Bertukar Suami

Bertukar Suami
Tetap Menolak


__ADS_3

"Auk, ah!" Kayla cemberut. Kedua tangannya dilipat di depan dada.


"Sudah, nggak usah pikirkan soal Nayla lagi. Kamu tenang saja, Ra? Aku sudah menalaknya? Jadi, dia tak ada hubungannya lagi sama kita. Sampai kapanpun cuma kamu istriku seorang," sahut David tersenyum hangat.


Kayla langsung menatap ke arah David. Dia tidak terlalu percaya dengan kata-kata David. Intinya dia malas mempercayainya.


Dia juga hanya diam saja tak merespon ucapan David.


"Hehe, maaf ya, Kay? Sumpah aku nggak ada maksud menuduh kamu? Tolong kalian selesaikan masalah kalian dengan hati yang dingin biar cepat selesai. Oh ya, aku pamit dulu ke rumah sakit. Kasihan Nayla sendirian mengurus jenazah ayahnya. Belum lagi dia harus merawat ibunya juga yang ngedrop," pamit Andre tersenyum tipis.


David langsung menatap Andre serius.


"What? Ayahnya Nayla meninggal? Kamu jangan mengada-ngada, Ndre?" tanya David tidak percaya.


"Astaga, aku nggak mengada-ngada. Itu tadi Nayla yang ngabarin. Dia minta tolong sama aku buat jemput kamu. Katanya kamu ditelepon nggak mau angkat," jelas Andre menatap serius David.


David terdiam. Yang dikatakan Andre memang benar. Dia tadi sengaja tidak mengangkat panggilan dari Nayla sama sekali.


"Ya sudah. Aku pamit sekarang!" Andre segera berlari menuju mobilnya.


"Eh, ini suaminya nggak diajakin sekalian?" tanya Kayla sengaja menyindir David.


Dia ingin melihat seberapa peduli dia dengan Nayla.


Andre berhenti sejenak. Dia menunggu David bersuara.


"Tidak, aku tidak akan pergi ke sana! Lebih baik, aku menemani istriku saja!" tolak David tersenyum menatap Kayla.


Kayla langsung melengos. Bibirnya mengkerucut. Dia bosan mendengar gombalan David.


"Baiklah! Aku pergi sekarang!" Andre hendak melangkah.


"Em, mungkin besok aku akan ke rumah Nayla," ucap Kayla.


"Oke. Aku tunggu kedatangan kalian," balas Andre mengangguk. Dia melanjutkan langkahnya.


Kayla menatap kepergian Andre. Sedangkan David malah menatap Kayla.

__ADS_1


Tiba-tiba muncul ide nakal di kepala David. Dia segera membopong tubuh Kayla. Tentu saja hal itu membuat Kayla begitu terkejut.


"Turunin, ih!" teriak Kayla kesal. Tangannya memukul kuat dada bidang David.


"Nggak akan!" David melangkah santai menuju rumah. Bibirnya melengkung ke atas. Dia tidak terlalu cemas lagi setelah tahu penyebab Kayla uring-uringan.


Mendengar hal itu, Kayla langsung menghentikan pukulannya. Dia langsung menatap ke arah lain. Setibanya di dalam kamar, David pelan-pelan menurunkan tubuh Kayla di ranjang dekat anaknya berbaring.


Otomatis Kayla segera menghadap anaknya. Lalu, langsung memejamkan matanya. Dia malas berurusan dengan David. Namun, David segera menarik tubuh Kayla agar tidak membelakanginya.


"Masih berani macam-macam?" tegur Kayla menatap tajam David.


"Baiklah, tidak jadi. Yuk, bobok!" David tersenyum. Lalu, ikut berbaring di samping Kayla. Tangannya melingkar di perut Kayla.


Otomatis Kayla segera melempar tangan David lalu segera bangkit.


"Eh, mau ke mana?" tanya David tersenyum.


"Mau tidur di luar saja," jawab Kayla ketus.


"Eh, jangan! Aku janji tidak akan mengganggu lagi," ucap David memohon.


David segera memberikan gulingnya. Dia tak ingin istrinya itu sampai tidur di luar.


***


Keesokan harinya, David dan Kayla datang ke rumah Nayla. David segera meminta Kaysa dari gendongan Kayla. Dia sengaja menggunakan Kaysa untuk menghalangi Nayla kalau memeluk dia nanti. Andre yang melihat kedatangan mereka segera memberitahu Nayla di dalam bahwa ada David dan anak istrinya.


