Bertukar Suami

Bertukar Suami
Meminta Maaf Pada Semuanya


__ADS_3

"Wah, ini memang kebetulan sekali! Lokasi sedang sepi! Kalau beginikan aku aman dan dia tidak ada yang menolong." Nayla menyunggingkan bibirnya ke atas.


Brakkkk!


Baru saja hendak bangkit, tubuh Kayla sudah ditabrak mobilnya Nayla. Tubuhnya terpental hingga beberapa meter dan mendarat tepat di dekat garis tengah jalan.


Matanya langsung kabur. Kepalanya terasa berat dan pusing. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Darah segar mulai keluar dari hidung, telinga, mulut, dan beberapa bagian tubuh lainnya yang terluka.


"Uhuk! Uhuk!" Mulut Kayla terus mengeluarkan darah segar. Tubuhnya tidak bisa digerakkan karena terasa kaku dan sakit. Matanya terus menatap ke atas langit yang terlihat kabur dan bergerak-gerak tidak beraturan.


Tak lama kemudian, mobil Nayla melewati tubuh Kayla begitu saja tanpa ada rasa belas kasihan sedikitpun. Dia tertawa riang karena keinginannya sudah terkabulkan.


"Yes, pasti dia akan mati. Tempat ini masih begitu sepi. Tuhan, memang sedang mendukungku hari ini," gumam Nayla bahagia sekali.


Sementara Damar sama sekali tidak tahu kalau istrinya sedang terkapar bersimbah darah di tengah-tengah jalan raya yang sangat sepi. Soalnya, belum ada kendaraan yang melintas di jalan tersebut.


Hampir dua menit Kayla terkapar tidak berdaya di tengah jalan raya. Dia tidak berbicara sama sekali. Hanya terdengar suara batuk saja sejak tadi.


"Eh, itu ada orang terkapar di tengah jalan!" tunjuk Al yang duduk di samping kemudi. Dia bersebelahan dengan David. Jarak mobil mereka dengan Kayla masih lumayan jauh, sehingga mereka belum bisa melihat jelas siapa yang terkapar itu.


"Mana-mana?" tanya tiga orang yang duduk di bangku tengah dan belakang karena penasaran. Mereka adalah, Mbok Nem dan kedua orangtuanya Damar.


"Itu dia pas di dekat garis pembatas tengah jalan! Kita harus segera menolongnya," sahut David menambah laju kendaraannya.


"Aduh, kasihan sekali dia. Kok, bisa sih nggak ada yang menolong?" gumam Mbok Nem dan ibunya Damar.


"Pasti belum ada orang atau kendaraan yang melintas di lokasi. Makanya, belum ada yang menolong. Kira-kira dia korban lari," balas ayahnya Damar kecewa.


Kini mobil mereka hampir dekat dengan tubuh Kayla. Jadi, mereka bisa melihat jelas pakaian yang dikenakan Kayla.


"Astaga, bukannya itu seragam rumah sakit?" Mata mereka langsung membulat sempurna.

__ADS_1


"Iya benar. Jangan-jangan itu Kayla?" terka David cemas.


"Ayo cepat kita segera turun," ajak Al tidak sabar. Tangannya bersiap-siap membuka pintu mobil. Padahal David belum menepikan mobilnya.


"Iya." David segera menepikan mobilnya tepat di dekat tubuh Kayla terkapar.


Mereka segera turun dari mobil dan berlari cepat menghampiri tubuh Kayla. Hanya Mbok Nem saja yang tertinggal di dalam mobil. Dia tak ingin repot naik turun mobil.


"Astaga, Kayla!" teriak ibunya Damar histeris. Jantungnya berdetak cepat melihat kondisi na'as si menantu. Dia langsung menitikkan air mata.


Kayla berusaha menengok ke arah orang-orang yang baru datang. Bibirnya melengkung ke atas saat melihat orang-orang yang dia kenali.


"Ayo cepat angkat dia!" perintah David panik. David segera kembali ke mobil.


"Baik!" Al segera turun tangan mengangkat tubuh Kayla sendirian. Tubuh Kayla yang langsing membuat dia tidak merasakan berat. Dia segera melangkah diikuti kedua orangtuanya Damar.


"Kamu harus kuat, Kay!" ucap ibunya Damar terus menangis. Walaupun Kayla sudah membuat hati mereka terluka. Namun, rasa sayang di hati ibunya Damar masih ada untuk Kayla.


