
"Hehe." Kayra cengengesan. Dia sama sekali tidak merasa bersalah.
"Hem, kau ini." Damar mengucek rambut Kayra gemas.
"Buruan, aku sudah nggak sabar," rengek Kayra manja.
"Iya, istriku tercinta. Tapi, ingat habis makan nggak boleh dimuntahin lagi," ledek Damar terkekeh.
Kayra hanya mengangguk saja.
Damar segera membuka kotak nasi gorengnya. Aroma sedap langsung menguar ke mana-mana. Cacing-cacing di perut Kayra semakin berjoget-joget karena tak sabar lagi minta jatah.
"Hem, sedapnya!" Damar mengendus uap nasi gorengnya.
"Ih, kok lama banget sih? Ayo cepat! Aku sudah lapar, ih!" Kayra cemberut.
"Sabar, istri sabar tambah disayang suami," goda Damar terkekeh. Dia sengaja memperlambat aksinya untuk menggoda Kayra.
"Mas!" tegur Kayra kesal.
"Hehe. Ayo buka mulutmu!" perintah Damar mulai menyendokkan satu suapan nasi goreng.
"Aaakkkk!" Kayra mangap seperti anak kecil.
"Akk ... em!" Damar menggoda Kayra dengan mengarahkan sendok ke mulutnya sendiri.
"Mas!" Kayra semakin kesal. Dia membuang mukanya ke arah lain.
"Iya-iya. Aaakkk!" Damar sekarang serius menyuapi Kayra. Namun, Kayra sudah tidak bernafsu lagi.
Kayra diam saja tidak meresponnya sama sekali. Sebulir air lolos dari sela-sela matanya. Dia kecewa berat diledeki Damar.
"Hey, kalau nggak mau ... aku makan loh ini," goda Damar lagi.
Kayra tidak menggubrisnya sama sekali. Debit air di matanya semakin banyak. Dadanya terasa sesak dan perih menahan kekesalannya.
Damar belum juga menyadarinya. Dia berpikir kalau Kayra tidak sampai segitunya.
"Sepertinya, kamu memang mengizinkan aku mencicipinya," goda Damar lagi.
"Hiks-hiks-hiks!" suara lirih Kayra sesenggukan.
Mata Damar melebar sempurna. Dia baru sadar kalau istrinya sampa menangis karena ulahnya.
"Hey, jangan menangis! Aku hanya bergurau saja! Maafkan aku jika membuatmu kesal," ucap Damar menyesal. Tangannya mencoba membenarkan posisi pandangan istrinya agar menghadap ke arahnya.
Kayra tidak menggugu. Dia terus menangis. Tentu saja hal itu membuat Damar bingung. Sulit baginya mengembalikan mood sang istri kalau sudah merajuk begini.
__ADS_1
Dia segera melangkah berpindah posisi ke arah Kayra menatap. Namun, Kayra langsung melengos lagi ke arah lain. Damar benar-benar dibuat kelabakan sendiri.
"Aduh, kamu memang suami bodoh Damar. Sudah berulangkali kamu melakukan kesalahan seperti ini," batin Damar defresi.
"Please, jangan marah! Maafkan Mas karena sudah meledeki kamu berlebihan! Kamu boleh pukul Mas sekuat tenagamu!" Damar meraih tangan Kayra lalu memulul-mukulkan ke wajahnya.
Bukannya hal itu memperbaiki suasana, yang ada selang infus Kayra malah mengalirkan darah. Lagi-lagi Damar sudah bertindak ceroboh.
"Set," ringis Kayra menahan nyeri karena darahnya terasa tertarik ke atas.
"Eh, kamu kenapa, Sayang?" tanya Damar panik.
Kayra tidak memedulikan kepanikan Damar. Dia terus meringis kesakitan saja.
"Mana yang sakit?" Mata Damar semakin melebar saat melihat darah Kayra mengalir ke di dalam selang infus.
"Astaga, kamu tunggu sebentar! Akan kupanggilkan dokter atau suster untuk menanganinya!" Damar meletakkan tangan Kayra kembali ke bawah. Lalu, segera berlari cepat menerobos pintu ruang rawat Kayra.
Tak lama Damar kembali lagi bersama seorang suster. Suster pun ikut terkejut melihatnya.
"Astaga, kenapa bisa sampai seperti ini? Apa pasien bergerak terlalu aktif sehingga darahnya naik ke selang infus?" tanya susternya penasaran.
"Maaf, ini semua karena salahku, Sus." Damar menunduk sedih.
"Hem, lain kali jangan diulangi ya, Pak! Kasihan istrinya," nasihati Suster.
