
3 Tahun kemudian
malam hari di rumah pak Tohir
"pak, bu, ku rasa sekarang sudah waktunya aku harus mencari pekerjaan" kata Ana "Anafi juga sudah pintar sekarang, jadi aku tidak telalu khawatir lagi" (Anafi adalah anak laki-laki dari Ana dan Firman (Filio)
"kamu yakin" tanya Sumi
"iya bu, tabunganku juga sudah menipis" jawab Ana
"memangnya kamu mau cari kerja di mana?" tanya pak Tohir
"aku ada teman pak dikota, mungkin aku sudah mengecewakannya. tapi aku akan mencoba minta pertolongannya, dia orang yang baik, aku yakin dia pasti mau membantu ku" jelasnya
"kalau begitu bapak besok antar kamu menemuinya"
"Tidak usah pak, aku akan pergi menemuinya sendiri. bapak cukup antar aku cari kontrakan di kota" jawabnya
"baik lah kalau begitu" kata Pak Tohir.
"ndok kalo kamu sudah tinggal di kota jangan lupa sering-sering main kemari ya, ibu pasti akan kesepian kalau kamu gak ada disini" kata Sumi dengan wajah muram karna merasa barat akan di tinggal pergi oleh Ana, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"iya, bu... "jawab Ana " jika ada waktu senggang aku pasti akan main ke rumah ibu" kata Ana "ibu dan bapak adalah orang tuaku, saat ini aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali kalian" Ana pun ikutan sedih.
pagi hari di perusahaan Putra jaya
Ruang kerja Rudi
"puk" Wilson memukulkan sebuah berkas laporan diatas meja kerja Rudi.
"apa ini?" tanya Wilson marah "laporan yang kamu serahkan pada saya banyak sekali kesalahan"
"tidak mungkin pak, saya sudah teliti dengan benar" Jawab Rudi
"beraninya kamu menipu saya dengan laporan palsu untuk keuntungan mu sendiri" kata Wilson "mulai hari ini kamu gak perlu lagi kerja di sini, kamu saya pecat"
"tapi pak..." kata Rudi terpotong oleh perkataan Wilson
"masih mending kamu cuma saya pecat dan tidak saya masukkan ke penjara" kata Wilson
"pak, dengarkan penjelasan saya pak, saya ini di jebak pak, saya... " Rudi berusaha membela diri
tapi Wilson tidak peduli dengan apa yang akan rudi katakan, Wilson langsung pergi meninggalkan Rudi dan kembali keruangannya.
Beberapa kariawan berbisik setelah melihat pemecatan Rudi.
"rasain tu, akhirnya tidak ada lagi yang berani memotong gaji kita dengan seenaknya"
"iya benar, sekarang kita tidak perlu lagi takut dengan Rudi yang suka menindas kariawan"
"salah sendiri dia sombong dan juga semena-mena, sekarang mampus tu si Rudi"
"sudah-sudah, bubar, kalau pak bos tau kita ngerumpi bisa-bisa kita ikutan di pecat"
tidak ada satupun kariawan yang simpati terhadap Rudi saat itu.
Rudi megemas semua barangnya yang ada di kantor lalu bergegas pulang.
__ADS_1
Sesampainya di rumah
"lho Rud, jam segini kok sudah pualang" tanya Sofi sembari berjalan membawan cemilan hendak menonton Tv
"Aku di pecat ma" Jawab Rudi
"kok bisa?" tanya Sofi
"tau ah ma" jawab Rudi ketus
Tak lama kemudian Bondan pun juga pulang
"lho, ini papa kok tumben jam segini udah pulang?" tanya Sofi spontan saat melihat suaminya sudah pulang.
"ada pengurangan kariawan di kantor" jawabnya "papa sudah tua, jadi menurut mereka papa sebaiknya pensiun" jelasnya "ini adalah uang pesangon papa, memang lumayan besar, tapi mama harus pintar-pintar mengelola keuangan jangan terlalu boros, karna papa sudah tidak bekerja lagi" Bondan memberikan pesangon itu kepada istrinya.
