Bertukar Suami

Bertukar Suami
Dampak Ngeyel


__ADS_3

"Em, aku lebih suka pakai ini saja, Mbok!" Kayra menunjukkan gelas di tangannya.


"Oh, ya sudah." Mbok Nem menurut saja.


Mereka segera memulainya. Mbok Nem langsung memasang kabel mixer ke colokan. Sementara, Kayra mulai memecahkan enam butir telur secara bergilir dan memasukkannya ke dalam mangkuk pengocok.


Lalu, dia memasukkan satu gelas gula pasir juga ke dalam mangkuk. Tak lupa sedikit pengembang dia masukkan juga. Setelah itu, dia mulai menyalakan mixernya. Adonan mulai tercampur menjadi satu.


Sepuluh menit berlalu, adonan sudah mengembang sempurna. Kayra langsung memasukkan sisa bahan yang belum dia masukkan satu persatu. Setelah adonan sudah jadi Kayra segera mengambil cetakan loyangnya.


Mbok Nem, sudah mengolesinya menggunakan margarin. Jadi, Kayra tinggal memasukkan saja adonannya. Setelah itu dia memasukkannya ke dalam oven. Sambil menunggu brownise-nya matang, Kayra membuat cream untuk olesan atas sebelum ditaburi meses.


"Wah, ternyata Non Kayla diam-diam pintar juga membuat roti," puji Mbok Nem tersenyum bangga.


"Bukan pintar, tapi aku masih belajar. Beberapa hari ini, aku sering menyaksikan video membuat roti. Jadi, munculah ide pingin belajar juga," bohong Kayra terkekeh.


"Oh." Mbok Nem tersenyum kikuk.


Kini roti yang mereka buat sudah matang. Mbok Nem, segera mengangkatnya. Lalu, menuangnya ke piring berukuran besar.


"Wah, hasilnya perfect, Non!" Mbok Nem tersenyum bangga.


"Syukurlah, aku lega sekali kalau beneran hasilnya bagus begini. Mari kita olesi rotinya pakai cream. Habis itu di kasih toping meses saja," balas Kayra sudah tidak sabar lagi ingin menghiasnya.


"Eh, jangan dulu, Non! Kan rotinya belum dingin! Nanti, creamnya malah meleleh lagi, " jelas Mbok Nem langsung mencegahnya.


"Eh, iya juga ya!" Kayra menepuk jidatnya pelan. Lalu, terkekeh geli.


Mereka berdua tertawa riang di dapur. Dapur yang biasanya sepi jadi ramai oleh tawa mereka berdua.


"Ups!" Kayra memegang perut bagian bawahnya karena merasa nyeri.


"Eh, Non, kenapa?" tanya Mbok Nem panik.


"Ini perutku sedikit keram," jelas Kayra meringis.


"Tuh kan, apa yang Mbok khawatirkan terjadi," ucap Mbok Nem ketakutan.


"Cuma nyeri sedikit saja kok. Jadi, Mbok tidak perlu khawatir. Aku permisi ke kamar dulu! Oh ya, nanti kalau rotinya sudah dingin. Tolong Mbok kasih cream dan topingnya ya?" pamit Kayra buru-buru. Rasa keramnya semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Iya, Non. Non, yakin tidak apa-apa?" tanya Mbok Nem semakin cemas karena wajah Kayra mulai terlihat pucat.


"Iya, Mbok!" Kayra mencoba untuk tersenyum agar pembantunya tidak ketakutan. Namun, tiba-tiba. "Ah!" Kayra langsung berpegangan pada meja dekat kompor agar tidak jatuh.


"Astaga, Non Kayla!" teriak Mbok Nem sangat cemas. Dia langsung merangkul Kayra agar tidak jatuh.


"Tolong! Tolong!" teriak Mbok Nem sekencang mungkin agar orang lain mendengarnya.


Tak lama kemudian munculah Pak Satpam dan tukang kebun. Di rumah hanya ada mereka saja. Yang lain sedang pergi keluar.


"Astaga, ini kenapa Non Kaylanya?" tanya Pak Satpam panik.


"Nanti saja kujelaskan! Sebaiknya, kita segera bawa Non Kayra ke rumah sakit terdekat," ajak Mbok Nem panik.


"Iya, benar!" sahut tukang kebun setuju.


"Ya sudah. Sekarang kamu hubungi taxi online!" perintah Pak Satpam ke tukang kebun. "Aku yang akan membopong tubuh Non Kayra," sambung Pak Satpam panik.


"Siap!" Tukang kebunnya langsung langkah seribu.


"Maaf, Non!" ucap Pak Satpam sebelum membopong tubuh Kayra.