Setelah selesai memperbaiki selang infus Kayra, sang suster segera pergi meninggalkan ruangan. Damar segera mendekati Kayra sambil memegang kaki kotak nasi gorengnya.
"Kita lanjutkan makannya yuk!" sapa Damar tersenyum tipis.
"Makanlah sendiri! Aku sudah tidak lapar! Aku ingin tidur saja!" Kayra menatap ke arah lain karena masih kesal.
"Hem, aku tahu kalau kamu berbohong! Please, maafkan Mas! Mas, tadi hanya bercanda saja! Ayo Mas suapin!" Damar buru-buru menyendokkan nasi gorengnya untuk disuapkan ke Kayra.
"Aakkk!" perintah Damar bersiap-siap.
Namun, Kayra tidak menggubrisnya. Dia tetap diam.
Damar segera berpindah posisi ke bagian ranjang sebelahnya. Sungguh dia dikejutkan ketika mendapati Kayra sudah memejamkan matanya. Hatinya terenyuh. Menyesal tentu saja.
"Oh Tuhan, apa yang sudah aku lakukan pada istriku? Sungguh aku menyesalinya! Gara-gara kejahilanku, dia akhirnya tidak jadi makan." Damar mengecup lembut kening Kayra.
Sebenarnya Kayra belum tidur. Dia hanya berpura-pura saja. Dalam hitungan satu, dua, dan tiga. Kayra segera mengagetkan Damar.
"Dor!" ucap Kayra tersenyum.
Damar langsung terperanjak karena kaget.
__ADS_1
"Hey, kamu!" ucap Damar gemas.
"Hehe, suamiku ternyata suka baper," ledek Kayra cengengesan.
"Hem, tak masalah. Ayo kita makan lagi," ajak Damar tersenyum.
Kayra langsung mengangguk.
Damar bergegas mengambil satu sendok nasi goreng. Lalu, menyuapkannya pada Kayra.
***
Tepat pukul enam pagi, Kayla mengerjap-ngerjapkan matanya mulai terbangun dari tidurnya. Dia terkejut saat merasakan ada tangan kekar melingkar di area perutnya. Bukan hanya itu, bantal yang digunakannya pun sudah berubah.
"Astaga, kenapa bisa seperti ini? Bukannya semalam dia tidur di sana." Kayla segera ingin bangkit.
"Jangan bangun dulu! Aku kedinginan!" David menahan tubuh Kayla.
"Eh, kok dari suaranya? Dia seperti sedang sakit?" Kayla segera membalikkan posisi tubuhnya menghadap David.
Terlihat wajah David begitu pucat. Tangannya langsung terulur menyentuh kening David.
"Astaga, ternyata kamu beneran sakit. Aku harus segera memberikanmu obat sebelum terlanjur parah," ucap Kayla panik.
"Tidak perlu. Aku akan sembuh nanti. Yang aku butuhkan cuma kamu," tolak David tersenyum. Matanya masih terpejam.
"Hussss, jangan ngawur kamu! Yang namanya sedang sakit itu sembuhnya pakai obat bukan aku," sewot Kayla kesal.
Dia yakin kalau ini hanya akal-akalan David untuk merebut hati adiknya.
"Sakitku ini berbeda dengan sakit demam pada umumnya. Sakitku ini karena kamu. Jadi, asalkan kamu ada di dekatku ... pasti aku akan sembuh. Namun, jika kamu menjauhi aku ... maka aku akan sakit seperti ini," jelas David tersenyum tipis.
"Aduh, ini pasti hanya akal-akalanmu saja. Sudah, aku mau bangun dulu. Kasihan nanti kalau Kaysa bangun belum ada yang dimakan. Seharusnya, kalau kamu adalah Ayah yang baik ... pastilah kamu paham dengan kebiasaan anak sendiri," sindir Kayla menatap sinis David.
"Ups, baiklah. Biar aku saja yang belikan makanan untuk kalian!" David pelan-pelan melepaskan pelukannya. Lalu, berusaha bangkit.
"Sudahlah, kamu tidur saja!" cegah Kayla menahan tubuh David.
"Tidak bisa. Di luar masih tetap hujan. Jika kamu yang pergi keluar ... takutnya nanti kamu sakit. Aku tak ingin Kaysa terbengkalai kalau kamu sampai sakit." Kayla tercengang mendengar ucapan David.
David menyingkirkan tangan Kayla lembut. Lalu, segera bangkit.
"Tidak perlu keluar segala!" cegah Kayla memegang tangan David.
"Berbaringlah!" tegas Kayla.
"Maksudmu?" tanya David bingung.
__ADS_1