Bertukar Suami

Bertukar Suami
Asal Sebut


__ADS_3

"Tentu boleh dong," jawab ibunya Nayla tersenyum.


"Ya sudah. Ayo kita jalan sekarang biar aku nggak terlambat," ajak David tersenyum senang.


"Iya, Mas." Kayla mengangguk.


"Kaysa jangan nakal ya sama Nenek di rumah. Bunda mau pergi sebentar menemani Bunda Nayla periksa dedek bayinya," pamit Kayla tersenyum.


Kaysa mengangguk.


"Kami berangkat, Bu." David menyalami tangan ibunya Nayla.


"Iya, hati-hati." Ibunya Nayla tersenyum senang. Senang sekali hatinya bisa membuat semuanya baik-baik saja.


"Iya, Bu." Kayla dan David segera melangkah mendekati Nayla.


Begitu mereka sudah dekat, Nayla segera menggandeng tangan Kayla untuk mengajaknya melangkah bersama. Dia terus saja bersikap seolah-olah baik pada Kayra alias Kayla untuk menutupi kedoknya. Soalnya, dia masih belum menemukan celah yang pas untuk menyingkirkan Kayra dari hidup David.


Di kediaman Damar.


Kayra terus mengusap perutnya yang sudah besar sambil berjalan pelan-pelan di dalam kamar. Dia mondar-mandir di dalam kamar berharap rasa keramnya itu segera menghilang. Sejak pagi dia merasakan keram pada perutnya. Namun, dia sengaja diam saja karena bosan membuat gempar seisi rumah.


"Oh Tuhan, kenapa perutku masih keram saja? Apakah mungkin aku akan melahirkan sekarang? Sementara usia kandunganku masih tujuh bulan," gumam Kayra terus meringis menahan sakit.


Dia kembali memejamkan matanya karena keramnya semakin menjadi-jadi. Dia juga merasakan ada sesuatu yang keluar dari jalan lahir. Kemudian, terasa mengalir di selangkangannya.


"Ah!" Kayra membuka matanya perlahan untuk mengecek apa yang mengalir itu.


"Astaga, darah! Ah!" Kayra terkejut sambil meringis merasakan sakitnya saat darah itu terasa semakin deras.


Ingin sekali dia berteriak meminta tolong. Namun, rasa sakit itu membuat lidahnya tak sempat mengungkapkan hal itu.

__ADS_1


"Ah!" Kayra mencoba untuk berjalan keluar pelan-pelan dari kamar. Dia berharap di luar ada orang yang melihatnya.


Begitu sampai di depan pintu, kepalanya mulai terasa pusing dan pandangannya juga kunang-kunang. Sekuat tenaga dia mencoba memutar handel pintu kamar.


Ceklek!


Pintunya berhasil dia buka. Namun, belum sempat dia melangkah keluar. Tubuhnya sudah tumbang dulu dengan posisi miring. Untung saja dia tidak tumbang dengan posisi tengkurap. Jika posisinya tengkurap pastilah akan membahayakan bayi di dalam rahimnya.


Cukup lama Kayra berada di sana. Tidak ada satu orang pun yang melihatnya. Darah segar terus saja mengucur hingga membuat lantai berwarna putih itu dibanjiri air berwarna merah kental.


"Hem, itu kok tumben banget pintu kamar Non Kayla tidak ditutup? Apa orangnya lupa?" gumam Mbok Nem merasa aneh. Tangannya memegang sapu ijuk. Dia baru saja kembali dari menyapu teras rumah.


"Hem, sebaiknya, aku tutup saja deh! Siapa tahu orangnya lupa!" Mbok Nem segera melangkah mendekati pintu.


Begitu sampai di depan pintu matanya membelalak lebar saat melihat tubuh istri majikannya terkapar beralaskan cairan berwarna merah kental.


"Astaga! Non Kayra!" teriak Mbok Nem tidak sadar menyebut nama. Dia segera turun untuk membantunya. Dia memangku kepala Kayra. Menepuk wajahnya pelan untuk menyadarkannya.


"Non Kayra bangun, Non!" teriak Mbok Nem panik. Berulangkali dia berusaha membangunkan Kayra. Namun, Kayra masib saja memejamkan matanya dan tidak bergerak sama sekali.


