Bertukar Suami

Bertukar Suami
Akibat Mengabaikan


__ADS_3

"Tidak usah banyak tanya! Aku harus segera memasak sebelum Kaysa terbangun!" Kayla segera bangun dari kasur.


Dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya dulu sebelum memulai kegiatan.


David tidak merasa terluka sama sekali walaupun istrinya itu banyak berubah. Yang ada dia malah semakin menyesali perbuatannya dulu.


"Terkadang Tuhan memang suka membolak-balikkan hati manusia. Kayraku yang dulu lembut dan selalu menerima kekuranganku ... sekarang tumbuh menjadi wanita yang berani dan tegas. Andai saja aku tak pernah melukai hatinya ... pastilah aku akan menjadi suami paling beruntung di dunia," batin David tersenyum getir.


Dia kembali memejamkan matanya sejenak untuk mengistirahatkan jiwanya yang masih koyak. Namun, baru beberapa detik wajahnya dipukul seseorang.


Plak! Plak!


"Yaya!" sapa Kaysa mengamati wajah David.


Jujur dia sedikit terkejut. Dia langsung membuka matanya kembali diiringi senyuman manis.


"Em, anak yang manis!" David segera bangkit dan duduk berselonjor kaki. Dia memindahkan tubuh Kaysa di atas pangkuannya.


"Ayah kangen banget sama Kaysa." David menciumi pipi Kaysa bertubi-tubi.


Plak! Plak!


Karena gemas dengan aksi sang ayah, Kaysa kembali memukuli David.


"Auwww! Kok, Ayah malah dipukul sih?" tanya David gemas sekali.


"Mamam." Kaysa malah meminta makan. Inilah kebiasaan Kaysa setiap harinya. Dia selalu meminta makan kalau bangun tidur.


"Kaysa lapar?" tanya David tersenyum gemas.


Kaysa langsung menganggukkan kepala.


"Hem, Kaysa sabar ya! Ibu, masih baru mau masak," jelas David terkekeh geli.


Kaysa langsung menggeleng.


"Mamam," celoteh Kaysa kembali. Bibirnya langsung melengkung ke bawah. Sepertinya, Kaysa akan menangis.

__ADS_1


"Cup! Cup! Anak ayah nggak boleh nangis! Baiklah, nanti kalau Ibu sudah keluar dari kamar mandi ... Ayah keluar belikan makanan untuk Kaysa." David mencoba menenangkan anaknya. David menempelkan pipi Kaysa ke dadanya. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala Kaysa.


Begitu keluar dari kamar mandi, Kayla langsung berlari cepat menuju kasur karena melihat kaysa sudah bangun.


"Em, Kaysa sudah bangun ya! Pasti Kaysa sudah lapar! Maafin Ibu bangunnya kesiangan!" Kayla segera meraih tubuh Kaysa tak tega. Dia paham betul dengan kegiatan Kaysa setiap baru bangun.


"Kalian tunggu sebentar! Aku akan keluar mencari makanan!" David segera beranjak dari kasur. Dia segera meraih kunci motor. Buru-buru dia melangkah hendak keluar.


"Eh, tunggu!" cegah Kayla.


"Ada apa? Toh, hujannya sudah mereda di luar! Kasihan Kaysa sudah kelaparan kalau menunggu kamu masak dulu!" Wajah panik David terlihat jelas.


"Bukan masalah itu! Coba cek dulu pakaianmu! Apa kamu nggak malu pakai baju karakter keluar rumah," jelas Kayla menahan tawa.


David langsung melihat baju yang dikenakannya. Dia meringis malu.


"Ups, hampir saja!" David menepuk jidatnya pelan.


"Coba cari baju di dalam tasku itu! Sepertinya, ada deh kaos oblong berwarna putih! Em, kalau untuk celananya ambil saja yang motif kotak-kotak agar tidak terlalu mencolok," terang Kayla masih menahan tawa.


"Oke." David segera meletakkan kunci motornya lagi. Dia beralih menuju tas milik Kayla.


"Bagaimana penampilanku sekarang? Apa masih terlihat feminin?" tanya David tersenyum geli menatap Kayla.


"Haha, sedikit feminin sih! Namun, tidak separah tadi," jelas Kayla terkekeh geli.


"Ya sudah. Aku pergi sekarang!" David segera meraih kunci motornya.


