Bertukar Suami

Bertukar Suami
Ternyata Benar


__ADS_3

"Wah, kok riasan Kayra begitu mirip sama Kayla saat menghadiri acara pernikahan anak teman ayah beberapa bulan yang lalu. Pasti orang-orang akan menduga bahwa Kayra itu Kayla," ceplos ibunya Damar tersenyum.


"Iya benar sekali. Bu, ngomong-ngomong soal mereka berdua ... kok Ayah jadi merasa ada__" ucapan ayahnya Damar terhenti karena David dan Kayla sudah di depan mereka.


"Malam Om sama Tante," sapa Kayla tersenyum manis.


"Iya malam juga. Eh, Kaysa sini sama Oma!" Ibunya Damar mengambil Kaysa dari gendongan David.


"Oh ya, kalian langsung masuk saja ke dalam! Itu si Damar sama Kayla pasti sudah nungguin," perintah ibunya Damar tersenyum.


"Baik, Tante." Kayla tersenyum getir. Ternyata riasannya tidak mengundang kontroversial bagi kedua orangtuanya Damar.


Bergegas dia masuk ke dalam dibuntuti David. Lagi-lagi banyak orang yang memperhatikan Kayla. Namun, Kayla tidak meresponnya. Dia fokus menatap ke arah adiknya sedang duduk di atas ambal bersandingan dengan sang suami.


Kayra terus tersenyum menyimak obrolan seru kakak iparnya dengan para sahabat. Sesekali Damar bersikap manja dengan meletakkan kepalanya di bahu Kayra. Tangan kirinya tak lepas merangkul tubuh Kayra dari samping.


"Astaga, belum-belum aku sudah merasa panas melihat aksi suamiku," batin Kayla berhenti sejenak.


"Loh kok, berhenti?" tanya David bingung.


"Aduh, aku kok tiba-tiba kebelet buang air kecil sih. Ayo temani aku dulu mencari toiletnya, Mas." Kayla berpura-pura untuk menghindari aksi Damar dan Kayra yang menyesakkan dada itu.


"Oh, baiklah." David segera melangkah duluan. Dia berharap bisa bertemu dengan salah satu penghuni rumah. Soalnya, ini kali pertama dia berkunjung ke rumah Damar.


Dengan wajah ditekuk Kayla membuntuti David.


"Eh, itu dia Mbok Nem!" tunjuk David pada Mbok Nem. Dia mempercepat langkahnya agar segera sampai.


Sementara Kayla terus melangkah sambil mengumpati kebodohannya.


"Huh, tahu begitu aku tidak usah ikut saja. Kenapa sih, akhir-akhir ini aku suka eror? Kegilaan mulai meracuni pikiranku. Bisa-bisanya aku cemburu dan melupakan peranku sendiri," gerutu Kayla dalam hati. Dia menepuk jidatnya pelan karena baru menyadari kebodohannya.


Brukkk!


Prankkk!

__ADS_1


Pyarrr!


Kayla tidak sengaja menabrak seseorang sedang membawa nampan berisi gelas minuman. Alhasil David langsung menengoknya.


Terlihat Kayla tengah meringis malu. Belum lagi tubuhnya jadi basah karena tersiram air minuman tersebut.


"Astaga!" David segera memukul keningnya pelan karena perbuatan Kayla cukup membuat gempar seisi rumah.


Semua orang yang mendengar langsung menatap Kayla. Mereka berbisik-bisik mengatai perilaku Kayla tersebut.


David segera kembali menghampiri Kayla yang sekarang sedang sibuk membantu orang itu membereskan kekacauan.


"Sudah, biarkan aku saja! Nanti tanganmu malah terluka," peringati David segera berjongkok.


"Iya, Mas." Kayla langsung berdiri.


Tak lama munculah Damar dan Kayra menghampiri mereka. Damar dan Kayra cukup terkejut saat mengetahui siapa yang membuat ulah. Jujur Damar malu sekali pada para tamunya karena ulah sang adik ipar.


"Sayang, tolong bawa adikmu ke dalam kamar tamu. Oh ya, sekalian pinjami dia pakaian," perintah Damar mencoba tetap lembut di depan sang istri. Dia tak ingin sang istri tahu kalau dia tengah kesal.


"Ayo kita ganti pakaian," ajak Kayra.


Kayla mengangguk. Lalu, mereka berdua berlalu dari sana.


