
"Ayo kita masuk," ajak David tersenyum senang. Dia menggandeng tangan Kayla mengajaknya masuk juga.
Kayla pun berpura-pura tersenyum agar kesedihannya tidak diketahui oleh mereka yang ada di sana.
David bergegas membuka pintu rumahnya. Lalu, masuk duluan bersama Kayla.
"Eh, Pak Sopir, mainannya jangan sampai lupa loh!" peringati Damar.
"Siap, Den!" Pak Sopir bergegas kembali ke mobil. Dia ingin mengambil mainan untuk Kaysa.
Kini mereka semua sudah berada di dalam. Kayla diikuti Kayra segera masuk ke dalam kamar karena ingin meletakkan tubuh Kaysa di kasur. Di sana, Kayra terus mendaratkan bibirnya ke wajah Kaysa untuk meluapkan rasa rindunya yang tertahan.
Kayla segera memanfaatkan kebersamaan dengan adiknya itu untuk membahas masalah pribadi mereka berdua. Kayla dengan suara lirihnya langsung bertanya soal kehamilan Kayra.
"Ra, tidak terasa perutmu sudah mulai membesar. Apa kalian sudah tahu jenis kelaminnya?" tanya Kayla tersenyum. Dia benar-benar merasa penasaran.
"Semalam sih, kata dokternya laki-laki," jelas Kayra tersenyum.
"Hah, kamu serius, Ra?" tanya Kayla belum percaya. Matanya melebar karena terkejut.
"Iya. Semoga saja prediksi dokternya tidak meleset. Oh ya, Mbak tadi dari mana kok pakai acara bawa tas besar segala?" tanya Kayra gantian. Sejak tadi dia menahan rasa penasarannya.
"Oh, itu kami diundang sama sahabatnya David menghadiri acara sunatan. Jadi, aku bawa tas besar. Kamu kan tahu kalau punya anak kecil banyak yang dibawa," jelas Kayla berbohong.
Kayla belum ingin menceritakan soal pengkhianatan David pada Kayra. Dia takut kalau adiknya akan shock saat mengetahui kalau suaminya sudah menikah lagi dengan mantan kekasihnya dulu.
"Oh, kukira Mbak kabur dari rumah." Kayra cengengesan.
"Hisk, kau ini senang sekali kalau berpisah dari David," goda Kayla gantian.
"Ih, bukan gitu. Mana mungkin aku bersenang hati pisah dari suami. Kalau aku sampai berpisah dengannya bagaimana nasib Kaysa nanti. Tanpa terkecuali kalau Mas David melakukan kesalahan yang sangat fatal," jelas Kayra tersenyum. Dadanya terasa sesak dan perih di akhir ucapannya. Entah mengapa Kayra merasa sedih sekali. Seolah hal itu sudah menimpanya.
__ADS_1
"Sudah ah. Jangan bahas yang aneh-aneh! Lebih baik kita bersenang-senang dan merayakan atas hadirnya calon bayi laki-laki di rahimmu." Kayla mengusap lembut bahu adiknya.
"Iya, benar. Doakan aku terus kuat ya, Mbak. Kehamilanku kali ini sungguh begitu menyiksa sekali. Setiap aku merasa mual, pasti berujung masuk rumah sakit," mohon Kayra tersenyum.
"Tentu, Mbak akan selalu mendoakan kalian berdua." Kayla tersenyum hangat.
"Oh ya, bagaimana kalau kita buat acara kecil-kecilan buat menyelamati calon jabang bayi di dalam rahimmu? Kan, di depan ada Mbok Nem juga. Dia kan bisa bantu kita memasak," saran Kayla semangat.
Kayla merasa bersyukur sekali atas hadirnya buah hati laki-laki di rahim adiknya. Dengan begitu, dia tak perlu lagi merasa repot ditagih anak laki-laki sama bibinya Damar yang super cerewet itu.
"Iya boleh banget. Cuma nanti bagaimana kalau uang Mbak malah habis buat modalinnya?" tanya Kayra iba.
"Hem, kalau itu mah urusan gampang. Mbak, paham banget karakter Mas Damar. Jadi, pasti nanti uang Mbak bakalan dibalikin lagi. Apalagi ini membahas soal anak kandungnya. Pastilah dia tak akan menyusahkan orang lain," jelas Kayla enteng.
