
"Hem, mungkin Mbok Nem iri sama keromantisan kita," jelas Damar terkekeh.
"Ah, Mas ini ada-ada saja." Kayra menyetuh tangan Damar sambil tersenyum geli.
"Ehem!" Damar berdeham kuat untuk menyadarkan lamunan Mbok Nem.
"Astaga!" spontan Mbok Nem terkejut. Tangannya mengusap lembut dadanya yang bergemuruh. Mbok Nah meringis malu.
"Mbok, kenapa malah melamun di pintu?" tanya Damar tersenyum.
"Hehe, maaf. Terlalu fokus menatap kemesraan Aden sama Non Kayla ... Mbok jadi iri," pura-pura Mbok Nem tersenyum geli.
"Haha, Mbok ini. Oh ya, Kayla setuju sama saran Mbok Nem soal diurut. Jadi, tolong Mbok panggil orangnya suruh kemari," ucap Damar tersenyum.
"Siap, Den. Ya sudah. Mbok, tinggal dulu," pamit Mbok Nem tersenyum.
"Iya," sahut mereka berdua tersenyum.
***
Di kediaman David, dia sudah selesai menyantap mie buatan sang istri. Dia segera meletakkan mangkuk kosong itu ke tempat pencucian piring. Lalu, mencucinya sekalian untuk meringankan pekerjaan sang istri.
Begitu selesai, dia segera mendekati sang putri lalu menggendongnya. Dia berencana ingin mengantarkan sang putri sekalian meminta izin pada istrinya. Tadi, dia sudah berjanji pada Nayla dan kedua orangtuanya.
"Sayang!" panggil David dari depan pintu. Pintunya tertutup rapat.
Kayla masih diam saja. Dia malas menjawabnya, lagi pula pintunya tidak dikunci.
"Sayang! Buka dong! Ini Kaysa mau masuk! Katanya dia mau bobo," teriak David membohongi Kayla.
"Tinggal masuk saja pakai acara teriak segala!" omel Kayla masih jengkel dengan David.
"Astaga, Sayang! Ternyata kita kena prank Bunda." David mengecup gemas pipi gembul Kaysa.
__ADS_1
Otomatis Kaysa menepuk wajah David karena kesal. Akibat ulah David, kaki bonekanya copot lagi. Padahal dia sudah bersusah payah memasangnya.
"Hehe, maaf. Biar nanti Ayah yang pasang," ucap David terkekeh.
Kaysa diam saja. Dia mengkerucutkan bibirnya jutek.
David segera masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Kayla masih sibuk dengan ponselnya. Dia segera meletakkan tubuh Kaysa di atas kasur bersandingan dengan Kayla. Sementara dia segera duduk di sebelah Kayla.
"Sudah ngapa ngambeknya? Memang nggak capek ngambek terus?" tanya David membelai rambut Kayla. Dia tersenyum hangat menatap Kayla penuh cinta.
Kayla tak menggubris. Dia tetap asik bermain game di ponselnya.
"Hem, sejak kapan kamu hobi bermain begituan?" David segera meraih ponsel Kayla karena kurang suka dengan game tersebut. Soalnya, di dalam permainan game tersebut setiap pemain bisa saling komunikasi lewat suara. Dia takut kalau istrinya itu akan terpengaruh oleh rayuan para pria di dalam game.
"Kembalikan!" pinta Kayla kesal. Tangannya berusaha meraih ponsel dari tangan David.
"Tidak. Aku melarang kamu bermain game itu. Akan kuhapus permainan tidak bermanfaat itu." David hendak menghapus game di ponsel Kayla.
Kaysa terdiam. Dia langsung menghentikan aksinya bermainnya. Dia menyimak perdebatan antara ayah dan bundanya.
"Bukan aku yang macam-macam! Tapi, kamu yang mulai macam-macam!" David mulai terbawa emosi.
"Apa yang aku macam-macami, hah? Aku bermain game itu untuk menghilangkan suntuk dan melupakan semua rasa sakit karena ulahmu," terang Kayla dengan nada tinggi.
Kaysa langsung menangis histeris ketakutan. Namun, mereka tak ada yang menggubrisnya. Mereka masih saja berseteru.
"Apa kamu mulai mencari pelampiasan dengan mengobrol asik bersama pria lain di dalam game ini?" David segera menghapus aplikasi gamenya. Dia begitu cemburu mengetahuinya.