"Jangan lupa dikunci pintunya! Kalau aku belum kembali jangan dibuka!" peringati David sebelum pergi.


"Hem." Tawa Kayla langsung sirna mendapatkan nasihat dari David.


"Huh, bisa-bisanya dia menyuruhku untuk berjaga-jaga ... padahal dirinya saja tak mau menjaga hati dan perilakunya pada wanita lain," sewot Kayla tidak menggubris nasihat David. Dia mengabaikan perintah David.


Setelah puas mengatai David, Kayla segera melangkah masuk ke kamar mandi. Dia berniat memandikan Kaysa sambil menunggu kepulangan David.


***

__ADS_1


Di tempat lain, Damar dengan telatennya menyuapi Kayra bubur ayam. Pagi-pagi buta sang istri sudah sibuk memintanya untuk membelikan bubur ayam. Dia sama sekali tak berani lagi menolak atau menggoda istrinya. Jadi, apapun yang diminta pasti dituruti langsung.


"Bagaimana rasanya enak tidak? Ini tadi aku belinya agak jauh ... langganan kita belum buka." Damar menyendokkan satu suapan lagi untuk Kayra.


"Ini malah lebih enak, Mas! Besok kalau beli bubur di penjual yang ini saja," puji Kayra tersenyum. Dia kembali menerima suapan Damar.


"Em, ini tadi aku beli di penjual keliling ... apa mungkin bisa bertemu lagi," jelas Damar ragu.


"Oh, yang jual masih kecil apa sudah tua, Mas?" tanya Kayra penasaran sekali. Dia langsung teringat dengan nenek-nenek yang suka keliling di tempat tinggalnya dulu saat ayahnya masih hidup.


"Sudah tua." Damar kembali menyendokkan satu suapan untuk Kayra.


"Ups, apa dia orang yang sama?" terka Kayra.


"Apa Mas belinya sampai di daerah tempatku tinggal dulu sebelum menikah?" Kayra berusaha Meyakinkan dirinya bahwa tebakannya benar. Dari tekstur bubur dan rasanya begitu persis dengan yang dia beli dulu.


"Iya benar sekali. Kemungkinan besar dia orang yang sama," jelas Damar segera menyuapi Kayra lagi.


"Syukurlah, nenek itu masih diberi kesehatan selalu. Em, apa Mas tadi memberi nenek lebihan uang pada nenek?" tanya Kayra sambil mengunyah.


"Tentu istriku tercinta. Ya sudah. Ayo cepat habiskan! Habis itu Mas bantu bersih-bersih," perintah Damar tersenyum hangat.


"Iya, Mas." Kayra tersenyum senang.


***


Kini Kayla sudah selesai memandikan Kaysa. Dia segera membopong tubuh mungil itu. Menyelimutinya dengan handuk kecil. Lalu, bergegas keluar dari kamar mandi.


"Astaga, kamu siapa? Apa yang kamu lakukan di kamarku?" tanya Kayla terkejut karena mendapati ada pria di dalam kamar kosnya. Perasaan tak tenang mulai menghinggapi pikirannya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin ngobrol-ngobrol saja sama kamu. Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Setelah semalam aku melihat pertengkaranmu ... aku jadi bersimpati sama kamu dan anakmu." Pria itu tersenyum manis. Dia mulai melangkah mendekati Kayla.


"Eh, kamu mau apa?" tanya Kayla melebarkan matanya. Perasaan takut, gelisah, dan cemas bercampur jadi satu. Jantungnya berdetak sangat cepat. Tubuhnya mulai gemetar.


"Tidak usah takut. Aku hanya ingin membantu kamu menggendong anakmu," ucap pria itu tersenyum genit.


Kayla semakin begidik ngeri dengan tingkah pria tersebut. Kelihatannya pria itu memiliki maksud lain pada Kayla.

__ADS_1


"Tolong kamu keluar dari kamarku! Tidak baik seorang wanita dan pria yang bukan muhrim berada dalam satu ruangan," nasihati Kayla dengan bibir gemetar.


"Halah, tidak perlu merasa sungkan begitu. Di kos-kosan ini sudah terbiasa kok seorang wanita dan pria berada di dalam satu ruangan ... walaupun mereka bukan muhrim," jelas pria itu enteng.


__ADS_2