
"Eh, Mas serius?" tanya Nayla mengembangkan senyumannya. Dia tidak menyangka kalau David menjual rumahnya. Dengan begitu kesempatan bersama David akan lebih besar nantinya.
"Hem, cepatlah!" bohong David.
"Oke." Nayla segera menutup pintu rumah David rapat-rapat. Hatinya berbunga-bunga. Bergegas dia nangkring di atas motor David. Memeluk erat David. Dia sama sekali tidak merasa malu atau risih naik motor hanya mengenakan gaun tidur lengan satu.
Kulit putihnya terekspos ke mana-mana. Bisa dipastikan nanti di sepanjang perjalanan Nayla akan menjadi perhatian banyak orang yang melihatnya. David diam saja tidak memedulikan perihal aurat Nayla sama sekali.
Mungkin, dia seperti itu karena sekarang tidak mencintainya lagi. Berbeda jauh saat dahulu mereka masih pacaran. David kerap kali meminjamkan jaketnya pada Nayla karena pakaiannya kebanyakan kurang bahan.
"Tolong jangan peluk aku seerat itu! Rubahlah posisi dudukmu! Berilah jarak sedikit! Jangan perlihatkan pada tetanggaku kalau kita memiliki hubungan! Soalnya, mulut para tetangga lebih panjang daripada jalan tol," tegur David jutek. Dia malas menjadi buah bibir tetangganya.
"Ih, kok gitu sih? Kan, kita sudah sah! Jadi, apa salahnya jika berdekatan!" protes Nayla tidak terima.
"Aku tahu itu! Hanya saja kamu jangan melakukan hal itu di di sini! Kamu boleh melakukan hal itu nanti saat sudah jauh dari daerah tempatku tinggal," jelas David mencoba menenangkan hati Nayla.
"Huh, baiklah!" Nayla segera turun dari motor. Lalu, naik kembali merubah posisinya. Tangannya berpegangan pada ujung jok menuruti perintah suaminya.
David bergegas melajukan motornya. Benar saja, di sepanjang perjalanan banyak sekali sepasang mata yang melongo melihat penampilan Nayla. Apalagi kain bagian bawahnya terkadang tersingkap karena angin.
Begitu sampai di rumah Nayla, David kembali meminta izin untuk pergi lagi. Dengan alasan dia harus bekerja. Padahal dia pergi untuk mengantar anak dan istrinya kembali ke rumah. Nayla, langsung cemberut. Dia benar-benar kesal dibuatnya. Kakinya dihentak-hentakkan saat masuk ke dalam rumah.
"Hey, kamu kenapa? Sepertinya kamu sedang kesal begitu?" goda ibunya terkekeh.
"Istri mana yang tak kesal kalau kerjaannya ditinggal mulu," sewot Nayla mencebikkan bibirnya.
"Sabar, Nay! Itulah resikonya kalau menikah dengan pria sudah beristri. Makanya kalau bergaul lihat-lihat! Masih untung dia mau bertanggung jawab atas kehamilan kamu itu," nasihati ibunya tersenyum.
"Auk, ah!" Nayla bergegas pergi meninggalkan ibunya.
"Huh, anak itu memang sulit kalau dinasihati," gumam ibunya Nayla menghela napas panjang.
Kini motor yang dikendarai David sudah sampai di depan kos-kosan Kayla kembali. Bergegas Kayla mengintip sebelum membukakan pintu. Dia trauma berat karena kejadian tadi pagi.
"Syukurlah dia sudah datang!" Bibir Kayla melengkung ke atas. Bergegas dia membukakan pintu untuk David.
Begitu pintu dibuka, David segera menghampiri Kayla di depan pintu.
"Bagaimana sudah siap?" tanya David memastikan.
__ADS_1
"Sudah, cuma Kaysa malah tidur," jawab Kayla tersenyum.
"Oh, tak masalah! Nanti, bawa motornya pelan-pelan saja. Yuk!" ucap David tersenyum.
"Yuk!" Kayla masuk duluan.
David mengekorinya dari belakang.
Kayla segera memasang gendongan ke tubuhnya. Lalu, mengangkat pelan-pelan tubuh Kaysa agar tidak terbangun.
Sementara David menenteng tas besar. Lalu, meraih selimut bayi untuk menutupi tubuh putrinya agar tidak kepanasan.
