Bertukar Suami

Bertukar Suami
Halangan


__ADS_3

David segera menghubungi nomor tersebut. Cukup lama dia menunggu panggilannya diangkat. Wajahnya semakin terlihat cemas. Kegelisahan di hatinya menggebu-gebu.


Tit!


Panggilannya diangkat. David langsung berbicara duluan karena tidak sabar.


[Halo, bagaimana dengan istriku? Apakah dia sudah ketemu?]


[Belum! Ini kami sedang menuju rumah si tukang ojek yang dilihat warga membonceng istrimu!]


[Alamatnya di mana?]


[Di kompleks Melati nomor 12.]


[Oh, ok, kami juga akan ke sana. Ya sudah. Aku matikan dulu!]


[Oke.]


David mengakhiri panggilannya.


"Kita ke kompleks Melati nomor 12. Di sana rumah tukang ojek yang membawa istriku tadi. Lokasinya cukup jauh dari lokasi rumahku," perintah David tidak sabar.


"Oh, oke." Anak buah Rivan tersenyum.


Dua puluh menit menempuh perjalanan mobil mereka sudah sampai di lokasi kompleks yang dituju. David kembali menghubungi nomor anak buah Rivan.


Setelah mendapatkan kode lokasi mereka. David dan anak buah Rivan melanjutkan perjalanannya.


Setibanya di lokasi, David bergegas turun dari mobil. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui di mana lokasi tempat tinggal istrinya. Terlihat Andre dan anak buah Rivan sedang sibuk bercakap dengan tukang ojek tersebut di teras rumahnya. David dan anak buah Rivan segera medekatinya.


"Bagaimana? Apakah kalian sudah tahu lokasi tempat tinggal istriku?" tanya David tidak sabar.


"Belum, Vid! Ternyata tukang ojek ini hanya diminta mengantarnya sampai di halte bus saja ... istrimu tidak tinggal di daerah sini. Dia tinggal di tempat lain! Kalau dilihat dari tujuan nya! Kata tukang ojek ini, istrimu kemungkinan pergi ke daerah X," jelas Andre panjang lebar.


"Astaga! Baiklah! Kita segera ke sana saja!" ajak David tergesa-gesa.


"Hem, baiklah!" Andre bangkit dari kursi.


"Terima kasih atas pemberitahuannya! Maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat Anda. Oh ya, kami mohon pamit juga," ucap Andre ramah.


"Sama-sama. Semoga saja istri dan anaknya segera ketemu, aamiin." Tukang ojek itu tersenyum.

__ADS_1


"Aamiin. Terima kasih!" sahut mereka semua kecuali tukang ojek.


Mereka segera pergi dari sana. David bergegas menuju motornya. Menurutnya naik motor akan lebih cepat sampainya.


"Hey, aku ikut denganmu saja! Biar anak buah om Rivan yang bawa mobilku!" teriak Andre.


"Oke." David mengangguk.


Andre segera nangkring di jok belakang motor. David segera menyalakan motor miliknya. Mereka langsung tancap gas meninggalkan lokasi.


David mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Andre yang berada di belakangnya langsung menelan ludah. Jujur dia cukup merasa takut. Tangannya berpegangan erat pada bahu David.


"Astaga, sepertinya, dia benar-benar tak sabar ingin bertemu istrinya? Tidak sadarkah tindakannya ini bisa membahayakan keselamatan bersama! Bukan hanya itu, jika polisi lalu lintas memergokinya ... bisa-bisa kena tilang!" gumam Andre gemetar. Dia benar-benar dibuat takut dan cemas.


Baru saja lidah Andre berhenti berceloteh. Terdengar suara sirine polisi semakin jelas. Andre langsung menengok ke belakang. Matanya melebar sempurna. Ternyata apa yang dia takutkan terjadi. Terlihat dua motor polisi tengah mengejer mereka.


"Oh Tuhan, mau ditaruh di mana mukaku ini ... jika sampai polisi itu benar-benar menilang kami," gumam Andre cemas.


Sementara David sama sekali tidak memperdulikan sirine polisi tersebut. Dia malah semakin mempercepat laju motornya.


"Eh, kok malah tambah ngebut ini orang!" Andre menepuk pundak David kesal.