"Eh, Yah, itu kok si Mbok Nem menyebut-nyebut nama Kayra? Apa jangan-jangan Kayra berkunjung kemari?" tanya ibunya Damar senang.


"Iya, yuk kita hampiri saja! Aku kangen sama si gembul Kaysa," ajak ayahnya Damar semangat.


Mereka bersemangat sekali melangkah menuju ruangan tengah. Mereka menganggap bahwa Kayra dan yang lainnya sedang mengobrol seru di sana. Soalnya, mereka hanya mendengar nama Kayra saja tadi. Mereka tak mendengar saat Mbok Nem berkata yang lainnya.


"Lah, kok kosong sih?" tanya ayahnya Damar merasa aneh karena tak tampak satu orang pun di ruang tengah.


Belum sempat ibunya Damar menjawab. Suara Mbok Nem kembali terdengar sangat nyaring sekarang.


"Non, bangun!" Mbok Nem menangis karena sejak tadi tidak ada tanggapan dari Kayra.

__ADS_1


"Eh, Yah, itu kenapa Mbok Nem menangis sambil membangunkan seseorang? Apa terjadi sesuatu dengan Kayra di rumah kita?" tanya ibunya Damar gelisah.


"Lebih baik, kita tengok saja! Itu kamar Damar terbuka pintunya. Pasti mereka ada di sana," ajak ayahnya Damar bergegas melangkah cepat agar segera sampai di lokasi.


"Iya, Yah!" Ibunya Damar mengikuti langkah ayahnya Damar dengan perasaan cemas.


Sementara Mbok Nem masih saja terus berusaha membangunkan Kayra sambil menitikkan air mata.


"Ya Tuhan, kok nggak ada orang yang nongol sih? Aku nggak tega mau meninggalkannya sendirian" gumam Mbok Nem bingung dan panik. Otaknya buntu karena tak tahu harus berbuat apa. Dia seolah lupa segalanya.


"Astaga! Kayla!" teriak duluan ayahnya Damar terkejut. Tubuhnya gemetar melihat banyaknya darah berceceran di lantai.


"Eh, kenapa dengan Kayla, Yah?" tanya ibunya Damar bingung karena dia belum melihatnya.


Mbok Nem langsung menengok ke arah luar kamar setelah mendengar teriakan ayahnya Damar. Sedangkan, ibunya Damar melebarkan matanya setelah tahu apa yang terjadi.


"Astaga, kenapa kalian hanya diam saja sih? Ayo cepat hubungi pihak rumah sakit untuk mengirimkan bala bantuan kemari," tegas ibunya Damar panik dan takut.


"I-iya, Bu!" Ayahnya Damar segera berlari cepat menghampiri meja yang ada telepon rumahnya.


Ibunya Damar segera turun tangan untuk membantu Mbok Nem.


"Mbok, ini Kayla kenapa bisa seperti ini?" tanya ibunya Damar ikut menangis. Dia takut, cemas dan khawatir sekali dengan menantunya.


"Maaf, aku pun tidak tahu, Bu! Aku tadi sedang menyapu teras rumah. Pas mau kembali ke dapur kok aku merasa aneh sama pintu kamar Den Damar yang terbuka lebar. Jadi, aku kemari mau menutupnya. Eh, ternyata Non ... Non Kayla sudah pingsan bersimbah darah begini," jelas Mbok Nem sedikit terjeda karena dia hampir salah menyebut nama lagi.


Ibunya Damar langsung mengkerutkan keningnya karena merasa ada yang aneh saat Mbok Nem menjeda ucapannya soal menyebut nama Kayla.


"Sebenarnya, Mbok kenapa kok kayak bingung saat menyebut nama Kayla?" tanya ibunya Damar penasaran.


"Eh, bukan bingung, Bu! Aku hanya terlalu panik saja jadi keteteran pas mau sebut nama," jelas Mbok Nem gugup.

__ADS_1


"Em, tadi aku juga sempat mendengar Mbok sebut-sebut nama Kayra segala? Bahkan, gara-gara itu kami kira ada Kayra yang berkunjung?" tanya ibunya Damar penasaran.


Mbok Nem terdiam karena bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia menjelaskan soal keaslian nama orang yang sedang berada di atas pangkuannya.


__ADS_2