
"Aduh, makanankan belum habis. Kok, ini malah disuruh menyambut kepulangan para tamu," batin Kayra cemas.
"Oke." Damar tersenyum.
"Ayo Sayang, kita ke depan dulu! Kasihan tamunya pada nungguin kita," ajak Damar tersenyum. Tangannya terulur.
Terpaksa Kayra mengikuti apapun yang dilakukan Damar. Dia tak mungkin menolaknya. Mereka berdua segera melangkah bersama. Sementara Mbok Nem membuntuti dari belakang.
"Oh Tuhan, kok bisa sih Den Damar sama sekali tidak mencurigai bahwa belakangan ini yang bersama dia bukan istrinya. Melainkan, adik iparnya sendiri. Padahal dari gaya bicara saja sudah jelas kalau mereka berbeda. Andai sejak awal aku sudah bertemu dengan kembarannya Non Kayla, pasti aku tidak tertipu juga," batin Mbok Nem menatap punggung Kayra.
"Oh ya, apa benar dugaan Bibi Lin soal kemandulan Non Kayla itu? Sehingga Non Kayla meminta bantuan pada adiknya. Untung saja Bibi Lin sedang berada di luar negeri. Kalau tidak, pasti akting mereka ketahuan sejak awal. Oh ya, apa aku adukan saja masalah ini sama Ibu dan Bapak?" batin Mbok Nem gelisah. Dia berpikir dulu sebelum bertindak.
Plakkk!
"Astaga!" Mbok Nem terkejut saat punggungnya ditepuk seseorang dari belakang.
"Mbok, ini daritadi berjalan sambil melamun! Apa nggak takut menabrak kayak aku tadi?" tanya Kayla terkekeh.
"Hehe, Non ini ada-ada saja." Mbok Nem cengengesan.
"Ya sudah. Aku mohon pamit untuk pulang ke rumah. Mbok, yang sehat-sehat, ya!" Kayla tersenyum manis.
"Iya, Non. Hati-hati di jalan!" peringati Mbok Nem tersenyum.
Kayla mengangguk lalu segera menghampiri David yang sudah menunggunya di depan pintu. Tadi, mereka sudah berpamitan terlebih dahulu dengan kedua orangtuanya Damar.
Setelah semua tamu sudah pergi, Damar segera mengajak Kayra masuk ke dalam kamar. Dia berniat ingin menagih janji istrinya yang tadi. Namun, Kayra beralasan soal makanan mereka belum dihabiskan.
"Hem, percuma deh kita balik ke dapur. Pasti makanannya sudah dibereskan sama para pelayan," jelas Damar meyakinkan.
"Ayo coba kita cek dulu! Sayang kalau nggak dihabiskan loh," alasan Kayra terus berusaha menggagalkan niat Damar.
"Baiklah! Tapi, jika nanti ucapanku benar ... kamu harus menuruti semua kemauanku, deal." Damar menantang Kayra.
Kayra diam sejenak. Rasa was-was semakin terasa di hatinya. Dia takut kalau dugaan kakak iparnya itu benar.
"Daripada aku kesalahan, sebaiknya aku urungkan saja deh niat ke dapurnya," batin Kayra.
__ADS_1
"Malah melamun?" tanya Damar mencubit hidung Kayra pelan.
"Eh, kita langsung ke kamar saja kalau begitu. Ayo!" Kayra melangkah duluan meninggalkan Damar.
Damar langsung tersenyum menang. Ternyata, semenjak hamil, istrinya ini jadi sangat polos sekali. Padahal kalau di bagian dapur jelas tidak ada hubungannya sama para pelayan katering. Tentu saja itu merupakan tugasnya Mbok Nem.
Di dalam kamar Kayra segera masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Dia sengaja memilih pakaian yang panjang dan bawahannya celana untuk berjaga-jaga.
Begitu Kayra keluar dari kamar mandi, Damar sebagai suami langsung protes.
"Eh, kok pakai piyama sih? Bukannya kamu biasanya pakai daster kalau mau tidur? Memang kamu lupa sama saran Dokter kalau kamu dilarang pakai celana yang bagian pinggangnya ketat?" tanya Damar cemas.
"Aduh, benar sekali ucapan Mas Damar itu. Lalu, apa aku harus pakai daster di saat darurat begini?" batin Kayra bingung.
