
"Ternyata beginikah rasanya dirawat di rumah sakit elit. Peralatannya begitu lengkap sekali. Berbeda jauh dengan tempatku memeriksakan kehamilan pertamaku dulu," gumam Kayra kagum.
Terlalu asik memandangi alat-alat di tempat dia dirawat, Kayra sampai tidak mendengar panggilan Damar.
Damar langsung tersenyum gemas. Entah mengapa setiap istrinya melakukan hal yang unik. Pasti dia semakin ingin menggigitnya. Dan tiba-tiba 'cup' Damar mengecup pipi Kayra.
Kayra langsung terkejut. "Ih, Mas ini ngangetin saja!" sewot Kayra cemberut.
Sebulan satu atap dan satu ranjang bersama Damar membuatnya merasa biasa saja mendapatkan kecupan seperti itu.
"Hey, mana ada Mas ngagetin kamu. Mas, tadi sudah memanggilmu. Hanya saja kamu terlalu asik dengan kegiatanmu sendiri." Damar menempelkan hidungnya dengan hidung Kayra. Hal itu membuat jantung Kayra berdebar.
"Oh Tuhan, jangan biarkan aku menaruh perasaan lebih pada kakak iparku sendiri," batin Kayra memejamkan matanya. Dia tak berani menatap indahnya manik mata Damar. Hal itu justru akan membuat rasa kagumnya semakin besar.
Cukup lama Damar bertahan dengan posisi tersebut. Dia begitu menyukai momen yang membuat istrinya nearvous begini. Awalnya, dia merasa asing dengan sikap istrinya yang lain. Namun, dia menganggap bahwa hal itu adalah tanda-tanda istrinya itu akan menjadi sosok ibu.
"Ehem, sikon-sikon!" goda kedua orangtuanya Damar dari balik tirai.
Hal itu otomatis membuat Kayra membuka matanya lebar-lebar. Dia terdiam sesaat menatap indahnya manik mata Damar. Jujur dia begitu terpana dibuatnya. Namun, setelah kesadarannya datang, dia segera mendorong dada Damar pelan agar menjauh.
"Mas!" tegur Kayra malu.
Damar tak menggubrisnya. Dia tetap bertahan dengan posisinya. Lalu berkata, "terima kasih banyak untuk semuanya. Aku semakin mencintaimu." Damar mengecup kening Kayra sejenak. Barulah dia beranjak dari posisinya.
Kayra mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia langsung merubah pandangannya menatap kedua orang tua Damar. Bibirnya melengkung ke atas. Jujur dia juga merasa senang bisa memberi kebahagiaan pada kedua orang tua Damar.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Terima kasih sudah memberikan kami calon cucu," ucap ibunya Damar tersenyum bahagia.
"Kondisiku sudah baikkan. Perutku juga sudah tidak keram lagi," jawab Kayra tersenyum.
"Syukurlah! Oh ya, kenapa kamu kok bisa sampai pingsan? Apa kamu terlalu kelelahan?" tanya ibunya Damar memastikan.
"Bukan kelelahan sih, cuma tadi aku terkejut karena bangun kesiangan. Karena aku belum tahu kalau aku tengah mengandung, jadi aku asal melompat saja dari kasur karena buru-buru ingin menyiapkan keperluannya Mas Damar. Eh, tiba-tiba perutku langsung keram. Setelah itu, aku tak mengingatnya lagi," jelas Kayra tersenyum.
"Oh ya, maafkan Mas ya? Andai saja tadi Mas membiarkan kamu tetap tidur ... pasti kejadian ini tidak akan menimpamu." Damar menyentuh wajah istrinya menyesal.
__ADS_1
Kayra hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, kok bisa sih kamu nggak sadar kalau sudah ada janin di rahimmu? Biasanya kan ada rasa yang berbeda dengan tubuh kita. Kalau Ibu dulu rasanya mual-mual, perutnya kembung gitu?" tanya ibunya Damar penasaran.
"Aku hanya merasa ngantuk saja. Makanya, tadi bangun kesiangan," jelas Kayra tersipu malu.
"Baguslah, kalau hanya itu yang kamu rasakan! Enggak enak soalnya kalau sampai mual-mual gitu," ucap ibunya Damar tersenyum senang.
"Iya, Bu!" Kayra tersenyum.
"Oh ya, kamu kan belum sempat sarapan pagi tadi. Jadi, sebaiknya, Ibu belikan sarapan untukmu. Kamu mau sarapan apa, Nak? Biasanya kalau lagi hamil begini selera makannya berbeda?" tanya ibunya Damar tersenyum.
