Bertukar Suami

Bertukar Suami
Kecurigaan Nayla


__ADS_3

Kini Damar sudah kembali lagi ke kamar. Sementara Kayra masih saja tertidur pulas. Sampai saat ini tubuhnya masih saja terasa remuk dan lesu.


"Sayang, ayo bangun dulu," ucap Damar sambil memegang nampan berisi tiga mangkuk bubur kacang hijau.


Dia meletakkannya di atas nakas dekat kasur. Kemudian, duduk di kasur dekat kepala Kayra. Tangannya membelai lembut rambut Kayra. Bibirnya melengkung ke atas. Ada rasa senang saat mengingat kejadian semalam. Ada pula rasa iba saat melihat Kayra tak berdaya seperti ini.


"Sayang, ayo bangun! Ini buburnya sudah ada. Yuk, Mas suapin!" ulangi Damar tersenyum.


Kayra membuka matanya sayup-sayup. Kepalanya masih terasa pusing.


"Mampu nggak kalau sambil duduk?" tanya Damar terus tersenyum. Tangannya masih membelai lembut rambut Kayra.


Kayra menggeleng.


"Baiklah. Kalau begitu diganjal saja kepalanya biar enak makannya," saran Damar tersenyum.


Kayra mengangguk.


Damar segera mengambil bantal di samping Kayra. Lalu, mengganjalkannya ke kepala Kayra.


"Gimana sudah nyamankah? Apa mau ditambah lagi ganjalannya?" tanya Damar memastikan sebelum menyuapi Kayra.


Kayra menggeleng.


"Oh ya, mau bubur yang rasanya sangat manis, sedang, atau sedikit manis?" tanya Damar memastikan lagi.


Kayra langsung tersenyum.


"Memangnya, Mas beli tiga bungkus sekaligus?" tanya Kayra tersenyum.


"Hehe, iya. Habis, daripada kesalahan ujungnya istriku ngambek dan nggak jadi sarapan. Ayo cepat mau makan yang mana? Mas, harus segera ke kantor juga. Soalnya, ada meeting penting sama para karyawan," jelas Damar tersenyum.


"Yang sedikit manis saja," sahut Kayra tersenyum hangat.


"Oke." Damar segera meraih pelastik yang sudah ditandai oleh penjual. Lalu, membuka dan menuangkannya ke dalam mangkuk. Setelah, itu segera menyuapi Kayra.


***

__ADS_1


Di tempat lain, terlihat Kayla sedang sibuk menyuapi Kaysa. Sementara, David sedang asik menikmati menu sarapan sebelum memutuskan berangkat bekerja.


Rencananya hari ini dia akan mampir sejenak ke rumah Nayla untuk membahas sesuatu yang penting. Dia harus pintar-pintar menjaga keharmonisan hubungan rumah tangganya dengan sang istri pertama.


"Aduh, anak itu semakin pintar saja." David tersenyum. Sesekali dia menengok aksi menggemaskan anaknya saat disuapi.


Berulangkali Kayla dibuat gereget karena Kaysa tak sabaran. Kaysa terus berusaha merebut sendok yang dipegang Kayla. Dia ingin cepat-cepat menghabiskan makanannya. Namun, Kayla tak ingin bekerja untuk yang kedua kalinya.


"Hayo, Kaysa nggak boleh nakal! Kalau nakal Ibu sudahi makannya ini," ancam Kayla tersenyum.


Kaysa langsung menggeleng cepat. Dia kembali tenang saat disuapi.


"Kaysa memang anak yang pintar." Kayla mengecup pucuk kepala Kaysa senang.


David tersenyum hangat menyaksikan adegan tersebut. Dia segera bangkit karena makanan di piringnya sudah habis. Lalu, menghampiri anak dan istrinya.


"Sayang, aku berangkat bekerja dulu!" David mengecup pipi Kaysa. Lalu, beralih mengecup pipi Kayla.


Kayla tersenyum tipis.


"Eh, ngomong-ngomong Mas kok nggak pernah mengunjungi istri muda? Beberapa hari ini Mas di sini mulu! Nanti, dia kebakaran jenggot bagaimana?" tanya Kayla sambil menyudutkan David. Sampai kapanpun dia masih gedek mengingatnya.


"Mas, kan menikahi dia hanya untuk bertanggungjawab saja tidak lebih. Kebetulan juga kedua orangtuanya baik dan paham dengan keadaan Mas," jelas David tersenyum manis.


