
"Iya betul sekali itu, Bu. Kalau kamar mereka di bawahkan tidak terlalu repot seperti ini," sahut Mbok Nem setuju.
"Baiklah! Nanti, akan aku bicarakan sama Damar soal ini." Ibunya Damar tersenyum.
Begitu melihat Damar sudah mulai menuruni anak tangga. Pandangan mereka terua fokus melihat aksi Damar. Terlihat jelas wajah Kayra begitu pucat. Bahkan, tangannya saja begitu loyo. Dia sama sekali tidak berpegangan pada Damar.
"Ayo Bu kita berangkat!" ajak Damar ketika sudah sampai di lantai bawah.
"Iya, Nak!" Ibunya Damar tersenyum.
"Mbok, kami berangkat dulu! Doakan menantu dan cucuku baik-baik saja ya, Mbok!" pamit ibunya Damar.
"Iya, Bu. Aamiin."
Ibunya Damar bergegas melangkah pergi meninggalkan Mbok Nah.
***
Kini mereka sudah sampai di rumah sakit terdekat. Kayra sudah berada di dalam ruangan rawat bersama para suster dan dokter. Mereka tampak sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang bertugas memasang selang infus di pergelangan tangan Kayra. Ada juga yang sibuk memasang lubang hidungnya dengan selang oksigen.
Kayra terus menatap langit-langit kamar. Pandangannya kosong. Tubuhnya tak bertenaga sama sekali. Dia seolah tidak memedulikan apa yang diperbuat para suster dan dokter padanya. Hanya saja air terus menetes dari pelupuk mata.
"Oh Tuhan, apakah ini karma atas perbuatan buruk yang kujalani selama ini? Jika Engkau mengizinkan ... aku mohon lindungilah selalu janin yang ada di dalam rahimku ini sampai dia dilahirkan dengan keadaan yang sempurna. Ini merupakan harapan terbesar untuk saudari perempuanku," gumam Kayra dalam hati. Tetesan demi tetesan air terus luruh dari matanya.
"Bu Kayla!" sapa Bu Dokter tersenyum. Dia seolah paham apa yang sedang dipikirkan Kayra.
Kayra tak mendengarnya. Dia terus melamun sambil menatap langit-langit kamar. Dia takut. Dia cemas akan keselamatan janin yang ada di dalam rahimnya.
"Bu Kayla!" Tangan Bu Dokter menyentuh tangan Kayra. Mengusapnya lembut untuk menyadarkan Kayra dari lamunannya.
Sontak Kayra langsung melengos ke arah tangan itu berasal. Dia tersenyum tipis menatap sang dokter yang juga tersenyum padanya.
"Em, Bu Kayla melamuni apa sih? Jangan terlalu cemas atau khawatir. Kondisi yang dialami Bu Kayla ini memang kerap kali menguras tenaga. Akan tetapi, apa yang terjadi pada Bu Kayla tidak berpengaruh kok pada tumbuh kembang janin ibu. Tadi, kami sudah melakukan USG. Kondisi janin ibu terlihat baik-baik saja," jelas Bu Dokter menyemangati Kayra. Dia sengaja tak ingin membuat setres Kayra.
__ADS_1
"Dokter seriuskan?" tanya Kayra tersenyum tipis.
"Iya. Apa kamu ingin melihatnya? Jenis kelaminnya juga tampak loh," jelas Bu Dokter tersenyum.
Kayra tersenyum sambil menganggukkan kepala. Hatinya merasa senang dan bersyukur mendengar penjelasan dari dokternya.
"Sus, tolong panggil suami dan keluarganya agar ikut masuk ke sini! Pasti mereka juga ingin melihat perkembangan janinnya!" pinta Bu Dokter tersenyum.
"Baik, Dok!" Salah satu susternya segera melangkah keluar.
Tak lama kemudian, Damar dan kedua orangtuanya masuk. Kayra menyambut kedatangan mereka dengan bibir tersungging ke atas.
Damar langsung berdiri tepat di samping kepala ranjang Kayra. Tangannya langsung mengusap pucuk kepala Kayra lembut.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah baikkan?" tanya Damar tersenyum hangat.
Kayra langsung mengangguk. Bibirnya melengkung ke atas. Kecemasannya sudah sirna.
"Syukurlah, semoga saja rasa lelahmu ini membuahkan hasil yang memuaskan," ucap Damar menyemangati Kayra.
