Bertukar Suami

Bertukar Suami
Ambruk


__ADS_3

"Maaf, aku harus pulang dulu." David segera melangkah meninggalkan kedua orangtua Nayla. Dia takut semakin lama bertahan di sana malah membuatnya dilema dan mengikuti saran dari mereka.


"Eh, Vid, jangan pergi dulu! Kami mohon jangan pernah talak Nayla! Ingatlah anak yang ada di dalam rahimnya," nasihati ibunya Nayla memohon.


David tidak menggubrisnya. Dia malah mempercepat langkahnya.


"Aduh, Yah! Bagaimana ini? Pasti keluarga kita akan semakin dicemooh para tetangga dan kerabat dekat," ucap ibunya Nayla cemas.


"Entahlah, Bu. Mungkin, kalau aku tiada barulah anak kita itu berhenti mencari masalah," balas ayahnya Nayla memegangi dadanya karena mulai terasa sesak. Detak jantungnya begitu cepat tidak beraturan lagi.


"Sabar, Ayah! Mungkin, ini adalah teguran dari Tuhan untuk kita ... karena terlalu memanjakan dia sejak lahir. Apa yang dia lakukan tak pernah kita larang. Dan, sekarang kita tinggal menerima tuahnya," ucap ibunya Nayla terisak-isak. Tangannya mengusap lembut bahu sang suami untuk menguatkannya.


"Maafkan Ayah, Bu! Aaakkk!" Tubuh ayahnya Nayla langsung tumbang ke lantai.


"Ayah!" teriak ibunya Nayla terkejut. Matanya melebar sempurna.


Hal itu membuat ibunya Nayla kelabakan. Dia segera berjongkok untuk menolong sang suami.


"Yah, bangun!" Tangan ibunya Nayla mencoba menggoyang-goyangkan tubuh sang suami. Air mata terus mengalir di pipinya. Rasa takut dan cemas bercampur menjadi satu.


"Tolong! Tolong!" teriaknya sambil terus menggoyang-goyangkan tubuh sang suami.


Suara teriakannya itu menggema ke seluruh penjuru ruangan yang berada di dekat lokasi. Orang-orang langsung keluar untuk mengecek siapa yang meminta pertolongan.


Setelah melihatnya, beberapa orang di antaranya segera mendekat untuk membantu. Ada pula yang langsung berlari entah ke mana untuk meminta bantuan pada pihak medis.


"Astaga, suami ibu ini kenapa kok bisa pingsan?" tanya salah seorang di lokasi.


"Aku pun tidak tahu. Mungkin, karena kelelahan," kilah ibunya Nayla karena tak ingin mengumbar aib keluarganya.


"Oh, lalu, sekarang kita harus bagaimana ini?" tanya orang-orang panik.


"Tunggu sebentar! Itu tadi ada orang yang hendak meminta bantuan pada pihak medis," terang salah seorang yang melihatnya.


"Baik." Mereka mengangguk mengerti.

__ADS_1


Gladak! Gladak!


Suara ban brangkar semakin mendekat. Mereka semua menatap ke arah suara. Ternyata ada beberapa suster sedang berjalan cepat sambil mendorong brangkarnya diikuti orang yang memanggilnya.


"Nah, itu dia bala bantuannya datang. Mari kita bersiap-siap," ajak seseorang semangat.


"Siap!" Mereka bersemangat sekali.


"Ayo cepat angkat tubuh bapaknya," perintah para suster karena berangkarnya sudah sampai di dekat lokasi.


"Baik, Sus." Ibunya Nayla segera menyingkir dari dekat tubuh suaminya agar orang-orang lebih mudah mengangkatnya.


Mereka bergegas mengangkat tubuh ayahnya Nayla. Lalu, memindahkannya di atas berangkar.


"Ayo Bu, ikut dengan kami," ajak susternya panik.


"Iya." Ibunya Nayla menurut.


"Oh ya, terima kasih semuanya." Ibunya Nayla tersenyum tipis menatap orang-orang yang sudah membantunya.


Di dalam Nayla tidak tahu sama sekali bahwa sang ayah sedang sekarat karena tak kuat lagi menampung beban pikiran. Dia terus menangis dan menjambak rambutnya frustrasi. Dia tidak menyangka segala sesuatu yang awalnya menurut dia enteng jadi terasa sangat berat.


