Bertukar Suami

Bertukar Suami
Kecurigaan Kayla


__ADS_3

Begitu sampai di kamar, Kayla segera menggendong Kaysa. Dia berusaha menenangkan Kaysa agar tangisnya berhenti.


"Cup-cup-cup! Anak manis diam ya!" Kayla menepuk-nepuk bokong Kaysa untuk menenangkannya. Namun, Kaysa masih tetap menangis terisak-isak.


"Kaysa haus ya? Bunda, buat susu mau?" tanya Kayla cemas. Dia mencoba menebak keinginan Kaysa.


Kaysa langsung menggeleng sambil terisak-isak.


"Ya-ya-ya!" celoteh Kaysa menyebut ayahnya.


"Oh, Kaysa mau sama Ayah?" tanya Kayla meyakinkan.


Kaysa mengangguk masih terisak-isak.


"Oh Tuhan, bukan hanya diriku saja yang gelisah menungguinya. Anaknya pun juga melakukan hal yang sama. Semoga saja tidak terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap David," gumam Kayla khawatir.


***


Paginya tepat pukul enam pagi, Kayla membuka matanya karena merasakan ada tangan kekar memeluknya erat. Jujur dia begitu terkejut. Jantungnya berpacu sangat cepat. Otomatis dia membuang kasar tangan tersebut.


"Astaga!" teriak Kayla kuat.


Dia segera bangkit dari posisi tidurnya. Napasnya memburu. Tampaklah David di sampingnya menatapnya bingung.


"Eh, rupanya Mas sudah pulang toh? Maaf, aku kira siapa tadi?" tanya Kayla gugup. Wajahnya pucat. Jantungnya masih berdebar-debar tak karuan.


"Maaf, semalam aku pulang larut karena habis menemani temanku ke rumah sakit. Istrinya ingin melahirkan," jelas David gugup. Terlihat jelas aura penyesalan dari wajahnya.


"Mas, seriuskan nggak lagi bohongi aku? Kok, dilihat dari logatnya, Mas seperti menyembunyikan sesuatu? Apa lagi semalam Kaysa rewel sekali. Aku takut Mas berbuat macam-macam di luaran sana?" tanya Kayla penasaran. Hatinya menolak penjelasan dari David.


"Tidak akan aku berani berbuat macam-macam di luaran sana. Aku kan sudah berjanji akan berubah menjadi sosok suami yang baik, penyayang, bertanggung jawab, setia, serta mencintaimu selamanya," jelas David masih terdengar gugup.


"Hem, awas saja kalau Mas terbukti macam-macam di luaran sana! Sungguh, aku tak akan sudi memaafkan Mas untuk kesekian kalinya," ancam Kayla tak main-main. Dia tak ingin adiknya ini terus diinjak-injak oleh pria macam David. Tekadnya sudah bulat untuk melindungi adiknya dari suami yang suka menyakitinya.


Degggg!

__ADS_1


Jantung David berhenti berdetak. Wajahnya langsung berubah pucat. Ancaman Kayla membuat nyalinya menciut. Dia diam seribu bahasa.


"Bukan hanya itu, aku tak akan segan-segan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Bagiku sudah cukup pengorbanan hati dan jiwa ragaku selama ini. Toh, aku yakin sekali kalau di luaran sana masih banyak pria yang sudi menerima kekuranganku." Kayla segera meninggalkan David yang masih tercengang.


Namun, tak lama David tersadar dan segera turun dari kasur. Dia berlari cepat dan memeluk istrinya dari belakang. Sungguh dia takut sekali kehilangan istrinya ini.


"Nggak, Ra! Aku serius nggak berbuat macam-macam di luaran sana! Aku sangat mencintaimu. Dan sampai kapan pun akan tetap mencintaimu selamanya. Hanya maut saja yang bisa memisahkan kita," jelas David dengan suara serak.


Kayla hanya diam saja. Entah kenapa dia yakin dengan kata-kata cinta David pada adiknya. Namun, soal berbuat macam-macam itu. Hatinya terasa ada yang mengganjal. Air matanya luruh begitu saja merasakan sakit.


"Kamu jangan marah lagi ya? Maaf, kalau sudah membuatmu menunggu semalaman." David membalikkan tubuh Kayla agar menghadapnya. Jujur hatinya langsung teriris melihat air mata istrinya menetes lagi.


"Lain waktu, aku tidak akan mengulanginya lagi," sambung David mengusap jejak-jejak air mata sang istri tercinta.


"Sudahlah! Aku sulit mempercayai kata-kata, Mas! Sungguh aku tak butuh bualan atau sekadar kata-kata manis! Aku hanya butuh bukti!" Kayla segera melepaskan tangan David. Lalu, segera pergi.