"Oh begitu. Tapi, menurutku ... Mas itu nggak boleh juga terlalu cuek sama dia. Bagaimanapun dia istri kamu. Aku cemas kalau nanti dia dendam dan melampiaskan semuanya pada aku dan Kaysa di saat kamu tak ada di rumah," nasihati Kayla berpura-pura simpati. Padahal dia ingin memanfaatkan kondisi tersebut untuk menghindari David.


"Kalau soal itu, aku sudah pikirkan. Jujur, aku sudah membohonginya kalau rumah ini kujual. Jadi, dia tak akan datang kemari lagi," jelas David tersenyum.


"Oh." Kayla menggeleng-gelengkan kepala karena tidak percaya dengan tingkah David.


"Ya sudah. Aku berangkat! Ingat pintunya dikunci! Jangan pernah terima tamu laki-laki!" peringati David. Dia trauma mengingat kejadian di kos-kosan tempo hari.


"Iya. Mas juga hati-hati!" balas Kayla tersenyum.


"Siap, istriku!" David tersenyum manis lalu segera meninggalkan mereka. Tak lupa pula menutup pintu rumah.


"Huh, dia itu pria berkepribadian ganda. Tepatnya lagi dia itu bunglon," cela Kayla cemberut.

__ADS_1


Di luar David mulai melajukan motornya. Begitu sampai di persimpangan gang dia segera berbelok menuju tempat kerja. Diam-diam ada sepasang mata mengintainya dari jarak beberapa meter. David sama sekali tidak tahu karena dia berada di dalam taksi yang sedang menepi.


"Huh, ternyata dia sudah membohongiku! Awas kamu, ya! Akan, aku balas perbuatanmu itu" umpat Nayla geram. Giginya bergemertak. Tangannya terkepal kuat.


Pak Sopir dibuat merinding ketika tak sengaja melihat tatapan sangar Nayla dari kaca sepion.


"Pak, tolong sekarang antar aku ke rumah yang ada di dalam gang itu! Nanti, aku stop saat sudah sampai rumah tujuan!" perintah Nayla dengan napas kembang kempis.


"Siap, Mbak." Pak Sopir mengangguk. Lalu, melajukan mobilnya kembali menuruti arahan Nayla.


Karena jaraknya tidak jauh dari gang. Kini taksinya sudah sampai di depan rumah David. Kayla yang baru saja selesai menyuapi Kaysa segera berlari cepat menghampiri pintu. Dia ingin mengecek siapa yang datang.


Tak lama kemudian, keluarlah sosok yang amat dibencinya. Dia segera mengunci pintu. Lalu, menutup tirai jendela yang sedikit terbuka.


"Huh, ternyata omongan David memang tidak bisa dipegang. Dia bilang kalau Nayla tidak akan kemari lagi. Tapi, buktinya si Nenek lampir itu masih datang lagi kemari!" umpat Kayla segera kembali ke tempat Kaysa duduk lalu menggendongnya.


Di luar Nayla mengecek sekeliling rumah ternyata sepi. Para rumah tetangga juga tertutup rapat.


"Sepi amat di sini? Apa orang-orang pada sibuk bekerja sehingga rumah pada tutup semua?" gumam Nayla bingung. Dia melangkah maju mendekati pintu rumah.


"Hem, kira-kira rumah ini sudah beneran dijual apa belum sih? Kok, tadi David masih berkeliaran di daerah sini?" gumam Nayla penasaran. Tangannya segera memutar handle pintu untuk memastikan.


"Hem, dikunci! Berarti di rumah ini sedang kosong," gumam Nayla manggut-manggut.


Di dalam Kayla terus memasang telinga baik-baik agar bisa mendengar gumaman Nayla. Sementara, Kaysa menatap Kayla aneh karena gerak-geriknya. Tangan Kaysa otomatis menepuk wajah Kayla cukup kuat.


Plakkk!


"Auw!" ringis Kayla lirih. Tangannya mengusap lembut bagian wajah yang panas.


Nayla di depan sedikit mendengarnya. Dia langsung mengerti bahwa di dalam sebenarnya ada orang.


"Sialan! Hampir saja aku kena tipu!" umpat Nayla geram. Tangannya segera menggedor-gedor pintu rumah David.


Dok! Dok! Dok!


"Keluar kamu!" teriak Nayla geram.

__ADS_1


Di dalam Kayla serasa ikut naik darah akibat ulah Nayla yang tidak beradab itu. Hampir saja dia hilang akal dan ingin melabrak Nayla. Lalu, *******-***** wajah Nayla. Tak lupa memporan-porandakan rambut Nayla juga.


__ADS_2