Bertukar Suami

Bertukar Suami
Kesepakan Kayra Dan David


__ADS_3

Melihat hal itu, Kayra langsung terkejut. Ternyata orang tua mantan istri kedua suaminya baik dan perhatian sekali terhadapnya.


"Namanya juga musibah, Bu. Kita tidak pernah tahu kapan datangnya," jelas Kayra tersenyum.


"Iya sih. Tapi, lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi ya?" Wajah ibunya Nayla masih tetap cemas.


"Iya, Bu. Lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi," jawab Kayra tersenyum senang. Dia tidak bisa diperhatikan berlebihan begini sama orang lain. Apalagi wanita paruh baya ini adalah mantan mertua sang suami.


"Oh ya, ini pasti bayi laki-laki saudara kembarmu itukan? Kasihan sekali dia, masih bayi sudah ditinggal ibunya." Tangan ibunya Nayla mengusap lembut pipi bayinya.


Kayra menatap ke arah David untuk meminta penjelasan. Dan David langsung mengangguk.


"Iya, Bu. Nasib bayi ini memang sangat miris. Bukan hanya ibunya saja yang telah tiada. Namun, ayahnya juga terkena gangguan jiwa mendadak sehingga tidak bisa merawatnya." David langsung mengkerutkan keningnya bingung dengan perkataan Kayra soal Damar. Ingin sekali dia bertanya. Namun, kondisi saat ini belum memungkinkan karena masih ada ibunya Nayla.


"Oh Tuhan, malang sekali nasib anak ini." Ibunya Nayla segera meraih pelan-pelan tubuh mungil itu. Dia ingin menggendongnya.


"Oh ya, jika bayi ini aku yang merawatnya hingga besar ... apakah Ibu setuju?" tanya Kayra memastikan nasib sang anak selanjutnya. Jika ibunya Nayla dan David tidak setuju, terpaksa dia akan mencari tempat tinggal lain untuk merawat bayi yang tidak berdosa itu.


"Tentu saja Ibu mengizinkannya. Mana mungkin Ibu tega membiarkan bayi seimut ini tidak terawat dengan baik. Yang terpenting si David harus kerja lebih giat lagi karena tanggungannya semakin banyak," jelas ibunya Nayla terkekeh.


"Ah, Ibu kalau soal itumah gampang. Anak laki-lakimu ini pasti akan tambah giat lagi kerjanya. Bahkan, kalau perlu aku tak pulang saja sekalian," ledek David tersenyum geli.


"Hisk, kau ini! Jangan mengada-ada kalau bicara." Lirik ibunya Nayla ke arah David.


"Hehe, tidak-tidak, Bu. Mana mungkin aku akan tahan jika sehari saja tidak bertemu anak dan istriku. Belum lagi celotehan Ibu itu ... pastilah telingaku terasa sunyi jika tidak mendengarnya," ledek David lagi.


"Hey, kau ini memang paling pintar memuji ibu." Ibunya Nayla terkekeh.


Kayra dan David ikut terkekeh juga. Hati Kayra langsung menghangat mengetahui bahwa ibunya Nayla orangnya humoris seperti mantan mertua dia dan kakaknya.


Seketika Ekspresi tertawa David berubah saat melihat papan tulisan di ujung ranjang bawah dekat kaki Kayra. Dia menepuk jidatnya pelan. Dia lupa membalik papan bertuliskan data diri Kayra sebagai pasien yang habis melahirkan.


Pelan-pelan dia menggeser tubuhnya mendekati ujung ranjang tersebut agar ibunya Nayla tidak merasa curiga. Sambil celingukan, tangannya membalik papan tersebut. Tanpa di duga-duga ibunya Nayla menengok aksi David. Tentu saja David langsung dag-dig-dug.


"Kamu itu ngapain, Vid? Kok, celingukan kayak orang maling?" tanya ibunya Nayla penasaran. Dia menatap aneh David.


"Em, sebenarnya a-aku hanya sedang kebelet saja." David tersenyum kikuk.


"Kaysa, turun dulu, ya?" Kaysa mengangguk.


"Ayah mau ke kamar mandi dulu." David menurunkan tubuh putrinya ke lantai.


David langsung kabur masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan.

__ADS_1


"Huh, anak itu ada-ada saja tingkahnya." Ibunya Nayla tersenyum geli. Begitu pula dengan Kayra. Menurutnya sikap sang suami berubah 95% dari sikapnya yang dahulu.


"Kaysa, sini, Sayang!" panggil Kayra tersenyum.


