Bertukar Suami

Bertukar Suami
Akhirnya


__ADS_3

Kreettt!


Pintu kamar mandi dibuka Damar. Dia sudah selesai dengan rituan mandinya. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang. Dia ingin mengecek keberadaan istrinya.


Bibirnya melengkung ke atas karena istrinya sudah tidak ada. Pandangannya langsung beralih ke lemari pakaian. Dia langsung mengkerutkan keningnya bingung karena tak menjumpai istrinya.


"Loh, kok Kayla tidak ada sih? Biasanya dia langsung menyiapkan pakaianku," gumam Damar segera melangkah.


Langkahnya langsung berhenti ketika melihat istrinya terkapar di lantai.


"Astaga, Kayla!" Dia berlari menghampirinya. Lalu, segera membopong tubuhnya ke kasur.


"Sayang, bangun!" Damar menepuk pelan pipi istrinya. Dia benar-benar panik. Namun, Kayra tetap tidak kunjung bangun.


"Astaga, aku harus membawanya ke rumah sakit terdekat." Damar segera membopong tubuh Kayra. Dia berlari cepat keluar kamarnya dan melupakan bahwa dirinya hanya mengenakan handuk saja.


Setibanya di lantai bawah, aksinya langsung dijegat Mbok Nem yang sedang sibuk bersih-bersih.


"Eh, Den, mau ke mana?" teriak Mbok Nem panik. Dia mendekati Damar.


"Itu Non Kayla kenapa?" tanya Mbok Nem panik. Dia mengikuti langkah Damar.


"Kayla tiba-tiba pingsan ketika aku sedang berada di kamar mandi," jelas Damar terus melangkah panik.


"Ini Non Kayla mau dibawa ke mana?" tanya Mbok Nem bingung.


"Mau aku bawa ke rumah sakitlah, Mbok. Masa aku bawa ke pasar sih!" Damar sedikit kesal dibuatnya.


"Maaf, tapi kan Aden belum memakai baju! Masa ke rumah sakit cuma pakai handuk begitu?" tanya Mbok Nem bingung.


"Hah!" Damar menghentikan langkahnya. Matanya langsung mengecek kondisi dirinya.


"Astaga, hampir saja! Ya sudah. Sekarang Kayla aku letakkan di sofa itu dulu! Tolong Mbok jagain," tegas Damar segera melangkah mendekati sofa.


"Baik, Den!" Mbok Nem mengekori Damar.


Setelah meletakkan tubuh istrinya, Damar segera berlari meninggalkannya.


"Sebaiknya, aku panggil Ibu dan Bapak nih! Pasti mereka belum ada yang tahu soal ini," gumam Mbok Nem yakin.

__ADS_1


Mbok Nem segera meneriaki dua majikannya itu. Mereka yang berada di dalam kamar langsung berlari keluar. Tak lama ayah dan ibunya Damar hadir juga di dekat Kayra berbaring.


"Astaga, ini Kayla kenapa?" tanya kedua orangtuanya panik.


"Kata Den Damar, Non Kayla tiba-tiba pingsan Bu," jelas Mbok Nem.


"Apa dia sakit?" tanya ibunya Damar cemas. Punggunh tangannya menyentuh kening Kayra.


"Tapi, dia tidak demam! Kok, Ibu jadi sangat mengkhawatirkan Kayla ya! Semoga saja dia tidak sakit serius," ucap ibunya Damar takut.


"Iya, semoga saja!" sahut Ayah dan Mbok Nem bersamaan.


Tak lama munculah Damar sudah berpakaian lengkap. Hanya saja dia tak sempat menyisir rambutnya lagi. Mereka yang sedang menunggui Kayra langsung menatap Damar aneh.


"Mari biar kuantar Kayla ke rumah sakit sekarang! Ayah sama Ibu kalau mau ikut segera lah ke mobil duluan!" tegas Damar panik.


"Iya, kami ikut! Tapi, alangkah sebaiknya kalau Pak Sopir saja yang mengendarai mobilnya. Biar nanti kamu bisa merapikan rambutmu," jelas ibunya Damar meringis.


"Oke. Sekarang Ayah dan Ibu ke mobil duluan. Lalu, panggil pak sopirnya biar cepat!" tegas Damar setuju.


"Iya. Ayo Bu, kita ke mobil duluan," ajak Ayah panik.


Sementara, Damar segera membopong tubuh Kayra.


***


Di rumah sakit, Damar terlihat begitu gelisah sekali. Dia berjalan mondar-mandir di depan ruangan Kayra. Ibu dan Ayah pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, mereka duduk.


