Bertukar Suami

Bertukar Suami
Kayla Benar-benar


__ADS_3

"Baik, aku akan cerita sama kamu yang sebenarnya." Kayla menundukkan kepalanya. Jujur dia malu sekali menceritakan semua perbuatan tak bermoralnya itu pada sahabat plus mantan tetangganya itu.


Al terus memandangi aksi Kayla untuk mencermati setiap gerak gerik yang ditampakan Kayla.


"Sebenarnya, aku dan adikku bertukar posisi alias bertukar suami," jelas Kayla terisak-isak.


Deg!


Jantung Al berhenti sejenak. Matanya melebar sempurna. Dia sangat terkejut mengetahui rahasia besar sahabatnya.


"Astaga, apakah akal sehat kalian sudah tidak ada sehingga melakukan hal berdosa itu?" tanya Al tidak mengerti.


"Maaf, aku terpaksa melakukan hal itu, Al. Aku dinyatakan mandul. Sementara, keluarga suamiku terus mendesakku agar cepat memiliki momongan." Kayla semakin tersedu-sedu.


"Tapi__" ucapan Al langsung disambar Kayla.


"Aku tidak berdaya, Al. Aku akui perbuatan kami ini dosa besar. Akan tetapi, aku tak punya pilihan lain lagi. Kalau aku mengadopsi anak orang lain ... yang ada bibi suamiku semakin menginjak-injak harga diri aku." Kayla menatap Al sendu. Dia berharap Al mampu mengerti kondisinya.


Al langsung menghela napas. "Baik, aku akan mencoba mengerti kondisi kamu itu. Namun, apakah kamu dahulu sudah memikirkan dampaknya ketika mengambil keputusan itu? Jika benar suami kamu melakukan hal-hal mesra pada adikmu ... bukankah itu hal yang wajar. Kan, suami kamu tahunya adikmu itu adalah kamu, Kay. Jadi, itulah resiko besar yang harus kamu tanggung. Oh ya, bagaimana dengan suami adikmu? Aku bisa pastikan jika dia juga bersikap sama padamu? Nah, apakah kamu tahu kalau adikmu juga merasakan hal sama seperti yang kamu rasakan?" Al sedikit meninggikan nada bicaranya karena mulai paham dengan sikap egois Kayla.


Kayla terdiam. Dia semakin terisak-isak. Hatinya panas dan kesal mendengar perkataan Al yang benar itu. Menurutnya semua orang tidak ada yang mau mengerti perasaannya.


Al segera menyentuh kedua bahu Kayla.


"Jadi, aku harap sama kamu turunkan egomu itu. Kasihan Kayra! Dia hampir saja kehilangan nyawa demi menuruti keinginanmu. Tunggulah beberapa hari dulu sampai kondisinya sudah memungkinkan," nasihati Al.

__ADS_1


Namun, bukannya Kayla mengerti yang ada dia merasa kalau Al itu mendukung suaminya berbuat hal-hal itu pada adiknya. Dia pun langsung mencari cara lain agar bisa kembali ke posisi asalnya.


"Sudahlah, aku tak butuh nasihatmu. Lebih baik aku meminta bantuan pada suster lain saja." Kayla segera menjauhkan tangan Al dari bahunya.


"Astaga kau ini egois sekali, Kay!" Al defresi.


"Terserahmu! Sampai kapanpun tidak akan pernah ada orang yang mau mengerti perasaan ini!" Kayla segera melangkah pergi.


"Oh Tuhan, apa yang sebaiknya aku lakukan? Apa aku ancam saja dia?" Al terus menatap kesal punggung Kayla. Tangannya menjambak rambut frustrasi.


"Tapi, jika aku melakukan hal itu yang ada nanti dia semakin merasa dikucilkan. Oh Tuhan!" Al menatap ke atap rumah sakit bingung. Dia terus memutar otaknya untuk mencari solusi terbaik untuk Kayla dan Kayra agar sama-sama tidak bermasalah.


"Astaga, jika Kayla meminta bantuan pada orang lain ... pasti Kayra tidak ada yang merawat. Aduh, bisa-bisa kondisi Kayra akan memburuk lagi. Jadi, aku harus fokus membantu Kayra." Al segera melangkah mengikuti Kayla. Dia ingin memantau apa yang dilakukan Kayla pada adiknya.


