
Damar sedikit ragu dengan istrinya ini. Sepeduli itukah hubungan saudara kembar ini. Sampai-sampai nomor ponselnya hafal.
"Tentu, aku hafal! Kan, dia saudara kembarku! Jangankan nomor ponsel, nomor yang lain pun aku hafal, hehe." Kayra cengengesan.
"Hisk, kau ini semakin menggemaskan saja!" Damar mencubit hidung Kayra pelan.
"Sayang, untuk beberapa waktu ini ... aku tak bisa bermain-main panas-panasan denganmu sampai kondisi kehamilanmu memungkinkan," ucap Damar lesu.
"Mas, serius?" tanya Kayra menyembunyikan rasa senangnya.
"Iya, serius!" Damar mengusap lembut pucuk kepala Kayra.
"Oh ya, jadi tidak menghubungi adikku? Aku sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar baik ini?" tanya Kayra tersenyum.
"Iya, nyonya besarku!" Damar mengecup kembali kening Kayra sekilas.
Kayra tersenyum geli dijuluki nyonya besar. Padahal kalau aslinya dia lebih cocok dipanggil bawahanku.
"Ayo sebutkan nomornya!" pinta Damar siap-siap mengetikkan nomor tersebut ke ponselnya.
"Oke. 0823********!" Kayra menyebutkan nomornya sendiri.
"Good." Damar langsung melakukan panggilan video ke nomor Kayra.
Tak lama munculah wajah sang istri sebenarnya tengah tersenyum manis. Sebenarnya, Kayla sangat merindukan sosok Damar. Namun, demi memiliki momongan. Dia harus ekstra bersabar.
"Ini Sayang sudah diangkat!" Damar segera menyorotkan kamera ponselnya menghadap Kayra. Dia juga ikut berpartisipasi di sana.
Kayla langsung merasa terkejut saat melihat adiknya tengah dirawat di rumah sakit.
"Mbak, lagi di rumah sakit, ya? Kok, nggak bilang-bilang sih kalau sedang dirawat?" tanya Kayla sedih.
"Mbak, baru tadi pagi dirawatnya," jelas Kayra tersenyum.
"Hem, walaupun baru tadi pagi! Setidaknya langsung kabarilah ... jadi, aku bisa persiapan buat ke sana," sewot Kayla kecewa.
Damar melihat ada yang aneh dengam sikap adik istrinya. Dia malah melihat karakter istrinya berpindah ke adiknya, yaitu cepat tanggap. Malah sekarang istrinya ini suka lemot.
"Hehe, buat apa ke sini segala. Toh, nanti siang aku sudah boleh pulang," jelas Kayra tersenyum geli.
__ADS_1
"Kok, cepat amat pulangnya? Memang kamu sedang sakit apa? Bukan karena asam lambungmu yang kumat kah?" tanya Kayla penasaran.
"Bukanlah!" Kayra terkekeh geli.
"Lalu, apa?" tanya Kayla tambah penasaran.
"Sebenarnya, aku udah ngisi." Kayra tersipu malu.
"Hah, yang bener, Mbak?" tanya Kayla terkejut. Suungguh hatinya begitu gembira mengetahuinya. Ternyata rencananya ini benar-benar berjalan lancar.
"Iya, benar! Doakan kehamilanku berjalan lancar tanpa ada hambatan ya," ucap Kayra penuh harap.
"Tentu, doaku selalu menyertaimu." Kayla menitikkan air mata kebahagiaan.
Kayra hanya tersenyum tipis melihat saudarinya menangis bahagia. Sementara Damar langsung mempertanyakan hal itu. Baginya aneh sekali kalau melihat adik iparnya sampai menangis begitu karena ikut merasa bahagia.
"Hey, kenapa kamu malah menangis?" tanya Damar bingung.
"Aku terlalu bahagia, Mas!" Kayla tersedu-sedu.
"Oh. Terima kasih atas perhatiannya," ucap Damar tersenyum senang.
Kayla mengangguk.
Sebulan berlalu, kehamilan Kayra sudah memasuki bulan kedua. Setiap hari dia hanya menghabiskan waktu berbaring dan berbaring. Jujur, dia lelah dan merasa bosan dengan kegiatannya ini.
Seperti saat ini, setelah kepergian Damar. Dia diam termenung sambil memainkan ponsel milik Kayla. Dari pagi sampai sore, terkadang dia melakukan panggilan video call bersama Kayla dan putri semata wayangnya itu.
"Hari ini aku mau ngapain ya? Masa aku tiap hari melakukan panggilan video sama Mbak Kayla. Pasti selain mengganggu kesibukannya ... dia juga pasti merasa bosan. Jadi, aku ngapain ya?" gumam Kayra bingung. Dia terus berpikir keras.
