
David tak jadi melangkah. Dia menengok ke arah ibunya Nayla lagi.
"Iya, ada apa lagi, Bu?" tanya David ramah.
"Oh ya, camilan ini tolong berikan untuk anak dan istrimu saja." Ibunya Nayla memberikan kantong plastik yang dipegangnya.
"Eh, tak perlu repot-repot, Bu!" tolak David sesopan mungkin.
"Ini tidak merepotkan, Ibu sengaja ingin memberikannya untuk anak dan istrimu. Anggap saja ini awal yang baik untuk hubungan kekeluargaan kita. Ayo terima saja," paksa ibunya Nayla tersenyum.
"Iya, terima saja. Dilarang menolak rejeki loh," sambung ayahnya Nayla terkekeh.
"Baiklah. Terima kasih banyak, Yah, Bu." David tersenyum senang menerimanya.
"Sama-sama. Oh ya, kapan-kapan ajak istrimu main ke rumah. Perkenalkan dia sama Ibu dan Ayah," balas ibunya Nayla tersenyum.
"Iya, Bu. Lain waktu kalau pas istriku tak sibuk. Soalnya, dia banyak kegiatan di rumah." David beralasan.
"Ya sudah. David pulang sekarang biar nggak kemalaman sampai rumah," pamit David tersenyum.
"Iya hati-hati di jalan! Bawa motornya jangan ngebut-ngebut," peringati ibunya Nayla tersenyum.
"Iya, Bu." David tersenyum lalu bergegas meninggalkan kedua orangtuanya Nayla.
Di dalam kamar rawatnya, Nayla terus memikirkan cara agar bisa merebut hati David kembali. Dia tak ingin menjadi single parent saat anaknya sudah lahir. Keyakinannya begitu dalam soal David akan menalaknya setelah lahiran.
"Aduh, kenapa sulit sekali merebut hatinya? Dia berbeda jauh sekarang. Rasa cintanya sudah khusus untuk Kayra. Andai saja, aku tak pakai acara marah atau memutuskan dia secara sepihak. Mungkin, kejadian buruk tak akan menimpaku. Yang ada malah Kayra yang kalah karena cinta kami lebih kuat daripada sikap lemahnya Kayra," gumam Nayla menyesal sambil menatap langit-langit kamar.
Di saat bersamaan kedua orangtuanya Nayla masuk. Mereka melihat anaknya itu sedang berbicara sendiri.
"Hem, coba lihat anak kita itu,Yah! Entah kapan dia itu bisa bersikap dewasa? Untung saja masih ada pria baik yang mau menutupi aibnya," ucap ibunya David menghela napas.
"Iya benar sekali. Untung juga David tidak merasa curiga dengan rencana Nayla. Kira-kira kalau bayi itu sudah lahir ... apakah David tidak akan mencurigainya?" tanya ayahnya Nayla ikut menghela napas.
"Entahlah, Yah! Kita pasrahkan saja pada Yang Maha Kuasa. Oh ya, Ayah nanti jangan sampai membuat David menolak bekerja di kantor kita?" tanya ibunya Nayla dengan tatapan serius.
"Iya, Ibu tenang saja. Gini-gini Ayah tahu balas budi. Kita wajib menapkahi keluarga kecilnya. Gara-gara ulah anak kita, mereka harus merasakan luka yang amat sangat dalam," jelas ayahnya Nayla sedih.
__ADS_1
"Good, Ibu selalu mendukung Ayah," puji ibunya Nayla tersenyum bangga.
Nayla yang awalnya fokus bergumam sendiri seketika langsung menatap kedua orangtuanya. Samar-samar dia mendengar percakapan kedua orangtuanya.
"Aku pun ikut mendukung rencana kalian itu. Aku juga ingin berdamai dengan istrinya David. Aku tidak ingin bermusuhan dengannya lagi!" sahut Nayla dengan suara cukup kuat. Bibirnya dipelengkungkan ke atas.
"Syukurlah kalau begitu kami senang mendengarnya," balas ayahnya Nayla tersenyum.
***
Lima belas menit berlalu, kini David susah sampai di rumah. Bergegas dia turun sambil menenteng kantung plastik hasil pemberian ibunya Nayla tadi.
Sementara Kayla segera membuka pintu rumah karena paham dengan suara motor David. Dia tersenyum manis saat melihat David membawa kantung plastik berukuran lumayan besar.
