
"Oh Tuhan, apa ini hanya perasaanku saja? Kenapa jika dicermati kepribadian mereka seperti tertukar?" batin Mbok Nem terus fokus menatap Kayla.
Kayla yang diperhatikan langsung merasa dicurigai. Bergegas dia menutup bibirnya rapat-rapat.
"Aduh, ini Mbok Nem kenapa diam saja? Apa dia mencermati sikapku? Jangan bilang kalau dia mulai curiga dengan sikap kami yang bertolak belakang ini," batin Kayla gelisah.
Melihat Kayla tidak berceloteh lagi, Mbok Nem lansung tersadarkan.
"Loh, kok malah diam Non? Ayo cerita lagi biar nggak kerasa masak-masaknya? Biasanya Non Kayla juga seperti itu saat masak! Hanya saja semenjak hamil ... dia jadi lebih pendiam," ucap Mbok Nem tersenyum.
"Oh begitu. Mungkin, bawaan bayinya, Mbok." Kayla meringis sambil tersenyum cemas.
"Bisa jadi sih begitu! Ibu hamil memang suka aneh-aneh bawaannya! Untung saja Den Damar orangnya sabar dan penyayang. Jadi, walaupun hampir tiap hari Non Kayla bolak-balik masuk rumah sakit ... dia tak pernah merasa lelah. Beruntung banget Non Kayla itu jadi istri," curhat Mbok Nah tersenyum senang.
Kayla tersenyum bahagia mendengar pujian dari Mbok Nah. Dia memang merasa paling beruntung daripada adiknya. Namun, entah kenapa tiba-tiba dia merasa cemas kalau perhatian Damar itu akan membuat adiknya menaruh rasa lebih.
Adiknya kan selama menikah dengan David hanya disakiti terus. Tidak pernah disayang atau dicintai. Ketika David mulai berubah mereka malah bertukar posisi untuk saling membantu.
"Aduh, kok aku jadi khawatir sih sekarang? Bagaimana kalau yang aku cemaskan benar-benar terjadi? Oh Tuhan, akankah ada karma dari hasil perbuatanku ini yang jelas salah," batin Kayla sedih.
Melihat Kayla melamun, Mbok Nem langsung menegurnya karena nasi yang dimasaknya sudah hampir matang. Takutnya nanti gosong.
"Maaf Non Kayra, itu sepertinya nasinya sudah mau matang! Awas kelabasan nanti malah gosong, hehe!" peringati Mbok Nem terkekeh.
"Eh, iya, Mbok! Maaf, aku malah nggak fokus karena terlalu meresapi cerita Mbok," jawab Kayla tersenyum malu.
"Em, semenjak hamil apa Non Kayla jadi lebih manja, Mbok? Kalau aku dulu sih, malah malas dekat-dekat sama suami. Rasanya kayak sumpek gitu," tanya Kayla disertai alasan agar terkesan curhat. Padahal dia ingin mengorek informasi soal keseharian adiknya dengan Damar. Jiwa penasaran mulai menggerogoti hatinya.
"Hem, kalau Non Kayla jelas semakin manja! Nggak hamil saja sudah manja, hehe." Kayla melebarkan matanya. Rasa cemasnya semakin menjadi-jadi.
Mbok Nem langsung merasa cemas juga karena melihat reaksi terkejut Kayla. Dia takut kalau Kayla menceritakan ucapannya ini pada saudari kembarnya.
__ADS_1
"Oh ya, ini rahasia ya, Non? Jangan disampaikan ke Non Kayla! Keasikan ngobrol malah bikin lidah Mbok susah direm!" Mbok Nem meringis cemas. Dia menutup bibirnya dengan telapak tangan karena malu.
Kayla langsung tersenyum mengetahui karakter Mbok Nem sesungguhnya saat di belakang dia. Namun, dia tak merasa tersindir atau sakit hati. Toh, yang diucapkan Mbok Nem benar adanya.
"Mbok, tenang saja. Aku nggak ember kok jadi orang." Kayla segera mematikan kompornya karena nasinya sudah matang.
"Syukurlah, Mbok jadi lega rasanya!" Mbok Nem tersenyum senang.
"Semoga saja, apa yang aku takutkan tidak benar-benar terjadi. Oh Tuhan, tolong jagalah hati adikku agar tidak memiliki rasa lebih pada suamiku," batin Kayla penuh harap.