Mereka yang ada di dalam ikut tersenyum juga. Mereka merasakan kehangatan yang tercipta dari sepasang suami istri tak sungguhan itu.
"Mari kita lihat perkembangan janin Bu Kayla," ucap Bu Dokter tersenyum.
"Iya, Dok." Mereka mengangguk setuju.
Kini mereka semua menatap ke arah layar monitor. Rasa tidak sabar membubuhi hati mereka. Salah satu dari suster mulai mengoles gel ke perut Kayra. Setelah itu, Bu Dokter segera memasang alat ke perut Kayra. Lalu, menggerak-gerakkannya.
Mereka tersenyum senang saat melihat janin Kayra tampak jelas di layar monitor. Damar menggenggam erat tangan Kayra. Hatinya berbunga-bunga. Apa yang dinanti-nantikan terus berkembang baik di rahim Kayra.
"Mari kita cek jenis kelaminnya," ucap Bu Dokter tersenyum. Tangannya mengarahkan alat ke bagian bawah janin. Cukup lama Bu Dokter menggerak-gerakkan alat tersebut untuk mencari keberadaan jenis kelaminnya. Begitu berhasil menemukannya, tampaklah jenis kelamin janin Kayra.
"Atas izin Tuhan, jenis kelamin janin kalian laki-laki. Coba kalian amati dengan seksama," ucap Dokter tersenyum senang.
__ADS_1
"Syukurlah! Aku akan memiliki jagoan dan penerus perusahaan di kala aku tua nanti," ucap Damar sangat gembira. Sungguh ini merupakan berkah tiada tara untuknya.
Mereka juga yang ada di dalam ikut merasa senang dan bahagia.
"Terima kasih untuk perjuanganmu selama ini." Damar mengecup kening Kayra lembut dan cukup lama. Kayra hanya mengangguk saja. Setitik air mata kebahagiaan luruh kembali.
Semua yang ada di sana langsung merasa terharu. Ibunya Damar bahkan ikut menitikkan air mata kebahagiaannya.
"Ternyata Tuhan memberi kita hadiah istimewa atas kesabaran kita selama ini ya, Yah?" Ibunya Damar menyandarkan pucuk kepalanya di bahu sang suami.
"Iya, Bu." Ayah mengusap bahu istrinya lembut.
Setelah merasa puas menyimak janin Kayra. Bu Dokter segera menghentikan kegiatannya. Dia juga bersama para suster memohon izin untuk pamit kembali ke ruangan.
Kini tinggal Kayra, Damar dan kedua orangtuanya. Mereka mengajak berbincang Kayra untuk menghiburnya.
"Wah, nanti kalau si baby lahir ke dunia pasti wajahnya tampan mirip aku," ucap Damar dengan bangganya.
"Hem, biasanya sih kalau bayi laki-laki itu lebih mirip ke ibunya loh," ledek ibunya Damar tersenyum geli.
"Hisk, pasti Ibu cuma mengarang saja, kan? Buktinya teman-temanku ... merata anak lelakinya mirip ayahnya?" tanya Damar tidak percaya.
"Coba saja lihat dirimu itu! Apakah kamu mirip dengan ayahmu? Tidak, kan?" ledek ibunya Damar tersenyum menang.
"Hem, itukan aku! Pasti waktu Ayah memproduksi aku ... Ayah itu kalah semangat dari Ibu. Makanya, wajahku lebih mirip Ibu ketimbang Ayah," balas Damar tersenyum mengejek.
"Memang benar sih yang kamu ucapkan itu! Hampir tiap malam dia__" Ibunya Damar langsung menjewer telinga Ayah kuat. Makanya Ayah langsung menghentikan ucapannya.
"Eh, ampun, Bu! Ayah nggak jadi deh!" rengek Ayah meringis kesakitan.
Kayra dan Damar langsung menahan tawa melihat kegiatan kedua orangtuanya yang sangat lucu. Mereka tidak menyangka bahwa pembahasan mereka akan menimbulkan mala petaka untuk Ayah.
"Hem, awas saja kalau berani macam-macam sama Ibu," ancam ibunya Damar mendelik. Sorot matanya begitu lebar dan mengerikan sekali. Tentu saja nyali Ayah semakin menciut.
__ADS_1
"I-iya, istriku yang paling cantik bak bidadari turun dari kayangan. Aku janji tidak akan berani mengumbar aib lagi," janji Ayah masih meringis kesakitan. Ibu belum juga menghentikan jewerannya itu.