
"Mbok, kok malah bengong?" tanya ibunya Damar. Dia merasa ada yang disembunyikan oleh Mbok Nem kalau dilihat dari ekpresi yang tampak di wajahnya.
Mbok Nem masih diam saja. Dia mulai berpikir mencari jawaban yang pas agar ibunya Damar tidak curiga.
Namun, di saat yang bersamaan terdengar suara ambulan datang. Hal itu membuat ibunya Damar tidak menuntut jawaban lagi. Sekarang yang terpenting hanyalah keselamatan menantu dan cucunya.
"Eh, itu ambulannya sudah datang! Mbok, jagain Kayla ya? Aku mau siap-siap dulu," ucap ibunya Damar. Dia segera bangkit menuju kamarnya untuk mengambil keperluan.
"Iya, Bu." Mbok Nem mengangguk. Setelah kepergian ibunya Damar. Dia langsung mengelus dadanya karena merasa lega bisa bebas dari pertanyaan ibunya Damar. Bibirnya tersenyum sedih. Air matanya menitik lagi merasakan penderitaan Kayra.
"Hampir saja kedokmu ketahuan, Nduk. Jujur Mbok kasihan sekali melihat semua perjuanganmu ini. Pasti nanti ketika kamu sudah melahirkan ... kamu harus kembali ke asalmu. Kamu juga harus berpisah sama anakmu lagi. Sekarang kamu berpisah sama anak pertamamu. Dan esok hari, kamu harus berpisah sama anak kedua. Mbok nggak bisa ngebayangin kalau Mbok berada di posisi kamu ini. Berjuang mati-matian menjalani kebohongan dan dampak kehamilan yang begitu menyiksa tubuh." Tangan Mbok Nem mengusap lembut pucuk kepala Kayra. Air mata semakin deras mengaliri wajahnya. Dadanya terasa sesak. Hatinya begitu perih merasakan beban hidup Kayra.
***
Kini kedua orangtuanya Damar sudah berada di rumah sakit. Mereka mondar-mandir menunggu kabar menantunya sambil menunggu kedatangan Damar.
Mereka juga tadi menyempatkan diri untuk mengabari Kayla perihal Kayra masuk ke rumah sakit.
"Oh Tuhan, semoga saja nggak terjadi apa-apa sama mantu dan cucuku." Ibunya Damar terus berdoa demi keselamatan mantu dan cucunya sambil menitikkan air mata. Dia begitu cemas dan takut sekali.
Di saat bersamaan terdengar suara pintu ruangan Kayra dibuka seseorang. Mereka segera menatap ke arah pintu. Munculah seorang suster dengan wajah begitu panik.
"Loh, kok belum-belum dokternya sudah keluar, Yah?" tanya ibunya Damar gelisah. Dia seolah tahu bahwa mereka akan mendengarkan kabar tidak baik.
"Entahlah, lebih baik kita hampiri saja," ajak ayahnya Damar segera mendekati susternya panik. Ibunya Damar segera mengekorinya.
"Maaf, Tuan dan Nyonya! Saya ingin berbicara hal penting mengenai kondisi menantu kalian. Oh ya, apakah suaminya sudah bisa hadir sekarang?" tanya susternya setenang mungkin.
"Mungkin anak kami masih diperjalanan. Jadi, kami mohon langsung jelaskan saja sama kami," pinta ibunya Damar cemas.
"Baik. Karena Nyonya Kayla mengalami pendarahan yang hebat. Maka, dokter menyarankan untuk mengoperasi Nyonya Kayla sesegera mungkin untuk menyelamatkan bayinya," jelas susternya.
"Astaga!" Ibunya Damar menutup mulutnya terkejut.
__ADS_1
"Jadi, kami butuh tanda tangan dari suaminya sesegera mungkin agar bisa langsung menjalankan operasinya. Soalnya, jika sampai terlambat nyawa keduanya akan terancam," sambung susternya panik.
Mendengar hal itu, kedua orangtuanya Damar semakin gelisah dan takut.
"Oh Tuhan, kenapa Damar belum juga datang? Cepatlah kemari, Nak! Anak dan istrimu sangat membutuhkan kamu?" gumam ibunya Damar tersedu-sedu.
Tap! Tap! Tap!
Terdengar suara tapakan orang berlari. Mereka bertiga langsung menengoknya.
Bibir mereka sedikit melengkung karena yang dicari sudah datang.
"Nah, itu dia anak saya, Sus." Ibunya Damar mengusap air mata di pipinya.
