Bertukar Suami

Bertukar Suami
Janji Orang Tua Nayla


__ADS_3

Nayla langsung ketar-ketir melihat sikap acuh tak acuh David. Dia merasa kalau David sedang memendam masalah di otaknya.


Sementara ibunya Nayla segera membisikkan sesuatu ke telinga sang suami soal David. Tak lama, mereka segera kaluar dari ruangan Nayla.


Nayla tambah ketar-ketir dibuatnya. Dia yakin seyakin-yakinnya bahwa akan ada hal buruk menimpanya. A


"Aku ada pertanyaan yang harus kamu jawab dengan sejujur-jujurnya?" tanya David dengan wajah merah.


"Ba-ik, a-aku a-kan men-jawabnya," balas Nayla terbata-bata. Dia takut melihat ekspresi dan nada bicara David yang dingin.


"Apa saja yang kamu katakan pada istriku soal kehamilanmu ini?" selidiki David dengan napas naik turun.


"A-aku tidak menjelaskan apapun sama Kayra. Waktu itu aku hanya memberinya amplop berisi keterangan hamilku saja. Habis itu aku langsung pulang," jelas Nayla jujur.


"Kamu yakin hanya berbuat hal itu pada istriku?" tanya David belum percaya.


"Iya, aku berani sumpah." Nayla menatap David serius. Dia ingin menunjukkan pada David bahwa dirinya tidak berbohong.


"Oke, aku percaya." Nayla langsung menyunggingkan bibirnya tanda dia menang.


"Namun, aku ingin tanya lagi?" David menatap sengit Nayla.


"Em, silahkan!" Senyum Nayla langsung pudar.


"Apa maksud dan tujuan kamu memberikan keterangan hasil kehamilan itu pada istriku?" pertanyaan David lebih berbobot.

__ADS_1


Degggg!


Nayla terdiam. Dia langsung menggigit bibir bawahnya. Tangannya mencengkram kuat ujung bajunya. Pertanyaan David membuat niat buruknya akan terlihat jelas.


"Kenapa kamu diam, hah? Apa kamu takut niat burukmu itu ketahuan olehku?" bentak David kesal.


Nayla tertegun. Matanya melebar sejenak lalu kembali lagi ke asal. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak berani menatap David lagi. Dia masih diam seribu bahasa.


"Baik, jika kamu tak mau menjelaskan niat burukmu itu padaku. Aku berjanji setelah ini, kamu bukan istriku lagi," ancam David tak kuasa lagi menahan amarah.


"Eh, jangan begitu. Baik aku mengakui kalau aku ingin membuat kalian berpisah. Aku tak ingin berbagi suami. Aku tak suka kalau cintamu dibagi dua," jelas Nayla tersedu-sedu.


"Astaga, kamu benar-benar wanita licik Nayla. Bisa-bisanya kamu ingin merusak rumah tanggaku yang baru saja aku bina dengan baik setelah hampir satu tahun aku menyia-nyiakan istri dan anakku karena dahulu aku terlalu mencintaimu." David menjambak rambutnya frustrasi.


"Hey, jadi kamu menganggap aku wanita tak baik?" tanya Nayla tak terima.


"Memang benar kalau kamu bukan wanita baik. Berkacalah Nayla. Jika kamu wanita baik, tidak mungkin kamu ingin merusak rumah tanggaku. Padahal aku bukan sengaja menghamilimu malam itu. Malah aku berpikir kalau kamu sudah menjebakku. Dan satu lagi, kamu tak bisa menjaga mahkotamu itu untuk suamimu saja. Kamu telah mengobralnya begitu saja ke pria lain. Yang jelasnya pria itu bukan aku yang pertama merasakannya," jelas David tersenyum sengit.


Nayla langsung meneguk ludah. Dia diam seribu bahasa. Ucapan David benar adanya. Selama dia dan David berpacaran, mereka tak pernah berbuat lebih dari kiss pipi dan bibir.


"Kenapa kamu diam saja. Benarkan kalau kamu bukan wanita baik," jelas David tersenyum mengejek.


"Aku akui soal ketidaksucianku itu. Namun, soal menjebakmu buat apa aku melakukannya. Bukankah kamu tahu kalau akupun sudah dijebak," bohong Nayla masih berusaha menutupi kedoknya.