"Oh, begitu. Ya sudah. Mari kita keluar sekarang. Kita ajak rundingan mereka semua," ajak Kayra semangat.
"Sip!" Kayla segera memberi benteng di sekeliling tubuh Kaysa agar tidak menggelinding ke lantai.
Dengan penuh semangat, mereka berdua keluar dari kamar. Kayra segera duduk di samping Damar. Dia memberanikan diri membisikkan rencana dia dan Kayla ke Damar.
Mereka yang ada di sana langsung menatap aneh aksi Damar dan Kayra. Hanya Kayla saja yang tidak merasa penasaran karena itu idenya.
"Hem, lagi bahas apa sih? Kok, serius amat? Tadi, kayak ada yang bilang belanja segala?" tanya ibunya Damar tersenyum.
"Em, ini Kayla sama Kayra berencana mau buat acara selametan kecil-kecilan untuk calon anakku. Ibu setujukan?" tanya Damar tersenyum.
"Tentu Ibu setuju. Semalam juga Ibu sama Ayah sudah merencanakan hal itu. Jadi, kita buat acaranya double. Buat di sini sama di rumah juga," jelas ibunya Damar tersenyum senang.
"Good, ide yang bagus." Damar tersenyum senang.
"Ya sudah. Tolong Mbok Nem sama Pak Sopir belanja kebutuhannya sekarang!" perintah Damar tidak sabar.
__ADS_1
"Siap, Den." Mbok Nem pun ikut bersemangat.
"Oh ya, ini uangnya." Damar mulai mengeluarkan dompetnya.
Hal itu membuat Kayra dan Kayla saling tatap dan tersenyum. Diam-diam Kayla memberi isyarat acungan jempol pada adiknya.
"Kira-kira berapa uangnya, Mbok?" tanya Damar takut kurang memberi uang.
"Kalau cuma kecil-kecilan dua juta saja cukup kok, Den." Mbok Nem tersenyum.
"Baik, ini aku lebihin lima ratus ribu. Takutnya nanti kurang," jelas Damar memberikan dua puluh lima lembar uang berwarna merah pada Mbok Nem.
"Iya Den. Terima kasih." Mbok Nem menerimanya.
"Semuanya, Mbok pamit dulu belanja." Mbok Nem tersenyum sambil menganggukkan kepala berpamitan.
"Iya, hati-hati!" sahut mereka semua senang.
Pak Sopir langsung mengekori langkah Mbok Nem.
Satu jam berlalu, Mbok Nem dan Pak Sopir sudah kembali lagi dari berbelanja. Kayla dengan sigap mengajak Mbok Nem ke dapur untuk langsung beraksi berdua. Awalnya Kayra ingin sekali membantu. Namun, Damar dan kedua orangtuanya melarang.
Mereka merasa trauma sekali dengan kejadian saat itu. Jujur rasa iri hati kembali menggerogoti jiwa Kayla. Namun, secepatnya dia tangkis. Dia sudah bertekad untuk lebih kuat dan bersabar menghadapinya.
"Yuk Mbok, kita mulai masaknya." Mbok Nem mengangguk.
"Mbok yang masak aneka lauk dan sayur. Nanti aku yang masak nasinya. Aku takut nanti rasa lauk sama sayurnya hambar, jika aku yang masak," jelas Kayla tersenyum malu.
"Ah, Non Kayra bisa saja. Kata Non Kayla loh ... Non Kayra ini jago masak. Jadi, jangan merendahkan diri begitu," tangkis Mbok Nem tidak percaya dengan penjelasan Kayra.
"Ah, masa sih, Mbok? Non Kayla itu hanya bergurau saja. Aku aslinya memang kurang bisa kalau masak sayur dengan takaran yang banyak," jelas Kayla berusaha meyakinkan Mbok Nem. Dia memang membetulkan pernah memuji adiknya di depan Mbok Nem.
__ADS_1
"Hem, baiklah." Mbok Nem memutuskan mengalah saja.
Di dapur Mbok Nem, tampak serius menatap aksi Kayla. Dia melihat ada yang tidak beres dengan Kayla. Menurutnya pola tingkah adik Kayla begitu mirip dengan Kayla saat membantunya di dapur. Kayla pasti sering mengajak ngobrol Mbok Nem banyak hal agar saat memasak tidak terasa membosankan.