Bertukar Suami

Bertukar Suami
Kepikiran Dan Bingung


__ADS_3

"Tidak perlu, Bu. Aku tidak ingin melakukannya. Dia wanita bersuami, bisa jadi itu darah daging David. Sudah cukup, aku terluka karena fakta tidak bermanusiawi itu. Jadi, pergilah sendiri jika memang Ibu mau menengoknya," usir Damar menatap malas ibunya.


"Baiklah, Ibu sama Ayah saja yang pergi. Ingat Mar, penyesalan itu adanya di belakang." Ibunya Damar segera pergi meninggalkan Damar masih sambil menangis.


Di lantai bawah, sang suami dibuat terkejut melihat istrinya menangis tersedu-sedu sambil menuruni anak tangga.


"Astaga, pasti anak itu berkata yang tidak-tidak pada ibunya." Ayahnya Damar segera menghampiri istrinya panik.


"Ibu kenapa menangis? Jangan bilang karena anakmu menolak ajakan atau bahkan dia mengatai Ibu?" tanya Ayah menahan emosi.


"Iya, dia memang menolak! Bahkan, dia tidak mengakui anak yang dilahirkan Kayra itu. Padahalkan Kayra tidak langsung hamil pas tinggal di sini. Ibu yakin sekali kalau anak yang dilahirkannya pasti bibitnya Damar," jelas Ibu tersedu-sedu.


"Hem, kalau memang dia meragukan anak itu ... kenapa dia tidak melakukan tes DNA saja?" tanya Ayah kesal.


"Aku sudah memberitahunya, namun dia tidak mau." Ibu mengusap air mata dengan tisu.


"Astaga, anak itu memang sudah sangat keterlaluan! Biar Ayah yang beritahu dia! Sebenarnya, mau dia itu apa?" Ayah hendak menaiki tangga.


"Tidak perlu, Yah! Percuma kita memberitahunya tidak akan berpengaruh sama sekali! Saat ini hatinya masih tertutup kabut! Nanti, kalau kabutnya sudah hilang dia akan menyesali perbuatannya itu," cegah Ibu memegang tangan Ayah sambil terisak-isak.


Ayah terdiam sejenak meresapi kata-kata Ibu.


"Daripada kita membuang-buang waktu, alangkah sebaiknya kita ke rumah sakit saja sekarang," ajak Ibu mengusap air matanya kasar.


"Baiklah! Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Ayah segera menggandeng tangan Ibu. Mereka segera melangkah keluar rumah.


Di rumah sakit, Kayra kembali melamun karena saat ini dia tengah sendirian. Sekitar satu jam yang lalu, David meminta izin untuk pulang dulu ke rumah. Dia ingin menjemput ibunya Nayla dan anaknya. Semalam dia sudah memberi kabar soal kecelakaan yang menimpa Kayra palsu. Namun, dia berbohong soal kematiannya.


Dia bilang kalau Kayra hanya mengalami luka-luka saja. Jadi, Kayra harus dirawat di rumah sakit. Dia sengaja mengabari ibunya Nayla malam-malam agar ibunya Nayla tidak segera menjenguk Kayra di rumah sakit. Tentu saja, kabar dari David membuat Nayla emosi jiwa. Ternyata, usahanya gagal untuk membunuh istri pertama David.

__ADS_1


"Ternyata Mas Damar begitu terluka hatinya akibat kebohongan aku dan Mbak Kayla." Kayra menitikkan air mata.


"Bagaimana caranya aku menjelaskan kebenaran soal tuduhan uang lima puluh juta itu sama Mas Damar? Lalu, kira-kira uang itu digunakan untuk apa sama Mbak Kayla? Tidak mungkin Mas David berbohong soal pelunasan hutang itu sama Mbak Kayla? Soalnya, Mas David yang sekarang sudah berubah sangat baik. Bahkan, dia rela menerima tubuh kotorku ini." Kayra mengusap air matanya. Dia sedih sekali mengingat tubuhnya yang pernah digauli kakak iparnya beberapa kali.


Di saat bersamaan, terdengar suara pintu ruangannya diketuk seseorang. Dia langsung menghapus air mata yang masih saja sulit dihentikan.


"Masuk saja tidak dikunci!" teriak Kayra dengan suara khas orang habis menangis.


Ceklek!


Pintunya dibuka seseorang. Tak lama munculah seorang suster wanita menggendong tubuh bayi laki-laki. Yang tak lain adalah anaknya sendiri.