Ternyata dia sudah salah menilai David yang sekarang. Dahulu David memang sangat mencintainya dan sangat berambisi dengan tahta atau jabatan. Dia mempekerjakan David di perusahaan Andre agar bisa menyerap ilmu untuk bekal di masa depan.


Namun, persiapan mereka itu harus putus di tengah jalan karena David harus menikah dengan Kayra. Awalnya Nayla benar-benar terpukul akan pernikahan mereka. Makanya, dia memutuskan untuk mencari pelampiasan di luaran untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya.


Siapa sangka setelah bolak-balik bergonta-ganti pasangan. Tertanamlah benih di dalam rahim Nayla. Dia kembali dibuat defresi karena tidak ada satu pria pun yang sudi mengakuinya. Dari situ, dia berinisiatif menjebak David untuk menutupi aibnya. Dia berpikir kalau David masih mencintainya.


"Kenapa Tuhan tak adil padaku? Kenapa cuma aku yang disiksa begini? Kenapa teman kencanku tidak ada yang mengalami masa-masa sesulit ini. Padahal merekalah yang membuat aku hamil," celoteh Nayla menangis pilu.


"Bahkan, David yang dahulu begitu mencintaiku ... sekarang dia sudah tidak memiliki rasa lagi padaku. Andai saja, aku tak terbawa arus luka. Mungkin, dia masih mencintaiku asalkan aku masih sudi berada di dekatnya kala itu," sambung Nayla menyesal.


Tok! Tok! Tok!


Pintu ruangan Nayla diketuk seseorang. Namun, dia sama sekali tidak menggubrisnya. Dia masih fokus dengan lamunan pahitnya.

__ADS_1


Ceklek!


Karena tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Akhirnya, pintu ruangan Nayla dibuka tanpa persetujuan terlebih dahulu. Tak lama masuklah seorang suster menatap Nayla iba. Kondisinya yang awalnya sudah kacau jadi semakin miris.


"Maaf, kedatangan saya kemari ingin menjemput Mbak," ucap susternya terus menatap Nayla.


Nayla menatap nyalang susternya. Dia semakin kesal mendengar penuturan sang suster. Menurutnya sang suster tidak bisa mengerti perasaannya juga.


"Mbak, ayo ikut dengan saya. Ibunya mbak sudah menunggu," ulangi susternya.


"Buat apa saya ke sana! Saya ingin di sini saja," tolak Nayla karena belum tahu kondisi ayahnya saat ini.


"Tapi Mbak, ayah mbak sekarang sedang ditangani oleh dokter. Jadi, ibunya mbak meminta mbak ke sana," terang susternya meyakinkan Nayla agar mau ikut dengannya.


"What, maksud suster ... ayah saya sedang sakit sekarang?" tanya Nayla menganga.


"Iya benar. Tadi, ayahnya mbak terkena serangan jantung," jelas susternya sedih.


"Astaga, ayo antar aku ke sana!" Nayla hendak mencopot selang infus yang menempel di urat nadinya.


"Eh, Mbak, kok itu selangnya malah dicopot segala? Biarkan saja!" cegah susternya cemas.


"Keadaanku sudah baik-baik saja. Jadi, aku tak membutuhkannya lagi," jelas Nayla segera menarik asal selang infusnya. Dia sama sekali tidak merasa kesakitan.


"Baiklah! Mari kita ke sana sekarang," ajak susternya melangkah duluan.


Nayla mengangguk. Lalu, mengikuti langkah susternya. Selama perjalanan menuju ruangan sang ayah. Nayla menjadi sorotan banyak orang yang tidak sengaja berpas-pasan dengannya. Dia tak memedulikan hal itu.


Pandangannya tetap lurus ke depan. Seolah, dia tak mengetahui aksi orang-orang tersebut. Bahkan, dia menulikan telinganya saat mendengar beberapa orang membicarakan dia.


"Kamu tak mendengarnya, Nayla. Fokuslah pada kedua orangtuamu saja," batin Nayla menyabarkan hatinya.


Setibanya di depan ruangan di mana sang ayah ditangani. Nayla melihat sang ibu masih berdiri tepat di depan pintu. Tampaklah wajah ibunya begitu khawatir dan cemas. Beberapa anggota tubuhnya ikut bergerak-gerak menandakan dia begitu gelisah sekali.


"Bu, maafkan Nayla? Ini semua terjadi karena ulah bodoh Nayla?" Nayla langsung memeluk erat tubuh sang ibu dari samping ketika sudah sampai didekatnya.

__ADS_1


__ADS_2