Bertukar Suami

Bertukar Suami
Pergi


__ADS_3

"Oh, ya sudah. Cepatlah bersih-bersih! Biar aku siapkan makan malam untukmu," perintah Kayla tersenyum. Dia tetap bersikap seolah rumah tangga adiknya masih baik-baik saja.


"Iya!" David tersenyum. Dengan langkah gontai dia melewati Kayla.


Setelah selesai mandi, David segera hadir di meja makan. Wajahnya tampak lesu mengingat sebentar lagi dia harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak disengajanya itu.


Kayla terus menyimak ekspresi wajah David dengan hati membara. Ingin sekali dia melemparkan sayur panas di hadapannya ke wajah David.


Lalu, kalau perlu dia memutilasi senjata yang dimiliki David agar dia tak bisa lagi bermain serong. Dengan begitu, tidak akan ada lagi wanita yang sudi dengannya.


"Kamu nggak ikut makan, Sayang?" tawari David tersenyum manis.


"Nggak, aku tadi sudah makan! Kalau menunggui Mas, takutnya penyakit magh-ku kumat lagi! Kasihan Kaysa kalau sampai aku sakit, entar nggak ada yang merawat dan menemaninya main," jelas Kayla sambil menyindir David secara halus.


"Ups, maaf ya! Lain kali, Mas usahakan tidak pulang telat lagi," janji David.


"Hem." Kayla tersenyum kecut.


"Huh, kerjamu hanya membuat janji palsu terus! Apa tidak takut kalau lidahmu itu keseleo atau kejepit gigi. Hari ini kamu bisa tersenyum, sepertinya besok sudah tidak akan. Ini adalah malam terakhir kamu melihat aku dan Kaysa," batin Kayla menatap David malas.


Tiba-tiba David tersedak makanan. Mungkin Tuhan mendengar umpatan Kayla.


"Uhuk! Uhuk!" David meraih gelas berisi air minum. Setelah batuknya berhenti sejenak dia langsung menenggaknya sampai kering.


"Rasakan! Suruh siapa kamu menyakiti hati adikku terus! Itu baru setitik teguran dari Sang Pencipta. Mungkin, nanti di saat usia mu menua ... berbagai macam azab akan menggerogoti tubuhmu," batin Kayla menyembunyikan senyumannya.


Tenggorokan David semakin gatal dan panas. Batuknya semakin menjadi-jadi. Kayla diam saja tak memperdulikannya sama sekali.


"Sayang, tolong ambilkan air! Uhuk! Uhuk!" David memukul dadanya cukup kuat. Berharap rasa gatalnya segera hilang.

__ADS_1


"Iya, Mas!" Kayla segera meraih gelas yang dipegang David. Lalu, mengisinya dengan air.


David terus memperhatikan sikap yang tampak dari Kayla. Jujur perasaannya mulai gelisah dan khawatir. Menurutnya sikap Kayla malam ini sangat berbeda. Biasanya Kayla tak harus disuruh jika dia membutuhkan apapun.


"Nih, Mas!" Kayla menyodorkan gelas tersebut ke David.


"Terima kasih! Uhuk! Uhuk!" David meraihnya. Dia berusaha terus tersenyum.


"Hem. Oh ya, aku mau pamit ke kamar duluan! Takutnya ada nyamuk nakal menghinggap di tubuh Kaysa," pamit Kayla tersenyum getir.


"Iya." David tersenyum.


Kayla segera beranjak dari meja makan. David terus memandang kepergian Kayla. Dia merasa cemas, gelisah, dan takut.


"Oh Tuhan, sungguh aku tak ingin kehilangan bidadari yang sempat aku sia-siakan. Karena dia, aku mengerti arti perjuangan cinta yang sesungguhnya. Lalu, bagaimana caranya aku memberitahunya soal kehamilan Nayla yang harus aku pertanggungjawabkan?" gumam David menjambak rambutnya frustrasi.


Keesokkan harinya, di saat David berangkat bekerja. Kayla langsung memasukkan seluruh pakaian milik adik dan keponakannya ke dalam tas besar. Diam-diam dia sudah menyewa kamar kos-kosan untuk dia dan Kaysa tinggal.


"Sepertinya, semuanya sudah lengkap? Jadi, aku dan Kaysa bisa segera pergi dari sini. Selamat tinggal David! Selamat berbahagia dengan wanita cantik pilihanmu itu! Aku yakin kalau adikku bisa mendapatkan kebahagiaannya dari pria lain yang lebih baik, mapan, dan tulus mencintainya," gumam Kayla tersenyum.