"Ini Bu, bayinya baru sudah bangun. Pasti dia sangat haus dan lapar," sapa perawatnya ramah.


"Iya, cepat bawa kemari." Kayra mengangguk sambil tersenyum. Matanya yang sembab membuat suster paham dengan suasana hati Kayra. Tragedi kemarin sudah jelas menjadi penyebabnya.


"Sebaiknya, Ibu coba lupakan soal kejadian kemarin. Kasihan bayi ibu ini. Pasti dia tidak bisa tidur nyenyak karena ikut sedih merasakan tekanan di batin ibunya," nasihati susternya tersenyum. Dia segera memberikan bayi laki-laki itu ke Kayra.


"Ya sudah. Aku mohon undur diri dulu ke ruangan samping. Nanti, kalau Ibu butuh sesuatu bisa panggil saja," pamit susternya tersenyum.


"Iya, Sus." Kayra tersenyum meringis karena anaknya mulai menghisap asi.


Dia merasakan nyeri yang luar biasa. Apalagi anak laki-lakinya ini sangat kuat menghisapnya. Ini kali keduanya dia merasakan nyeri saat awal-awal memberi asi pada anaknya. Dahulu Kaysa berhenti meminum asi dengan sendirinya karena mengalami tragedi tersiram minyak panas.


Susternya tersenyum geli melihat ekspresi Kayra tersebut. Lalu, segera meninggalkan Kayra dan anaknya. Begitu sampai di depan pintu, susternya berhenti sejenak karena ada kedua orangtua Damar yang baru datang.


"Eh, Bapak dan Ibu, silahkan masuk! Itu Bu Kayranya masih memberikan asi," sapa susternya ramah.


"Oh iya, terima kasih." Kedua orangtuanya Damar segera masuk ke dalam. Rasanya mereka tidak sabar ingin melihat wajah cucunya dari dekat. Tempo hari mereka hanya bisa melihatnya dari kaca luar ruangan.

__ADS_1


Kayra yang tahu segera menyambut kedua orangtuanya Damar dengan senyuman semanis mungkin.


"Bagaimana keadaanmu, Kay? Semoga saja kamu sudah bisa melupakan kejadian kemarin," ucap ibunya Damar tersenyum.


"Keadaanku sudah membaik kok. Hanya saja untuk segera melupakannya pastilah sangat sulit sekali. Apalagi kejadian kemarin sampai merenggut nyawa Mbak Kayla," jawab Kayla tersenyum sedih.


"Iya, kami paham kok. Yang terpenting bagi kita adalah mendoakan Kayla agar tenang di alam sana," nasihati ibunya Damar sambil tersenyum.


"Iya, itu pasti. Oh ya, apakah sudah ada kabar tentang siapa pelaku tabrak larinya?" tanya Kayra penasaran.


"Belum ada. Pihak polisi katanya masih terus menyelidiki siapa pelakunya," jelas ibunya Damar tersenyum tipis.


"Oh, semoga saja orangnya segera ketemu dan ditangkap," ucap Kayra sedikit kesal.


"Aamiin." Kedua orangtuanya Damar tersenyum sambil terus menyimak aksi cucunya yang tampak lahap meminum asi.


"Astaga, dia minumnya lahap sekali? Pantas saja dia tak mau meminum susu formula. Ternyata, asi Kayra lebih nikmat rasanya," goda ayahnya Damar terkekeh.


Kayra langsung tersipu malu digoda oleh mantan mertua kakaknya. Wajahnya memerah bak kepiting rebus.


"Ah, Ayah ini kalau berbicara tolong dicerna terlebih dahulu!" Ibunya Damar menepuk bahu suaminya gemas.


"Lihat tuh Kayra jadi malu begitu!" Ibunya Damar tersenyum geli.


"Hehe, buat apa malu segala? Toh, memang itu kenyataannya kalau asi Kayra lebih nikmat daripada susu sapi," jelas ayahnya Damar terkekeh.


"Huh, Ayah ini memang paling tidak bisa menjaga lidah kalau berbicara." Ibunya Damar mencubit pinggang ayahnya Damar cukup kuat.


"Auwww! Kok, malah dicubit sih, Bu? Kan, memang itu kenya__" Ucapan ayahnya Damar langsung terhenti karena ibunya Damar semakin menekan cubitannya.

__ADS_1


"Auw-auw, ampun, Bu! Ayah taubat deh!" ringis ayahnya Damar kesakitan.


__ADS_2