"Nay, itu ada David beserta anak istrinya di depan," bisik Andre pada Nayla yang masih duduk di depan jenazah yang sang ayah.


"Kamu serius, Ndre?" tanya Nayla belum percaya.


"Iya. Ayo buruan sambut mereka dengan baik," ajak Andre mengulurkan tangan ke Nayla untuk membantunya bangkit.


"Baik!" Nayla bersemangat bangkit.


Begitu sampai di hadapan tamu istimewanya. Bukannya Nayla memeluk David, dia malah langsung memeluk Kayla erat. Jujur Kayla dan David sangat terkejut dengan tindakan Nayla.

__ADS_1


"Kay, aku minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu? Aku tahu pasti sulit sekali bagimu memaafkan aku. Namun, aku memohon dengan segenap hati agar kamu bersedia membuka pintu maaf untuku. Oh ya, marilah kita berteman," ucap Nayla tersedu-sedu.


Kayla tak langsung menjawab. Dia berpikir dulu sebelum memutuskan kesimpulan. Dia takut Nayla hanya berbohong aja untuk mengambil hati David.


"Please, maafin aku ya?" ulang Nayla tersedu-sedu.


"Aduh, ini sangat membingungkan. Jika aku menolak kok kesannya aku yang jahat ya. Mana orang-orang pada melihat kemari," batin Kayla jengkel sendiri.


"Kay, please!" ulangi Nayla tersedu-sedu.


"Baiklah, aku maafkan kamu." Terpaksa Kayla berkata seperti itu. Dia tak mungkin membiarkan orang-orang menilai adiknya buruk.


"Terima kasih banyak. Kamu memang wanita baik. Pantas saja David begitu mencintai kamu." Nayla menatap David sekilas.


"Ya sudah. Ayo masuk ke dalam," ajak Nayla tersenyum.


"Iya," jawab Kayla setuju. Mereka segera masuk ke dalam.


Dua jam berlalu, prosesi pemakaman ayahnya Nayla sudah selesai. Mereka segera kembali ke rumah Nayla. Di rumah Nayla, sang ibu mengajak ngobrol Kayla dan David baik-baik didampingi oleh Andre dan Nayla juga.


"David dan Kayla, bolehkah Ibu meminta bantuan pada kalian?" tanya ibunya Nayla sendu.


Kayla dan David langsung terdiam. Mereka saling tatap satu sama lain. Jujur mereka merasa ada hal yang mendebarkan akan diminta ibunya Nayla.


"Hem, kalian kenapa diam?" tanya ibunya Nayla tersenyum sedih. Dia takut kalau rencananya ditolak David lagi.


"Tidak ada, Bu. Memangnya, Ibu mau meminta apa? Kalau kami mampu, pasti kami bantu sesuai kadar kemampuan kami?" tanya Kayla basa-basi. Dia tersenyum.


"Ibu yakin sekali kalau kalian pasti mampu mengabulkan permintaan Ibu. Ibu hanya meminta sama David untuk melanjutkan mengurus perusahaan Ayah." David langsung lesu mendengarnya. Dia teringat soal kejadian semalam.


Berbeda dengan Kayla, dia langsung melebarkan mata terkejut. David sama sekali tak bercerita soal kejadian semalam.


Sementara Nayla dan Andre hanya tersenyum saja. Mereka sudah tahu kalau ibunya Nayla pasti melakukan hal itu.


"Kalian kan tahu kalau Ibu tak punya anak laki-laki. Ibu cuma punya satu anak perempuan. Jujur, Ibu nggak yakin kalau dia mampu mengurus perusahaan peninggalan Ayah. Jadi, Ibu mohon sama kalian mau ya?" sambung ibunya Nayla iba.


David dan Kayla masih diam. Mereka bingung harus menjawab apa. David segera menatap Kayla meminta bantuan. Namun, Kayla tetap diam saja. Terpaksa David berbicara sendiri menurut isi hatinya.

__ADS_1


"Em, sebelumnya, Ibu kan sudah tahu jawaban dari aku. Jadi, lebih baik Ibu meminta bantuan sama orang lain saja. Sungguh, aku tak kuasa menerimanya. Lagi pula, aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan anak ibu," tolak David tersenyum tipis.


__ADS_2