Bertukar Suami

Bertukar Suami
Meminta Tes DNA


__ADS_3

"Huh!" Ibunya Damar mendelik kesal lalu melepaskan cubitannya.


Kayra hanya tersenyum geli saja melihat adegan mantan kedua mertua kakaknya itu. Ada rasa senang di hatinya jika merasakan momen lucu seperti ini.


Namun, tiba-tiba dia merasa sedih jika mengingat kemungkinan besar dia tak akan pernah lagi merasakan bahagianya memiliki mertua humoris macam kedua orangtuanya Damar ini.


Mengetahui perasaan campur aduk sang ibu, bayi berkulit merah itu langsung menghentikan isapannya. Dia fokus menatap ke arah wajah Kayra. Seolah dia sudah bisa melihat jelas ekspresi wajah sang ibu saat ini.


"Kok, sudah berhenti? Dedek sudah kenyang, ya?" tanya Kayra tersenyum. Dia menyentuh lembut pipi anaknya.


Bayi mungil itu seketika tersenyum seolah tahu pembicaraan sang ibu.


Melihat aksi anaknya itu, Kayra langsung tersenyum geli. Begitu pula dengan kedua orangtuanya Damar.


"Puji Tuhan, dia tersenyum! Bahkan, senyumannya begitu mirip dengan Damar," puji ibunya Damar tersenyum gemas.


"Iya, dia sangat menggemaskan sekali! Damar rugi sekali sudah mencampakan momen seindah ini." Hati Kayra kembali berdenyut mendengarnya. Namun, dia tetap berusaha tersenyum di hadapan kedua orangtuanya Damar.


"Ayah yakin kalau dia akan sangat menyesalinya suatu saat nanti," ceplos ayahnya Damar terkekeh. Dia segera meraih ponsel di saku celananya. Lalu, memotret wajah si baby yang masih saja tersenyum menatap ibunya.


"Astaga, Ayah ini kalau ambil foto yang benar. Masa iya itu aurat yang masih terbuka difoto juga. Kalau yang lihat cuma kita sih nggak masalah. Akan tetapi, jika orang lain yang lihatkan pamali," omel ibunya Damar kesal.


"Kalau soal itumah gampang, biar Ayah edit. Bagian yang tak layak ini akan Ayah tutup pakai stiker biar aman terkendali." Ayahnya Damar segera mengedit fotonya.

__ADS_1


Kayra langsung menggelengkan kepala sambil tersenyum. Sementara ibunya Damar langsung menghela napas.


"Nah, coba lihat sekarang! Sudah amankan?" tunjuk ayahnya Damar pada sang istri.


"Hem." Ibunya Damar hanya berdeham saja. Lalu, melangkah mendekati ranjang Kayra. Dia ingin menggendong cucunya.


"Bolehkan Ibu menggendongnya?" tanya ibunya Damar tersenyum. Jemarinya menyentuh pipi bayi mungil itu.


"Tentu saja boleh. Malah Kayra merasa senang sekali jika Ibu sudi menggendongnya," balas Kayra tersenyum haru.


"Kamu ini bicara apa sih, Ra? Dia ini cucu ibu. Ibu sudah ikut andil merawatnya saat masih di dalam kandungan. Apa kamu melupakan jasa Ibu," jawab ibunya Damar tersenyum. Dia meraih tubuh mungil itu pelan-pelan.


"Hehe, tentu Kayra tidak akan bisa melupakan momen haru itu," ucap Kayra tersenyum sedih.


"Apa Ibu dan Ayah tidak membenci Kayra karena sudah membohongi kalian selama ini? Belum lagi soal tuduhan Mas Damar padaku itu?" tanya Kayra menahan air di matanya agar tidak runtuh.


"Jujur kami memang sangat shock awal mengetahuinya. Namun, setelah kami pikir-pikir pengorbanan kamu tidak sebanding dengan kesalahanmu itu. Kamu bersedia mengandung dengan rasa sakit yang luar biasa lalu melahirkan dan mempertaruhkan nyawamu untuk memberikan kami seorang cucu," jelas ibunya Damar menitikkan air mata.


Ayahnya Damar segera merangkul bahu istrinya.


"Kalau untuk soal tuduhan Damar itu? Apa kamu bisa memberi penjelasan kepada kami? Soalnya, kami merasa bingung harus memihak siapa? Jelas Damar tidak mungkin mengada-ngada soal uang lima puluh juta itu. Pasti mbakmu sudah menyalahgunakannya?" sambung ayahnya Damar penasaran.