Dua jam berlalu, masakan mereka sudah matang semua. Kayla dan Mbok Nem langsung menyajikannya ke dalam kotak nasi. Rencananya mereka akan membagikannya pada tetangga terdekat saja. Sisanya mereka sajikan untuk dimakan bersama-sama di rumah.
"Mbok, aku ke depan dulu ya? Mau panggil Mas David! Enaknya ini langsung dibagikan saja ke tetangga yang sudah kita bungkus biar nggak kesorean," ucap Kayla sambil memasukkan satu kotak nasi ke dalam kantong plastik lalu mengikatnya.
Mbok Nem langsung mengangguk setuju. Tangannya terus membungkus berbagai macam lauk ke dalam kantung plastik kecil.
Kayla bergegas melangkah meninggalkan Mbok Nem. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin menuntaskan keinginannya ini.
Dari caranya Kayla bisa merasakan bahwa ibu mertuanya begitu menyayangi Kaysa. Dia tersenyum tipis lalu hendak menghampiri David di teras.
Kayra dan ibunya Damar langsung menyapanya.
"Eh, Ra, apa sudah matang semua?" tanya ibu mertuanya tersenyum.
"Sudah, ini aku mau memanggil Mas David supaya dibagikan ke para tetangga biar nggak kesorean nanti," jawab Kayla tersenyum.
"Wah, kok kamu nggak manggil Ibu sih? Kan, Ibu bisa membantu kalian bungkus-bungkus," sewot ibunya Damar.
"Hehe, tak perlu repot-repot, Bu. Lagi pula kan cuma masak dikit. Ibu nanti aku siapkan tugas lain," terang Kayla terkekeh.
"Tugas lain apa? Jangan bilang kalau Ibu disuruh cuci perabotan bekas memasaknya? Bisa-bisa nanti encok Ibu kumat gimana?" tanya ibu mertua Kayla terkekeh.
__ADS_1
"Haha, tentu bukanlah, Bu. Nanti, tugas Ibu mencicipi hasil karya masakan aku sama Mbok Nem," jelas Kayla terkekeh.
Kayra hanya ikut tersenyum saja. Dia tidak ikut-ikutan aksi lawak antar mbak dan ibunya Damar. Kaysa yang belum paham arah pembahasan orang dewas hanya melongo saja.
"Ah, masa cuma disuruh mencicipi saja, sih? Nggak enak dong?" goda ibu mertuanya Kayla terkekeh.
"Haha, Ibu ini ada-ada saja! Nanti, aku sediakan Ibu piring yang jumbo biar puas mencicipinya," ledek Kayla gantian. Dia benar-benar senang bisa saling meledek lagi dengan ibu mertuanya.
"Ah, kamu tahu saja selera Ibu." Ibu mertuanya Kayla tersipu malu.
"Ya sudah. Aku pamit ke depan dulu," ucap Kayla lalu pergi.
"Oke." Ibu mertuanya Kayla mengangguk sambil terus terkekeh.
"Astaga, ternyata diam-diam adikmu itu pintar ngelawak juga? Sekarang malah kamu yang jarang banget ajak Ibu ngobrol yang lucu-lucu?" ceplos ibunya Damar masih terkekeh.
Kayra hanya tersenyum saja saat ditanya ibunya Damar. Dia bingung harus menjawab apa. Toh, memang yang diajak ngelawak mantunya sendiri. Kalau dia sendiri memang kurang bisa membuat lawakan seperti itu. Paling dia melawak di saat-saat tertentu saja. Itupun kalau dengan orang yang menurutnya cocok.
Kini Kayla sudah berada di teras. Terlihat
David sedang asik mengobrol dengan Damar dan mertua laki-lakinya.
Dia segera mendekati David dan menyentuh bahunya.
"Mas, itu makanannya sudah ada yang selesai disajikan! Jadi, sekarang tugas Mas yang bagi-bagikan sama tetangga," ucap Kayla melirik tipis ke arah Damar.
"Oke. Siap istriku!" David bersemangat.
Damar yang merasa dilirik Kayla seolah merasa disindir untuk ikut serta membantu David. Padahal Kayla meliriknya karena rindu padanya.
"Em, aku sama Pak Sopir ikut juga bolehkan?" sahut Damar tersenyum.
__ADS_1
Kayla langsung menatap Damar tersenyum. Tatapan kerinduan terlihat jelas di matanya. Hal itu malah membuat Damar merasa risih. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah David.