"Oh ya, Mbok segera hubungi Den Damar juga!" perintah Pak Satpam sebelum melangkah.


"Iya!" Mbok Nem melangkah duluan mendahului Pak Satpam.


***


Kini mereka sudah berada di klinik terdekat. Mereka sengaja memilihnya karena takut Kayra terlambat mendapatkan penanganan medis. Mbok Nem dan tukang kebun terus mondar-mandir di depan ruangan tempat Kayra diperiksa.


Mereka berdua sangat cemas sekali dengan keadaan majikannya. Mereka juga takut sampai terjadi hal buruk pada kehamilan majikannya. Mereka semua sudah diberi tugas untuk selalu menjaga dan memantau pola tingkah Kayra setelah mendapatkan peringatan dari dokter.


"Aduh, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada Non Kayra dan janinnya? Bisa-bisa kita kena semprot sama Den Damar," ucap tukang kebun ketakutan.


"Sudah, jangan berpikir macam-macam! Lebih baik kita berdoa saja," nasihati Pak Satpam mencoba tenang.


"Maafkan aku semuanya! Aku kurang bisa menahan Non Kayra tadi," ucap Mbok Nem menyesal.


"Memangnya, tadi Non Kayra ngapain saja kok sampai begini?" tanya Pak Satpam penasaran.

__ADS_1


"Em, tadi dia memaksakan diri ingin membuat roti sendiri. Padahal aku sudah memperingatinya berulang kali kalau hal itu akan membuatnya lelah," jelas Mbok Nem menangis.


"Sudah, tidak usah menangis! Yang terpenting Mbok sudah berusaha tadi! Aku yakin sekali kalau Non Kayla pasti akan menjelaskannya sama Den Damar soal ini," nasihati Pak Satpam untuk meredakan tangis Mbok Nem.


"Iya." Mbok Nem masih tersedu-sedu.


Tak lama munculah Damar berlari tergesa-gesa. Tergambar jelas aura kepanikan di wajahnya. Begitu sampai di dekat para pembantunya dia langsung menatap nyalang mereka bertiga.


"Kenapa kalian bisa seceroboh ini? Kalian kan tahu bagaimana sulitnya kami berjuang?" tanya Damar kesal.


"Iya Den. Maaf, tadi Mbok sudah berusaha keras. Namun, Non Kayra tetap mengotot dengan alasan ngidam. Aden kan tahu kalau wanita hamil sedang ngidam, sulit untuk ditolak," jelas Mbok Nem terisak-isak.


Damar terdiam. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Nasihat dokter kembali terngiang-ngiang di otaknya.


"Oh Tuhan, kumohon lindungilah anak dan istriku," ucap Damar defresi.


Di saat yang bersamaan, datang juga kedua orangtua Damar tergopoh-gopoh. Pancaran wajah mereka juga sama persis yaitu panik.


"Bagaimana keadaan Kayla?" tanya ibunya Damar cemas.


"Belum ada kabar, Bu! Dokternya belum keluar ruangan sama sekali," jelas Pak Satpam.


"Oh Tuhan, semoga saja. Tidak terjadi apa-apa pada menantu dan calon cucuku," ucap ibunya Damar sedih.


"Aamiin," sahut semuanya.


Tak lama ruangan tempat memeriksa Kayra dibuka seseorang. Tampaklah seorang dokter wanita tersenyum manis. Mereka semua segera mendekatinya.


"Dok, bagaimana keadaan menantu dan calon cucu kami?" tanya ibunya Damar tidak sabar.


"Syukurlah, dua-duanya baik-baik saja. Untuk saja, kalian cepat tanggap membawanya kemari. Jadi, kami bisa segera menanganinya," jelas Bu Dokter tersenyum.


"Syukurlah, lega sekali kami mendengarnya!" Mereka tersenyum hangat.


"Iya. Oh ya, untuk lain kali dimohonkan untuk lebih berhati-hati lagi menjaganya. Kondisi kandungannya sangat lemah. Soalnya, Ibu Kayla ini hamil abortus. Apakah kalian sebelumnya sudah mengetahuinya?" tanya Bu Dokter memastikan.


"Sebenarnya, kami sudah tahu. Hanya saja, kami sedikit teledor sehingga Kayla mengalami hal seperti ini lagi. Sebulan yang lalu, dia sudah pernah dibawa ke rumah sakit," jelas ibunya Damar menyesal.


"Oh. Memangnya, tadi dia mengerjakan sesuatu yang membuatnya stres atau kelelahan?" tanya Bu Dokter penasaran.

__ADS_1


__ADS_2