David terdiam sejenak meresapi kata-kata istrinya. Matanya pun ikut terpejam. Dadanya sesak sekali. Rasa takut kehilangan istrinya semakin menjadi-jadi.


"Bodoh, kamu David!" Tangannya menjambak rambut frustrasi.


"Ya-ya!" Kaysa sudah berganti posisi duduk di atas kasur. Rupanya pertengkaran kedua orangtuanya membuat tidur nyenyaknya terganggu. Dia memandangi David sendu. Matanya berkaca-kaca.


David segera membuka matanya. Dia terkejut melihat sorot mata anaknya yang sendu. Kakinya segera menjangkah lebar untuk menggapai tubuh putrinya.


"Maafin, Ayah ya! Ayah semalam sudah menyakiti hati kalian! Sungguh Ayah tidak ada maksud sama sekali! Ayah benar-benar menyesal, Nak!" David menggendong tubuh putrinya. Mendekapnya erat. Tanpa disadari air mata lolos begitu saja.


***


Di kediaman Damar, Kayra tampak antusias mempersiapkan diri sebaik mungkin. Hari ini dia berencana pergi jalan-jalan ke tempat wisata bersama Damar. Semenjak kejadian kemarin, Damar akan berusaha meluangkan waktu untuk mengajak istrinya refreshing.


"Mas, nanti kita mampir ke rumah Kayra, ya?" usul Kayra tersenyum. Dia berencana ingin mengajak anak dan saudarinya itu ikut serta.


"Hem, pasti kamu ngajak mampir karena ingin mengajak mereka juga, kan?" Damar menebak yakin keinginan istrinya tersebut. Bibirnya melengkung ke atas.


"Hehe, iya! Bolehkan, Mas?" tanya Kayra tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Tentu boleh! Apa sih yang nggak boleh kalau membuat bumil ini bisa senang dan terhibur." Damar mendekap Kayra dari belakang. Dagunya menempel di bahu Kayra.


"Terima kasih untuk semuanya." Kayra tersenyum senang.


"Iya, cintaku." Damar mengecup punggung Kayra. Menikmati aroma harum tubuh Kayra.


"Oh ya, bagaimana kalau kita ajak David juga biar tambah seru?" saran Damar semangat.


Kayra terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Sepertinya, akan sulit sekali jika dibayangkan. Dia menggandeng tangan suami saudarinya. Sementara saudarinya menggandeng tangan suaminya.


"Biar nanti kalau pas di lokasi Kayra tidak terkesan seperti seorang janda. Memang, kamu tega melihatnya jadi obat nyamuk di sana," sambung Damar penuh candaan. Dia terkekeh geli.


Kayra masih terdiam. Dia kembali mencerna ucapan suaminya.


"Eh, benar juga yang diucapkan Mas Damar. Kalau aku berpasangan dan Mbak Kayla hanya dengan Kaysa ... pasti dia akan begitu sedih menyaksikan kedekatan kami." Kayra tenggelam dengan pikirannya.


"Kok, malah diam saja nih Bumil? Bagaimana setuju atau tidak dengan saran, Mas? Memangnya kamu tega melihat suamimu ini jadi perhatian banyak orang nanti di sana? Pasti banyak sekali sepasang mata yang menghujat, Mas! Soalnya, mereka mengira kalau Mas ini punya dua istri kembar," jelas Damar terkekeh geli.


"Ah, Mas ini bisa saja!" Kayra terkekeh juga.


"Hey, Mas serius loh!" goda Damar terkekeh geli.


"Baiklah, aku setuju!" Kayra terkekeh geli.


"Ya sudah. Ayo kita berangkat sekarang! Kamu sudah selesaikan dandannya? Ingat jangan cantik-cantik! Takutnya nanti badutnya pada naksir sama kamu," goda Damar terkekeh geli.


"Ih, apaan sih, Mas!" Kayra langsung cemberut. Dia segera melepaskan pelukan Damar. Jujur dia kesal sekali dengan Damar.


"Hehe, jangan cemberut gitu dong! Ingat Bumil dilarang keras cemberut atau merajuk! Takutnya nanti menurun ke jabang bayinya," goda Damar lagi.


"Mas!" teriak Kayra langsung memukul tubuh Damar karena kesal.


"Ah, pukulanmu begitu menggodaku, Sayang!" Damar memasang ekspresi wajah seolah terangsang.


"Bagaimana kalau kita pemanasan dulu sebelum berangkat di sana?" goda Damar menunjuk ranjang mereka.

__ADS_1


__ADS_2