
Dia terus celingukan seperti orang hilang di pinggir jalan. Dia kebingungan harus berbuat apa. Tadi pagi, Damar sudah berpesan pada dirinya agar jangan pulang duluan.
"Em, sebaiknya, aku menunggu di sana saja. Di sini aku kayak orang hilang," gumam Kayra ingin menyebrangi jalan. Karena pikirannya sedang diliputi kebingungan. Tanpa disadarinya dia asal menyebrang saja.
Tiba-tiba dari arah samping ada sebuah mobil melaju cukup kencang. Mobil itu langsung mengklakson dan mengerem mendadak. Otomatis Kayra langsung terkejut. Dia memejamkan matanya karena begitu takut sekali.
Cittt!
Brukkk!
Alhasil mobil tersebut sedikit menyerempet tubuh Kayra. Kayra terjatuh ke aspal. Sang pengendara segera turun dari mobil untuk mengecek kondisi Kayra. Dia begitu takut dan cemas kalau korbannya itu terluka parah.
Orang-orang yang berada di dekat tempat kejadian perkara langsung berlari mendekat untuk menolong Kayra. Namun, Kayra sudah keburu ditolong yang menabrak.
"Maaf, apakah Mbak terluka serius?" tanya pria tampan itu cemas. Dia membantu Kayra untuk berdiri.
Kayra langsung menggeleng. Jujur dia merasa malu jadi tontonan banyak orang akibat kelalaiannya. Untungnya dia hanya terluka sedikit di sikunya karena membentur aspal.
"Syukurlah. Lain kali, kumohon kalau menyebrang lebih berhati-hati!" nasihati pria tampan itu.
Kayra meringis malu sambil mengangguk saja. Lidahnya sulit sekali digerakkan. Orang-orang yang berada di tempat masih terus menatapnya.
Pria itu langsung bertindak untuk membubarkan orang-orang. Dia tahu kalau Kayra merasa sangat malu jadi perhatian begini.
"Maaf semuanya karena sudah membuat kalian cemas. Mbak ini biar aku yang urus, jadi kalian bisa bubar," ucap pria tampan itu seramah mungkin.
Mereka langsung mengangguk. Lalu, segera bubar barisan.
"Sebaiknya, Mbak ikut denganku saja. Biar aku antar sampai ke rumah," saran pria tampan itu tersenyum manis.
Kayra mengangguk patuh. Dia bingung harus menjawab apa. Jika dia menolaknya, tatapan orang-orang di sekitar sini membuatnya sangat tak nyaman.
Pria itu masih saja merangkul Kayra untuk menutupi rasa malu Kayra. Pelan-pelan mereka melangkah menuju mobilnya. Namun, belum sempat mereka naik. Sebuah teriakan langsung merusak pendengaran Kayra.
"Stop! Mau kamu bawa ke mana istriku?" tanya Damar terbawa emosi. Dia tidak terima melihat istrinya dirangkul seorang pria. Apalagi pria itu tidak dia kenal sama sekali. Dia kan belum tahu kebenarannya.
__ADS_1
Kayra yang hapal dengan suara tersebut langsung menengok ke arah suara. Dilihatnya Damar tengah melangkah cepat menyusulnya.
"Mas Damar," ucap Kayra merasa senang. Akhirnya, orang yang ditunggu-tunggu sejak tadi datang juga. Dia segera melepaskan rangkulan tersebut.
Dia berlari cepat dan merangkul Damar begitu saja. Dia melupakan status asli mereka.
"Ada hubungan apa kamu dengannya? Kenapa dia berani merangkulmu?" tanya Damar menahan emosi. Dia tak boleh lepas kendali saat bercakap dengan istrinya.
"Seb__" penjelasan Kayra langsung dipotong pria tersebut.
"Maaf, aku tidak berniat ingin membawa kabur istri anda! Aku tadi tidak sengaja menabraknya sedikit. Itupun terjadi bukan karena kesalahanku. Tadi, istri anda menyebrangi jalan tanpa hati-hati," sambung pria itu. Karena tak ingin dicap buruk oleh suami korban, pria itu langsung menjelaskan duduk permasalahannya.
"Benarkah yang diucapkannya itu?" tanya Damar masih ragu. Dia menatap sengit pria tampan tersebut.