"Wah, kamu borong, Mas? Memang sudahkah waktunya gajian?" tanya Kayla penasaran.
"Belum kok masih kurang tiga hari lagi. Ini tadi oleh-oleh dari ibunya Nayla untuk kamu dan Kaysa," jelas David tersenyum.
Dia memberikan kantung tersebut pada Kayla.
"Wah, ternyata kedua orangtuanya Nayla baik dan perhatian sekali sama kamu. Baru kali ini ada keluarganya istri kedua yang sangat perhatian sama istri pertama menantunya. Jangan bilang ada udang di balik bakwan ...." Kayla menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Hisk, kau ini bikin gemes saja. Jadi, ingin makan mau sekarang juga," goda David tersenyum genit. Dia mendekati Kayla.
"Jangan-jangan macam-macam, ah!" Dorong Kayla.
"Aku nggak macam-macam kok. Aku cuma mau satu macam saja, ayolah!" goda David semakin genit.
"Hisk, aku nggak bisa loh," tolak Kayla tersenyum.
"Apanya yang nggak bisa? Tinggal baringan saja masa nggak bisa?" Tangan David membelai rambut di leher Kayla. Hal itu membuat Kayla merasakan desiran yang aneh.
"Ih, sudah sana mandi!" Dorong Kayla. Wajahnya bersemu merah.
"Oke. Tapi, abis mandi kita ehem-ehem, ya?" goda David tersenyum genit.
"Iya tapi bukan sama aku. Sama guling saja sana," jelas Kayla terkekeh.
__ADS_1
"Ogah, buat apa aku punya istri kalau__" Perkataan David dipotong sama Kayla.
"Mau sama yang berdarah-darah," tantang Kayla tersenyum nakal.
"Hehe, ogah ah. Aku mau dimasakin mi spesial saja kalau begitu." David cengengesan.
"Siap, Pak Bos!" Kayla terkekeh geli.
"Oh ya, ini plastik mau dibuang apa dikasihkan ke orang saja?" tanya David memastikan.
"His, jangan dibuang! Mending masukin ke dalam lemari pendingin. Kan, lumayan mengurang-ngurangi uang belanja," jelas Kayla terkekeh.
"Huh, dasar istriku ini! Gayanya ngomong ini itu ... ternyata ujung-ujungnya diambil juga." David mencubit pipi Kayla gemas.
"Sut, itu namanya trik ibu-ibu munafik." Kayla segera meraih kantong plastik tersebut. Kemudian, membawanya ke dapur.
David hanya bisa terkekeh geli menatap punggung istrinya.
"Semoga saja hubungan kami tetap seromantis ini," gumam David lalu melangkah mengekori Kayla.
Kini David sudah selesai mandi, tubuhnya jelas sudah segar dan wangi. Dia segera menghampiri istrinya yang masih sibuk berkutat di dapur membuatkan mie rebus spesial untuknya.
"Hey, Sayang! Kamu asik banget mainannya?" sapa David pada Kaysa yang masih asik berkutat dengan masak-masakannya. Kaysa duduk berhadapan dengan setumpuk mainan baru di lantai. Mainan-mainan tersebut sebagian besar yang dibelikan Damar beberapa waktu lalu.
"Iya," jawab Kaysa yang sudah mulai pasih berbicara. Kan usianya saat ini mulai menginjak satu tahun.
"Hem, anak ayah ini kalau ditanya jawabnya iya mulu kalau lagi sibuk begini." David berjongkok sejenak lalu mengecup pipi gembul anaknya. Semakin besar, wajah Kaysa semakin mewarisi wajahnya.
"Ayah, akal!" sewot Kaysa cemberut karena menurutnya David sudah mengganggu keseruannya.
"Baiklah, Ayah nggak ganggu lagi." David tersenyum geli lalu segera bangkit. Dia berencana alih aksi mengganggu istrinya masak.
Jlebbb!
Dia memeluk tubuh Kayla dari belakang. Otomatis Kayla terkejut.
"His, kebiasaan selalu mengagetkan?" Kayla tersenyum. Tangannya masih sibuk mengaduk-aduk mi di dalam panci.
__ADS_1
"Nggak apa-apa sama istri sendiri ini," jelas David tersenyum genit. Dagunya menempel di bahu kanan Kayla.
"Yakin sama istri sendiri saja? Lah, itu pas sama Nayla gimana?" ledek Kayla sekaligus menyudutkan David.