Dia beralih mengangkat tubuh Kaysa dan menenteng tas besar miliknya. Tak lupa juga dia menyalakan semua lampu rumah seolah dia dan Kaysa masih ada di rumah saat David pulang nanti.


Baru saja dia menutup pintu rumah tanpa menguncinya, ojek yang dia pesan sudah tiba. Dia segera memberikan tas miliknya ke tukang ojek tersebut. Lalu, naik ke atas motor. Kemudian, motor melaju meninggalkan rumah David.


"Kayra, maafkan Mbak yang sudah berani bertindak sendiri tanpa meminta persetujuan darimu! Hati Mbak benar-benar sakit merasakan penderitaanmu karenanya," gumam Kayla dalam hati.


Dia sengaja belum memberitahu kabar terbaru tentang David pada adiknya. Dia takut kalau adiknya akan defresi mengetahuinya. Apa lagi dia tahu kalau kondisi kehamilan adiknya sangat lemah.


Sorenya, David sengaja meminta izin pada bosnya untuk pulang lebih awal. Dari tadi, dia begitu gelisah. Hatinya ketar-ketir. Entah mengapa dadanya sesak bahkan terasa nyeri. Pikirannya selalu saja tertuju pada anak dan istrinya di rumah.

__ADS_1


Begitu sampai di rumah, keningnya langsung mengkerut saat melihat lampu rumahnya menyala. Padahal jam baru menunjukkan pukul setengah lima sore.


"Tumben sekali lampu rumah sudah menyala? Ada apa gerangan dengan Kayra? Biasanya dia paling hemat menggunakan tenaga listrik? Astaga, jangan bilang kalau dia ...." David langsung turun dari motor dan berlari cepat karena begitu panik.


Dia mengetuk pintu rumah beberapa kali. Namun, tak kunjung ada sahutan atau dibuka. Kecemasannya semakin menjadi-jadi. Tangannya mencoba memutar handel pintu. Ternyata pintu rumahnya tidak dikunci.


"Tidak dikunci? Apakah mungkin Kayla dan Kaysa tertidur? Sebaiknya, aku segera masuk saja!" David membuka pintunya lalu bergegas masuk ke dalam. Dia langsung berlari ke dalam kamar.


"Loh, kok kosong?" Dia semakin panik.


"Mungkin, mereka masih di dapur?" David berpindah posisi menuju dapur.


Namun, usahanya nihil. Di dapur juga dia tidak menjumpai istri dan anaknya.


"Oh Tuhan, jangan bilang kalau mereka benar-benar pergi meninggalkan aku sendiri." David menggelengkan kepala tidak percaya. Dia berlari kembali menuju kamar.


Setibanya, di kamar dia membuka lemari pakaian milik istrinya.


"Astaga, benar sekali kosong!" Dia beralih membuka lemari kecil milik anaknya.


"Ini juga kosong! Ah! Ini sulit kupercaya! Kenapa mereka tega pergi dariku begitu saja!" David menjambak rambutnya frustrasi. Lalu, tubuhnya ambruk di lantai. Dia menangis sejadi-jadi di sana. Menumpahkan rasa sedih yang teramat dalam.


"Alasan apa yang mendasari kalian pergi meninggalkan aku begitu saja tanpa konfirmasi sedikitpun?" David memukul-mukul lantai sambil menangis tersedu-sedu.


Tiba-tiba dia teringat dengan kesalahan fatal yang sudah diperbuatnya. Dia langsung bangkit hendak menemui Nayla. Langkahnya terhenti ketika dia melihat di atas kasur ada secarik kertas dan amplop berwarna putih.


Dia langsung menghampirinya. Lalu, meraih secarik kertas tersebut dan membacanya. Seketika dadanya sesak dan perih. Kepalanya menggeleng tidak percaya.


"Ternyata Kayra sudah keburu tahu masalah ini. Pasti amplop ini Nayla yang mengirimnya. Aku harus segera menemukan istri dan anakku untuk menjelaskan duduk permasalahannya." David bergegas pergi dengan ekspresi wajah sulit diartikan.

__ADS_1


Baru saja langkahnya sampai di depan pintu, dia dikejutkan dengan kedatangan satu buah mobil mewah menepi tepat di depan rumahnya.


__ADS_2