
"Ra, ayo duduk di sini! Mbak, ingin bicara sama kamu," ajak Kayla tersenyum.
"Iya, Mbak!" Kayra ikut tersenyum. Dia segera mendekati saudarinya itu.
Kini mereka duduk bersandingan di sofa.
"Ra, kamu harus jujur sama Mbak!" Kayla memegang tangan Kayra. Tatapan kesedihan terlihat jelas dari wajah Kayla.
"Jujur soal apa, Mbak?" tanya Kayra bingung.
"Sebenarnya kamu tak benar-benar bahagiakan rumah tanggamu selama ini? Please, jangan pernah berbohong lagi sama, Mbak. Mbak sudah tahu kebenarannya," ucapkan Kayla sambil menitikkan air mata.
Kayra langsung menundukkan pandangannya ke bawah. Dia bingung harus menjawab apa. Toh apa yang diucapkan saudarinya itu benar adanya.
"Ayolah jawab yang jujur!" pinta Kayla sambil menitikkan air mata.
Kayra langsung menatap saudarinya. Matanya ikut berkaca-kaca. Dia menarik napasnya dalam-dalam lalu menganggukan kepala.
"Ya Allah Ra, kenapa sih kamu tidak jujur saja sejak dulu! Jika kamu memang tidak bahagia hidup bersamanya kenapa kamu harus terus bertahan?" tanya Kayla tersedu-sedu.
"Mas David memang tidak pernah menyukai Kayra dulu. Akan tetapi, ibu dan bapak sangat menyayangi Kayra. Mereka sudah menganggap Kayra seperti anaknya sendiri. Kayra tidak mempermasalahkan tentang sikap Mas David. Yang terpenting bagi Kayra adalah memiliki orang tua yang sangat menyayangi Kayra," jelas Kayra tersedu-sedu.
"Baiklah, Mbak mengerti sekarang." Kayla langsung memeluk erat adiknya. Mereka saling menumpahkan rasa.
"Maafkan Mbak yang pernah menuduhmu kurang bersyukur. Mbak ini memang kurang peka, sehingga adiknya menderita begitu lama ... tapi, Mbak tidak pernah tahu. Mulai detik ini, kalau David kembali menyakitimu ... Mbak nggak akan tinggal diam. Lebih baik, adikku ini menjadi janda daripada harus hidup bersama pria brengsek macam dia."
Deggg!
Hati Kayra terasa nyeri. Dia teringat soal di jalan tadi. Dia sempat memergoki suaminya tengah dielapi keringatnya oleh seorang wanita cantik. Dia merasa bahwa suaminya tak benar-benar tulus akan berubah menjadi suami yang baik.
"Ya Allah, jika Mbak Kayla tahu kelakuan Mas David di luar sana ... pasti dia bakalan marah sekali. Ternyata, memang nasibku tak akan pernah dicintai suami," batin Kayra miris.
"Mbak yakin sekali, di luaran sana masih banyak pria baik yang mau dengan adikku ini. Jadi, Mbak berharap kamu jangan pernah mau disakiti dia lagi," sambung Kayla penuh keyakinan.
__ADS_1
"Iya, Mbak." Kayra segera melepaskan pelukannya. Dia mencoba untuk tersenyum kembali. Walaupun hatinya begitu sakit dan sedih.
"Oh ya, sejak kapan David mulai bersikap manis padamu?" tanya Kayla penasaran. Dia mengusap jejak air matanya.
"Sejak Kaysa tersiram minyak panas. Mungkin, batinnya tergugah melihat kondisi anaknya yang sangat memprihatinkan," jelas Kayra tersenyum getir.
"Oh. Misalnya, Kaysa tidak mengalami musibah itu ... bisa dipastikan kalau dia tidak akan merubah sikapnya itu sama kamu. Berarti, musibah yang menimpa Kaysa ini membawa hikmah besar untuk kebahagiaanmu. Jujur, dia berulang kali meminta maaf sama kamu ketika kami sedang mengobrol. Sepertinya, dia benar-benar ingin menjalin rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warrohmah bersama kamu," jelas Kayla tersenyum tipis.
"Semoga saja, Mbak," jawab Kayra tersenyum getir. Dia masih belum percaya seratus persen dengan suaminya setelah kejadian di pinggir jalan tadi.
"Oh ya, bagaimana kamu sama Mas Damar? Apakah kalian sudah melakukannya?" tanya Kayla meringis.