"Sebenarnya, aku hanya meminjam uang senilai tiga puluh juta saja waktu itu untuk melunasi tunggakan rumah sakit saat Kaysa tersiram minyak panas. Dan, Mbak Kayla bilang kalau aku tidak perlu membayarnya. Namun, aku harus membantu dia. Awalnya, aku menolak keras permintaannya. Akan tetapi, mendengar curhatan dia mengenai sikap Bibi Lin terhadapnya ... aku langsung tidak tega. Ditambah lagi, dia merasa sangat takut kalau Mas Damar akan melakukan poligami jika tahu dia mandul. Sungguh, aku sebagai adik pastilah merasa teriris hatinya mengetahui kesusahannya. Lalu, terpaksa aku menyetujuinya." Air mata Kayra tidak terbendung lagi.

__ADS_1


Belum sempat kedua orangtuanya Damar bertanya lagi, Kayra sudah terlebih dahulu membeberkan apa saja yang dia ketahui soal uang tersebut.


"Oh ya, soal uang yang tiga puluh juta itu ... kata Mas David, dia sudah membayarnya lunas. Jadi, aku pun sebagai adiknya turut serta bingung dikemanakan uang-uang itu. Rencana sih, nanti aku akan selidiki jika sudah diperbolehkan pulang. Semoga saja aku bisa menemukan bukti-bukti uang itu agar Mas Damar tidak menuduhku lagi," sambung Kayra tersedu-sedu.


"Aamiin. Kami doakan kamu bisa menemukan bukti uang itu agar Damar tidak berburuk sangka lagi sama kamu. Kami bisa merasakan bahwa kamu anak yang baik dan polos." Kayra mengangguk saja.


"Oh ya, bagaimana kalau kita lakukan tes DNA saja untuk memastikan bahwa bayi ini memang anaknya Damar. Soalnya, Damar bersikeras tidak ingin mengakuinya. Kalau kami sih yakin sekali kalau bayi mungil ini darah dagingnya. Dia begitu mirip dengan Damar. Kira-kira kamu keberatan tidak?" tanya ayahnya Damar meminta persetujuan dari Kayra.


"Terserah kalian saja. Kalau aku sih yakin sekali kalau bayiku memang darah daging Mas Damar. Soalnya, setelah kelahiran Kaysa ... Mas David sama sekali tidak pernah menyentuhku lagi. Dia kecewa berat karena aku malah melahirkan bayi wanita bukan bayi laki-laki seperti yang dia inginkan," jelas Kayra tersedu-sedu.


"Oh Tuhan, miris sekali nasibmu, Nak? Jadi, kemesraan yang sempat kami lihat dahulu hanya akting saja toh?" sahut ibunya Damar tidak percaya.


"Iya benar sekali. Namun, setelah kejadian na'as menimpa Kaysa ... Mas David langsung sadar. Kini dia sudah berubah menjadi suami yang sangat mencintaiku," jelas Kayra tersenyum bahagia.


"Syukurlah, pasti itu adalah berkah atas kesabaran wanita sebaik kamu," puji ibunya Damar tersenyum hangat.


"Iya benar sekali." Kayra mengusap air matanya sambil terus tersenyum.


"Em, sebelumnya kami minta maaf jika kata-kata yang akan kami ucapkan ini sangat memberatkan kamu." Kayra mengangguk saja walaupun perasaannya langsung tidak enak.


"Oh ya, misalkan nanti Damar tidak mau merawat anaknya ini ... apakah kamu bersedia merawatnya dengan baik?" tanya ibunya Damar menatap iba Kayra.


"Tentu aku akan merawatnya dengan baik. Diakan anakku!" Kayra tersenyum getir. Dia tidak menyangka kalau Damar bisa setega itu pada darah dagingnya sendiri. Dia kembali teringat masa-masa di mana David menolak kehadiran Kaysa dan tidak mengakuinya.

__ADS_1


"Oh Tuhan, lagi-lagi bayi yang aku lahirkan tidak diakui ayahnya. Berarti, ini semua memang sudah garis hidupku? Akankah Mas Damar bisa berubah pemikirannya seperti Mas David suatu hari nanti?" gumam Kayra dalam hati. Setitik air kembali lolos dari matanya. Dia tersenyum geli mengetahui nasibnya yang selalu begitu.


__ADS_2