"Sudah Vid, biarkan pelayan itu saja yang membersihkannya! Ayo sebaiknya kita mengobrol saja di sana sama para tamu," ajak Damar tersenyum. Dia paham sekali kalau bukan David yang melakukan kesalahan.


"Bentar, ini tanggung sudah mau selesai kok," tolak David terus cekatan membersihkan pecahan beling.


"Hem, baiklah!" Damar menghela napas kasar. Dia masih setia menunggui David di sana.


Di dalam kamar Kayla terus membayangkan mimik muka Damar. Dia paham kalau suaminya itu tengah menahan kesal karena ulahnya tadi.


"Hem, aku yang berulah! Pasti yang dicap buruk Kayra oleh Mas Damar. Bagaimana ini? Ini semua salahku! Ambisiku menghancurkan segalanya. Maafkan mbakmu yang bodoh ini, Ra." Kayla menitikkan air mata penyesalannya.


Kayra sudah kembali lagi ke dalam kamar tamu. Dia membawa pakaian ganti untuk Kayla. Melihat Kayla melamun membuat hati Kayra ikut sedih.

__ADS_1


"Mbak, ini pakaiannya! Ayo cepat diganti biar nggak masuk angin," sapa Kayra untuk menyadarkan lamunan Kayla.


"Eh, iya, makasih!" Kayla mengusap bekas air matanya. Lalu, tersenyum tipis menatap Kayra.


Kayla segera mengganti pakaian di depan sang adik tanpa merasa risih atau malu.


"Mbak, jangan diambil hati ya sikapnya Mas Damar tadi," nasihati Kayra terus menyimak aksi Kayla.


Kayla langsung menggeleng cepat sambil tersenyum tipis.


"Ra, ternyata apa yang kamu takutkan dulu terwujud. Jujur Mbak cemburu melihat Mas Damar mengistimewakan kamu." Kayla mendekati Kayra karena dia sudah selesai mengganti pakaian.


"Bukan hanya itu saja, gara-gara ulah Mbak ... bisa dipastikan kalau Mas Damar akan membenci kamu. Kemarin Mbak sempat lupa diri. Mbak malah bersikap seolah mengaguminya," sambung Kayla menggelengkan kepala cepat.


"Mbak, mungkin ini semua sudah garis hidupku. Jadi, Mbak nggak usah menyalahkan diri sendiri." Kayra mencoba tetap tegar. Sulit baginya mengakui bahwa dia juga ikut terbawa suasana aktingnya ini.


"Tidak ini bukan garis hidupmu. Ini kesalahan terbesar Mbak sudah berani memanfaatkan kondisi keterpurukan kamu. Seharusnya Mbak tidak memintamu untuk menggantikan posisi Mbak hanya untuk mendapatkan keturunan." Kayla menitikkan air mata lagi. Dadanya sesak. Hatinya perih merasakan semua kesalahannya.


Deggg!


Jantung Mbok Nem berhenti sejenak saat tidak sengaja mendengar ucapan Kayla. Dia sekarang sedang berada di depan pintu kamar tamu. Tadi dia diperintahkan Damar untuk menyusul istrinya karena sebentar lagi acara akan dimulai.


"Ya Allah, jadi perbedaan Non Kayla selama ini memang karena yang tinggal di sini Non Kayra bukan Non Kayla," batin Mbok Nem terus diam. Dia ingin tahu lebih banyak lagi soal rahasia Kayla dan Kayra.


"Sudahlah Mbak. Ini semua sudah terlanjur. Mau disesali juga percuma. Nasi sudah menjadi bubur. Jadi, sebaiknya kita jalani tugas masing-masing sampai aku melahirkan," jelas Kayra sendu.


"Iya, Ra. Sekali lagi maafkan Mbak ya karena malah membebani kamu karena ambisi Mbak. Oh ya, kalau bisa kita jangan bertemu lagi sampai kamu melahirkan. Mbak tak ingin menyusahkan kamu lagi karena ulah Mbak," ucap Kayla meyakinkan diri.


"Baik, aku ikuti saja saran Mbak." Kayra mengangguk setuju.


"Oh ya, kalau kamu rindu sama Kaysa. Lakukan panggilan video call saja," jelas Kayla mencari celah.


Kayra mengangguk lagi. Dia pasrah saja mengikuti apapun yang disarankan Kayla. Toh percuma saja dia mengelak.


Setelah puas mendengar rahasia Kayla dan Kayra, Mbok Nem segera mengetuk pintunya. Dia harus bersikap biasa saja seolah tidak mendengar apa-apa.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


__ADS_2