"Ini selimutnya sekalian dipakaikan saja biar gak repot pas di atas motor," perintah David tersenyum.
"Iya." Kayla menerima selimutnya. Lalu, memakaikan ke tubuh Kaysa.
"Yakin ini sudah semua?" tanya David memastikan kembali sebelum mereka pergi meninggalkan kontrakan.
"Iya, sudah semua kok." Kayla segera meraih tas kecil kesayangan Kayra.
"Baiklah! Mari kita berangkat sekarang!" Kayla mengangguk.
David segera naik duluan di atas motor. Meletakkan tasnya di bagian depan tempak duduknya.
"Ayo naik!" David tersenyum manis.
"Iya." Kayla pelan-pelan naik ke atas motor.
Dengan penuh perhatiannya, David membantu Kayla.
"Kemarikan tas kecilmu sekalian biar nggak kesulitan!" Tangan David menjulu ke belakang.
"Oke." Kayla segera memberikan tasnya pada David.
David segera mengalungkannya ke leher.
"Pegangan yang erat!" tangan David meraih tangan Kayla agar melingkar di perutnya.
Kayla menurut saja demi keamanan bersama. Dia trauma berat menentang nasihat David.
__ADS_1
David segera melajukan motornya dengan kecepatan rendah. Dia berhati-hati saat membonceng anak dan istrinya. Berbeda jauh saat membonceng Nayla tadi. Dia melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata agar segera sampai ke tujuan.
***
Di tempat lain, Kayra dan yang lainnya tengah melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Kayla sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik.
"Mas, bagaimana kalau kita mampir sebentar menjenguk Kaysa. Sudah lama tak bertemu dengannya, aku rindu," rengek Kayra. Semenjak dia hamil, memang jarang sekali bertemu dengannya.
"Iya, Ibu setuju juga tuh sama usul Kayla. Ibu juga kangen banget pingin mencium pipi gembul Kaysa," sahut ibunya Damar tersenyum.
"Oke. Kita mampir dulu ke rumah David. Mbok Nem, nggak masalahkan? Kalau Mbok Nem merasa keberatan lebih baik naik taksi saja," saran Damar tersenyum menatap Mbok Nem.
"Nggak masalah, Den. Mbok, malah seneng diajak jalan-jalan. Mbok, juga penasaran sama anaknya Non Kayra. Kan, nggak pernah bertemu," jelas Mbok Nem terkekeh.
"Good!" Damar mengacungkan jempol.
Begitu sampai di dekat mobil, Mbok Nem segera masuk duluan diikuti Pak Sopir. Mereka duduk di bangku paling belakang. Kemudian disusul ibunya Damar duduk di bangku bagian tengah diikuti Kayra juga.
"Hati-hati, Sayang!" peringati Damar sambil membantu Kayra masuk.
Setelah semuanya masuk Damar segera menutup pintunya. Lalu, dia masuk di dan duduk di bangku kemudi. Ayahnya juga sudah nangkring di bangku depan mendampingi Damar.
Mobil segera melaju meninggalkan pekarang rumah sakit. Kayra tersenyum senang karena sebentar lagi bakalan bertemu putrinya.
Di sepanjang perjalanan mereka berulangkali tertawa akibat celotehan lucu Pak Sopir dengan Mbok Nem. Setiap mereka berdampingan maka suasana akan terasa ramai.
Perhatian Kayra teralihkan saat melihat dari kejauhan ada penjual mainan yang sudah renta duduk di pinggir jalan raya. Terlihat sang kakek sedang mengipas-ngipas wajahnya dengan topi karena merasa gerah.
"Mas, bisa berhenti sebentar ke tukang penjual mainan itu," pinta Kayra tersenyum.
"Siap, istriku!" Damar pelan-pelan menepikan mobilnya di dekat kakek itu.
Kakek itu langsung tersenyum senang melihat ada mobil yang berhenti.
Kayra bersiap-siap akan turun. Namun, Damar segera mencegahnya.
"Kamu di dalam saja! Biar aku saja yang turun! Kamu ingin membelikan mainan untuk Kaysa kan?" tanya Damar tersenyum. Dia mengerti sekali keinginan istrinya.
"Iya benar, Mas. Tolong belikan Kaysa mainan masak-masakan sama boneka ya," jawab Kayra tersenyum senang. Ini kali pertamanya dia membelikan mainan untuk anaknya selama mereka berpisah.
__ADS_1