"Sudah, Mbak. Maafkan aku, ya?" balas Kayra menundukkan kepala.
"Buat apa kamu minta maaf! Mbak malah senang mendengarnya! Dengan begitu, kita tinggal menunggu hasilnya saja," jelas Kayla tersenyum senang.
"Iya, semoga bulan ini aku positif hamil agar kalian dan kedua orangtuanya mas Damar segera bahagia," ucap Kayra penuh harap.
"Hem, gara-gara aku meminumnya ... terjadilah kecelakaan itu," jawab Kayra cemberut.
"Hehe, maaf! Sebenarnya, itu bukan hanya obat vitamin. Tapi, Mbak juga memberimu obat perangsang," jelas Kayla cengengesan.
"Huh, Mbak ini memang sudah parah tingkat akut. Bisa-bisanya Mbak memberiku obat begituan," ucap Kayra menggelengkan kepalanya.
"Maaf, kalau nggak gitu ... mana mungkin kamu sudah melakukannya sama Mas Damar," jawab Kayla cengengesan.
"Huh!" Kayra langsung memonyongkan bibirnya.
Sorenya tepat pukul tujuh belas kurang lima menit, David sudah kembali ke rumah sakit usai bekerja. Kayra diam seribu bahasa. Dia sama sekali tak bercakap dengan suaminya. Kejadian tadi pagi, kembali menanamkan luka di hatinya.
Sementara, David langsung merasa ada yang aneh dengan sikap kakak iparnya itu. Biasanya dia selalu mengajak bicara David untuk sekadar basa-basi. Namun, tidak untuk hari ini. Malah tatapan kakak iparnya seolah menyiratkan ketidaksukaan padanya.
Untuk menetralisir rasa panas di hati Kayra. Dia memutuskan untuk pamit pulang saja. Terlalu lama satu ruangan dengan suaminya malah membuatnya semakin sakit hati.
__ADS_1
"Em, ini Mas Damar sudah nge-chat aku. Jadi, aku mohon pamit pulang dulu. Aku doakan Kaysa segera pulih kembali seperti sedia kala," ucap Kayra menatap Kayla sambil tersenyum.
"Aamiin. Semoga juga Mbak segera diberi momongan agar keluarganya semakin lengkap. Iyakan, Sayang!" David merangkul bahu Kayla sambil tersenyum manis.
Hal itu membuat Kayra merasa bingung. Cara dia merangkul saudarinya itu seolah tak ada kebohongan. Terlihat kalau dia benar-benar sudah berubah menjadi sosok suami yang baik dan penyayang pada istrinya.
"Iya, Mas." Kayla menatap sekilas David sambil tersenyum manis.
"Assalamualaikum," ucap Kayra segera beranjak dari tempatnya.
"Wa,alaikummussalam. Hati-hati ya, Mbak!" sahut mereka berdua bersamaan.
Kayra hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saja. Lalu, dia segera keluar dari ruangan itu. Tak lupa menutup pintunya kembali.
Dia diam di depan pintu memikirkan tentang kebenaran suaminya itu. Dan tanpa sengaja mendengar percakapan David dengan saudarinya.
"Eh, Sayang, kok sikap Mbak Kayla aneh sekali hari ini? Biasanya, dia kan banyak bicara?" tanya David penasaran.
"Entahlah, mungkin bawaan hormon," jelas Kayla meledeki David.
"Hisk, kau ini benar-benar!" David segera menggelitiki Kayla. Hal itu membuat Kayla terpingkal-pingkal kegelian.
Kayra yang masih setia berdiri di depan pintu semakin dibuat dilema. Dia bingung harus percaya dengan sikap suaminya yang mana.
"Apakah kejadian tadi hanya kebetulan saja?" batin Kayra bertanya-tanya.
"Apakah sebenarnya, Mas David memang benar-benar sudah berubah menjadi sosok suami yang baik dan penyayang sama keluarga? Ya Allah, semoga saja dugaanku tadi pagi tidak benar," batin Kayra segera meninggalkan ruangan anaknya.
Kini langkahnya sudah sampai di pinggir jalan. Dia mencoba menghubungi nomor Damar. Namun, panggilannya tidak segera diangkat.
"Apa Mas Damar belum selesai kerjanya? Kok, panggilanku tidak diangkat-angkat?" gumam Kayra lesu.
"Apa sebaiknya aku naik taksi saja?" gumam Kayra bingung.
__ADS_1