"Entahlah, aku lebih yakin dengan insting-ku. Tolong kamu ingat sampai kapanpun cintaku hanya untuk istriku saja. Aku sama sekali tidak mencintaimu lagi," jelas David tersenyum.

__ADS_1


"Aku tidak percaya omong kosongmu itu. Kamu hanya kasihan dengan istrimu itu tidak lebih. Tidak mungkin rasa cinta akan tumbuh begitu saja hanya karena anaknya menderita luka bakar atas kelalaian kedua orangtuanya," cerca Nayla tersenyum getir.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas aku sangat mencintai istriku, Kayra. Maka dari itu, kamu jangan pernah berharap lebih. Dan mulai detik ini dan seterusnya, jangan pernah berharap bahwa aku akan muncul lagi di hadapanmu." David segera membalikkan tubuhnya hendak pergi.


"Hey, kamu mau ke mana? Bukannya kamu akan mengakhiri hubungan ini jika aku tak jujur padamu. Kenapa kamu masih ingin meninggalkan aku ketika aku sudah jujur?" tanya Nayla kesal.


"Maaf karena aku sudah menjebakmu." David segera melangkah meninggalkan Nayla.


Dia harus segera pergi sebelum emosinya semakin meluap-luap. Dia marah dan membenci sekali Nayla. Akibat ulahnya, hubungan dia dan sang istri merenggang. Bahkan, sikap istrinya yang mulanya lembut dan tidak banyak tingkah. Jadi, berubah total.


"Huwa!" teriak Nayla menangis histeris. Dia menjambak rambutnya frustrasi. Semua rencananya pupus sudah. Hubungan dia dan David tidak mungkin bisa membaik lagi karena ulahnya sendiri.


Di depan pintu, langkah David dicegah ayahnya Nayla. Dia tak mungkin membiarkan anak dan keluarganya menanggung malu untuk kesekian kalinya jika sampai David benar-benar meninggalkan Nayla.


"Please, Ayah mohon padamu! Maafkan kekhilafan Nayla. Tolong kamu fokus saja pada darah dagingmu. Kasihan dia. Dia tak tahu apa-apa. Pasti dia sedih karena hubungan kedua orangtuanya tidak sehat," rengek ayahnya Nayla mengiba.


"Maaf aku tak bisa. Karena perbuatan licik Nayla hubungan aku dan istriku kian memburuk. Aku tak ingin kehilangan anak dan istriku. Soal janin di rahimnya, aku yakin kalau dia akan baik-baik saja. Toh, kehidupan ibunya bergelimangan harta. Jadi, ketika menginginkan sesuatu pastilah akan keturutan. Tidak seperti anak dan istriku yang serba kekurangan," jelas David menahan emosi.


"Baik kalau soal harta Ayah paham, Nak. Namun, bagaimana dengan nasib janinnya jika dia lahir kamu tak ada di sampingnya. Belum lagi bagaimana kata para tetangga jika tahu kalian baru menikah sudah pisah. Ayah mohon dengan sangat jangan pernah tinggalkan Nayla. Ayah janji akan menasihati dia agar tidak berulah lagi. Ayah juga janji akan menanggung biaya hidup anak dan istrimu. Bahkan, sebenarnya Ayah sudah berencana untuk menjadikan kamu penerus perusahaan Ayah yang sudah tua ini," rengek ayahnya Nayla masih terus berusaha.


David terdiam. Dia bingung harus berkata apa lagi pada kedua orangtuanya Nayla. Saat ini yang dia pikirkan hanya keutuhan rumah tangganya saja bersama Kayra.


"Kamu mau ya, Nak. Hanya kamu yang kami percaya mengurus perusahaan. Kami berjanji tidak akan menuntut kamu jika ingin membahagiakan anak dan istri pertamamu pakai uang perusahaan. Pokoknya hasil perusahaan itu milik kita bersama," jelas ibunya Nayla memohon. Dia sengaja berkata seperti itu agar David tidak jadi meninggalkan Nayla.


Mendengar penuturan ibunya Nayla, hati David langsung terenyuh. Dia langsung berpikir panjang soal jaminan hidup yang akan diberikan kedua orangtua Nayla pada anak istrinya.

__ADS_1


__ADS_2