Bapak tahu dari mana soal tersebut?" tanya susternya memastikan. Dia takut kalau laki-laki di depannya ini bukan orang baik. Tadi, Al sudah berpesan pada mereka untuk tidak memberitahu siapa-siapa tentang keberadaan Kayra tanpa persetujuan Al.
"Tentu saya tahu dari perawat laki-laki yang bernama Al," jelas David kembali naik darah.
"Oh, maaf. Kami hanya mengikuti saran dari Al saja untuk melindungi Bu Kayra," jelas susternya merinding melihat wajah marah David.
"Ya sudah, cepat antarkan saya bertemu istri saya. Saya ingin tahu keadaannya," pinta David menurunkan volume suaranya.
"Baik, Pak. Mari ikut saya," ajak susternya melangkah duluan.
David langsung mengekori langkah susternya. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi memeluk istri aslinya. Dia paham kalau istrinya saat ini pasti sedang gelisah dan takut menghadapi kenyataan.
__ADS_1
"Ini ruangan istri bapak!" tunjuk susternya menghentikan langkah.