
Cukup lama Damar bertahan dengan posisinya. Namun, dia tidak mendapatkan tanggapan sama sekali dari Kayra.
"Kamu tega sekali pada kami? Kamu benar-benar tidak pernah peduli dengan kami? Apa sebaiknya kami ikut saja denganmu beristirahat dengan mata tertutup rapat seperti ini?" gumam Damar tersedu-sedu. Dadanya sesak dan ngilu. Tubuhnya terasa lemas dan tidak berdaya.
Dengih!
Tiba-tiba terdengar suara sesak napas dari mulut Kayra. Tangan Damar terasa dicengkram kuat. Dada Kayra bergerak ke atas. Matanya terbuka lebar seperti sedang merasakan sakit yang amat dalam.
Merasakan hal itu, Damar segera bangkit dan mengendurkan pelukannya. Dia begitu panik melihat kondisi sang istri.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Damar cemas. Matanya mendelik lebar.
Tak ada jawaban dari Kayra. Kayra masih saja merasa sesak di dadanya. Matanya pun masih mendelik lebar.
"Dokter! Suster! Cepat kemari!" teriak Damar kacau.
Sayang para suster dan dokter sudah pergi. Di luar ruangan Kayla, David, dan kedua orangtuanya Damar masih saling berpelukan dengan pasangan masing-masing untuk meluapkan kesedihan mereka. Jadi, panggilan Damar tidak ada yang merespon.
Karena tak mendapatkan respon sama sekali, Damar semakin mengeraskan suaranya. Bahkan, tenggorokannya sampai terasa sakit. Hal itu membuat David samar-samar mendengar suara teriakan Damar.
"Eh, itu seperti suara Damar memanggil-manggil dokter dan suster?" tanya David waspada.
Kayla langsung menghentikan tangisannya sejenak untuk memastikan ucapan David.
"Ayo cepat kita tengok ke dalam," ajak Kayla panik.
"Baik!" David segera melepaskan pelukannya.
Mereka berlari cepat menuju kamar operasinya. Kedua orangtuanya Damar sama sekali tidak mendengar. Jadi, mereka masih tetap saling berpelukan.
Begitu sampai di depan pintu, mereka pun ikut melebarkan matanya melihat kondisi terbaru Kayra. Kayra masih saja tampak kesulitan bernapas. Matanya pun masih melotot ke atas.
"Astaga, ayo cepat panggilkan dokter!" perintah Kayla panik.
"Baik!" David bergegas pergi meninggalkan Kayla.
__ADS_1
"Oh Tuhan, terima kasih karena Engkau masih memberi adikku kesempatan," gumam Kayla tersenyum sambil menitikkan air mata.
Dia segera mendekati sang suami. Jujur dia senang melihat adiknya masih bergerak-gerak walaupun kondisinya sangat memperihatinkan. Hal itu menandakan bahwa masih ada kehidupan yang ditujukan sang adik.
Tanpa dia sadari tangannya menyentuh pundak sang suami. Sungguh dia merasa senang dan sedih melihat sang suami berlaku seperti itu pada sang adik.
Damar langsung menoleh sejenak untuk karena merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya. Dia kesal saat mengetahui Kayla tersenyum walaupun diiringi air mata. Sikap Kayla tersebut menunjukkan bahwa dirinya seolah senang melihat sang istri tercinta tersiksa.
"Jauhkan tanganmu itu! Baru kali ini aku melihat ada seorang adik tersenyum melihat kakaknya tersiksa sakit," cela Damar menatap sinis Kayla.
Degggg!
Hati Kayla langsung berdenyut nyeri. Dia melongo dan memudarkan senyumannya. Tangannya otomatis menjauh dari tubuh Damar karena merasa begitu kecewa dan sedih. Dia tak menyangka kalau aksinya ini malah membuat sang suami salah mengartikannya. Padahal dia tersenyum karena senang melihat saudaranya masih diberi kesempatan.
"Mak__" Belum sempat Kayla menjelaskan pada Damar. Perkataan Kayla sudah keburu dipotong dokter dan suster yang baru datang.
"Kami mohon pada kalian untuk segera keluar dari sini!" perintah sang dokter panik.
"I-iya, Dok." Kayla segera keluar dari ruangan Kayra.