"Iya benar. Kalau Mas ingin lebih percaya ... Mas boleh tanya sama orang-orang yang ada di sekitaran sini," jelas Kayra meyakinkan Damar.
"Baiklah, aku percaya dengan kalian. Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya karena sudah menuduh Anda yang tidak-tidak? Begitu pula dengan kelalaian istriku tadi," ucap Damar tersenyum malu. Tangannya mengusap-usap lengan Kayra.
"Auww!" ringis Kayra kesakitan.
"Iya benar." Damar langsung mengeceknya. Lengan baju Kayra terdapat rembesan darah.
"Mari kita bawa ke rumah sakit saja biar diobati," ajak pria itu panik. Dia takut terjadi hal serius pada Kayra.
"Iya." Damar segera mengajak Kayra.
Namun, Kayra terdiam di tempat. Dia tak mau menuruti ajakan suami dan pria tersebut. Baginya ini hanya luka ringan saja. Jadi, tak perlu meminta pertolongan pihak medis segala.
"Hey, kok malah diam sih! Ayo kita kembali ke rumah sakit! Lukamu ini harus segera diobati agar tidak terjadi infeksi," paksa Damar cemas.
"Iya benar sekali ucapan suami mbak ini," saran pria tersebut agar Kayra setuju.
"Tidak perlu kembali ke rumah sakit! Lukaku ini hanya lecet saja! Jadi, diobati di rumah saja. Kasihan para dokter dibuat sibuk mengobati luka ringan seperti ini. Lagi pula hemat itu pangkal kaya," jelas Kayra tersenyum geli.
Dua pria itu langsung tersenyum sambil menggelengkan kepala tidak percaya. Sikap Kayra ini membuat mereka jadi gemas sekali.
__ADS_1
"Ya ampun, istri anda ini pandai sekali membuat lelucon? Pasti seru sekali rumah tangga kalian?" tanya pria itu tersenyum geli.
"Haha, memang benar dia ini pandai. Hanya saja sedikit lalai. Menyebrangi jalan saja sesuka hatinya tanpa perhitungan sama sekali," ledek Damar terkekeh.
"Ih," sahut Kayra tersipu malu. Wajahnya terasa panas sekali.
"Ya sudah. Kami mohon pamit untuk pulang ke rumah sekarang. Sekali lagi, aku memohon maaf atas kejadian ini," ucap Damar tersenyum.
"Iya. Hati-hati di jalan! Jangan lupa istrinya dijaga ekstra hati-hati agar tidak sembrono lagi," goda pria tersebut sambil tersenyum geli.
Pipi Kayra terasa semakin panas. Dia benar-benar dibuat malu kali ini.
"Siap! Jangan cemaskan soal itu," balas Damar terkekeh geli.
"Assalamualaikum," ucap Damar sebelum melangkah.
"Wa,alaikummussalam," balas pria itu tersenyum.
Damar dan Kayra segera melangkah pergi meninggalkan pria tersebut. Mereka melangkah menuju mobil. Ketika sudah masuk di dalam mobil. Pak Sopir langsung memberi pertanyaan pada mereka.
"Maaf, sebenarnya ada hubungan apa Non Kayla sama pria itu? Kok, pria itu sampai berani merangkul Non segala?" tanya Pak Sopir penasaran sekali. Dia kan tidak ikut turun karena harus menepikan mobilnya dengan benar agar tidak menghalangi lalu lintas kendaraan yang akan keluar dan masuk area rumah sakit.
"Hubungan mereka itu lalai, Pak!" sahut Damar terkekeh.
"Ih, apaan sih," sewot Kayra tersipu malu. Lagi-lagi dia dibuat malu bukan kepayang.
"Lah kok sewot gitu? Kan, memang benar yang aku ucapkan itu," jelas Damar kembali terkekeh.
Pak Sopir hanya ikut tersenyum saja. Jujur dia masih bingung dengan tingkah kedua majikannya ini. Penjelasan Damar seolah hanya gurauan belaka baginya.
"Tapi kan, tidak harus begitu menjelaskannya. Mas bisa langsung menjelaskan yang sebenarnya pada Pak Sopir. Iya kan, Pak?" tanya Kayra meminta dukungan. Bibirnya mengerut.
"Iya," sahut Pak Sopir mengangguk setuju.
"Hem, yang terpenting itu arah pembicaraannya sama," balas Damar mengedipkan matanya genit.
__ADS_1