"Iya, Unda." Kaysa tersenyum sambil melangkah mendekati ranjang.


"Kaysa, apa nggak kangen sama, Bunda? Kan, semalam Bunda tidak ada di rumah?" tanya Kayra mengusap lembut pipi putrinya sambil tersenyum hangat. Terpancar jelas kerinduan di hati kecilnya karena cukup lama berpisah. Sekarang putrinya sudah tumbuh menjadi bidadari kecil nan imut. Dia begitu mirip dengan ayahnya. Hanya kulitnya saja yang menurun dari Kayra yaitu putih bersih.


"Tangen dong, Unda!" Kaysa meraih tangan Kayra lalu memeluknya. Dia tersenyum manja.


"Maafin Bunda, ya? Lain waktu Bunda nggak akan ceroboh lagi." Kayra terus menyentuh pipi putrinya. Ingin sekali dia memeluknya. Namun, kondisinya tidak memungkinkan.


Kaysa mengangguk sambil tersenyum.


Ibunya Nayla ikut terharu menyaksikan adegan ibu dan anak itu. Dia melihat ada kerinduan yang sangat dalam dari sorot mata Kayra.


"Kayra, memang Ibu yang sangat baik. Baru saja semalam berpisah. Dia sudah sangat rindu begitu sama Kaysa," batin ibunya Nayla tersenyum hangat.


Tanpa mereka sadari, di luar ruangan ada Nayla yang diam-diam sedang mengintip kondisi Kayra. Dia langsung merasa bingung dengan kondisi tubuh kayra yang mulus tidak terdapat luka lecet sama sekali. Padahal seingatnya, kondisi Kayra kemarin terluka parah.


"Ini aneh sekali. Tidak mungkin, kalau tubuhnya bisa semulus itu. Apalagi sedikitpun tidak ada perban menempel. Padahal jelas banget kemarin tubuhnya itu terluka parah. Bahkan, kalau dilihat-lihat dari cidera di kepalanya. Dia pasti tidak akan selamat. Atau paling tidak keritis dan koma," batin Nayla segera meninggalkan ruangan Kayra setelah merasa puas mengintipnya. Dia takut aksinya itu kepergok orang. Tadi, dia sengaja tidak ikut menjenguk karena takut ketahuan belangnya.


Malamnya tepat pukul sembilan belas, tinggal David seorang yang menjaga Kayra dan bayinya. Ibunya Nayla sudah pamit pulang bersama Kaysa tadi sore sekitar pukul tujuh belas. Kini dia tengah duduk di samping ranjang Kayra. Dia ingin bertanya perihal kondisi Damar yang sebenarnya pada Kayra. Rasa penasaran masih menyelimuti pikirannya soal ucapan Kayra tadi siang bersama ibunya Nayla.


"Sayang, kamu tadi siang kok bisa berkata bahwa Damar mengalami gangguan jiwa? Apa kamu berbohong akan hal itu agar ibunya Nayla tidak curiga padamu soal keberadaan anaknya Damar di sini?" tanya David penasaran.


"Astaga, kenapa bisa begitu? Bukannya dahulu dia sangat ingin memiliki seorang putra? Kenapa sekarang dia malah tak ingin merawatnya? Apa ini semua ada hubungannya sama Mbak Kayla?" tanya David sedikit menaikkan volume suaranya.


"Aku nggak tahu Mas penyebab pastinya. Tapi, tadi pagi kedua orangtuanya mas Damar berkunjung kemari. Kata mereka sih, mereka ingin melakukan tes DNA bayiku untuk memastikan kebenarannya. Apa dia benar darah daging Mas Damar atau malah darah dagingmu," jelas Kayra terisak-isak.


"Hey, bukannya sudah jelas kalau bayimu itu begitu mirip dengan Damar. Bisa-bisanya mereka masih ingin melakukan tes DNA segala. Mereka itu memang keluarga yang aneh," umpat David kesal.


"Bukan kedua orangtuanya mas Damar yang meragukannya. Tapi, Mas Damar sendiri yang tidak mengakuinya," jelas Kayra terisak-isak.


Melihat kesedihan di hati sang istri, David langsung menarik kepala Kayra untuk bersandar di dada bidangnya. Hatinya semakin marah dan kesal saat mengetahui Damarlah yang tidak mengakui anaknya sendiri.


"Sudahlah, jangan menangisi hal itu. Jika Damar tidak mau mengakuinya biarkan saja. Aku yang akan menjadi ayah terbaik untuknya. Kita rawat dia bersama-sama hingga besar." David mengecup pucuk kepala Kayra untuk mendinginkan hatinya.