"Ayo buruan ganti pakaianmu! Memang nggak kasihan apa sama dedek bayinya," perintah Damar segera mengambil asal pakaian untuk Kayra ganti. Lalu, memberikan pada Kayra.
"Baik, Mas!" Kayra terpaksa menurut saja.
Dia segera masuk kembali ke kamar mandi. Lalu, hendak mengganti pakaian. Namun, ketika melihat pakaian dengan model lengan satu. Kayra segera memprotes gantian.
"Oke." Damar memilih pakaian di lemari lagi. Dia memilih baju yang terlihat longgar. Namun, modelnya tetap sama dengan yang tadi.
"Buka pintunya! Ini pakaiannya!" ucap Damar dari depan pintu kamar.
"Iya sebentar!" Kayra membuka sedikit pintunya. Lalu, mengeluarkan tangannya dan meraih pakaian tersebut.
Tangannya meraba-raba karena tidak merasakan menyentuh apapun.
"Mas, mana bajunya?" tanya Kayra mulai jengkel.
"Ini bajunya!" Damar menyentuh tangan polos Kayra. Lalu, menempelkan pakaian itu.
Kayra segera menarik tangannya. Namun, ditahan Damar sambil menahan tawa.
"Mas, nggak usah becanda deh! Kalau aku kesal, rencana Mas gagal," ancam Kayra kesal.
"Eh, jangan dong." Damar melepaskan tangan Kayra.
__ADS_1
"Huh, menyebalkan sekali," gerutu Kayra sambil melihat bajunya.
"Mas, kok bajunya yang model ini lagi? Nggak muat loh! Kan, aku minta yang biasa kupakai saja," omel Kayra kesal.
"Tidak ada lagi. Adanya gaun lingery apa kamu mau memakainya," jelas Damar karena baju yang diminta Kayra memang tidak ada.
"Masa sih?" tanya Kayra belum percaya.
"Kalau nggak percaya cek sendiri saja," jelas Damar malas.
"Huh, baiklah." Kayra terpaksa memakainya.
Dia melihat pantulan tubuhnya di cermin.
Ada rasa senang dan cemas melihat penampilannya saat ini. Pakaian yang dia kenakan membuat dia terlihat manis dan seksi.
"Sayang, kok lama amat sih!" tegur Damar mulai kesal.
"Iya sebentar. Ini aku masih buang air," alasan Kayra mengulur waktu.
Tak ada jawaban lagi dari Damar. Ternyata Damar segera keluar dari kamar. Terlalu banyak alasan yang dikemukakan sang istri membuat mood-nya buruk.
Di dalam kamar mandi, Kayra masih tak segera keluar. Dia begitu ragu kalau Damar pasti akan berbuat lebih dari apa yang dikatakannya tadi.
Lima menit telah berlalu, Kayra tidak mendengar suara berisik Damar lagi. Dia mencoba membuka sedikit pintunya untuk mengintip.
"Eh, kok kosong? Apa Mas Damar keluar?" Kayra melebarkan pintunya.
"Iya benar. Mas Damar tidak ada di dalam lagi. Apa jangan-jangan dia merajuk?" terka Kayra. Dia segera keluar dari dalam kamar mandi.
"Baguslah, kalau begitu aku harus segera tidur sebelum dia kembali lagi!" Kayra membaringkan tubuhnya di kasur. Lalu, menyelimuti tubuhnya dengan selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang sedikit terbuka.
Beberapa menit berlalu, Kayra tak kunjung bisa tidur. Perutnya terasa bergetar terus.
"Aduh, kamu tidur ya, Nak! Please! Ibu mohon bantu Ibu!" Kayra terus mengusap perutnya berusaha menenangkan baby di dalam perutnya. Biasanya Damar yang mengusap-usap perutnya hingga dia tertidur pulas.
"Aduh, kok ini gerakannya semakin terasa sih! Kalau terus begini yang ada aku malah nggak bisa tidur semalaman. Bisa-bisa nanti aku masuk rumah sakit lagi. Huh, lebih baik aku cari saja Mas Damar." Kayra menyerah lagi karena tidak bisa mengatasi baby di dalam perutnya. Pelan-pelan dia turun dari kasurnya. Lalu, segera keluar dari kamar untuk mencari Damar.
__ADS_1