"Astaga, aku hanya sekadar mengobrol saja bersama pria ... kamu cemburunya sampai ke ubun-ubun!" Kayla tersenyum sinis.
"Coba koreksi dulu bagaimana perbuatan kamu dengan Nayla itu! Dia sampai hamil anak kamu!" ucap Kayla melotot. Hatinya dikuasi amarah yang menggebu-gebu.
"Harus seperti apa lagi aku menjelaskannya padamu? Apa aku harus memboyong Nayla untuk menjelaskannya?" tantang David menurunkan nada suaranya. Dia tak ingin semakin bertengkar dengan Kayla.
__ADS_1
"Silahkan saja boyong dia kemari! Dan aku akan pergi dari rumah ini," jelas Kayla semakin emosi. Dia segera menggendong Kaysa. Lalu, bergegas turun dari ranjang.
"Bukan begitu maksudku, aku hanya ingin kamu mendengar penjelasan dari Nayla secara langsung. Aku yakin jika kamu mengetahui yang sebenarnya ... pasti kamu tidak akan berburuk sangka lagi padaku," jelas David frustrasi. Dia tak tahu harus menjelaskannya seperti apa lagi. Tangannya hendak meraih tubuh sang istri.
Namun, Kayla segera menjauhinya.
"Tidak perlu! Aku tidak butuh penjelasan kedua darinya. Kamu ingatkan dengan surat keterangan kehamilannya itu. Dengan selembar kertas itu seharusnya kamu tahu kalau dia sudah lebih dulu menjelaskannya padaku tentang hubungan kalian seperti apa," tolak Kayla disertai alasan.
"Sittt, baiklah. Aku akan pergi sejenak! Dan aku berjanji padamu bahwa siapa yang berani mengadu yang tidak-tidak pada istriku akan menyesali perbuatannya." David bergegas turun juga dari ranjang. Lalu, dia melangkah cepat mendekati gantungan baju ingin meraih jaket kesukaannya.
Setelah itu, dia bergegas pergi. Ponsel milik sang istri dia sita karena tak ingin istrinya kembali bermain game. Begitu sampai di dekat motor, David segera naik dan menyalakan mesinnya. Kemudian, melajukan motornya sangat cepat.
"Ck, pasti Nayla sudah bicara yang tidak-tidak pada Kayra. Awas saja dia! Aku pastikan dia akan menyesali perbuatannya," gumam David kesal.
Sesampainya di rumah sakit, David buru-buru turun dari motornya. Dia tak sabar ingin melabrak istri mudanya yang banyak tingkah itu.
Begitu sampai di kamar rawat Nayla, dia segera mengetuk pintu. Dia ingin membahas masalahnya ini pada kedua orangtua Nayla. Dia berharap besar kalau Nayla itu akan menyesali perbuatan serongnya.
"Eh, Nak David sudah kembali? Kok, buru-buru amat? Apa Kayra tidak marah?" sapa ibunya Nayla tersenyum senang.
"Tentu Kayra marah. Apa lagi hatinya sudah dibumbui api oleh Nayla sebelumnya. Oh ya, kumohon izinkan aku untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik bersama Naya," jelas David mencoba tetap tenang.
"Astaga, anak itu memang benar-benar," gumam ibunya Nayla gelisah. Dia tidak menyangka bahwa anaknya itu menjadi kompor kompor meleduk pada hubungan keluarga David.
"Mari masuk ke dalam dulu. Kita selesaikan masalah ini bersama-sama. Ibu juga ingin sekali menjewer telinganya," ajak ibunya Nayla segera meninggalkan David di depan pintu.
Tanpa bosa-basi David mengekori langkah ibunya Nayla. Dia ingin segera menyelesaikan masalah rumah tangganya pada Nayla dan kedua orangtuanya.
Di dalam ruangan Nayla, kedatangan David disambut senyuman manis dari Nayla dan ayahnya. Mereka belum tahu bahwa kedatangan David hanya untuk membahas masalah rumah tangganya saja dengan Kayra.
"Mas, kamu sudah kembali?" sapa Nayla berbinar-binar. Dia benar-benar tidak menyangka jika David datang begitu cepat.
David diam saja tidak membalas sama sekali sapaan Nayla.
__ADS_1