
"Ups, tidak begitu! Bagiku istriku hanya dirimu saja! Aku menikahinya hanya untuk mempertanggungjawabkan hal yang tidak aku sengaja saja! Aku berjanji tidak akan menyentuhnya lagi! Bahkan, setelah anak itu lahir ... aku berjanji akan langsung menceraikannya," terang David menatap Kayla serius.
Kayla hanya diam saja tidak menggubrisnya sama sekali. Baginya apapun yang dikatakan David hanya bualan belaka. Dia menghela napas panjang untuk menetralisir rasa jengkel di hatinya.
Dengan cepat dia meraih pakaian miliknya asal saja dari dalam tas. Tak lupa pula dia mengambil CD miliknya. Yang terpenting baginya David tidak masuk angin atau demam. Dia segera melangkah mendekati David, lalu memberikan pakaian tersebut.
"Pakailah! Tidak usah banyak tanya atau protes!" ancam Kayla menatapnya sinis.
"Baiklah, sayangku! Apapun yang kamu sediakan pasti akan aku pakai." Davi menerima pemberian Kayla sambil tersenyum bahagia.
"Kalau begitu, aku beri racun tikus kamu akan meminumnya?" tanya Kayla sengit.
Glekkk!
David meneguk ludah. Dia bingung harus menjawab apa. Dia tersenyum meringis saja.
"Huh, dasar pembual belaka! Sudah sana ganti pakaianmu! Jika kamu sampai deman ... akan kuberi kau obat serangga!" tegas Kayla sengit. Dia segera kembali ke kasurnya.
"I-iya, Kay!" David bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dia ketakutan mendengar ancaman Kayla.
"Astaga, kenapa sekarang Kayraku berubah menjadi garang seperti macan yang siap menerkam mangsanya? Apa Tuhan sudah membalikkan hatinya yang lembut itu karena kasihan selalu kutindas?" batin David bingung.
Di dalam kamar mandi, dia segera melucuti pakaiannya. Lalu, membasuh tubuhnya dengan air. Kemudian, mengambil handuk dan mengelapi tubuhnya sampai kering.
Dia mulai memakai satu per satu pakaian yang diberikan Kayla tadi. Bibirnya tersenyum geli saat melihat CD bergambarkan bunga-bunga. Tanpa merasa risih dia segera memakainya.
"Huh, untung saja dia tidak menyuruhku memakai penutup gunungnya juga," celoteh David terkekeh geli.
Setelah selesai, dia segera memakai celana tidur sebatas dengkul milik Kayla. Tak lupa memakai pakaiannya juga. Tangannya langsung menggaruk kepala yang tidak gatal meratapi penampilan dirinya kali ini. Dia terlihat seperti lelaki berkedok wanita.
"Sabar David, apapun yang terjadi padamu malam ini semoga saja menjadi berkah tersembunyi," gumam David tersenyum geli. Tanpa merasa ragu dia keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Awalnya Kayla enggan menatap penampilan David. Namun, rasa penasaran terus menggerogoti nalurinya. Terpaksa dia menatap ke arah David yang masih sibuk mengeringkan rambutnya. Dia langsung menutup mulutnya karena tak kuasa menahan tawa. Penampilan David malam ini benar-benar mengocok perutnya.
Ketika David menyadarinya, dia segera menatap ke arah istrinya. Otomatis Kayla langsung melengos ke arah lain agar David tidak melihat aksinya.
"Hem, tertawalah jika ingin tertawa! Tidak perlu kau sembunyikan tawamu itu!" goda David terkekeh.
"Idih, pede banget! Siapa juga yang sudi menertawai pria macam kamu," balas Kayla sesinis mungkin untuk mengelak tuduhan David.
"Hem, baiklah! Oh ya, aku pinjam sisirnya dong," mohon David tersenyum.
"Huh, nyuruhan! Ambil sendiri sana di dalam tas!" Kayla mencoba menahan tawanya.
"Oke." David bergegas melangkah mendekati tas Kayla.
Dia mulai membuka tas kecil milik istrinya. Melihat ada sebatang lipstik. Tiba-tiba muncul ide di benaknya untuk menghibur istrinya lebih dari ini. Dia segera membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lain karena ingin memulai aksinya tanpa sepengetahuan istrinya.