Plak!


"Hey, jangan terlalu sombong! Bagaimana jika hari ini kita apes! Yang ada nanti aku kena cap sama mereka!" sahut Andre cemas.


"Tenang! Itu tidak akan terjadi Pak Andre Himawan!" David segera membelokkan motornya ketika sampai di persimpangan.


Motor polisi di belakang mereka terus mengejar. David kembali memenggokkan setir kemudinya ke persimpangan kecil dengan tenang. Dia seolah biasa menjalani masa-masa seperti saat ini.


Sementara Andre hanya bisa memejamkan matanya. Dia tak bisa membayangkan jika mereka sampai mengalami kecelakaan.


"Bagaimana mereka masih mengejar kita tidak?" tanya David terus fokus dengan kemudinya.


Andre segera menengok ke arah belakang. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa motor polisi tersebut sudah tak tampak lagi. Mereka berhasil kabur dari kejaran polisi.


"Wah, ternyata, kamu memang pembalap paling hot! Mereka sudah tidak kelihatan lagi!" puji Andre terkesima.


David hanya diam saja. Dia tetap fokus dengan laju kemudinya. Begitu sampai di persimpangan tembusan jalan raya, mereka dikejutkan dengan kehadiran beberapa orang menghadang mereka.


"Awas David!" teriak Andre takut.

__ADS_1


Ciiittt!


David langsung mengerem motornya. Hampir saja mereka menabrak kawanan orang tersebut. Jarak ban motor David tepat di depan salah satu orang yang berdiri.


Napas Andre langsung memburu. Tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya berdetak sangat cepat. Cemas dan takut tampak jelas dari wajahnya.


"Turun kalian!" perintah kawanan orang mengenakan jaket berwarna hitam serta celana lepis sobek-sobek.


David masih diam di atas motor. Dia terlihat biasa saja. Berbeda dengan Andre.


"Aduh, pasti mereka preman sini? Bagaimana ini, Vid?" tanya Andre gelisah dan takut.


"Sudah tenang saja! Aku sudah biasa menghadapi orang macam mereka," ucap David tenang.


"Aduh, kau ini daritadi tenang sekali! Bagaimana kalau mereka benar-benar mengeroyok kita?" tanya Andre ketakutan.


"Kalau mereka menyerang kita ... ya kita lawan mereka! Buat apa merasa takut pada preman kelas ikan teri seperti mereka," terang David santai.


Dia malah sudah tidak sabar memberi pelajaran pada mereka. Hatinya geram karena mereka sudah berani mengambat laju kendaraannya.


"Hey, kalian berdua budek? apa memang sengaja ingin meremehkan kami?" tanya salah satu kawanan mulai geram.


"Awas kalian!" sentak David geram.


"Kau!" Mata kawanan tersebut memerah. Mereka dibuat kesal. Salah satu dari mereka segera melayangkan pukulan ke arah David.


Namun, dengan sigap David menangkapnya. Lalu, memelintir tangannya hingga berbunyi krepek.


"Ah!" Mata preman tersebut mendelik kesakitan.


"Ayo cepat kita tolong dia! Mari kita balas mereka!"


Kawan-kawannya segera mendekati David untuk menolong temannya. Mereka juga ingin membalas perbuatan David.


David segera melempar tubuh pria tersebut hingga tersungkur di aspal. Pria itu mengaduh kesakitan. Buru-buru David menurunkan standar motornya. Lalu, bergegas turun dari motor. Begitupula dengan Andre.


David langsung mendekati mereka dan melayangkan pukulan ke mereka secara bergantian. Sementara Andre tetap berdiri di tempatnya. Dia tak berani sama sekali melakukan perlawanan.


Dia tidak punya keahlian sama sekali dalam soal ilmu bela diri. Dia hanya ahli dalam dunia bisnis saja.


"Aduh, apa aku hubungi polisi saja agar datang kemari?" gumam Andre bingung.

__ADS_1


"Eh, tapi, bagaimana kalau gara-gara tadi kami juga kena tilang? Oh Tuhan, kenapa ini begitu rumit sekali?" sambung Andre kebingungan.


David terus memukul dan menangkis serangan para preman.


__ADS_2