"Syukurlah dia segera datang," sahut susternya tersenyum.
Begitu langkah Damar sudah sampai di dekat mereka. Tanpa banyak bicara susternya segera mengajak Damar ke suatu ruangan untuk menandatangani kertas perjanjian operasi Kayra. Damar segera mengikutinya.
Di saat Damar tidak ada, munculah Kayla dan David dengan wajah begitu panik.
Jadi, mereka memutuskan berganti arah tujuan. Mereka menyuruh Nayla untuk periksa kandungan ke lokasi yang sama saja yaitu di rumah sakit tempat Kayra dirawat. Untuk menutupi kedoknya, Nayla patuh saja dengan ajakan mereka.
Baru juga mereka sampai di depan ruangan Kayra. Terdengar langsung suara geladakan ban berangkar. Mereka yang bersangkutan dengan Kayra segera mengikuti berangkar tersebut.
"Oh Tuhan, tolong lindungilah adik dan calon anakku. Jangan Kau ambil mereka secepat ini," batin Kayla segera mengusap buliran bening yang mengaliri pipinya.
Sesekali David menengok istrinya sambil terus berlari. Dia paham yang sedang dirasakan sang istri. Dia pun ikut mendoakan istri aslinya itu agar selamat juga.
"Aku meminta pada-Mu Tuhan ... selamatkanlah saudari istriku dan calon bayinya, aamiin," batin David sedih.
Kini mereka sudah sampai di ruangan operasi. Berangkar yang ditumpangi Kayra sudah masuk ke dalam. Mereka masih saja berdiri menungguinya.
David segera menarik tubuh Kayla ke dalam pelukannya. Dia ingin memberi ketenangan untuk sang istri.
__ADS_1
"Kamu yang sabar, ya? Berdoalah yang banyak-banyak agar Tuhan menyelamatkan Mbak Kayla dan calon bayinya," nasihati David sambil mengelus pucuk kepala Kayla lembut.
"Iya, itu pasti aku lakukan." Kayla menangis sesenggukan di dada bidang David. Rasa takut dan cemas bercampur menjadi satu.
Tak lama muncul juga Damar dengan wajah yang sangat kacau. Pastilah dia takut dan cemas memikirkan anak dan istrinya sedang dalam bahaya.
Hal itu membuat Kayla sedikit mengendurkan pelukannya. Dia terus menatap wajah sedih dan defresi suami aslinya itu.
"Mas, aku ingin sekali menuangkan rasa sedih, takut, dan cemas ini di pelukanmu," batin Kayla miris.
Kedua orangtuanya segera mendeti sang putra sulung untuk memberi kekuatan.
"Sabar ya, Nak!" Tangan sang ayah memegang bahu Damar.
"Kenapa bisa semua ini terjadi secara mendadak? Padahal tadi pagi dia terlihat biasa saja seolah tak terjadi apa-apa? Apakah mungkin dia terjatuh?" terka Damar menjambak rambutnya frustrasi.
"Maafkan Ayah dan Ibu, ya? Kami kurang menjaga istrimu? Andai kami menjaganya dengan baik. Pastilah tidak akan terjadi hal-hal seperti ini," jelas ayahnya Damar ikut menyesali kelalaiannya.
Di saat bersamaan keluarlah suster memberi kabar lagi.
"Maaf, pasien butuh darah dengan golongan A. Apakah di antara kalian ada yang memilikinya? Stok di rumah sakit ini kebetulan sedang habis?" tanya dan beritahu sang suster.
"Saya dan ayah saya memiliki golongan darah yang sama yaitu A. Jadi, ambil saja darah kami," sahut Damar bersemangat.
"Baik, mari ikut denganku," ajak susternya buru-buru melangkah.
Damar dan ayahnya segera melangkah mengikuti susternya.
Hal itu membuat Kayla kembali sedih karena dia tak bisa mendonorkan darah pada adiknya. Walaupun kembar golongan darah mereka tak sama. Dia menurun golongan darah ibunya yaitu O. Sedangkan, sang adik menurun golongan darah sang ayah yaitu A.
"Sudah, jangan menangis lagi. Lebih baik, kamu sekarang ikutan donorkan darah saja untuk Mbak Kayla," perintah David.
"Nggak bisa. Aku dan Mbak Kayla beda golongan darah. Golongan darahku O," jelas Kayla tersedu-sedu.
__ADS_1
"Maaf, kukira karena kembar kalian memiliki golongan darah yang sama." David mengusap lembut pipi Kayla.