Bertukar Suami

Bertukar Suami
Berdarah


__ADS_3

Tangan pria itu bergegas maju ingin menyentuh tubuh Kayla. Ternyata dia bukan berniat menggendong Kaysa.


Namun, dia hendak mengganggu Kayla.


Kayla otomatis menggeser tubuhnya agar tidak tersentuh pria itu.


"Hey, kenapa kamu malah menjauh! Jangan munafik deh! Kemarin saja kamu memasukkan pria yang bukan muhrimmu ke dalam. Padahal dia hanya tukang ojek." Pria itu tersenyum mengejek.


"Jaga bicaramu itu! Dia masuk karena membantuku! Cepat keluar kamu! Atau aku akan berteriak agar orang-orang menghajarmu!" ancam Kayla menakuti pria tersebut. Kini dia benar-benar takut.


"Teriaklah! Toh, orang-orang kos masih pada sibuk keluar olah raga pagi di lapangan. Jadi, teriakanmu hanya akan membuang tenaga saja," jawabnya enteng. Dia terus melangkah maju.


Sementara Kayla semakin memundurkan langkahnya untuk menghindar. Kayla tidak memedulikan ucapan orang tersebut. Dia tetap berteriak meminta tolong.


"Tolong! Tolong!" teriak Kayla ketakutan.


Brukkk!


Tubuh Kayla didorong pria tersebut hingga terjungkal ke kasur. Untuk posisi Kaysa masih tetap di atasnya. Jadi, Kaysa masih aman. Hanya saja dia langsung menangis karena direbut paksa pria itu.


"Huwaaaaa!" Tangis Kaysa membahana. Pastilah tubuhnya sakit karena terus ditarik paksa.


"Jangan sentuh anakku!" Kayla masih terus berusaha menahan tubuh Kaysa. Dia paham kalau setelah pria ini berhasil merebut tubuh Kaysa. Pasti pria itu akan mengganggunya.


"Lepaskan dia! Atau kamu tahu akibatnya!" ancam pria tersebut mulai naik darah.


Terlalu bising, membuat kedatangan David tidak didengar pria tersebut. David segera berlari cemas karena mendengar keributan di dalam. Belum lagi tangis Kaysa semakin kencang saja. Dia segera membuka pintu kamar istrinya. Namun, ternyata dikunci.


Tanpa menunggu lama, David segera mendobraknya. Ras takutnya membuat tenaga super David keluar walaupun masih sakit. Jadi, sekali dobrak pintu itu runtuh.


Brakkk!

__ADS_1


Pria tersebut langsung menghentikan aksinya. Sementara David menatap nyalang pria tersebut. Dia marah karena pria itu berani mengganggu istrinya.


"Kamu!" David bergegas mengahampirinya. Lalu, menarik paksa tubuh pria tersebut.


"Ma-maaf, Mas! Aku hanya ingin membantunya mendiamkan anaknya saja kok," ucap pria tersebut ketakutan. Wajahnya meringis. Tubuhnya menggigil hebat.


"Huh, memang kau pikir aku ini pria bodoh, hah!" David melayangkan bogem mentah ke wajah pria tersebut. Darah segar langsung mengucur dari sudut bibirnya.


"A-ampun! Aku janji tidak akan berani lagi mengganggu istri mas," mohon pria itu memelas.


"Huh, enak sekali kau meminta maaf! Aku tidak akan puas kalau belum menyiksamu!" David menggeret paksa tubuh pria itu keluar kamar. Lalu, kembali melayangkan bogem mentah ke wajahnya. Kemudian, melemparnya hingga tersungkur ke tanah.


Pria itu muntah darah dan mengeluarkan giginya yang copot. Kondisi kos-kosan yang memang sepi membuat dia tak jadi perhatian banyak orang.


David segera masuk kembali, tak lupa menutup pintunya. Belum sempat dia menghampiri Kayla.


Kayla sudah terlebih dahulu berlari dan menghambur ke pelukan David sambil terus menggendong Kaysa. Dia menangis sesenggukan. Sementara Kaysa sudah tidak menangis lagi.


Tangan David terulur mengusap punggung istrinya yang jelas masih begitu ketakutan.


"Baik. Oh ya, maafkan aku karena selalu meremehkan kamu. Andai saja, tadi aku menurutimu. Pasti kejadian buruk ini tidak akan pernah terjadi," jelas Kayla sesenggukkan.