Cukup lama mereka menunggu kabar dari pihak medis yang menangani Kayra. Rasanya mereka sudah tidak sabar ingin segera mengetahui kondisi Kayra. Begitu melihat seorang suster keluar. Mereka segera mendekatinya.


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Damar cemas.


"Istri Bapak sudah sadar sekarang! Bapak dan keluarga dipersilahkan masuk oleh Bu Dokter karena ada yang ingin disampaikan," balas susternya ramah.


"Baik!" Mereka secara beriringan masuk ke dalam.


Di dalam mereka disambut ramah dokternya. Ayah dan Ibu duduk di bangku yang tersedia. Sementara Damar tetap berdiri saja karena tidak ada kursi lagi di ruangan tersebut.


"Berhubung pihak keluarga sudah ada di sini ... saya akan menjelaskan kondisi Ibu Kayla." Wajah Bu Dokter terlihat begitu gembira.

__ADS_1


"Iya, Dok." Mereka mengangguk setuju.


"Buat Pak Damar, saya ucapkan selamat, ya! Akhirnya, yang dinanti-nanti terkabulkan juga. Ibu Kayla positif hamil," terang Bu Dokter ikut senang.


Damar terdiam. Dia tak bisa berkata-kata lagi. Hanya deraian air mata saja yang mewakili rasa bahagianya itu.


"Syukurlah! Terima kasih Tuhan atas anugerah-Mu ini," ucap kedua orangtuanya Damar begitu gembira. Mereka berdua otomatis berpelukan erat.


"Akhirnya, kita akan punya cucu, Yah!" Ibu menangis sesenggukan.


"Iya, Bu. Inilah upah dari kesabaran kita selama ini. Kan, Bapak sudah bilang kalau teman-teman ibu itu sudah salah menuduh Kayla," balas Ayah.


"Iya, Yah!" Mereka segera melepaskan pelukannya.


Melihat hal itu, Bu Dokter kembali melanjutkan penjelasannya mengenai kondisi Kayra.


"Oh ya, menurut hasil pemeriksaan tadi. Kondisi kehamilan Bu Kayla sangat lemah. Jadi, diharapkan kepada pihak keluarga terutama Anda sebagai suaminya harus ekstra hati-hati menjaganya." Bu Dokter menatap ke arah Damar.


"Iya, Dok!" Damar mengangguk.


"Dimohonkan Anda harus ekstra sabar menanggapi sikap aneh yang kerap kali muncul tiba-tiba pada Bu Kayla. Biasanya ibu yang sedang mengandung kerap kali bertingkah aneh. Pokoknya buat Bu Kayla selalu merasa tenang dan nyaman. Jangan sampai Bu Kayla merasa stres atau defresi," jelas Bu Dokter tersenyum.


Damar mengangguk.


"Selain itu, Bu Kayla juga harus istirahat total. Jangan sampai melakukan aktivitas berat dan membebani pikirannya. Perbanyak juga minum air putih serta makan makanan yang bergizi. Hal itu bisa berdampak buruk pada kehamilannya. Selain itu, Pak Damar juga harus berpuasa dulu sampai kandungan Bu Kayla benar-benar aman untuk digauli," imbuh Bu Dokter tersenyum.


"Baik, Dok!" Damar mengangguk setuju.


"Apa masih ada lagi hal-hal yang saya harus jaga agar tidak membahayakan kandungan istri saya?" tanya Damar.


"Oh ya, dimohon untuk menghindari makanan dan minuman yang bisa membahaya kandungannya, seperti minuman beralkohol, asap rokok, serta mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar alkohol tinggi terlalu berlebihan. Kalau hanya sekedar menghilangkan rasa ngidam tak apa," jelas Bu Dokter tersenyum.


"Baik, saya mengerti, Dok. Oh ya, bolehkah saya menengok istri saya sekarang," ucap Damar meminta izin. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin menumpahkan kebahagiaan ini pada istrinya.


"Tentu, boleh!" Bu Dokter tersenyum.


"Itu Bu Kayla ada di balik tirai yang sebelah kanan!" tunjuk Bu Dokter tersenyum.


"Iya, terima kasih banyak." Damar tersenyum. Dia segera melangkah menuju ruangan yang dimaksud. Sementara, kedua orangtuanya masih duduk bersama Bu Dokter. Mereka masih ingin bertanya-tanya soal Kayla.

__ADS_1


"Sayang!" sapa Damar ketika sudah membuka tirainya. Terlihat Kayra sedang menatap ke arah lain. Sepertinya dia sedang mengamati benda-benda yang ada di dalam ruangan tersebut.


__ADS_2