"Maaf, Bapak juga harus keluar," perintah sang suster.
"Aku tidak mau!" Damar segera menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin selalu mendampingi istriku," lanjut Damar.
"Tidak bisa begitu, Pak! Kalau Bapak tetap di sini malah akan menghambat kinerja kami," terang susternya.
Damar langsung menghela napas kasar.
"Baik, aku akan keluar dari sini!" Dengan perasaan tak rela akhirnya Damar mengalah. Bergegas dia melangkah keluar.
Para suster dan dokter segera menangani Kayra. Mereka segera memasang selang oksigen ke hidung Kayra. Dengan begitu Kayra tidak lagi kesulitan bernapas. Mereka juga memasang selang infus di pergelangan tangan Kayra.
"Ini benar-benar mukjizat dari yang maha kuasa. Padahal tadi organ tubuhnya sudah mati. Dan sekarang bekerja kembali," gumam sang dokter takjub.
__ADS_1
"Iya, Dok. Mungkin, kekuatan cinta anak dan suaminya membuat Tuhan menurunkan mukjizat ini. Tadi pas kondisi dia menurun derastis ... sang anak menangis histeris. Dan tiba-tiba dia terdiam," sahut salah seorang suster.
Mereka semua melengkungkan bibirnya senang.
Di luar Damar langsung mendapatkan pelukan erat dari kedua orangtuanya. Mereka senang mengetahui mantunya hidup kembali.
"Kami bangga sekali melihat kekuatan cintamu pada Kayla," puji mereka senang.
"Iya, aku yakin kalau istriku masih akan hidup. Dia tak akan meninggalkan kami begitu saja," jawab Damar tersenyum bahagia.
Kayla ikut tersenyum senang mendengar perkataan sang mertua dan suaminya tersebut.
Beberapa hari kemudian ....
Kondisi Kayra sudah membaik dan sadarkan diri. Damar terus saja setia berada di sampingnya. Memberi perhatian lebih padanya. Hal itu malah membuat Kayra merasa sedih karena sebentar lagi mereka akan berpisah dan kembali ke kehidupan yang semestinya.
"Hey, kenapa kamu terlihat murung sekali? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" selidiki Damar penasaran. Sudah dua hari ini dia melihat Kayra terus melamun.
"Tidak ada, Mas. Aku hanya ingin segera pulang ke rumah karena bosan dengan bau obat-obatan. Sungguh aku sangat merindukan rumah kita," bohong Kayra tersenyum kembali.
"Hem, kamu yang sabar ya?" Damar mengelus lembut kening Kayra sambil tersenyum.
"Setelah kondisi kamu dan anak kita sudah benar-benar membaik. Pasti dokter akan mengizinkan kamu pulang ke rumah." Damar mengecup lembut kening Kayra.
"Iya, Mas. Oh ya, sepulang dari rumah sakit nanti ... apakah Mas akan langsung mengadakan acara syukuran buat anak kita?" tanya Kayra tersenyum. Dia ingin sekali merasakan hal itu sebelum benar-benar kembali ke kehidupan nyatanya.
"Tentu, kita akan langsung mengadakan acara syukuran atas keselamatan kamu dan anak kita." Damar kembali mengusap lembut kening Kayra sambil tersenyum senang.
"Terima kasih banyak, Mas." Kayra tersenyum bahagia. Ternyata keinginannya masih bisa terwujud.
"Hem, buat apa mengucapkan terima kasih segala? Itukan memang sudah kewajiban Mas membalas kebaikan yang Tuhan berikan pada Mas. Mas bersyukur sekali masih diberi kesempatan yang kedua untuk tetap bahagia bersama kamu. Maafkan Mas ya karena sempat lalai menjagamu." Raut wajah Damar langsung berubah sendu.
"Kata siapa Mas lalai? Mas, sama sekali tidak lalai. Aku sengaja hanya diam saja waktu mulai merasakan keram sebelum melahirkan. Aku bosan membuat gempar seisi rumah karena keluhan-keluhanku itu," jelas Kayra tersenyum.
"Husssttt, gara-gara kamu merasa bosan membuat gempar seisi rumah. Dampaknya malah menjadi lebih besar lagi. Hampir saja Mas sakit jiwa karena harus kehilangan kamu," jelas Damar cemberut.
__ADS_1