"Ay-ah, I-bu, ma-af-kan ke-bo-do-han Kay-la, ya?" ucap Kayla terbata-bata.


"Iya, Ayah dan Ibu, memaafkan kamu." Ibunya Damar semakin tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak melihat keadaan Kayla.


"A-ku ti-tip sa-lam bu-at Ma-s Da-mar, Da-vid da-n a-dik-ku ju-ga. A-ku min-ta ma-af ju-ga sa-ma me-re-ka. Uhuk-uhuk!" Kayla kembali memuntahkan darah segar.


"Iya, mereka pasti memaafkan kamu juga." Ibunya Damar semakin tersedu-sedu.


David yang sedang fokus menyetir langsung menitikkan air mata. Dia teringat kembali kebersamaannya dengan Kayla. Bagaimana mereka tertawa renyah bersama. Bagaimana Kayla saat merajuk.


"Te-ri-ma ... ka-sih." Kayla menyempatkan diri tersenyum manis. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya.


"Kayla, bangun, Nak!" teriak ibunya Damar histeris.

__ADS_1


Mendengar teriakan ibunya Damar, David semakin menekan pedal gasnya agar mereka segera sampai di rumah sakit.


Ayahnya Damar segera menyentuh pergelangan tangan Kayla untuk memastikan bahwa Kayla hanya pingsan saja. Namun, dugaannya salah. Denyut nadi Kayla sudah tidak ada.


"Astaga, denyut nadinya sudah tidak ada," ucap ayahnya Damar melebarkan mata.


Mendengar hal itu, David sepontan menghentikan laju kendaraannya. Dia dan Al segera menengok ke arah belakang.


"Hah, apa Bapak serius?" tanya David belum percaya.


"Entahlah, coba kamu saja yang mengeceknya." Ayahnya Damar lesu menatap Al.


"Baik!" Al segera memajukan tangannya meraih tangan Kayla. Dia menyentuh nadi Kayla sejenak. Lalu, menggelengkan kepala.


Belum puas hanya dengan mengecek nadi di tangannya. Al kembali menyentuh area leher Kayla. Berharap di sana masih ada denyutan. Namun, usahanya itu tetap sama saja.


"Kamu, yang tenang ya, Kay? Aku minta maaf karena sudah menyakiti hati kamu. Semoga amal perbuatanmu selama masih hidup diterima di sisi-Nya." Al ikut menitikkan air mata kesedihan. Ada rasa sesak di dadanya karena tidak menuruti permintaan Kayla.


David memejamkan matanya. Buliran air terus menitik membasahi pipinya.


"Aku ikhlas memaafkan semua kesalahanmu pada keluarga kecilku. Semoga kamu tenang di alam sana. Aku berjanji akan terus mencintai, menyayangi dan menjaga adikmu setulus hatiku," gumam David sedih.


"Lalu, bagaimana ini? Apa kita bawa pulang dahulu jenazahnya ke rumah? Soal, Kayra nanti saja kita urusnya?" tanya Al memastikan yang terbaik.


"Sebaiknya, jangan langsung di bawa pulang ke rumah. Kita bawa saja jenazahnya ke rumah sakit dahulu. Kita minta bantuan kepada pihak rumah sakit untuk memandikan jenazahnya. Lalu, sekalian memasukkannya ke dalam peti. Dengan begitu, nanti para tetangga tidak akan ada yang mencurigainya. Anggap saja sehabis melahirkan Non Kayla meninggal," jelas Mbok Nem tersedu-sedu.


"Itu ide yang sangat baik. Jadi, cukup kita saja yang tahu masalah Kayla ini. Ya sudah. Kita lanjut mencari rumah sakit untuk mengurus jenazah Kayla," sahut ayahnya Damar setuju.


"Siap, Pak!" David kembali ke posisinya. Lalu, segera melajukan mobilnya.


Ibunya Damar masih menangisi jasad Kayla. Dia benar-benar tidak menduga kalau keluarga akan mengalami tragedi yang sangat menguras emosi dan memprihatinkan ini. Tiba-tiba dia teringat anak laki-lakinya yang sedang pergi entah ke mana.

__ADS_1


"Yah, cepatlah hubungi Damar! Dia kan belum tahu musibah ini," titah ibunya Damar tersedu-sedu.


__ADS_2