"Tapi, kasihan sekali kalau dia tumbuh tanpa kasih sayang ayah kandungnya? Aku jadi teringat masa-masa Kaysa dahulu, Mas." Kayra semakin tersedu-sedu.


"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya soal sikapku dahulu pada Kaysa. Sungguh, aku sangat menyesalinya." David langsung menitikkan air mata. Kemarahannya jadi berubah kesedihan yang teramat dalam.


"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Kamu sekarang sudah berubah menjadi suami dan ayah yang luar biasa buat kami." Kayra mendongak menatap David. Bibirnya tersenyum hangat.

__ADS_1


"Terima kasih istriku. Kamu memang bidadari surgaku. Aku bejanji tidak akan mengulangi kenangan-kenangan buruk itu sampai titik darah penghabisan. Akan kubahagiakan kalian berdua di sisa umurku ini." David tersenyum hangat. Lalu, mengecup kening Kayra cukup lama.


"Aamiin." Hati Kayra sangat menghangat.


"Lalu, bagaimana dengan bayiku, Mas? Apa kita segera lakukan tes DNA saja agar dia tidak mengalami nasib yang sama seperti Kaysa dahulu?" tanya Kayra meminta dukungan.


"Kalau menurutku sih, tidak perlu! Lebih baik biarkan saja. Percuma saja kamu melakukan hal itu. Untuk saat ini hati Damar sedang ditutupi kabut hitam. Jadi, apapun yang kamu lakukan tidak akan merubah pendiriannya. Biarkan saja dia memuaskan hatinya itu. Lagi pula, bayimu masih butuh asupan asi ekslusif dari kamu."


Kayra terdiam meresapi ucapan David.


"Kalau dipikir-pikir ucapan Mas David memang benar sekali. Jadi, lebih baik aku turuti saja sarannya," batin Kayra setuju.


"Baiklah, aku ikuti saran dari Mas David saja." Kayra tersenyum.


"Bagus. Jika memang Damar tidak mau mengakui bayi itu selamanya juga nggak masalah. Nanti, Mas yang akan menyayanginya sepenuh hati. Anak kamu kan, anaknya masnya juga." David kembali mengecup kening Kayra.


"Terima kasih banyak, Mas. Kamu memang suami is the best," puji Kayra tersenyum bahagia.


"Iya dong. Apalagi sekarang keluarga kita jadi tambah lengkap. Ada kamu dan aku ... ada anak perempuan dan anak laki-laki. Betulkan?" tanya David tersenyum puas.


"Iya benar. Jadi, kita tak perlu lagi bersusah payah memproduksi bayi laki-laki untuk melengkapkan keluarga kecil kita ini," jawab Kayra tersenyum hangat.


"His, mana ada kita tidak memproduksi bayi lagi. Tentu saja, Mas akan lebih semangat lagi memproduksinya agar rumah kita menjadi semakin ramai," tolak David tidak terima.


"Yeeee, Mas enak cuma mikirin bikin saja. Lah, aku ini yang dibuat repot harus menyimpannya selama sembilan bulan di dalam perut. Belum lagi saat merasakan ngidamnya. Itu sangat menyesakkan dada," jelas Kayra cemberut.


"Hem, tapikan pas bikinnya kita sama-sama merasakan enak." David mengedipkan matanya genit.


Mendengar hal itu mulut Kayra langsung keram tidak bisa menjawabnya. Dia langsung tersipu malu.


"Kalau soal mengandung itukan memang kodratnya wanita. Jadi, kamu harus mensyukurinya biar dapat banyak pahala. Benarkan?" David mengedip-ngedipkan matanya lagi.


"Iya benar sekali." Kayra tersipu malu.


"Ya sudah. Kalau begitu, kita produksi lagi yuk sekarang biar cepat jadi," goda David tersenyum genit.


"Tidak!" teriak Kayra melebarkan matanya.


*TAMAT*


Pengumuman:


Mohon maaf kalau karyanya sudah tamat šŸ™šŸ™šŸ™

__ADS_1


Saya menamatkan buku ini karena tugas "Bertukar Suami" sudah selesai. Jadi, saya akan buat kelanjutan ceritanya di buku kedua saya. Jika kalian masih ingin tahu kelanjutan kisah Kayra, David, Damar, dan Nayla jangan lupa mampir ke buku keduaku judulnya "JODOH TAK LARI KE MANA" napen Dewi Sri. Selamat membaca! 😘😘😘😘



__ADS_2