Kayla merasa ada yang aneh dengan sikap David. Keningnya mengkerut menyimak aksi David tersebut.
"Hey, apa yang kamu lakukan di sana? Bukannya, kamu mau menyisir rambut tadi?" tanya Kayla penasaran.
"Huff." Kayla langsung menutup mulutnya karena tak tahan saat melihat penampilan David yang sudah seperti nona malam di pinggiran jalan. Namun, aksinya itu tidak mempan sama sekali. Tawanya masih terdengar jelas di telinga David. Bahkan, kali ini perutnya sampai terasa sakit.
"Hey, kenapa kamu menahan tawamu? Lepaskan saja! Tidak perlu malu-malu segala!" David tersenyum senang. Ternyata usahanya berhasil membuat istrinya terhibur.
Kayla masih tetap pada pendiriannya. Dia terus berusaha menahan tawanya agar tidak lepas.
David tidak pantang menyerah. Dia kembali membuat lelucon baru lagi.
"Ih, Ences ini kok pakai acara malu-malu segala sih? Eke, kan jadi ikutan malu juga, ih!" David memasang wajah cemberut sambil menirukan suara pria berkedok wanita.
Tentu saja Kayla semakin tak kuasa menahan tawanya. Akhirnya, dia tertawa lepas bersaingan dengan suara gemuruh hujan di luar sana.
__ADS_1
David langsung tersenyum hangat. Rasanya ingin sekali dia memeluk istrinya yang menggemaskan itu.
***
Di kediaman Damar, Kayra terus bolak-balik masuk ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Kehamilannya yang ke dua ini sangat menguras tenaga. Untungnya Damar selalu setia mendampinginya jika sedang berada di rumah. Kalau siang hari, kedua orangtua Damar dan Mbok Nem yang menjaganya.
"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja? Sungguh aku tak tega melihat kamu semenderita ini!" Damar mengusap punggung Kayra lembut.
Kayra tak sempat menjawabnya karena mualnya semakin terasa. Padahal yang keluar dari mulutnya hanya tinggal lendir saja.
"Huek! Huek!" Suara Kayra terus berusaha memuntahkan isi perutnya.
Cukup lama Kayra bertahan dengan hal itu. Namun, tiba-tiba tubuhnya melemas dan nyaris tersungkur ke wastapel.
"Astaga!" Damar menahan tubuh istrinya itu agar tidak jatuh. Dia segera membopong tubuh Kayra yang terkulai lemas. Bergegas dia membawa tubuh Kayra keluar dari kamar mandi. Lalu, meletakkannya sejenak di atas kasur.
"Kamu tunggu sebentar ya! Mas, mau memberitahu Ibu sama Ayah! Lalu, meminta bantuan mereka menyiapkan mobil!" Damar mengusap kening Kayra sekilas.
Kayra tak menjawabnya sama sekali. Dia hanya menganggukkan kepala saja tanda setuju. Dia benar-benar dibuat tidak berdaya dengan kehamilannya ini.
Damar mengecup kening Kayra dulu sekilas. Barulah dia berlari keluar sambil memanggil-manggil kedua orangtuanya.
"Ayah, Ibu!" teriak Damar panik sambil menuruni anak tangga satu per satu.
Bukan hanya kedua orangtuanya saja yang segera hadir. Akan tetapi, Mbok Nem pun ikut berpartisipasi. Terlihat jelas aura kecemasan di wajah mereka.
"Kayla kenapa lagi, Nak?" tanya Ibu cemas.
"Tubuh Kayla kembali lemas, Bu! Pasti tenaganya habis terkuras lagi karena tidak berhenti muntah," jelas Damar panik.
"Baiklah! Mari kita bawa dia ke rumah sakit! Kamu kembalilah ke kamar! Biar Ayah suruh Pak Sopir siapkan mobil!" tagas Ayah segera berlalu dari sana.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Damar segera kembali ke kamarnya untuk mengambil tubuh istrinya. Ibu dan Mbok Nem tampak kasihan melihat Damar harus bolak-balik naik turun tangga.
"Aduh Mbok kalau terus-terusan seperti ini ... apa sebaiknya, kita suruh mereka pindah kamar di lantai bawah saja agar tidak terlalu repot?" tanya Ibu meminta saran.