"Em, terserah Ibu saja! Apapun yang Ibu belikan pasti nikmat sekali rasanya," jelas Kayra tersenyum bahagia.
"Baiklah, Ibu pergi dulu!" pamit ibunya Damar tersenyum.
Kayra mengangguk sambil tersenyum.
Ibunya Damar langsung melenggang pergi meninggalkan mereka bertiga. Namun, karena merasa sungkan, ayahnya Damar ikut berpamitan juga.
Setelah kepergian kedua orang tua Damar, Kayra langsung membuka suara.
"Mas!" panggil Kayra.
"Iya, Sayang! Ada apa?" tanya Damar tersenyum. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala Kayra.
"Mas, inginnya punya anak laki-laki atau perempuan?" tanya Kayra penasaran. Dia ingin memastikan bahwa Damar menganut sistem yang sama dengan suaminya David atau tidak.
"Kalau ditanya inginnya sih, tentu Mas ingin anak pertama mas laki-laki. Namun, jika Tuhan berkehendak lain ... Mas tidak akan mempermasalahkannya. Lelaki atau perempuan semua sama berartinya buat Mas. Toh, besok kita bisa buat lagi," jelas Damar terkekeh.
Deggg!
Jantung Kayra seketika berhenti berdetak.
Dia bingung harus menjawab apa. Dia langsung dilanda kecemasan.
__ADS_1
"Astaga, berarti Mas Damar ingin memiliki keturunan yang banyak. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Masa iya, aku harus kembali berbohong seperti ini buat menuruti keinginan Mbak Kayla dan keluarganya," batin Kayra gelisah. Kepalanya langsung berputar-putar memikirkannya.
"Hey, kok malah melamun sih? Apa kamu tak ingin memiliki banyak anak?" tanya Damar gemas.
"Bu-bukan begitu. Aku hanya takut saja kalau Mas Damar sampai kecewa," kilah Kayra.
"Tidaklah! Buat apa kecewa segala! Kan, Mas masih bisa memproduksinya lagi dengan kamu sampai berhasil," jelas Damar terkekeh.
"Hem, kalau sudah sampai sepuluh ... masa iya masih mau memproduksi mulu! Memang Mas pikir aku ini pabrik apa," ledek Kayra terkekeh.
"Memang benar kamu itu pabriknya! Sementara aku ini penghasil bahan yang harus kamu produksi," jelas Damar terkekeh.
"Aduh, Mas ini ada-ada saja!" Kayra ikut terkekeh.
"Oh ya, sebenarnya yang membuat Mas sedih itu bukan soal jenis kelamin bayi kita. Akan tetapi soal kondisi kandunganmu yang lemah ini. Mas takut kalau sampai terjadi sesuatu pada kalian berdua," ucap Damar mengusap lembut perut Kayra yang masih rata.
"Aku janji akan lebih berhati-hati agar tidak terjadi sesuatu sama kehamilanku," jelas Kayra tersenyum hangat. Dia Merasa nyaman sekali diusap perutnya begitu.
"Terima kasih istriku! Mas, juga janji akan berusaha semaksimal mungkin menjaga kamu dan calon buah hati kita," janji Damar tersenyum hangat.
"Iya, Mas!" Kayra tersenyum hangat.
"Oh ya, kita belum mengabari Kayra dan David. Bagaimana kalau kita kabari mereka?" tanya Damar bersemangat.
"Iya benar. Ayo cepat hubungi nomor Kayra saja! Kalau menghubungi David rasanya percuma, kan kalau jam segini dia sibuk bekerja. Sungguh aku ingin berbagi cerita dengan Kayra soal kehamilanku ini," ujar Kayra semangat. Akhirnya, dia ada alasan lagi untuk bertemu dengan putrinya Kaysa.
"Oke. Mas, telepon sekarang!" Damar segera meraih ponsel di saku celananya.
Dia mulai mencari nomor kontak Kayra. Namun, hasilnya nihil karena dia lupa men-save nomor kontak Kayra. Menurutnya buat apa juga men-save nomor adik iparnya. Toh, sang istri kan sudah men-save-nya.
"Aduh, Mas lupa men-save nomor adikmu! Bagaimana ini? Masa iya, Mas harus pulang ke rumah untuk mengambil ponselmu," jelas Damar lesu.
"Kalau hanya soal nomor kontak Kayra, Mas tidak usah bingung. Aku hapal kok," jelas Kayra tersenyum puas.
"Kamu yakin hafal nomor ponsel adikmu?" tanya Damar belum yakin.
__ADS_1