"ya ampun pa...!, ini bukan lumayan lagi tapi banyak banget" kata Sofi
"tapi papa udah gak kerja lagi ma"
"iya juga ya" ketololan Sofi mulai bangkit "kenapa jadi gini sih, papa gak kerja lagi Rudi juga dipecat"
"apa?, Rudi di pecat?, kok bisa?" Bondan bingung di buatnya
"entah lah pa"
"pasti si Rudi menyeleweng, makanya di pecat" kata Bondan
"udah lah pa, kita pikirin jalan lain aja, lagian masih ada Anita yang bekerja cari uang"
"tapi Anita punya anak kecil ma, kasian kalau harus cari uang sendiri"
"mama ni kalau di bilangi" kata Bondan dengan wajah lesu
sore hari
Ana dan Anafi pergi berbelanja di supermarket di temani oleh pak Tohir
"pak, bapak kalau mau narik lagi gak apa" kata Ana "kalau bapak nemeni kita belanja nanti bapak gak dapat uang"
"gak papa, gak tiap hari juga iya kan Anafi cucu kakek" kata pak Tohir sembari ngliling Anafi yang berada di gendongan Ana
"mama, beli jajan" kata Anafi
"oh, Anafi mau beli jajan ya" kata Ana "kalau begitu, ayo kita beli jajan...!"
"ye ye ye, beli jajan" dengan gembira Anafi mengatakannya "beli es krim juga ya ma"
"oke"
"ayo kek, beli jajan"
"ayo...!"
setelah selesai berbelanja
"ya Ampun Anafi, makan es krimnya lucu banget, blepotan kemana-mana" kata Ana tertawa kecil melihat kelucuan anaknya
__ADS_1
"hahaha, Anafi, Anafi" pak Tohir tertawa melihat Anafi yang mukanya cemang-cemong kena es krim.
Saat berjalan tak sengaja berpaprasan dengan Wilson
"Ana!" panggil Wilson
"pak Wilson" panggil Ana
"kamu Ana kan?" tanya Wilson
"iya pak, ini saya Ana" jawabnya
"gak nyangka aku bisa ketemu kamu di sini" kata Wilso
"iya, kebetulan sekali"
"ini?"
"kenalin ini bapak angkat saya pak Tohir, dan ini anak saya Anafi"
"Anafi" kata Wilson "kenapa Anafi sih!, norak banget mentang-mentang nama mamanya Ana dan papanya Firman trus di gabung gitu. idih, terlalu lebay si Ana ni" batin Wilson (agaknya cemburu)
"pak, sekarang aku sudah ketemu dengan teman ku yang pernah aku ceritakan ke bapak" kata Ana "ini orangnya pak, namanya pak Wilson"
"kalau begitu bapak udah lega sekarang" kata pak Tohir "pak Wilson saya titip anak saya ya pak, tolong bantu dia, saya permisi dulu"
"iya pak" jawab Wilson
"kamu jaga diri baik-baik ya ndok, kalau ada apa-apa hubungi bapak"
"iya pak, bapak hati-hati di jalan"
"iya" pak pak Tohir berjalan pergi setelah menciun pipi Anafi "dada Anafi kakek pergi dulu ya"
"dada kakek" balas Anafi
"sekarang kamu mau kemana An" tanya Wilson
"saya mau pulang dulu pak"
"kalau begitu biar saya antar"
"makasih ya pak"
"iya, kita kan teman" kata wilson "jangan panggil saya pak terus dong, gak enak dengarnya"
Sesampainya di kontrakan Ana
"kamu tinggal di sini?"
"iya"
"ini dekat sekali dengan kantor saya"
"iya pak, saya memang sengaja memilih yang dekat dengan kantor kamu, supaya lebih gampang kalau mau menemuimu"
pipi Wilson memerah dia dibuat gr dengan kata-kata Ana
__ADS_1
"hey, kamu kenapa?"
"tidak!" jawabnya salting "ya...!, ya sudah aku sebaiknya pulang dulu" kata Wilson "besok datanglah ke kantor aku akan menunggumu"