"Ya sudah. Lain kali kalau suami menasihati tolong didengar dan dijalani. Bagaimana coba ... kalau aku tadi datangnya terlambat! Pasti orang tersebut sudah bertindak yang tidak-tidak padamu." David kembali mengecup pucuk kepala Kayla.


"Iya, lain kali aku tidak akan mengulanginya." Kayla masih sesenggukan.


"Sini Kaysa biar aku yang pegang. Kamu siapkan pakaiannya. Lalu, kita sarapan! Habis sarapan kita pulang ke rumah ya?" David menghapus jejak-jejak air mata Kayla.


"Iya." Kayla mengangguk. Lalu, menggeser tubuhnya agar David lebih mudah meraih tubuh Kaysa dari gendongannya.


David segera meraih tubuh putrinya. Sementara, Kayla segera mendekati tas untuk mengambil baju Kaysa.

__ADS_1


Sambil menunggu Kayla menyiapkan pakaian Kaysa. David keluar kembali sambil tetap menggendong tubuh putrinya untuk mengambil makanan yang dibelinya tadi.


"Maafin, Ayah! Gara-gara kecerobohan Ayah! Kalian harus menanggung semua beban ini," gumam David terus melangkah mendekati motornya.


Kayla samar-samar mendengar celotehan David pada anaknya. Dia bingung sekali harus berbuat apa untuk adiknya. Di sisi lain David sudah berulang kali menanamkan luka di hati adiknya. Di sisi lain pula, David berusaha bertahan untuk terus bersama adik dan anaknya.


"Oh Tuhan sesulit ini menentukan yang terbaik untuk adikku," gumam Kayla sedih.


Dia melamuni nasib sang adik yang begitu miris.


"Hey, kok malah melamun?" tegur David tersenyum manis. Dia meletakkan plastik bungkusan di atas meja kecil tak jauh dari pintu.


"I-iya, ini bajunya sudah ketemu kok." Kayla segera beranjak mendekati David.


Di atas kasur, mereka saling membantu memakaikan baju Kaysa agar cepat selesai. Habis itu mereka akan sarapan bersama-sama.


Satu jam berlalu, mereka sudah selesai sarapan. David bahkan sudah pergi duluan untuk meminta izin pada pemilik kos-kosan soal kepulangan istrinya. Setelah itu, dia pulang terlebih dahulu untuk mengurus istri mudanya, Nayla.


Tidak mungkin dia membiarkan Kayla dan Nayla tinggal satu rumah. Bisa-bisa nanti Nayla menyusahkan istrinya. Bahkan akan menanamkan luka yang lebih dalam lagi pada istrinya. Dia paham karakter Nayla yang manja itu.


Di rumah Nayla terus memasang wajah ditekuk menunggu kepulangan David. Bolak-balik dia merubah posisinya dari duduk lalu berdiri untuk menengok David dari jendela.


Mendengar suara motor menepi tepat di depan rumah membuat bibir Nayla melengkung ke atas. Dia beranjak dari kursi dan berlari cepat untuk membukakan pintu. Setelah pintu terbuka lebar, dia dibuat kesal melihat penampilan David yang sudah berubah.


"Apa yang kamu lakukan semalam? Kenapa pakaianmu ganti?" tanya Nayla jutek. Hatinya panas membayangkan malam pertamanya direnggut istri pertama David.


"Tentulah aku bermalam dengan istriku," jelas David santai. Dia sama sekali tidak merasa berdosa sudah meninggalkan Nayla sendirian demi mencari istri dan anaknya.


Hati Nayla semakin mendidih mendengarnya. Ingin sekali dia protes. Namun, dia tidak berani. Dia tak ingin hubungannya dengan David semakin jauh karena kecerobohannya.


"Pasti hangat sekali jika tidur dipeluk suami. Sayang, aku hanya istri malang yang tidak akan mendapatkan semua itu," sindir Nayla kesal.

__ADS_1


David tidak menggubrisnya sama sekali.


"Cepat tutup pintunya! Ayo aku antar kamu pulang ke rumah! Sebentar lagi yang beli rumah ini datang! Jadi, kita harus segera pergi," ajak David berbohong. Kalau dia jujur pastilah akan sulit mengajak Nayla pulang.


__ADS_2