Kini di sebuah ruangan yang sepi, Kayla tengah mengobrol serius dengan seorang perawat laki-laki. Dia sengaja mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah untuk meluluhkan hati si perawat. Terlihat si perawat dengan senang hati mengambil uang tersebut sambil tersenyum senang.


"Astaga, buruk sekali sikapmu itu. Demi kesenanganmu kau libatkan adikmu. Bahkan, kau jerumuskan dia ke lembah dosa. Lalu, kau lemparkan dia di saat ambisimu sudah tercapai," umpat kesal Al dalam hati.


"Ingat Kayla, Tuhan maha tahu semua perbuatanmu. Jadi, jika suatu hari Tuhan mengazabmu. Maka, kamu hanya bisa menangis meratapi kesalahan besar yang sudah kau ciptakan sendiri," imbuh Al dalam hati. Melihat perbuatan buruk Kayla tersebut, Al jadi membenci Kayla.


Al langsung melarikan diri saat melihat Kayla hendak keluar dari ruangan tersebut.


Setelah rencana barunya tercapai, Kayla bergegas kembali ke ruangan sang adik. Setibanya di sana, dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian dengan pakaian khas pasien rumah sakit.


Lalu, dia meminta Kayra untuk mencopot pakaiannya juga. Kemudian dia menyuruh Kayra untuk memakai pakaiannya. Dengan begitu, rencana dia tidak akan gagal. Positif Damar tidak akan tahu kalau dia dan Kayra bertukar posisi.

__ADS_1


Kayra kembali pasrah menuruti ajakan sang kakak. Pelan-pelan dia berusaha membuka pakaiannya. Namun, aksinya terhenti saat membuka bagian yang tersalurkan selang infus.


"Kenapa berhenti?" tanya Kayla cemberut.


"Ini bagaimana caranya membuka bagian ini? Aku tidak bisa karena terhalang infus?" tanya Kayra meringis. Banyak gerak membuat luka bekas operasi terasa nyeri kembali.


"Oh, kamu tunggu sebentar! Biar aku minta bantuan perawat laki-laki tadi." Kayra mengangguk saja.


Kayla bergegas melangkah ke pintu untuk menghampiri perawat tersebut yang sudah stay di sana.


"Ayo cepat masuk! Adikku tidak bisa mengganti pakaiannya karena terhalang infus," ajak Kayla sambil terus melihat ke kanan dan kiri. Dia takut kalau Damar sudah keburu kembali.


"Siap, Bu." Perawat tersebut tersenyum manis menuruti perintah Kayla. Dia begitu senang hari ini dan beberapa hari ke depan akan mendapatkan rejeki nomplok dari Kayla sebagai jaminannya. Dia melupakan dampak buruk atas tindakan kriminalnya itu.


Di dalam si perawat segera melepas selang infus Kayra. Lalu, hendak membantunya menggganti pakaian. Namun, Kayra segera menolaknya karena merasa malu auratnya dilihat pria lain.


"Maaf, biar aku ganti sendiri saja. Mas, tolong menghadap ke arah sana," pinta Kayra tetap ramah.


"Baik." Perawat tersebut segera menghadap ke arah lain sesuai perintah Kayra.


Wajah Kayra kembali meringis menahan rasa nyeri di bagian bekas operasi. Pelan-pelan dia membuka dan mengganti pakaiannya.


Kayla sama sekali tidak berani melihat ke arah Kayra. Dia tak ingin merasa iba saat melihat perban di perut sang adik. Dia harus segera menyelesaikan semua ini karena dia tak sanggup lagi melihat sikap mesra sang suami pada adiknya.


Setelah selesai mengganti pakaian, Kayra hendak turun dari ranjang. Dia kesulitan mengganti pakaian bagian bawah jika tetap duduk di atas ranjang. Pastilah luka bekas operasi akan semakin nyeri karena tertekan.

__ADS_1


"Stop! Biar aku yang bantu jika kamu malu dibantu dia." Melihat hal itu, Kayla segera mencegahnya. Dia tak ingin Kayra terjatuh karena pasti belum kuat untuk menopang tubuhnya.


__ADS_2