Setelah lama berpikir, tiba-tiba dia menemukan ide cemerlang untuk menghabiskan waktunya ini.
"Hem, aku tahu harus ngapain sekarang. Mendingan aku pergi ke dapur buat mengasah otakku. Selama tinggal di sini ... aku sama sekali tidak pernah praktik membuat makanan lagi. Kalau tidak pernah dipraktikan nanti kalau ada yang memesan bisa-bisa hasilnya buruk karena ilmunya sudah hilang," gumam Kayra segera meletakkan ponselnya di atas nakas dekat kasur.
Dia segera keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur. Dilihatnya rumah sepi sekali. Mungkin orang rumah sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Sesampainya di dapur, dia segera membuka satu persatu lemari untuk mencari alat dan bahan yang dia butuhkan untuk praktiknya. Cukup lama dia muter-muter di dapur. Namun, dia tak kunjung menemukannya. Pinggangnya saja sampai terasa kaku.
"Hem, kok nggak ada sih?" gumam Kayra lesu.
__ADS_1
"Masa iya, rumah sebesar dan mewah begini tidak memiliki peralatan membuat kue," imbuh Kayra begitu kecewa. Sepertinya rencana yang sudah disiapkan matang-matang gagal.
Mbok Nem baru saja kembali dari bersih-bersih halaman luar. Dia merasa aneh melihat Kayra ada di dapur. Dia segera mendekatinya.
"Non Kayla ngapain ada di dapur? Apa ada yang ingin dicemil? Mari biar Mbok buatkan?" tanya Mbok Nem sumringah.
"Memang ada sih, tapi aku ingin buat sendiri saja," jelas Kayra tersenyum.
"Tapi kan, Non tidak boleh kelelahan sama sekali? Jadi, biar Mbok saja yang buat. Non, tinggal reques saja. Kalau Mbok bisa ... pasti Mbok buatkan," ucap Mbok Nem tersenyum. Dia takut kalau sampai terjadi sesuatu pada kehamilan Kayra yang rentan ini.
"Yah, kalau begitu mah nggak seru! Mbok kan tahu bagaimana rasanya kalau ibu hamil lagi ingin sesuatu. Tapi, tidak keturutan," jelas Kayra murung.
"Aduh, benar juga ya. Tapi, kondisi Non sangat tidak memungkinkan. Mbok, takut kalau sampai terjadi sesuatu sama Non dan calon dede bayinya," jelas Mbok Nah cemas.
"Aku yakin tidak akan terjadi sesuatu kok sama kehamilanku ini. Kan, cuma buat roti brownis saja. Bukan mencakul atau melakukan pekerjaan berat lainnya. Boleh ya, Mbok!" Kayra memohon.
"Aduh, Mbok nggak berani memastikan, Non!" Mbok Nem meringis.
"Aih, please!" Mata Kayra berkaca-kaca.
"Biar aku nggak kelelahan ... Mbok, juga di sini membantuku," terang Kayra memohon sangat.
"Baiklah! Daripada nanti Non stres ... kan bisa membahayakan juga." Akhirnya Mbok Nem menyetujuinya.
"Hore, terima kasih ya, Mbok!" Kayra langsung memeluk erat Mbok Nem dari samping.
"Sama-sama. Tapi, Non jangan berlebihan nanti saat membuatnya. Mbok takut Nonnya kelelahan," nasihati Mbok Nem tersenyum.
"Sip!" Kayra mengacungkan jempol.
"Ya sudah. Mbok, mau mempersiapkan peralatan sama bahannya dulu. Non, duduk saja dulu di kursi itu," perintah Mbok Nem tersenyum.
Kayra tersenyum sambil menganggukkan. Dia melepaskan pelukannya. Lalu, melangkah ke kursi.
"Pyuh, akhirnya lolos juga," gumam Kayra sambil memijat pelan pinggangnya yang mulai nyeri. Dia seolah tak takut sama sekali.
Bibirnya terus tersenyum melihat Mbok Nem menyiapkan apa yang dia inginkan.
Setelah semuanya disiapkan dia segera bangkit dari kursinya. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi ingin mengasah otaknya.
__ADS_1
"Mari Mbok, kita mulai buat sekarang!" Kayra meraih gelas kosong di rak piring. Keterbatasan biaya, membuatnya menggunakan alat-alat yang ada saja di rumah. Dia tak mampu membeli timbangan buat menakar bahan-bahan saat membuat brownise pas waktu masih di rumahnya.
"Loh, kok repot-repot pakai itu segala? Kan, ini ada timbangan sama gelas pengukur adonan cairnya?" tanya Mbok Nem tersenyum.